Mempermainkan Tuhan

Baru-baru ini saya sering mendengar iklan di radio yang membuat saya mengenyitkan dahi “kok gini amat sih?” . Buat yang belum pernah denger, iklan itu pada intinya menggambarkan seseorang yang mengimpikan harta seperti rumah, mobil mewah dam sebagainya dan dapat diwujudkan dengan mengikuti undian dengan syarat membeli produk yang diiklankan (saya lupa produknya apa).

Dalam narasi terdapat dua pembicara. Pembicara 1 memanjaatkan doa dengan nada didramatisir layaknya seorang muslim meminta pada Allah. Mengapa saya katakan seperti orang muslim? Karena adanya penggunaan kata hamba yang setau saya merupakan “kosakata” orang muslim. Dalam doanya pembicara 1 mengatakan “berikanlah hamba rumah mewah…” tanpa menyebut kata ‘Allah’ maupun ‘Tuhan’, lalu diulang-ulang dengan objek yang berbeda. Setiap doa dipanjatkan, pembicara 2 menimpalinya dengan meremehkan  “ngimpi lo” dan ekspresi semacamnya yang kemudian pada timpalan terakhir, pembicara 2 memberikan solusi bagi pembicara 1 untuk mengikuti undian saja agar langsung dapat mewujudkan keinginannya.

Sekilas sepertinya tidak bermasalah, ya? Tapi saya melihat dalam iklan tersebut ada bentuk pelecehan terhadap Tuhan, meskipun mungkin tidak ada tendensi ke situ dari pembuat iklan.  Kenapa saya biĺang begitu? Karena dalam timpalan-timpalannya kalau kita analisis, ada makna lain dari sekadar “jangan berkhayal terlalu tinggi”. Yaitu bahwa pembicara 2 menganggap tindakan berdoa sebagai suatu yang sia-sia dan tidak perlu dilakukan. Pembicara 2 tidak meyakini bahwa dengan berdoa keinginan pembicara 1 dapat terkabul, dengan kata lain dia meremehkan kemampuan Tuhan untuk memberikan keajaiban pada pembicara 1. Selanjutnya pembicara 2 malah secara tersirat berkata “udah percuma lo berdoa, mending langsung ikut undian aja“. Padahal dalam Islam, ikhtiar dan doa tidak dapat dipisahkan dan bahwa apa yang dilakukan pembicara 1 sebenarnya sudah tepat untuk memohon pada Tuhan, dia hanya tinggal berikhtiar. Seharusnya pembicara 2 tidak meremehkan tindakan doa pembicara 1 dan alih-alih menyarankan untuk melanjutkannya untuk berikhtiar atau berusaha. Tapi kalau begitu bentuknya, mungkin pembuat iklan menyadari bahwa unsur religius akan nampak kental dan menjadikan iklan tidak lagi berkonteks universal. Saya bisa pahami itu, tapi menurut saya masih banyak cara lain untuk membuat narasi iklan yang lebih patut. Pertanyaan saya, apakah ada urgensi untuk mempertahankan bentuk narasi seperti itu yang cenderung  (dan bahkan menurut saya secara jelas) mempermainkan hubungan antara manusia dan Tuhan? Apakah pantas segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan dijadikan bahan bercandaan, permainan, lucu-lucuan untuk keperluan mencari keuntungan semata? Bagi mereka yang menuhankan uang mungkin tidak masalah, tapi saya sebagai orang muslim sangat miris mendengar iklan tersebut dan berharap tidak hanya saya yang menyadari ketidakpatutan tersebut.

Saya khawatir fenomena-fenomena seperti ini lama-kelamaan akan dimaklumi oleh generasi milenial karena tidak ada pihak yang mengoreksinya. Contoh kasus lainnya adalah pengejaan Allah dan Subhanallah yang sering diplesetkan oleh bahkan masyarakat muslim itu sendiri. Apakah tidak ada sedikit pun terbesit rasa bersalah ketika menyebut ya Allah menjadi yaw**, Subhanallah menjadi su**analove? Apakah begini cara orang muslim menghargai Tuhannya? Kalau ada yang bilang itu hanya untuk bercandaan, coba direnungkan apakah Allah pernah bercanda dalam mengatur kehidupan hambanya? Misalnya aja iseng gitu sedetik dihilangkan kemampuan bernapas, trus giliran bisa napas lagi, Allah bilang ” hehe bercanda” Apa mau kaya gitu? Saya yakin masih banyak orang yang peduli dengan isu-isu macam ini, hanya sayangnya mereka kurang “berisik”. Memang sering kali diam adalah emas, tapi bukan berarti kita harus selamanya diam. Kita harus sesekali berisik, kalau berisiknya kita itu bisa meluruskan kekeliruan.

Iklan

Kuliah lagi

Dulu waktu kuliah sarjana, jujur saja sayang kurang bisa menikmati masa-masa perkuliahan. Saya tidak bisa menjalani proses demi proses dengan ikhlas, sehingga setiap hari bangun tidur untuk kuliah itu rasanya beraaat sekali.

Ada beberapa faktor yang membuat saya tidak kerasan di kampus. Pertama, teman-temannya. Kedua, dosennya. Oke, saya tidak akan cerita kenapa dan ada apa dengan kedua aspek itu. Yang saya ingin tekankan adalah bahwa sungguh sial saya kala itu karena kedua aspek itulah yang akan mengiringi saya selama 4 tahun atau hingga saya lulus, sehingga saya mau tidak mau harus berurusan dengan mereka terus walaupun di dalamnya ‘makan ati’.

Singkat cerita, luluslah saya dengan tepat waktu setelah drama ini itu dan mulailah masuk ke dunia kerja. Pada saat wisuda, saya merasa senang tapi sekaligus hampa. “Yeaaaay lulus”….trus apa? Rasanya selama empat tahun kuliah itu seperti tidak ada maknanya. Semacam anti klimaks. Di situ, saya menyalahkan faktor eksternal yang menurut saya adalah penyebab saya menjadi ‘seperti itu’.

