Dilan 1990

Kalian-kalian tidak tahu betapa saya ingin sekali mengungkapkan perasaan gembira saya ketika menonton film Dilan 1990. Gembira karena saat menontonnya saya seperti kembali membaca bukunya yang punya nilai magis dalam menyentuh perasaan saya.

Image result for Dilan

Penggemar karya Pidi Baiq

Saya adalah pembaca setia buku-bukunya Pidi Baiq. Dilan 1990 adalah salah satu karyanya yang paling terkenal, yang memiliki dua saudara yaitu Dilan 1991 dan Milea, Suara dari Dilan. Meskipun begitu, Dilan bukanlah buku pertama yang saya baca. Pertama kali sekali, saya diperkenalkan oleh kakak saya dengan karya Pidi Baiq yang berjudul “Drunken Monster”. Awal saya membaca buku tersebut, saya langsung tenggelam di dalamnya akibat untaian kata-kata yang tidak henti-hentinya menghibur saya. Kalau boleh saya deskripsikan, cara menulis Pidi Baiq itu nyeleneh tapi pada jalurnya, sederhana, tapi ga kampungan, berkelas, tapi ga sombong. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya tidak tahu bagaimana pendapat teman-teman tentang buku itu, karena saya pernah merekomendasikan buku tersebut kepada seorang teman dan katanya aneh dan dia ga suka. Yah, saya rasa semua orang bisa memiliki pandangan berbeda, namun pandangan, prinsip, dan pemikiran yang saya miliki dalam hidup saya terasa sangat selaras dengan apa yang ditulis oleh Piqi Baiq, karena ternyata saya sanggup membaca keseluruhan bukunya, termasuk Dilan, tanpa butuh waktu lama. Artinya, saya tidak pernah bosan selama dalam proses membaca karya-karyanya. Yang saya rasakan setiap kali membaca bukunya adalah seperti sedang berbincang dan bercerita tanpa henti dengan seseorang yang nyambung dan klik banget sama saya.

Berkenalan dengan Dilan

Related image

Pertama kali sekali saya membaca buku ini adalah ketika Dilan belum se-terkenal sekarang. Saya tidak punya gambaran sama sekali tentang sosok Dilan dan saya pikir ini hanya tentang cerita anak SMA biasa. Saya tidak diberi peringatan sebelumnya kalau-kalau setelah membaca buku ini saya akan tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Dilan sekaligus berharap pada Tuhan untuk diberikan sosok seperti Dilan dalam kehidupan saya. Buku tersebut kalau tidak salah saya baca hanya dalam waktu sehari, atau dua hari, pokoknya lebih cepat dari biasa saya membaca buku. Ini bukan soal percintaan anak SMA layaknya di FTV atau drama korea. Kalau kamu mau bilang saya ini berselera rendahan dengan menyukai karya-karya yang terlihat “picisan”, terserah. Saya pikir, selain memberikan suguhan cerita yang segar dan pada porsinya, buku ini juga mengajarkan saya betapa kita tidak perlu berpikir untuk terlihat keren dari buku-buku yang kita baca. Kita bisa menilai sendiri apakah buku tersebut keren atau tidak, lalu kita putuskan apakah diri kita sudah cukup intelek dengan membaca buku tersebut, apakah kita sudah seperti kutu buku. Tapi dengan Dilan dan tentu dengan karya-karya Pidi Baiq lainnya, ah, saya menikmatinya begitu saja dan tidak ingin mencari-cari alasan untuknya. Seperti orang jatuh cinta, ketika ditanya alasannya, mereka pasti bingung. Begitu pun saya dengan Pidi Baiq dan buku-bukunya.

Dilan dalam layar lebar

Image result for Dilan 1990

Saya sudah mencium rencana Pidi Baiq untuk mengangkat Dilan ke layar lebar sejak kemunculan short clip Dilan yang menyorot pemeran Milea, Vanesha Prescilla, yang adalah adik dari Sissy Priscilla. Jujur saja, begitu melihat clip tersebut, saya langsung setuju kalau dia yang dijadikan pemeran Milea. Segala bayangan dan imajinasi di benak saya tentang Milea terealisasikan dengan akurat ketika melihat clip tersebut. Namun, pemeran Dilan saat itu belum diungkap, karena memang belum ada. Kalaupun nanti ada, yang saya bayangkan tentang sosok Dilan adalah, tidak terlalu ganteng, tapi juga tidak urakan, entahlah saya tidak sampai berpikir bahwa Dilan itu nantinya bakal diperankan oleh Iqbal Ramadhan yang digandrungi para remaja-remaja Indonesia itu. Tentu bisa dipastikan, buyar sudah harapan saya akan sosok Dilan ketika berita mengenai pemeran Dilan diumumkan. Why Iqbal Ayah? Why?? Begitulah kira-kira yang ingin saya sampaikan pada Pidi Baid kala itu. Saya bersikap sangat skeptis mengingat Iqbal merupakan personil boy band yang saya anggap masih bocah tapi lagunya udah cinta-cintaan. Iqbal secara wajah juga merupakan anak baik-baik dan saya sangat-sangat meragukan kesan bandel yang dapat ditimbulkan dalam perannya nanti.

Pun ketika trailer film Dilan resmi dirilis, saya lagi-lagi bersifat skeptis karena menganggap acting Iqbal yang terlalu kaku. Namun, tidak dapat saya pungkiri bahwa dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin nonton bagaimanapun skeptisnya saya. Pada saat itu saya tidak berharap banyak dengan pemeran Dilan, karena saya hanya ingin melihat sosok Milea yang menurut saya sangat tergambarkan secara sempurna melalui acting-nya Vanesha yang ciamik sangat, meskipun dia pendatang baru.

Jeda antara trailer dan waktu tayang film cukup lama, membuat saya cukup tidak sabar dan diam-diam berteriak dalam hati “cepetan dooong” karena takut dihakimi sama teman-teman seumuran yang udah ga ABG lagi. Begitu film dirilis, saya ajak kakak untuk nonton dan otomatis dia bilang “gamau ah, ada Iqbalnya, ngapain kamu nonton” Eugh, kesel rasanya. Ingin rasanya saya bilang dan menasehati “Kita itu tidak boleh meremehkan seseorang sebelum kita melihat sendiri seperti apa acting-nya, kita tidak boleh menilai hanya berdasarkan asumsi skeptis kita tanpa ada pembuktian. It’s not fair. Berilah dia kesempatan untuk membuktikan dirinya.” Cielah, padahal itu juga sekaligus nasehat untuk saya ketika pertama kali meremehkan ditetapkannya Iqbal sebagai pemeran Dilan.