Ketika masuk ke dunia kerja pun, saya tidak mendapatkan ‘euforia’ yang saya harapkan, yang ada justru penderitaan. Berkali-kali lamaran saya ditolak dan saya ga ngerti kenapa. Saya pikir saat itu yang akan membuat saya paling bahagia sedunia adalah diterima kerja di tempat bergengsi dan pakai baju kerja ala anak kantoran sehingga ketika ditanya temen atau saudara tentang pekerjaan, saya bisa santai saja menjawabnya. Beberapa waktu kemudian, Allah seperti mengabulkan keinginan saya tersebut. Saya diterima di suatu perusahaan, mengenakan baju ala anak kantoran dan berebut tempat di kereta saat pergi dan pulang kerja layaknya ‘orang-orang’ sehingga saya akhirnya bisa bercerita dengan konteks ‘kantoran’ seperti “tadi gw berangkat kerja keretanya kosong banget…” atau hal-hal relatable lainnya.

Sesaat saya sungguh menikmati momen-momen tersebut. Saya merasa saya sudah berhasil menjadi ‘orang’ seperti apa yang diasumsikan masyarakat terhadap lulusan sarjana. Tapi, lama-lama makna euforia itu ternyata memudar hingga hilang sama sekali dan akhirnya menyisakan rongga dalam kehidupan psikologis saya yang saya sendiri bingung mau ‘diisi’ apa. Saya selalu bertanya pada diri saya “Emangnya ini yang lo pengenin, Fan?” lalu “Apakah hidup lo itu tentang memenuhi ekspektasi orang lain?” Tentu jawabannya enggak, tapi pada kenyatannya itulah yang saya lakukan, berusaha menjadi seperti apa yang orang harapkan.

Yang saya pikir akan membuat saya bahagia, pada nyatanya tidak mampu memberikan wujud dari kebahagiaan yang absolut itu sendiri, yaitu ketenangan batin. Selama kuliah empat tahun, wisuda, kemudian kerja ternyata bukan jawaban atas angan-angan saya untuk merasa tenteram dengan hidup saya.

Saya bersyukur masih diberikan petunjuk oleh Allah untuk pada akhirnya entah bagaimana caranya, saya terdorong kuat sekali untuk resign dari kantor dan take time to contemplate what i want to do with my life.

Sepertinya (dan memang sudah jalannya) Allah mendukung ‘hijrah’ saya ini dengan mengundang saya ke Baitullah. Di sana, saya sadar bahwa selama ini apa yang terjadi dalam kehidupan saya, apa yang saya jalani, kenapa saya tidak pernah merasa puas, karena saya salah niat. Saya terlalu merendahkan ‘ridho Allah’ dan lebih berfokus pada apresiasi orang lain. Padahal di Alquran sudah diperingatkan bahwa kita akan kecewa jika berharap kepada selain Allah. Intinya saya zalim terhadap diri sendiri, tapi ga sadar-sadar sehingga menyalahkan orang lain. Renungan kala itu seperti memberi tamparan keras sembari mengatakan “ini semua tuh gara-gara lo sendiri.”

Akhirnya saya belajar bahwa segala sesuatu yang saya jalani sekarang harus dijalani dengan ikhlas mengharap ridho Allah. Jadi, kalau terjadi sesuatu di luar dugaan kita, itu berarti untuk menguji seberapa besar keikhlasan kita dan sekaligus mendidik kita untuk menjadi lebih sabar. Rasa-rasanya kalau saya hidup dengan mempunyai prinsip seperti itu, apapun yang terjadi dalam hidup saya, enteng saja saya melaluinya, karena saya yakin itu adalah ketentuan Allah dan Allah tidak mungkin menghendaki keburukan pada hamba-Nya.

Setelah berkontemplasi dan diskusi dengan keluarga, saya memutuskan untuk kuliah lagi saja dan mengambil kursus bahasa yang saya minati. Intinya, saya pengen belajar terus supaya semakin ‘merunduk’. Alhamdulillah, tahun ini saya mulai menjalankan studi jenjang magister. Karena saya ingin proses ini bermakna dari awal hingga akhir, sebelum perkuliahan dimulai, saya selalu berdoa agar nantinya diberikan teman-teman kuliah dan dosen-dosen yang baik dan menyenangkan, saling mengasihi, serta mengajak pada kebaikan. Saya juga berdoa agar saya dapat menikmati proses perkuliahan dan siap menerima segala ketentuan Allah dengan hati lapang. Saya tidak ingin apa yang saya alami ketika kuliah sarjana dulu terulang kembali. Maksudnya, saya tidak ingin terus menggerutu karena keadaan yang tidak bisa saya terima. Karena jika dipikir-pikir, sebenarnya dulu yang salah itu bukan teman-teman atau dosen-dosen saya, melainkan sayanya sendiri yang kurang pandai membawa diri ke dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dari watak dan kepribadian saya. Saya keburu terlena dengan fakta bahwa saya masuk universitas ternama, lalu lupa berdoa minta pertolongan pada Allah untuk ‘mengkondisikan’ mental saya. 

Kalau dulu yang saya inginkan adalah ‘gengsi’, sekarang saya hanya menginginkan ‘ketenangan’, karena menurut saya itulah yang akan membuat saya senantiasa bersyukur dan tidak mudah mengeluh. Dan itu hanya bisa dicapai jika saya melibatkan Allah dalam setiap aspek kehidupan saya.

Alhamdulillah sudah 2 bulan perkuliahan berjalan, saya dikelilingi rekan-rekan dan dosen-dosen yang baik seperti apa yang saya pinta dalam doa, membuat saya dapat menikmati setiap prosesnya.

Allah Maha baik banget. Saya senang dan bersyukur mengingat betapa baiknya Allah membimbing saya yang ‘tersesat’, yang dulu pongah, dan tidak mau melihat kesalahan diri sendiri.

Mudah-mudahan kita semua dapat terus menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya dan dapat menebarkan energi positif pada lingkungan di sekitar kita, serta semoga kita semua senantiasa berada dalam bimbingan Allah ❤

And He found you lost and guided you (93:7)

Hellfire

Neraka. Siapa sih yang mau masuk neraka?

Entah kenapa dulu otak saya dijejali pemikiran bahwa orang muslim itu pasti masuk surga, tapi ga langsung, melainkan ke neraka dulu, karena dosa kita harus ditebus dulu dan mana mungkin kan manusia akhir jaman begini ga ada dosanya? So, saya dulu berpikiran bahwa ya saya akan mencicipi neraka sebelum masuk ke surga tanpa tahu bahwa sebenarnya saya dan kita semua bisa selamat sama sekali dari api neraka.

Rahmat Allah luas

Saya tidak tahu bahwa rahmat Allah itu jauh lebih besar dari yang saya kira, ampunan Allah itu lebih luas dari dosa kita. Saking luasnya, bahkan dengan kita berputus asa dari rahmat Allah aja itu termasuk ke dalam kategori dosa besar. Luar biasa banget ga sih?

Kata Allah,

Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.

Mungkin karena dulu saya selalu ditakut-takuti oleh neraka tanpa diedukasi bahwa orang mukmin bisa loh ke surga langsung, bisa loh ke surga tanpa hisab, saya selalu ngeri membayangkan kematian dan akhirat karena saya pikir saya pasti akan masuk neraka dulu nih. Pernah tau ga sih separah apa panasnya api neraka? Mustahil untuk dibayangkan. Membayangkannya aja saya takut. Tapi coba deh pas masak, trus wajannya lagi pas panas-panasnya, coba bayangkan tangan kita menyentuh wajan tersebut. Neraka lebih dahsyat parah dari itu. So, kebayang kan gimana saya parno dan desperate sama yang namanya akhirat waktu itu. Rasa-rasanya saya tidak bisa hidup damai jika setiap ke kompor, yang ada di bayangan saya adalah diri saya yang terbakar api. Naudzubillah.

Setelah saya menonton kajian-kajian ust. Hanan Attaki yang khas anak mudanya, entah kenapa saya lebih nangkep maksud Islam dari beliau. Penyampaiannya lugas dan tidak pernah menyalahi, menggurui, dan menakut-nakuti. Lebih banyak memberikan kabar gembira. Seperti misalnya Allah tuh baik banget karena satu dan lain hal, Rasulullah tuh nanti setia banget sama kita di padang mahsyar, dll. Ibaratnya dia itu seperti memberikan hawa sejuk di tengah-tengah panas. 

Merasa suci

Dari yang saya pahami dan ini baru banget saya tahu bahwa dalam Islam, kita memang tidak boleh merasa suci dan menganggap orang lain suci, sekalipun kita lihat dia ibadah dan akhlaknya bagus banget. Sebaliknya, kita tidak boleh mengkafirkan sesama muslim karena hanya Allah yang tahu apa yang ada di hatinya. Kenapa kita berani bilang Rasulullah itu pasti masuk surga dan Firaun itu kafir dan pasti masuk neraka? Karena Allah yang bilang mereka seperti itu di dalam firman-Nya, bukan kita yang bilang. Dari sebuah ceramah di youtube saya dapat memahami bahwa, kita hanya bisa bilang secara umum bahwa yang tidak mengimani Allah dan Rasul itu kafir, namun dengan tidak menunjuk orangnya secara pasti, menentukan si A masuk neraka si B masuk surga (kecuali memang yang sudah tertulis dalam Quran dan Haditsh) karena pengetahuan kita tentang hal itu tidak ada sama sekali. Wallahualam.

Kembali ke topik bahwa kita bisa “membeli” tiket ekspres ke surga, gimana sih caranya? Ternyata mudah, tapi sering disepelekan banyak orang. Tinggal minta. Minta apa? Minta ke Allah. Minta ampunan dosa, minta dilindungi dari azab kubur dan siksa api neraka, dan minta dimasukkan ke surga. Tentunya itu harus diiringi dengan amalan-amalan soleh yang harus tetap dijalankan dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Kita boleh banget berharap sama Allah untuk masuk surga, tapi sedetik pun kita ga boleh yakin kita ini udah pasti masuk surga. Karena sekali kita menganggap diri kita suci, di situlah keangkuhan mulai tumbuh dan rasa takut terhadap Allah semakin redup. Itu sebabnya kita harus senantiasa bertaubat atau setidaknya beristigfar setiap harinya sekalipun kita ga merasa melakukan dosa dan sudah menjalankan perintah-perintah-Nya. Namanya juga manusia, siapa yang tahu ternyata tanpa kita sadari dosa itu terkumpul dengan sendirinya hanya gara-gara mengeluhkan hujan misalnya, atau buang sampah sembarangan, atau merasa sekejap lebih baik dari orang lain. Astagfirullah.

Pasrah masuk neraka?

Saya sebenernya kasihan sama orang-orang yang merasa dia sudah terlanjur banyak berbuat dosa, lalu dia pikir yaudah lah Allah ga bakal maafin dia jadi lebih baik diteruskan aja maksiatnya karena toh ujung-ujungnya dia bakal ke neraka dan ketemu temen-temennya juga yang sama-sama melakukan maksiat, kayanya kalau mereka solat juga udah ga ada gunanya. Mereka yakin mereka akan masuk neraka tapi mereka menyebut “neraka” itu dengan entengnya. Kaya neraka itu panasnya kaya sauna doang. Padahal mah…sepanas-panasnya panas yang ada di bumi ga mampu dibandingkan dengan panasnya neraka. Kenapa pasrah masuk neraka, sementara punya kesempatan untuk langsung masuk ke surga hanya dengan bertaubat? It’s definitely not mission impossible. 

Pezina masuk surga

Ada satu cerita yang saya suka dari sebuah hadith. Ceritanya ada seorang pezina yang berzina diam-diam dan mengadu kepada Rasulullah bahwa dia menyesal dan dia minta dirajam untuk menebus dosanya. Dan saya baru tahu ternyata hukum rajam itu hanya untuk pezina yang tertangkap basah. Kata Rasul, jangan ceritakan aibmu padaku, pulanglah dan bertaubatlah kamu minta ampun kepada Allah. Tapi perempuan itu tidak puas, dia kekeuh mau dirajam sampai akhirnya Rasulullah mengabulkan permintaannya. Ketika dirajam, ada orang yang merajam dia begitu kesal terhadap pezina ini dan terus-terusan menghinanya. Pada saat itu Rasulullah menghentikannya dan berkata pada orang itu, sesungguhnya Allah telah menerima taubatnya dan kini dia lebih mulia dari kamu. (Agak-agak lupa nih kata-kata pastinya, benerin ya kalo ada yang salah. Pokoknya perempuan ini udah dijamin surga kalo ga salah karena taubatnya itu).