Setelah nonton Dilan

Related image

Pada akhirnya saya nonton sendiri, karena saya sudah tidak ingin meyakinkan kakak saya untuk ikut nonton bersama saya. Saya pun tidak berani bilang ke siapa-siapa, maksudnya tidak update di media sosial tentang peristiwa saya nonton Dilan ini. Setelah nonton pun saya tetap diam, karena saya takut teman-teman saya yang sudah pada dewasa itu akan menganggap saya “apaan sih, film abg masih aja ditonton”, walaupun menurut saya ini bukan film abg, tapi adalah film antara anak-anak SMA dengan segala ketertarikannya pada masanya, yang mana saya kira semua orang seumuran saya pernah melaluinya.

Sesuai dugaan, saya nonton dikelilingi oleh sebagian besar anak-anak remaja, mulai dari anak SMP, SMA, kuliah dan bahkan ada anak kecil yang nonton nemenin ibunya. Saya tidak peduli, yang ada di pikiran saya hanyalah saya ingin nonton film ini sambil mengingat apa saja yang diceritakan di buku Dilan pertama itu, karena saya sudah tidak mengingat dengan rinci. Asal tahu saja, masih ada sebersit sikap skeptis saya terhadap Iqbal sesaat sebelum film tersebut dimulai.

Sampai ketika secara tidak sadar saya menikmati sekali adegan demi adegan, dialog demi dialog yang rasanya sama persis dengan apa yang saya baca beberapa tahun lalu. Saya menjadi mengerti kenapa saya menganggap Iqbal kaku saat menonton trailer. Itu karena saya masih belum bisa lepas dari sosok Iqbal yang anak Jakarta dengan segala logat lo gue-nya. Saya tidak mau terima kalau Iqbal memang harus berdialog “kaku” karena memang seperti itu gaya berbicara Dilan.  Saya memutuskan untuk mengerti itu dan berhenti  menilai sebelum film berakhir. Ternyata keputusan saya untuk menerima film itu apa adanya malah menjadikan saya terhanyut. Walau saya sudah tahu dialog-dialognya Dilan dari membaca buku waktu itu dan itu pun sudah lama membacanya, saya tetap saja tertawa dan terbawa perasaan. Padahal, demi menjaga citra wanita dewasa berumur 25, saya berusaha sebisa mungkin untuk diam saja selama menonton dan menikmati dalam hati. Tidak disangka ternyata itu sulit. Beberapa kali saya kelepasan tertawa sekaligus terbawa perasaan oleh Dilan. Sekali lagi, saya dibuat jatuh cinta oleh Dilan. Kalau dulu lewat buku, sekarang lewat film, dan rasanya pun tetap sama. Ah, Dilan. Saya akui kehadiran Iqbal di film ini cukup menunjang keberhasilan Dilan 1990. Saya tidak menyangka bahwa Iqbal dapat mematahkan sikap skeptis saya lewat acting dan chemistry yang dibangunnya secara ciamik dengan Vanesha, menciptakan visualisasi Dilan dan Milea yang sempurna, kalau boleh saya bilang, walaupun saya masih yakin sebenarnya Dilan tidak seganteng itu (maaf ya, Dilan).

Sebenarnya ada beberapa aspek yang menurut saya masih kurang dari film tersebut, yaitu latar belakang Bandung 1990 yang tidak secara sempurna diciptakan. Beberapa bangunan adalah bangunan masa kini, meskipun kendaraan dan interior rumah sudah disesuaikan. Saya berasumsi sulit untuk menyulap bangunan-bangunan di Bandung ke versi jadulnya kecuali mungkin dengan teknologi editing yang begitu tinggi. Namun! Percaya tidak, saya sama sekali tidak mempermasalahkan kecacatan tersebut. Bagi saya itu hanya satu butir ketombe yang mampu disingkirkan hanya dengan ditiup, karena drama yang dibangun oleh film ini benar-benar berhasil menempati sorotan utama penontonnya dan mungkin itulah yang diinginkan memang oleh pembuat film yang adalah Pidi Baiq dan rekannya Fajar Bustomi. Saya jadi menyadari bahwa kita harus memberi kesempatan kepada yang baru datang, kita harus mengapresiasi apa yang dapat kita nikmati, dan kita tidak boleh merasa bahwa kita lebih hebat dari orang lain, karena Dilan menjadi banyak dikenal orang dengan sifatnya yang membumi dan melangitkan orang-orang yang dicintainya. Dilan adalah wujud dari kesederhanaan yang menyenangkan, baik di buku, film, maupun dunia nyata (meski saya belum pernah melihat sosok aslinya).

Apakah saya akan merekomendasikan film ini? Adapun saya tidak ingin menilai terlalu berlebihan seakan film ini sempurna, kemudian orang-orang yang tidak menyukai film ini akan menganggapnya “overrated”. Kalaupun ada orang yang menganggapnya demikian, biarlah dia dengan persepsinya sendiri, karena setidaknya bagi saya, yang menyukai buku-buku Pidi Baiq dan memang membaca bukunya dari awal, film ini bukanlah adaptasi yang menerapkan sedikit perubahan antara novel dan film, melainkan visualisasi, yaitu apa yang saya baca di buku, apa yang saya bayangkan ketika membaca bukunya, menurut saya, telah diterjemahkan secara berhasil ke dalam film ini.

Image result for karya pidi baiq

Iklan

Review Drama Korea

Ga pernah update drama Korea, tapi kebetulan kakak punya stok drama-drama terbaru yang lumayan bagus. Kebetulan juga lagi punya banyak waktu luang, jadi saya tontonlah drama-drama tersebut, di antaranya adalah

While You Were Sleeping

Image result for while you were sleeping

Siapa sih ya yang ga tau drama ini secara sekarang udah bisa ditonton di line. Pemerannya juga sudah tidak asing lagi, Bae Suzy dan Lee Jong Suk. Ceritanya tentang mimpi yang menjadi nyata. Saya agak ga paham sih, ini mereka nabi apa gimana ya, bisa dapat wahyu gitu apa yang bakal terjadi di kemudian hari. Alasannya sih kalau kata naskah, karena hidupnya pernah diselamatkan oleh seseorang, yang mana dia akan mulai memimpikan masa depannya orang yang menyelamatkan dia. Terlalu lemah banget ga sih sebabnya? Maksudnya kalau mau mengada-ngada, sekalian aja gitu yang aneh, ini malah kaya udah gitu doang? Terus yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah di akhir episode tidak ada penjelasan cara menghilangkan mimpi tersebut. Hello, emangnya ada gitu orang yang bahagia mengetahui masa depannya seperti apa? Kalau bahagia terus gapapa, lah kalau ada yang kejadian buruk? Terus dia bisa mencegah segala keburukan yang menimpanya begitu saja? Bahkan kematian aja bisa dia cegah. Luar biasa. Yah namanya juga drama. Anyway, saya tetap menikmati sih hingga akhir dan bahkan menurut saya ini lumayan komedi karena saya banyak ketawanya daripada terharunya.