Intinya adalah, seberapa besar pun dosa seorang pezina itu, rahmat Allah jauh lebih besar. Karena pezina ini menyesali perbuatannya dan bertaubat kepada Allah, Allah masukkan dia ke surga. Mudah banget ga sih sebenernya? Asal kita punya sifat menghamba, sebenarnya kita bisa memperoleh rahmat Allah. Jadi, sebenarnya kalau mau direnungkan, setiap detik dalam hidup kita itu sangat berharga jika kita gunakan untuk “menyicil tiket pulang ke surga.” Karena kesempatan taubat itu terbuka setiap saat hingga ajal kita tiba, tidak menutup kemungkinan yang tadinya buruk jadi baik dan vice versa. Orang jahat bisa masuk surga kalau di akhir hidupnya ternyata dia taubat. Sebaliknya, orang baik bisa masuk neraka jika ternyata di akhir hayatnya dia tergoda untuk bermaksiat atau terlalu bangga dengan amalan-amalan baiknya. Karena kita ga tahu bagaimana akhir cerita kita nanti, baiknya kita berdoa untuk selalu diarahkan hatinya agar selalu taat kepada Allah. Kita ini sebenernya ga punya apa-apa selain Allah. Semua yang melekat pada kita itu adalah titipan, bukan? Bahkan hati kita sekalipun kita tidak berkuasa toh terhadapnya. Jadi, what’s the point of being arrogant anyway?

Kesombongan

Salah satu yang saya sangat suka dari Islam adalah bagaimana Islam mengatur akhlak sampai ke akar-akarnya. Siapa sih yang suka sama orang sombong? Yang kalau kita ngobrol sama dia yang dia bicarakan dan dia perhatikan hanya dirinya saja? Dia membandingkan apa yang ada pada dirinya yang tidak ada pada diri orang lain lalu dia membanggakan hal itu di depan orang lain agar mendapat validasi bahwa i’m absolutely better than you guys. Bagusnya Islam, Allah ngerti banget kalau hal-hal macam gini yang bakal menimbulkan penyakit hati dan permasalahan sosial, sampai-sampai Allah mengancamkan neraka bagi siapapun yang memiliki kesombongan walau sekecil zarrah. It really does makes sense.

Pernah ga ngeliat orang sombong trus orang lain jadi iri, trus kalo orang lain ngerasa dia ga pantes mendapatkan apa yang dia punya (dengki), orang lain itu berharap nikmat pada dia dihilangkan darinya. See? Ternyata sombong itu akar dari segala penyakit hati. Dan yang lebih luar biasanya lagi dalam Islam, kita juga ga boleh menilai si A ria atau sombong karena dia memposting sedang membaca Al-Quran misalnya atau sedang berkumpul dengan keluarga, karena lagi-lagi seperti yang saya katakan di awal tadi, kita tidak tahu apa sebenernya yang ada dalam hati mereka. Siapa tau kan niatnya ga sombong tapi untuk syiar atau menyebarkan energi positif. So, dalam akhlak, kita benar-benar harus berhati-hati dengan hati kita sendiri. Dan saya akui ini sulit. Tidak dipungkiri, saya pun suka khilaf karena sesaat merasa halu bahwa semua hal itu lazim dan tidak ada masalah untuk dilakukan. Itu sebabnya kenapa kita harus sering beristigfar kepada Allah setiap saat.

Jadi mudah apa sulit nih?

Tadi katanya mudah, sekarang kok sulit? Mudah jika kita senantiasa sibuk memikirkan dosa-dosa kita dibandingkan mencari-cari kesalahan orang lain. Sulit kalau kita selalu merasa sudah lebih baik dari orang lain. Reflect. Tugas kita itu hanya menjadi lebih baik dari diri kita sendiri di masa lalu. Kita boleh bantu menyebarkan kebaikan untuk orang lain, tapi bukan berarti kita bisa meremehkan yang belum melakukan kebaikan. Kata Hanan Attaki ustadz favorit saya, potensi semua orang untuk melakukan dosa itu sama, baik orang soleh maupun bukan. Yang membedakan adalah apa yang mereka lakukan setelah berbuat dosa, bertaubat menangisi dosanya seperti Nabi Adam kah atau menyombongkan diri seperti iblis karena dia merasa lebih baik?

Allah loves the people who understands that they don’t want any part of jahannam, short or long term – Nouman Ali Khan

August

Jpeg

August is indeed the month of events. Various important and memorable events occur within this month. Aside from the independence day Indonesia will celebrate on 17th and Korea had celebrated on 15th, i just came to know that Lady Diana also died on August, on the very end of August to be exact. Because of that, some medias broadcast some programs relating to her, for instance is Diana : In Her Own Words aired by National Geographic.

As we all know, Diana’s story has been controversial. She was always interesting to be talked about. I knew from history that she was not happy with her royal life but what she hided behind every single smiles back then turned out to be too hurtful to hear. As a woman and as a mother, she was not respected by her very own inner circle which is her husband and the royal families. Despite she was often adored by many in public more than any other royal family members, it was not enough to make her comfortable and happy. Why? Because she didn’t get any credits from her own royal families and she was forced to hide it in front of the public or media.

In the first episode she said desperately “All i want is they give me credits and tell me that i have been doing well” Diana was too young to play a big role as a Princess of Wales but despite those factors, her surroundings didn’t give any support at all. It was already a burden to herself to be in that position in such a young age, but the royal families and some medias doubled up that burden by putting a blame on her for not behaving in a certain way. Her own husband even scolded her often for complaining too much while she was expecting her first child. Can you imagine how she felt at the moment? I can’t even imagine.