Strong Woman Do Bong Soon

Image result for strong woman do bong soon

Ini unik sih, lucu dan acting Park Bo Young natural banget dan benar-benar cocok untuk karakter ini. Ceritanya Do Bong Soon yang diperankan Park Bo Young adalah wanita imut-imut yang memiliki kekuatan super, like, super duper, bahkan tanpa effort pun dia bisa mengangkat orang. Kekuatan ini diturunkan dari leluhurnya dan akan diturunkan kepada anak perempuan yang dilahirkan oleh pemilik kekuatan ini. Namun, kekuatan tersebut akan hilang jika digunakan untuk hal yang tidak baik, tidak semestinya. Oke, menarik. Tentu ceritanya tidak sampai di situ saja, mesti ada dramanya. Dan, typical banget ini ya, selalu deh pemeran utama wanita disukai oleh dua pemeran utama pria. pffft. Untuk drama ini, drama antara pemeran utama wanita dan pria benar-benar ngeselin. Lebay banget, cowonya. Ceritanya si cowo ini selalu gemes sama cewenya dan cara dia mengekspresikan kegemasannya itu, hmmm, gimana ya, natural sih, tapi agak sedikit geli. Tapi secara keseluruhan, saya akui drama ini bagus dan patut untuk ditonton.

Pinocchio

Image result for pinocchio kdrama

Oke saya tahu, ini drama jaman baheula dan emang pengen banget nonton dari dulu, tapii saya baru sempat nonton sekarang ini. Bagus! Tentang lika-liku pekerjaan sebagai reporter dan bagaimana media bermain dalam tayangannya. Diperankan oleh Park Shin Hye dan Lee Jong Suk (again). Ceritanya Park Shin Hye ini mempunyai sindrom pinocchio, yaitu sindrom yang membuat penderitanya akan cegukan setiap kali dia berbohong. Digambarkan dalam drama ini kalau untuk jadi reporter itu gabisa bohong, ya you know lah, tapi karena satu dan lain hal PSH ini nekat mau jadi reporter dengan sindromnya itu. Btw, sindrom ini ga ada di dunia nyata, cuma karang-karangan film ini aja. Kalau boleh saya bandingkan, saya lebih suka drama ini dibanding While You Were Sleeping yang sama-sama diperankan oleh Lee Jong Suk. Lumayan less drama, meskipun tetap drama, tapi makes sense. Benar-benar menjawab dugaan saya tentang media di balik layar. Patut ditonton. Anyway, karena dua drama pemerannya Lee Jong Suk, lama-lama saya kok jadi terpikat ya…

Girls’ Generation 1979

Related image

Ini bagus banget sih, menurut saya. Awalnya saya pikir belum selesai episodenya karena cuma ada 8 episode. Tapi setelah saya googling, ternyata memang cuma 8 episode. Drama ini diangkat dari novel dan berlatarkan tahun 1979 di Daejeon. Ceritanya seputar persahabatan dan asmara antara anak SMA di Daejeon dan salah satu siswinya adalah pindahan dari Seoul. Jadi di sini semua pemerannya beraksen Daejeon dan ceritanya mereka ini anak daerah dan sekolahnya dipisah antara laki-laki dan perempuan, ruang perpustakaan pun dipisah.

Di sini digambarkan wanita memiliki derajat yang rendah, meskipun bersekolah. Bapaknya sang pemeran utama wanita ini lebih mementingkan anaknya yang laki-laki. Anak laki-lakinya dimanjain, dipuji-puji, dikasih hadiah, sementara anaknya yang perempuan dicuekin, bahkan selalu dibilangin “masih untung bapak sekolahin kamu” karena bapaknya ini berpikir perempuan ga perlu sekolah. Selain itu, cara gurunya menghukum siswinya juga sangat merendahkan. Para siswi harus menghadap papan tulis dan sang guru akan meraba tali beha dari belakang dan menjepretkannya. Ibaratnya kaya disentil pake tali beha sendiri. Tapi, kenapa harus tali beha gitu? Dan pula tidak ada yang protes sampai ketika anak Seoul ini, yang katanya bapaknya adalah komunis, datang dengan segala kepintaran dan keberaniannya untuk defense.

Jujur saya sama sekali tidak mengenal para pemainnya, tapi itu tidak menjadikan saya underestimate terhadap drama ini, karena ketika saya googling ternyata terdapat kontroversi mengenai pemilihan cast-nya yang terlalu dini menjadikan artis pendatang baru sebagai pemeran utama. As always, netizen. Pffft. Sebagai orang yang jarang nangis kalau nonton film, saya menilai drama ini cukup mengharukan. Meskipun hanya 8 episode tapi gregetnya dapet.

~~

Udah sih baru segitu, sebenarnya ada satu drama lagi yang saya tonton, tapi menurut saya tidak terlalu bagus dan kurang greget, yaitu The Producers, film lama juga. Saya tertarik nonton karena bercerita tentang KBS di balik layar, mirip banget sama The East. Cuma entah kenapa kurang suka aja sama eksekusinya.

~~

Oh iya, sebelumnya saya juga udah nonton Defendant dan itu wajib tonton karena super bagus, tentang seorang jaksa yang dipidana atas kasus pembunuhan istri dan anaknya yang mencoba membuktikan dirinya tidak bersalah dan harus berjuang dengan kondisi mentalnya yang terpengaruh oleh kematian istri dan anaknya tersebut, yang mana sebenarnya anaknya masih hidup tapi dia gatau. Jadi di penjara itu dia kadang lupa ingatan dan merasa masih tinggal sama istri dan anaknya, have no idea kenapa dia dipenjara, lalu beberapa saat kemudian dia ingat lagi. Dia berusaha mengumpulkan semua bukti dari balik penjara sebelum ingatannya hilang kembali.

~~

Setelah saya menonton drama-drama di atas saya dapat menyimpulkan profesi-profesi yang sering muncul dalam drakor adalah segala profesi yang berhubungan dengan hukum, baik itu jaksa, pengacara, polisi. Atau hanya perasaan saya saja karena saya hanya nonton segelintir drama yang kebetulan ada profesi-profesi tersebut?

 

 

 

 

 

Monster Jalanan

Memang ya segala tindakan yang kita ambil saat marah, ketika emosi menguasai pikiran, akan berbuah penyesalan di kemudian hari.

Dulu ketika saya belum bisa menyetir dan selalu berada di kursi penumpang, ketika saya melihat sang supir yang adalah kakak atau bapak saya, marah-marah ketika ada sesuatu hal di jalan yang mengganggu kenyamanan berkendara, saya selalu berpikir “sabar aja kali gausah marah-marah”. Sebagai penumpang, saya selalu melihat sikap pengendara yang kerap marah-marah itu adalah hal berlebihan. Saya tidak tega melihat pengendara motor seperti ojek online diklakson panjang oleh mobil hanya karena sedikit mengganggu, beda halnya ketika mereka memang benar-benar bikin ulah, misal: nyalip dari kiri trus langsung motong belok kanan. Kalau itu sih memang minta diklakson. Anyway, saya sempat berpikir bahwa klakson itu sebaiknya tidak usah diciptakan karena akan menyebabkan polusi suara dan menyakiti perasaan para pengendara.

Setelah saya bisa bawa mobil dan berada di kursi sang supir, saya seolah berubah menjadi sedikit egois. Saya tidak suka dengan mobil yang berjalan pelan di jalur kanan, motor yang jalannya tersendat-sendat karena sambil liat ponsel, angkot yang berhenti semaunya, mobil yang pindah lajur tapi gak pake lampu sen, mobil yang mau nyalip saat saya lagi melaju kencang, orang yang mau nyebrang saat lagi asik-asiknya melaju, itu semuanya rasanya ingin saya tepis ketika saya melaju di jalan, caranya adalah dengan mengklakson. Tidak ada lagi diri saya yang dulu duduk di kursi penumpang dengan prinsip sabarnya.

Setelah sampai rumah dan malam pun tiba, saya mulai merenung. Entah kenapa rasanya saya seperti habis menzalimi banyak orang dan sangat menyesal karena sudah kebanyakan nglakson hari itu. Kenapa saya tidak mencoba untuk mengerti posisi mereka yang “menghambat” saya. Mereka mungkin ada yang sedang mencari alamat, baru belajar mobil, belum terbiasa menyetir, belum hapal jalan, lupa menyalakan lampu sen padahal biasanya ingat, dan berbagai kemungkinan lainnya yang benar-benar tidak terpikir ketika saya sedang menyetir, hal-hal yang mungkin saja pernah saya lakukan di masa lalu ketika belum lancar mengendarai mobil. Padahal, kalau diingat-ingat, saya juga pernah pindah jalur tanpa lampu sen karena lupa dan nyalip tapi maksa karena nanggung. Kadang malu diri ini dengan pengemudi kendaraan umum yang sering saya lihat kedapatan memberi jalan bagi para penyeberang, meskipun mereka lebih sering menyebalkan sih karena suka berhenti sembarangan dan mengambil bahu jalan.

Saya selalu bertekad untuk sebisa mungkin meminimalisir penggunaan klakson, tapi jalanan Jabodetabek seakan tidak mendukung resolusi saya itu. Tiada hari tanpa klakson sepertinya sudah menjadi motto para pengemudi masa kini. Di Jabodetabek deh setidaknya. Kursi pengemudi seolah memiliki jurus hipnotis tersendiri yang membuat orang yang menduduki berubah menjadi “monster jalanan”. Apakah semua pengemudi merasakan hal demikian?

 

Keresahan

Saya gak tau kenapa akhir-akhir ini negara saya atau setidaknya seperti yang terlihat di media sosial dan media massa gemar sekali bergulat di isu sara, di mana orang-orang terlihat sensitif dan saling sindir dan serang dengan menyinggung suku, ras, atau agama satu sama lain. Dari mulai kasus mantan gubernur hingga sekarang yang paling anyar adalah kasus para komika. Beberapa orang menilai mereka tidak berniat menistakan agama sama sekali dan bahkan untuk kasus komika ini, banyak yang bilang bahwa model lelucon semacam itu adalah hal yang lumrah dalam dunia komedi? Well, mari kita buat perumpamaannya.

Ketika ada orang yang tidak sengaja menabrak mobil seseorang, apakah kita bisa mengatakan penabrak itu tidak menabrak? Tidak sengaja dan tidak bermaksud, tentu. Tapi dia tetap menabrak, bukan? Menyebabkan mobil orang lain rusak. Bukankah bodoh sekali ketika orang tersebut mati-matian membela diri di saat sudah terdapat bukti yang nyata bahwa mobilnya menabrak? Lalu, jika tabrakan tersebut adalah hal yang lumrah terjadi di kawasan tersebut, apakah berarti kita harus menabrak? Apakah kita tidak akan menghindar dan berupaya mencegah? Kita masih tetap berstatus pengguna jalan, meskipun kita tidak menabrak. Kita tidak harus melakukan hal yang lumrah. Kita harus melakukan hal yang benar. Apakah lumrah berarti benar? That is the question.

Manusia itu memang suka meniru. Kalau sejak kecil kita suka meniru tingkah laku orang tua, ketika dewasa kita suka meniru apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang di sekitar kita. Tidak ada yang salah dengan meniru, dalam Islam pun umatnya dianjurkan untuk meniru cara hidup Rasulullah, karena itulah yang diperintahkan oleh Allah dan sebagai orang yang beriman seharusnya meyakini bahwa apa yang ditiru dari Rasulullah adalah baik dan mengikutinya akan membawa kebaikan dalam hidup kita. Kita semua sepakat bahwa meniru sesuatu yang baik akan menghasilkan kebaikan dan berlaku pula kebalikannya. Meniru sesuatu yang buruk pun akan menghasilkan pula keburukan. Ironisnya, ada orang-orang yang menganggap apa yang dia tiru adalah kebaikan hanya karena semua orang melakukannya and it seems there is nothing wrong with it, while in fact there is! Yang haram tetap haram meskipun semua orang melakukannya dan yang halal tetap halal meskipun hanya satu orang yang melakukannya. Begitu kira-kira kutipan yang saya ingat.