Here i am not intended to discuss more about Diana, but instead i will take her as an example about how is the inside more powerful than the outside. We often hear bad or good comments from people we not really know or don’t know at all, but the question is does it badly affect us? It does, but admit it you will eventually get rid of it a days later because you know they don’t know you well enough so it doesn’t really matter. But what if those comments come from your own family or your closest friends who know you inside out? If it is support, you will feel all supported as if all nations supporting you and if it is humiliation, how will you take it?

Somehow, no to exaggerate, i have been sort of experiencing what Lady Diana had. Of course it was not that bad, but i felt like at the moment the whole world was against me except Allah. Allah alone should be enough, right? But to be honest i was badly hurt too. In one time they supported me, the other time they blamed me because i was not good enough and that i was spoiled brat and lazy and that i didn’t do anything useful all day and i have been a burden to some because of my inability to do certain things. They often spoke from their own perspectives. I will not defend much here and i didn’t either back then.

Since it came out from their mouths, my closest relations, the hurt was multiplied by two. They didn’t realize this because i kept acting like it was not a big deal to me while in fact it truly was. As someone who is struggling to reach her dreams or live her life properly, i faced various obstacles that maybe in others’s eyes was nothing. And what is worse was they were there not to help overcoming those obstacles, but instead to humiliate because they thought if they were me they would have passed those things easily. Some moments they spoke it out of tease that sounded more of truth.

Actually, there was no wrong or right in this case. We both can be wrong and we both can be right, so it was not best to play victim and blame one another. All i want to highlight in this issue is that family and friends are often the main source of support for most people. We seek and expect support mostly from them after Allah. If we cannot give our support because of one and another thing, at least we don’t belittle them. Remember, we are humans who has feelings. Even the toughest person can be hurt too. There isn’t any reason in Islam that gives us rights to hurt other people’s feelings. It is why good deeds is not only about praying, fasting and reading Quran, but also about how we behave to other people, how far we have practiced our Islam in our environment and in our life as general.

None is more virtuous over another except by righteous deeds.

Madain Saleh and what lessons we can earn from it.

WARNING: Some contents might be sensitive. Kindly be advised.
Jpeg

Pada saat umroh beberapa bulan lalu, saya beserta keluarga dan rombongan berkesempatan mengunjungi Madain Saleh yang berjarak kurang lebih 300 km dari kota Madinah.

Apa itu Madain Saleh?

Jujur, awalnya saya ga tau apa-apa tentang ini. Baru tau pas dalam perjalanan ke sana. Itu juga karena diberitahu oleh Pak Haji pemimpin rombongannya.

Jadi, Madain Saleh adalah tempat tinggal kaum Tsamud pada zaman Nabi Saleh a.s yang dibinasakan (ditimpakan azab) karena mengingkari Allah dan para nabi dan rasul.

Ya, itu tempat bekas dikenai azab.

Bekas azab, saudara-saudara.

Tapi, bodohnya saya, karena saya belum membaca apa-apa soal kisah kaum Tsamud ini (padahal ada dalam Al-Quran) dan saya belum tahu ada hadits yang meriwayatkan bahwa kita tidak boleh mengunjungi tempat-tempat yang pernah diazab Allah kecuali dengan menangis, saya senang-senang aja tuh pas di sana, sama sekali tidak merenungkan dan mengambil pelajaran.

“Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak bisa menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian. (HR. Bukhari 433).”

Akibat ketidaktahuan dan kepolosan hamba yang kurang ilmu ini, layaknya turis yang mengunjungi tempat wisata, saya dan bahkan mayoritas rombongan asyik foto-foto di sana. Dan memang saya akui tempat itu luar biasa indah dan mengagumkan. Belum pernah saya lihat tempat seperti itu di manapun.

Pak Haji juga tidak memperingatkan kami tentang riwayat hadits ini, jadi kami atau saya to be exact santai-santai saja saat berkunjung ke sana dan bertindak seolah-olah sedang bertamasya. Maafkan hambamu ini ya Allah.

Setelah pulang umroh, saya jadi penasaran sama kaum Tsamud ini dan ingin tahu betapa hebatnya mereka bisa memahat gunung-gunung batu menjadi tempat tinggal mereka dan bagaimana ceritanya hingga kehebatan mereka itu akhirnya dibinasakan. Apa sih dosa mereka? Apa yang mereka perbuat di muka bumi ini?

Mulailah saya membuka Al-Quran kemudian membacanya beserta terjemahannya tentunya. Saya ga hapal, tapi seingat saya di dalam Al-Quran berkali-kali dan cenderung sering disebutkan tentang kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah, yaitu Kaum Nabi Nuh a.s, Kamu Nabi Luth a.s, Kaum Ad, Kaum Tsamud, dan Kaum Firaun sebagai pelajaran untuk kaum muslimin agar tidak seperti mereka, agar jangan sampai umat Nabi Muhammad saw ditimpakan azab serupa karena tidak mau beriman pada Allah.

Setelah baca Al-Quran, saya jadi tahu inti dari kisahnya, bahwa

Kaum Tsamud ini awalnya adalah kaum yang hebat. Mereka mampu membangun istana di atas tanah yang datar dan bahkan memahat gunung-gunung batu menjadi rumah mereka dengan indahnya. Mereka mendapatkan nikmat yang sangat besar,
tapi tidak mau beriman kepada Allah dan bersikap angkuh di muka bumi.

”Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS al-A’raf: 74)

Nabi Saleh a.s diutus oleh Allah untuk memperingatkan mereka agar menyembah Allah, tapi karena keangkuhan mereka di muka bumi, mereka enggan beriman. Mereka tidak percaya dengan Allah dan bahwa Nabi Saleh a.s itu utusan Allah. Sehingga pada suatu waktu mereka menantang Nabi Saleh untuk memunculkan unta istimewa dari batu, karena mereka tidak percaya itu akan terjadi dan supaya Nabi Saleh berhenti berdakwah pada mereka. Namun, atas kuasa Allah, unta tersebut benar-benar muncul dari batu dan Nabi Saleh memperingatkan kaum Tsamud agar tidak mengganggu unta tersebut, apalagi menyembelihnya. Namun sekali lagi, karena keangkuhan mereka, sebagian besar dari mereka tetap tidak mau beriman setelah didatangkan mukjizat tersebut dan mereka malah menyembelih unta tersebut. Maka dari itu, Allah mengazab mereka dengan petir yang menggelegar hingga meruntuhkan bangunan tempat tinggal mereka.