Halal dan haram bukan hanya sesederhana ga boleh makan babi dan alkohol. Banyak muslim yang hanya memahami permukaan terluar dari perkara halal dan haram. Misalnya ketika ke luar negeri, mereka hanya akan menghindari daging babi dan minuman keras, padahal cara standar memasak fish and chips yang saya lihat di Masterchef UK itu memakai bir sebagai campuran tepungnya.  Ya, kita engga tau bahwa makanan dan minuman yang terlihat halal karena tidak tertulis sebagai “babi” atau “alkohol” ternyata mengandung keharaman di dalamnya, dalam cara memasaknya, dalam cara memotong dagingnya, dan semacamnya. Sama seperti memakai kerudung, beberapa orang merasa sudah memenuhi kewajiban sebagai seorang muslimah dengan memakai kerudung. Udah, titik. Padahal kerudung tersebut punya kriteria tersendiri yang diperbolehkan dalam Al-Quran. Baju tidak boleh ketat, kerudung harus menutup dada, harus pakai kaus kaki, dan semacamnya. Tidak semua langsung bisa memahami semua hal ini, tapi setidaknya kita bisa belajar pelan-pelan, termasuk saya.

Saya setuju dengan pendapat seseorang bahwa kita harus fair dalam menilai orang. Kita tidak bisa melulu melihat si tersangka dari perilaku buruknya dan melupakan perilaku-perilaku baiknya. Kita tidak bisa terus menghakimi tanpa memahami maksud mereka sebenarnya. Bahwa para komika ini hanyalah mengekspresikan keresahan-keresahan dalam lingkungannya, hanya saja timing mereka tidak tepat dengan cara penyampaiannya yang seperti itu. Yang satu menyampaikan “kecemburuan”nya sebagai minoritas dan yang satu lagi menyampaikan “rasa muak”nya terhadap perilaku pendukung kubu lawan yang terlalu mengagung-agungkan dukungannya. Iya, memang sah-sah saja menyampaikan keresahan, layaknya kita curhat dalam buku harian, nge-tweet, dan nulis status di Facebook. Namun kenyataannya, bahkan ruang sepribadi itu pun dapat menjadi bumerang jika kita tidak hati-hati. Orang bisa dituntut karena statusnya, dan bahkan karena tulisan keluhannya kepada salah satu rumah sakit swasta kala itu. Apakah dengan peristiwa-peristiwa seperti itu orang-orang belum juga sadar bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya kebebasan dalam dunia ini? Yang ada hanyalah kebebasan bertanggung jawab. Kita bebas menyampaikan apa yang ada di benak kita, tapi kita harus siap dengan konsekuensi yang kita terima. Hidup itu bukan bagaimana kita hidup sebebas-bebasnya, tapi bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan kehidupan ini di hari pembalasan nanti. Dan saya rasa itu yang sudah dilupakan oleh sebagai besar umat manusia.

Mempermainkan Tuhan

Baru-baru ini saya sering mendengar iklan di radio yang membuat saya mengenyitkan dahi “kok gini amat sih?” . Buat yang belum pernah denger, iklan itu pada intinya menggambarkan seseorang yang mengimpikan harta seperti rumah, mobil mewah dam sebagainya dan dapat diwujudkan dengan mengikuti undian dengan syarat membeli produk yang diiklankan (saya lupa produknya apa).

Dalam narasi terdapat dua pembicara. Pembicara 1 memanjaatkan doa dengan nada didramatisir layaknya seorang muslim meminta pada Allah. Mengapa saya katakan seperti orang muslim? Karena adanya penggunaan kata hamba yang setau saya merupakan “kosakata” orang muslim. Dalam doanya pembicara 1 mengatakan “berikanlah hamba rumah mewah…” tanpa menyebut kata ‘Allah’ maupun ‘Tuhan’, lalu diulang-ulang dengan objek yang berbeda. Setiap doa dipanjatkan, pembicara 2 menimpalinya dengan meremehkan  “ngimpi lo” dan ekspresi semacamnya yang kemudian pada timpalan terakhir, pembicara 2 memberikan solusi bagi pembicara 1 untuk mengikuti undian saja agar langsung dapat mewujudkan keinginannya.

Sekilas sepertinya tidak bermasalah, ya? Tapi saya melihat dalam iklan tersebut ada bentuk pelecehan terhadap Tuhan, meskipun mungkin tidak ada tendensi ke situ dari pembuat iklan.  Kenapa saya biĺang begitu? Karena dalam timpalan-timpalannya kalau kita analisis, ada makna lain dari sekadar “jangan berkhayal terlalu tinggi”. Yaitu bahwa pembicara 2 menganggap tindakan berdoa sebagai suatu yang sia-sia dan tidak perlu dilakukan. Pembicara 2 tidak meyakini bahwa dengan berdoa keinginan pembicara 1 dapat terkabul, dengan kata lain dia meremehkan kemampuan Tuhan untuk memberikan keajaiban pada pembicara 1. Selanjutnya pembicara 2 malah secara tersirat berkata “udah percuma lo berdoa, mending langsung ikut undian aja“. Padahal dalam Islam, ikhtiar dan doa tidak dapat dipisahkan dan bahwa apa yang dilakukan pembicara 1 sebenarnya sudah tepat untuk memohon pada Tuhan, dia hanya tinggal berikhtiar. Seharusnya pembicara 2 tidak meremehkan tindakan doa pembicara 1 dan alih-alih menyarankan untuk melanjutkannya untuk berikhtiar atau berusaha. Tapi kalau begitu bentuknya, mungkin pembuat iklan menyadari bahwa unsur religius akan nampak kental dan menjadikan iklan tidak lagi berkonteks universal. Saya bisa pahami itu, tapi menurut saya masih banyak cara lain untuk membuat narasi iklan yang lebih patut. Pertanyaan saya, apakah ada urgensi untuk mempertahankan bentuk narasi seperti itu yang cenderung  (dan bahkan menurut saya secara jelas) mempermainkan hubungan antara manusia dan Tuhan? Apakah pantas segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan dijadikan bahan bercandaan, permainan, lucu-lucuan untuk keperluan mencari keuntungan semata? Bagi mereka yang menuhankan uang mungkin tidak masalah, tapi saya sebagai orang muslim sangat miris mendengar iklan tersebut dan berharap tidak hanya saya yang menyadari ketidakpatutan tersebut.