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tshamud.” (QS Hud ayat 67-68).

Ya, tentunya ini menjadi pelajaran bagi umat muslim, bahwa betapapun manusia bisa membangun ini dan itu di muka bumi dengan ilmu mereka, berkuasa atas banyak hal, dan hebat di mata manusia, itu semua menjadi tidak berarti jika mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Pelajaran ini tidak hanya relevan pada zaman itu, melainkan juga sampai saat ini. Dan kalau boleh saya kaitkan dengan kasus pak mantan gubernur Jakarta yang di penjara itu, betapa banyak orang yang mengaku muslim yang membela beliau, bahkan memilih beliau hanya karena (katanya) kinerjanya bagus dan dia pandai mengelola ini dan itu sehingga menghilangkan banyak permasalahan di ibukota.

Gausah jauh-jauh sebenarnya, bahkan teman saya sendiri pun pengagum beliau dan terang-terangan membela dan memilih beliau.

Ya teman saya itu muslim.

Mungkin mereka memakai logika bahwa bagaimana mungkin mereka tidak memilih beliau sementara sudah terbukti (katanya) kinerja beliau dan bagaimana mungkin mereka memilih kandidat lainnya yang seiman dengan mereka tapi belum terbukti kinerjanya dan programnya mengada-ada (kata mereka).

Saya pribadi memang dari awal tidak pernah condong dan sreg dengan bapak mantan gubernur itu. Tidak suka namun juga tidak benci. Awalnya. Tidak sampai beliau membuat pernyataan tentang surat Al-Maidah ayat 51. Ingin saya biasa-biasa saja atas ucapan beliau itu, tapi hati kecil saya seperti enggak rela dan marah dengan -kalau boleh saya bilang- kesoktahuan dan kelancangan beliau.

Ya, saya jadi tidak respect terhadapnya, meskipun di hadapan teman saya, saya bersikap biasa saja, karena saya tahu mereka tidak akan sependapat dengan saya dan saya tidak mau berdebat akan hal itu mengingat ilmu agama saya masih cetek.

Saya dulu sempat berlogika seperti mereka. Kenapa ya kok kita disuruh milih yang muslim padahal begini begitu dibanding nonmuslim?
Subhanallah, Allah langsung memberi jawaban atas itu dan kembali meyakinkan hati saya bahwa itu memang perintah Allah dan saya harus menjalankannya (meskipun saya bukan pemilih saat itu).

Bagaimana cara Allah menjawab saya?

Dr. Zakir Naik datang ke Indonesia dan beberapa saat setelahnya banyak video ceramahnya di Indonesia yang telah diunggah ke youtube bahkan diterjemahkan. Saya sudah menonton beberapa video beliau sejak tahun lalu dan sesungguhnya saya penasaran bagaimana pendapatnya mengenai pemilihan gubernur yang diributkan masyarakat Indonesia ini.

Alhamdulillahnya, banyak videonya yang membahas tentang pemilihan gubernur dan dia memberikan banyak perumpaan yang menurut saya sangat masuk akal dan sulit dibantah, serta semakin meyakinkan hati saya tentang perintah Allah tersebut.
Saya tidak akan menjabarkan analoginya di sini, silakan tonton saja di youtube, tapi pada intinya dia mengatakan bahwa apa gunanya membangun gedung-gedung, memberantas kemiskinan, dan lain sebagainya tetapi dia tidak beriman kepada Allah?
Bukan dia yang menjadikan kemiskinan itu hilang, tapi Allah. Di tangan Allah lah semua urusan diatur.  Kita manusia hanyalah perantaranya, jadi menurut saya tidak sepantasnya umat Islam mengagumi kehebatan beliau, karena tanpa seizin Allah itu semua tidak akan terjadi. Allah lah yang sepantasnya kita puji.

Dan argumen ini diperkuat oleh Al-Quran sendiri melalui kisah-kisah kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah.

Lihatlah kerajaan Firaun yang bahkan jauh lebih hebat dari Jakarta ini, atau kaum Tsamud yang mampu memahat gunung-gunung batu dengan indahnya.
Kalau kita hidup di zaman itu, pastilah kita mengagumi kehebatan mereka jauh dari kita (saya sih enggak) mengagumi bapak gubernur ini. Tapi, dengan kehebatan sebesar itu,
apakah mereka cukup kuat menghadang banjir, gempa, dan bencana hebat lainnya yang diturunkan oleh Allah? Sama sekali enggak.

Sudah besar kekuatan dan kehebatan mereka, eh ujung-ujungnya binasa juga karena tidak mengimani Allah dan para rasul.

Apalah manusia tanpa Allah.

Kaum-kaum yang disebutkan dalam firman Allah ini tentu bukan kaum sembarangan.
Mereka jauh lebih hebat dari gubernur ibukota, tapi lihat apa akibatnya saat mereka
mengingkari Allah.

Kalau Allah berkehendak, Jakarta bisa saja -amit-amit- dibinasakan, mudah banget bagi Allah. Tapi sepertinya Allah ingin menunjukkan hal lain dan memberikan pelajaran bagi umat muslim di Indonesia, sekaligus menunjukkan siapa di antara mereka yang termasuk orang-orang munafik.

Tentunya sebagai umat Islam yang beriman, kita harus bijak ke depannya dalam menghadapi persoalan seperti ini. Saran saya, jangan kebanyakan nonton TV dan baca artikel LINE TODAY. Kalau sudah ada perdebatan tentang ini dan itu, Allah bilang segera kembalilah ke Al-Quran. Dan Allah sudah buktikan itu, di Al-Quran kita bisa lihat jawabannya. Suka atau tidak suka, kita harus patuhi sebagai orang yang mengaku beriman kepada-Nya. Saya yakin di balik setiap perintah Allah itu ada kebaikan.

Kalau masalah pemilihan gubernur aja kita gabisa yakin, bagaimana status keyakinan kita pada Allah? Jangan-jangan syahadat kita sudah batal karena menafikkan perintah-perintah Allah yang jelas-jelas tertulis dalam Al-Quran, naudzubillah.

Di suatu ceramah yang saya tonton di youtube menyebutkan bahwa para Nabi itu ketika diperintahkan oleh Allah suatu hal, mereka langsung menjalankan tanpa meragukannya, walaupun belum tahu apa hikmahnya. Contohnya Nabi Ibrahim a.s yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Beliau mana tahu anaknya nanti bakal diganti dengan domba, tapi beliau yakin saja kepada Allah bahwa Allah tidak akan menghendaki sesuatu pada hambanya kecuali kebaikan dan benar Allah tunjukkan itu pada akhirnya dengan mengganti Ismail a.s dengan domba untuk disembelih.

Kalau Nabi aja enggak berani mempertanyakan perintah Allah, lalu siapa kita berani menafikkan perintah Allah dalam surat Al Maidah ayat 51?

Katanya yakin dengan keberadaan Allah, tapi kok masih ragu-ragu menjalankan perintah-Nya? Ragu dengan janji-janji-Nya? Yakinlah dengan janji Allah terhadap orang-orang yang bersabar saat menjalankan perintah Allah. Kata ustad Hanan Attaki, sabar tingkat tinggi itu bukan sabar saat kedatangan musibah, tapi sabar saat beribadah.

Semoga Allah subhanahuwataala mengampuni dosa-dosa kita dan mengarahkan kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.

“Do not walk proudly on the earth; you can neither tear the earth apart nor can you rival the mountains in height.” (Qur’an 17:37)

Birthday

Two months to go to August means two months to go to turning 25.

Honestly i’m not a big fan of birthday and neither are my family. The only thing i like about my birthday is just how i share the same born date with mom. Since i was a kid, i never had a birthday party or celebration even once. The biggest event that ever happened during my birthday was having my colleagues brought me a dozen of donuts with candle on it for me to blow while they sang “happy birthday” song to me, that’s all. I was so touched literally since i didn’t expect them to do things like that at all. I was thankful but at a same time didn’t know what to do and started to think that they might be disappointed by my flat or not so overwhelming response – you know that guilty feeling.

So what do i and my family usually do on birthdays?

Let me tell you something. This is what i love about my family. They are extremely simple when it comes to events. Normally on one of our birthdays, we would just said to each other “Oh today is her/his birthday” with flat intonation, or if there’s no one remember it, we would say (and it’s usually me and my sister LOL) “it’s my birthday today” and then they congratulate the birthday girl/boy, also without so much enthusiasm. After that, we will decide where to eat on weekends (whenever the birthday is, we will “celebrate” it on weekend), even sometimes my father will be reluctant to join the ladies if he is too tired :D. No presents since we all are adults now and no cake cutting. Mom said, “who would eat the whole cake at home?” Well, she is right. My family have a bad habit of buying foods, eat only a tiny piece of them and leave it on the refrigerator for eternity, until we throw them out because they have been there too long or when they stink already. (Don’t be like us!)

Not just the birthday. I don’t even know my parent’s wedding anniversary date because they never celebrate it even once. What i know is just they married on November 1989 and that was because of the month and the year marked on their old wedding photos i was looking at, not because they told me. They are so anti-events, so to speak. However, raised in a family in which such events do not that matter is such a blessing for me. Why? Because it made me think, behind those important dates people will assume, there are far more important things we could pay more attention to. For instance, what to eat today and if there’s enough brown rice in stock. Lol, just kidding. I just love their simplicity.

I learn from them that we should not rely our happiness on any events or celebration. We could careless about the birthday, yet we could still be happy.  So please don’t get me wrong if sometimes i forgot or just don’t feel like saying “happy birthday”. It’s not that “i don’t remember yours” or “i don’t care about you anymore” or even worst “i stop loving you”. It’s just me who personally think birthday shouldn’t be a big deal in everyone’s life. It is just a birthday, anyway. And i still love you.

Sincerely,

66% introverted girl

Unmarried me talking about marriage

Akhir-akhir ini entah kenapa sering banget lihat artikel atau postingan berbau pernikahan. Entah temen yang mau nikah, temennya temen, atau siapapun di luar sana yang tidak saya kenal, sampai postingan “pembelaan diri” dari seorang wanita yang merasa usianya sudah cukup untuk menikah namun belum menemukan jodohnya, atau yang paling sering saya temui, ungkapan kegelisahan para wanita cukup usia yang sudah “kebelet” atau “terdesak” untuk menikah karena melihat teman-teman seusianya mayoritas sudah berkeluarga.

Lumrah saja sebenarnya ketika saya melihat fenomena-fenomena seperti itu bertebaran di media sosial. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya di postingan seseorang yang ingin saya jabarkan di sini karena saking geregetannya.

Postingan tersebut berisi tentang pembelaan seorang wanita yang kata temen-temennya sih “istriable” banget tapi belum nikah juga sampai sekarang dan dia sering ditanyain kapan nikah. Padahal saya lihat dia umurnya 4 tahun di bawah saya, and i’m like HELLO santai saja kali yah gausah dihiraukan omongan temen-temenmu itu, saya aja belum nikah kok. Saya mau nikah? Mau banget, tapi saya mah serahkan aja ke Allah untuk calon dan timingnya, gamau diambil pusing. Kata dia meskipun dia bisa masak dan nyuci baju sendiri, dia merasa belum capable enough menjadi istri karena tugas seorang istri lebih berat dari itu. Katanya seorang istri itu harus bisa segalanya, bangun pagi, menyiapkan makanan bergizi, membersihkan dan merawat rumah dan segala hal rumah tangga lainnya dia sebutkan di situ. Kalau belum siap melakukan itu, katanya dia belum pantas menjadi istri, karena katanya ga semua cowo mau sama cewe yang baru belajar masak, baru belajar nyuci baju pas udah menikah. Gitu ceunah. Heu. Saya mah ga setuju sama poin ini.