Saya khawatir fenomena-fenomena seperti ini lama-kelamaan akan dimaklumi oleh generasi milenial karena tidak ada pihak yang mengoreksinya. Contoh kasus lainnya adalah pengejaan Allah dan Subhanallah yang sering diplesetkan oleh bahkan masyarakat muslim itu sendiri. Apakah tidak ada sedikit pun terbesit rasa bersalah ketika menyebut ya Allah menjadi yaw**, Subhanallah menjadi su**analove? Apakah begini cara orang muslim menghargai Tuhannya? Kalau ada yang bilang itu hanya untuk bercandaan, coba direnungkan apakah Allah pernah bercanda dalam mengatur kehidupan hambanya? Misalnya aja iseng gitu sedetik dihilangkan kemampuan bernapas, trus giliran bisa napas lagi, Allah bilang ” hehe bercanda” Apa mau kaya gitu? Saya yakin masih banyak orang yang peduli dengan isu-isu macam ini, hanya sayangnya mereka kurang “berisik”. Memang sering kali diam adalah emas, tapi bukan berarti kita harus selamanya diam. Kita harus sesekali berisik, kalau berisiknya kita itu bisa meluruskan kekeliruan.

Kuliah lagi

Dulu waktu kuliah sarjana, jujur saja sayang kurang bisa menikmati masa-masa perkuliahan. Saya tidak bisa menjalani proses demi proses dengan ikhlas, sehingga setiap hari bangun tidur untuk kuliah itu rasanya beraaat sekali.

Ada beberapa faktor yang membuat saya tidak kerasan di kampus. Pertama, teman-temannya. Kedua, dosennya. Oke, saya tidak akan cerita kenapa dan ada apa dengan kedua aspek itu. Yang saya ingin tekankan adalah bahwa sungguh sial saya kala itu karena kedua aspek itulah yang akan mengiringi saya selama 4 tahun atau hingga saya lulus, sehingga saya mau tidak mau harus berurusan dengan mereka terus walaupun di dalamnya ‘makan ati’.

Singkat cerita, luluslah saya dengan tepat waktu setelah drama ini itu dan mulailah masuk ke dunia kerja. Pada saat wisuda, saya merasa senang tapi sekaligus hampa. “Yeaaaay lulus”….trus apa? Rasanya selama empat tahun kuliah itu seperti tidak ada maknanya. Semacam anti klimaks. Di situ, saya menyalahkan faktor eksternal yang menurut saya adalah penyebab saya menjadi ‘seperti itu’.

Ketika masuk ke dunia kerja pun, saya tidak mendapatkan ‘euforia’ yang saya harapkan, yang ada justru penderitaan. Berkali-kali lamaran saya ditolak dan saya ga ngerti kenapa. Saya pikir saat itu yang akan membuat saya paling bahagia sedunia adalah diterima kerja di tempat bergengsi dan pakai baju kerja ala anak kantoran sehingga ketika ditanya temen atau saudara tentang pekerjaan, saya bisa santai saja menjawabnya. Beberapa waktu kemudian, Allah seperti mengabulkan keinginan saya tersebut. Saya diterima di suatu perusahaan, mengenakan baju ala anak kantoran dan berebut tempat di kereta saat pergi dan pulang kerja layaknya ‘orang-orang’ sehingga saya akhirnya bisa bercerita dengan konteks ‘kantoran’ seperti “tadi gw berangkat kerja keretanya kosong banget…” atau hal-hal relatable lainnya.

Sesaat saya sungguh menikmati momen-momen tersebut. Saya merasa saya sudah berhasil menjadi ‘orang’ seperti apa yang diasumsikan masyarakat terhadap lulusan sarjana. Tapi, lama-lama makna euforia itu ternyata memudar hingga hilang sama sekali dan akhirnya menyisakan rongga dalam kehidupan psikologis saya yang saya sendiri bingung mau ‘diisi’ apa. Saya selalu bertanya pada diri saya “Emangnya ini yang lo pengenin, Fan?” lalu “Apakah hidup lo itu tentang memenuhi ekspektasi orang lain?” Tentu jawabannya enggak, tapi pada kenyatannya itulah yang saya lakukan, berusaha menjadi seperti apa yang orang harapkan.

Yang saya pikir akan membuat saya bahagia, pada nyatanya tidak mampu memberikan wujud dari kebahagiaan yang absolut itu sendiri, yaitu ketenangan batin. Selama kuliah empat tahun, wisuda, kemudian kerja ternyata bukan jawaban atas angan-angan saya untuk merasa tenteram dengan hidup saya.

Saya bersyukur masih diberikan petunjuk oleh Allah untuk pada akhirnya entah bagaimana caranya, saya terdorong kuat sekali untuk resign dari kantor dan take time to contemplate what i want to do with my life.

Sepertinya (dan memang sudah jalannya) Allah mendukung ‘hijrah’ saya ini dengan mengundang saya ke Baitullah. Di sana, saya sadar bahwa selama ini apa yang terjadi dalam kehidupan saya, apa yang saya jalani, kenapa saya tidak pernah merasa puas, karena saya salah niat. Saya terlalu merendahkan ‘ridho Allah’ dan lebih berfokus pada apresiasi orang lain. Padahal di Alquran sudah diperingatkan bahwa kita akan kecewa jika berharap kepada selain Allah. Intinya saya zalim terhadap diri sendiri, tapi ga sadar-sadar sehingga menyalahkan orang lain. Renungan kala itu seperti memberi tamparan keras sembari mengatakan “ini semua tuh gara-gara lo sendiri.”

Akhirnya saya belajar bahwa segala sesuatu yang saya jalani sekarang harus dijalani dengan ikhlas mengharap ridho Allah. Jadi, kalau terjadi sesuatu di luar dugaan kita, itu berarti untuk menguji seberapa besar keikhlasan kita dan sekaligus mendidik kita untuk menjadi lebih sabar. Rasa-rasanya kalau saya hidup dengan mempunyai prinsip seperti itu, apapun yang terjadi dalam hidup saya, enteng saja saya melaluinya, karena saya yakin itu adalah ketentuan Allah dan Allah tidak mungkin menghendaki keburukan pada hamba-Nya.

Setelah berkontemplasi dan diskusi dengan keluarga, saya memutuskan untuk kuliah lagi saja dan mengambil kursus bahasa yang saya minati. Intinya, saya pengen belajar terus supaya semakin ‘merunduk’. Alhamdulillah, tahun ini saya mulai menjalankan studi jenjang magister. Karena saya ingin proses ini bermakna dari awal hingga akhir, sebelum perkuliahan dimulai, saya selalu berdoa agar nantinya diberikan teman-teman kuliah dan dosen-dosen yang baik dan menyenangkan, saling mengasihi, serta mengajak pada kebaikan. Saya juga berdoa agar saya dapat menikmati proses perkuliahan dan siap menerima segala ketentuan Allah dengan hati lapang. Saya tidak ingin apa yang saya alami ketika kuliah sarjana dulu terulang kembali. Maksudnya, saya tidak ingin terus menggerutu karena keadaan yang tidak bisa saya terima. Karena jika dipikir-pikir, sebenarnya dulu yang salah itu bukan teman-teman atau dosen-dosen saya, melainkan sayanya sendiri yang kurang pandai membawa diri ke dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dari watak dan kepribadian saya. Saya keburu terlena dengan fakta bahwa saya masuk universitas ternama, lalu lupa berdoa minta pertolongan pada Allah untuk ‘mengkondisikan’ mental saya. 

Kalau dulu yang saya inginkan adalah ‘gengsi’, sekarang saya hanya menginginkan ‘ketenangan’, karena menurut saya itulah yang akan membuat saya senantiasa bersyukur dan tidak mudah mengeluh. Dan itu hanya bisa dicapai jika saya melibatkan Allah dalam setiap aspek kehidupan saya.

Alhamdulillah sudah 2 bulan perkuliahan berjalan, saya dikelilingi rekan-rekan dan dosen-dosen yang baik seperti apa yang saya pinta dalam doa, membuat saya dapat menikmati setiap prosesnya.

Allah Maha baik banget. Saya senang dan bersyukur mengingat betapa baiknya Allah membimbing saya yang ‘tersesat’, yang dulu pongah, dan tidak mau melihat kesalahan diri sendiri.

Mudah-mudahan kita semua dapat terus menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya dan dapat menebarkan energi positif pada lingkungan di sekitar kita, serta semoga kita semua senantiasa berada dalam bimbingan Allah ❤

And He found you lost and guided you (93:7)

Hellfire

Neraka. Siapa sih yang mau masuk neraka?

Entah kenapa dulu otak saya dijejali pemikiran bahwa orang muslim itu pasti masuk surga, tapi ga langsung, melainkan ke neraka dulu, karena dosa kita harus ditebus dulu dan mana mungkin kan manusia akhir jaman begini ga ada dosanya? So, saya dulu berpikiran bahwa ya saya akan mencicipi neraka sebelum masuk ke surga tanpa tahu bahwa sebenarnya saya dan kita semua bisa selamat sama sekali dari api neraka.

Rahmat Allah luas

Saya tidak tahu bahwa rahmat Allah itu jauh lebih besar dari yang saya kira, ampunan Allah itu lebih luas dari dosa kita. Saking luasnya, bahkan dengan kita berputus asa dari rahmat Allah aja itu termasuk ke dalam kategori dosa besar. Luar biasa banget ga sih?

Kata Allah,

Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.

Mungkin karena dulu saya selalu ditakut-takuti oleh neraka tanpa diedukasi bahwa orang mukmin bisa loh ke surga langsung, bisa loh ke surga tanpa hisab, saya selalu ngeri membayangkan kematian dan akhirat karena saya pikir saya pasti akan masuk neraka dulu nih. Pernah tau ga sih separah apa panasnya api neraka? Mustahil untuk dibayangkan. Membayangkannya aja saya takut. Tapi coba deh pas masak, trus wajannya lagi pas panas-panasnya, coba bayangkan tangan kita menyentuh wajan tersebut. Neraka lebih dahsyat parah dari itu. So, kebayang kan gimana saya parno dan desperate sama yang namanya akhirat waktu itu. Rasa-rasanya saya tidak bisa hidup damai jika setiap ke kompor, yang ada di bayangan saya adalah diri saya yang terbakar api. Naudzubillah.

Setelah saya menonton kajian-kajian ust. Hanan Attaki yang khas anak mudanya, entah kenapa saya lebih nangkep maksud Islam dari beliau. Penyampaiannya lugas dan tidak pernah menyalahi, menggurui, dan menakut-nakuti. Lebih banyak memberikan kabar gembira. Seperti misalnya Allah tuh baik banget karena satu dan lain hal, Rasulullah tuh nanti setia banget sama kita di padang mahsyar, dll. Ibaratnya dia itu seperti memberikan hawa sejuk di tengah-tengah panas. 

Merasa suci

Dari yang saya pahami dan ini baru banget saya tahu bahwa dalam Islam, kita memang tidak boleh merasa suci dan menganggap orang lain suci, sekalipun kita lihat dia ibadah dan akhlaknya bagus banget. Sebaliknya, kita tidak boleh mengkafirkan sesama muslim karena hanya Allah yang tahu apa yang ada di hatinya. Kenapa kita berani bilang Rasulullah itu pasti masuk surga dan Firaun itu kafir dan pasti masuk neraka? Karena Allah yang bilang mereka seperti itu di dalam firman-Nya, bukan kita yang bilang. Dari sebuah ceramah di youtube saya dapat memahami bahwa, kita hanya bisa bilang secara umum bahwa yang tidak mengimani Allah dan Rasul itu kafir, namun dengan tidak menunjuk orangnya secara pasti, menentukan si A masuk neraka si B masuk surga (kecuali memang yang sudah tertulis dalam Quran dan Haditsh) karena pengetahuan kita tentang hal itu tidak ada sama sekali. Wallahualam.

Kembali ke topik bahwa kita bisa “membeli” tiket ekspres ke surga, gimana sih caranya? Ternyata mudah, tapi sering disepelekan banyak orang. Tinggal minta. Minta apa? Minta ke Allah. Minta ampunan dosa, minta dilindungi dari azab kubur dan siksa api neraka, dan minta dimasukkan ke surga. Tentunya itu harus diiringi dengan amalan-amalan soleh yang harus tetap dijalankan dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Kita boleh banget berharap sama Allah untuk masuk surga, tapi sedetik pun kita ga boleh yakin kita ini udah pasti masuk surga. Karena sekali kita menganggap diri kita suci, di situlah keangkuhan mulai tumbuh dan rasa takut terhadap Allah semakin redup. Itu sebabnya kita harus senantiasa bertaubat atau setidaknya beristigfar setiap harinya sekalipun kita ga merasa melakukan dosa dan sudah menjalankan perintah-perintah-Nya. Namanya juga manusia, siapa yang tahu ternyata tanpa kita sadari dosa itu terkumpul dengan sendirinya hanya gara-gara mengeluhkan hujan misalnya, atau buang sampah sembarangan, atau merasa sekejap lebih baik dari orang lain. Astagfirullah.