Poin tersebut kemudian mengundang sebuah komentar dari seorang cewe yang mengatakan bahwa intinya kenapa sih pernikahan itu selalu tentang apa yang pria inginkan, bagaimana dengan wanita? Apa tidak ada yang peduli dengan keinginan kita, para wanita? Dijawablah komentar itu oleh seorang komentator lain yang adalah seorang pria yang seperti membela diri. Katanya ga cuma cewe kok yang punya tuntutan, cowo juga harus punya rumah, mobil, segala macem, yah intinya harus mapan sebelum menikah, sedangkah cewe kan ga harus kaya gitu.

Kedua komentator ini seperti beradu “siapa yang lebih besar tanggung jawabnya” dan “siapa yang lebih dirugikan dalam pernikahan”. Hei, padahal mah ga kaya gitu kali esensi sebuah pernikahan.

Oke, pertama saya ga setuju sama penulis postingan itu tentang syarat menjadi seorang istri itu harus bisa segala pekerjaan rumah tangga. Menurut saya, yang penting adalah kemandirian. Kalau kita sudah terbiasa mandiri, segala hal rumah tangga bisa dipelajari dengan mudah seiring waktu. Kedua, kedua komentar tersebut membuat saya gimana ya, sebenernya ada benernya. Tapi, wanita dan pria masing-masing punya tanggung jawab dalam pernikahan, toh? Jangan lah saling iri-irian dengan kewajiban masing-masing. Jangan menuntut sesuatu pada orang lain jika kita belum menjalankan kewajiban kita sendiri. Kata seseorang, kalau kita mau mengubah orang lain, harus dimulai dari diri sendiri. Ya berarti, kalau cowo-cowo mau calon istrinya nanti taat sama dia, berbakti sama dia, mereka harus jalanin kewajibannya dulu sebagai seorang suami, bukan lantas “menuntut”. Istri yang baik, menurut saya, akan dengan otomatis melihat perlakuan baik suaminya sebagai “tuntutan” terhadapnya untuk berlaku baik pula kepadanya tanpa harus dengan gamblang sang suami bilang “hei, kamu istriku, kamu tuh harus bisa masak supaya gizi suamimu ini terpenuhi dengan baik.”

Saya setuju, seorang istri harus bisa melayani suaminya, tetapi bukan berarti suami bisa memperlakukan istrinya seperti babu kan? Pahami konteksnya ya. Memasak, mencuci, membersihkan rumah adalah hal-hal yang bisa dipelajari seiring waktu dan kalau memang mampu, tidak ada salahnya bagi menyewa pembantu rumah tangga.  Kalau ga mampu, setidaknya suami bisa membantu istri dalam menjalankan perannya, begitu pun sebaliknya. Ya intinya saling membantu dan mendukung satu sama lain. Para kaum adam yang bener dan waras, nyari istri bukan buat disuruh-suruh, dijadiin babu, melainkan untuk menjadi teman hidup untuk tumbuh bersama, ibu dan panutan yang baik bagi anak-anaknya kelak. Kecerdasan dan karakter seorang anak itu konon sebagian besar menurun dari ibunya, menurut beberapa penelitian.

Nah untuk kita para wanita, para calon istri, juga harus sadar sama kewajiban masing-masing, jangan mau “enaknya” aja. Kita memang harus berbakti pada suami, bahkan dengan menikah, kita menjadikan suami di atas orang tua kita. Tidak begitu dengan para suami. TAPI, kata Rasulullah, suami yang baik adalah yang memuliakan istrinya, bukan menyusahkannya. Anak perempuan itu dibesarkan oleh orang tuanya dengan susah payah untuk apa emangnya? Untuk melihatnya bahagia, karena setelah menikah, anak perempuan itu seperti “dicuri” selama-lamanya dari orang tuanya untuk ikut ke suami. Bukan berarti kesannya pernikahan itu buruk bagi wanita lho ya. Hanya saja, saya ingin menekankan bahwa bagaimana pun, istri dan suami itu punya porsinya masing-masing. Allah itu maha adil, ga mungkin lah kewajiban istri lebih berat dari suami atau sebaliknya, kecuali kalian yang mengotakkannya seperti itu.

Hmmm sebenernya agak ga nyambung sama paragraf awal, cuma intinya kita itu jangan terlalu banyak nuntut ke orang lain. Bilang kewajiban yang satu lebih berat dari yang lain atau apa lah. Sebaiknya kita jalani aja lah apa kewajiban kita dengan ikhlas, niscaya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal kok. Saling pengertian dan sadar diri. Menikah itu saya yakin, meskipun saya sendiri belum menikah, bukanlah sesuatu yang diciptakan untuk menyiksa kaum hawa maupun kaum adam. Menikah itu ibadah, tapi juga jangan dijadikan sebuah tren. Temen nikah, trus ikutan kepingin nikah. Lalu jadi galau karena jodoh belum kunjung tiba, dsb. Apa ya, kalau saya sih lebih baik mendekatkan diri kepada Allah aja, minta dimudahkan jodohnya, sambil terus memperbaiki diri, karena kan jodoh itu cerminan diri. Tapi katanya kalau tujuan kita memperbaiki diri karena untuk cari jodoh itu keliru. Belajar dari kisah Zulaikha dan Nabi Yusuf, Allah malah menjauhkan Nabi Yusuf dari Zulaikha karena Zulaikha terus mengejar cinta Nabi Yusuf. Baru ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah berikan Nabi Yusuf kepadanya dan mereka pun berjodoh.

Jadi, jangan lah galau-galau miris tentang jodoh, terutama buat yang berusia 20an ke atas atau yang baru lulus kuliah trus mulai merasa butuh pendamping, dsb. Hei, ada hal lain yang bisa kalian lakukan daripada melamun soal jodoh. Sikapi dengan santai pertanyaan “kapan nikah?” dan anggap itu doa dari mereka bagi kita agar mudah dipertemukan dengan jodoh kita. Jodoh akan tiba tepat pada waktunya, Insya Allah.

A woman’s heart should be so hidden in Allah that a man should have to seek Him first to find her.