Pasrah masuk neraka?

Saya sebenernya kasihan sama orang-orang yang merasa dia sudah terlanjur banyak berbuat dosa, lalu dia pikir yaudah lah Allah ga bakal maafin dia jadi lebih baik diteruskan aja maksiatnya karena toh ujung-ujungnya dia bakal ke neraka dan ketemu temen-temennya juga yang sama-sama melakukan maksiat, kayanya kalau mereka solat juga udah ga ada gunanya. Mereka yakin mereka akan masuk neraka tapi mereka menyebut “neraka” itu dengan entengnya. Kaya neraka itu panasnya kaya sauna doang. Padahal mah…sepanas-panasnya panas yang ada di bumi ga mampu dibandingkan dengan panasnya neraka. Kenapa pasrah masuk neraka, sementara punya kesempatan untuk langsung masuk ke surga hanya dengan bertaubat? It’s definitely not mission impossible. 

Pezina masuk surga

Ada satu cerita yang saya suka dari sebuah hadith. Ceritanya ada seorang pezina yang berzina diam-diam dan mengadu kepada Rasulullah bahwa dia menyesal dan dia minta dirajam untuk menebus dosanya. Dan saya baru tahu ternyata hukum rajam itu hanya untuk pezina yang tertangkap basah. Kata Rasul, jangan ceritakan aibmu padaku, pulanglah dan bertaubatlah kamu minta ampun kepada Allah. Tapi perempuan itu tidak puas, dia kekeuh mau dirajam sampai akhirnya Rasulullah mengabulkan permintaannya. Ketika dirajam, ada orang yang merajam dia begitu kesal terhadap pezina ini dan terus-terusan menghinanya. Pada saat itu Rasulullah menghentikannya dan berkata pada orang itu, sesungguhnya Allah telah menerima taubatnya dan kini dia lebih mulia dari kamu. (Agak-agak lupa nih kata-kata pastinya, benerin ya kalo ada yang salah. Pokoknya perempuan ini udah dijamin surga kalo ga salah karena taubatnya itu).

Intinya adalah, seberapa besar pun dosa seorang pezina itu, rahmat Allah jauh lebih besar. Karena pezina ini menyesali perbuatannya dan bertaubat kepada Allah, Allah masukkan dia ke surga. Mudah banget ga sih sebenernya? Asal kita punya sifat menghamba, sebenarnya kita bisa memperoleh rahmat Allah. Jadi, sebenarnya kalau mau direnungkan, setiap detik dalam hidup kita itu sangat berharga jika kita gunakan untuk “menyicil tiket pulang ke surga.” Karena kesempatan taubat itu terbuka setiap saat hingga ajal kita tiba, tidak menutup kemungkinan yang tadinya buruk jadi baik dan vice versa. Orang jahat bisa masuk surga kalau di akhir hidupnya ternyata dia taubat. Sebaliknya, orang baik bisa masuk neraka jika ternyata di akhir hayatnya dia tergoda untuk bermaksiat atau terlalu bangga dengan amalan-amalan baiknya. Karena kita ga tahu bagaimana akhir cerita kita nanti, baiknya kita berdoa untuk selalu diarahkan hatinya agar selalu taat kepada Allah. Kita ini sebenernya ga punya apa-apa selain Allah. Semua yang melekat pada kita itu adalah titipan, bukan? Bahkan hati kita sekalipun kita tidak berkuasa toh terhadapnya. Jadi, what’s the point of being arrogant anyway?

Kesombongan

Salah satu yang saya sangat suka dari Islam adalah bagaimana Islam mengatur akhlak sampai ke akar-akarnya. Siapa sih yang suka sama orang sombong? Yang kalau kita ngobrol sama dia yang dia bicarakan dan dia perhatikan hanya dirinya saja? Dia membandingkan apa yang ada pada dirinya yang tidak ada pada diri orang lain lalu dia membanggakan hal itu di depan orang lain agar mendapat validasi bahwa i’m absolutely better than you guys. Bagusnya Islam, Allah ngerti banget kalau hal-hal macam gini yang bakal menimbulkan penyakit hati dan permasalahan sosial, sampai-sampai Allah mengancamkan neraka bagi siapapun yang memiliki kesombongan walau sekecil zarrah. It really does makes sense.

Pernah ga ngeliat orang sombong trus orang lain jadi iri, trus kalo orang lain ngerasa dia ga pantes mendapatkan apa yang dia punya (dengki), orang lain itu berharap nikmat pada dia dihilangkan darinya. See? Ternyata sombong itu akar dari segala penyakit hati. Dan yang lebih luar biasanya lagi dalam Islam, kita juga ga boleh menilai si A ria atau sombong karena dia memposting sedang membaca Al-Quran misalnya atau sedang berkumpul dengan keluarga, karena lagi-lagi seperti yang saya katakan di awal tadi, kita tidak tahu apa sebenernya yang ada dalam hati mereka. Siapa tau kan niatnya ga sombong tapi untuk syiar atau menyebarkan energi positif. So, dalam akhlak, kita benar-benar harus berhati-hati dengan hati kita sendiri. Dan saya akui ini sulit. Tidak dipungkiri, saya pun suka khilaf karena sesaat merasa halu bahwa semua hal itu lazim dan tidak ada masalah untuk dilakukan. Itu sebabnya kenapa kita harus sering beristigfar kepada Allah setiap saat.

Jadi mudah apa sulit nih?

Tadi katanya mudah, sekarang kok sulit? Mudah jika kita senantiasa sibuk memikirkan dosa-dosa kita dibandingkan mencari-cari kesalahan orang lain. Sulit kalau kita selalu merasa sudah lebih baik dari orang lain. Reflect. Tugas kita itu hanya menjadi lebih baik dari diri kita sendiri di masa lalu. Kita boleh bantu menyebarkan kebaikan untuk orang lain, tapi bukan berarti kita bisa meremehkan yang belum melakukan kebaikan. Kata Hanan Attaki ustadz favorit saya, potensi semua orang untuk melakukan dosa itu sama, baik orang soleh maupun bukan. Yang membedakan adalah apa yang mereka lakukan setelah berbuat dosa, bertaubat menangisi dosanya seperti Nabi Adam kah atau menyombongkan diri seperti iblis karena dia merasa lebih baik?

Allah loves the people who understands that they don’t want any part of jahannam, short or long term – Nouman Ali Khan