Unmarried me talking about marriage

Akhir-akhir ini entah kenapa sering banget lihat artikel atau postingan berbau pernikahan. Entah temen yang mau nikah, temennya temen, atau siapapun di luar sana yang tidak saya kenal, sampai postingan “pembelaan diri” dari seorang wanita yang merasa usianya sudah cukup untuk menikah namun belum menemukan jodohnya, atau yang paling sering saya temui, ungkapan kegelisahan para wanita cukup usia yang sudah “kebelet” atau “terdesak” untuk menikah karena melihat teman-teman seusianya mayoritas sudah berkeluarga.

Lumrah saja sebenarnya ketika saya melihat fenomena-fenomena seperti itu bertebaran di media sosial. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya di postingan seseorang yang ingin saya jabarkan di sini karena saking geregetannya.

Postingan tersebut berisi tentang pembelaan seorang wanita yang kata temen-temennya sih “istriable” banget tapi belum nikah juga sampai sekarang dan dia sering ditanyain kapan nikah. Padahal saya lihat dia umurnya 4 tahun di bawah saya, and i’m like HELLO santai saja kali yah gausah dihiraukan omongan temen-temenmu itu, saya aja belum nikah kok. Saya mau nikah? Mau banget, tapi saya mah serahkan aja ke Allah untuk calon dan timingnya, gamau diambil pusing. Kata dia meskipun dia bisa masak dan nyuci baju sendiri, dia merasa belum capable enough menjadi istri karena tugas seorang istri lebih berat dari itu. Katanya seorang istri itu harus bisa segalanya, bangun pagi, menyiapkan makanan bergizi, membersihkan dan merawat rumah dan segala hal rumah tangga lainnya dia sebutkan di situ. Kalau belum siap melakukan itu, katanya dia belum pantas menjadi istri, karena katanya ga semua cowo mau sama cewe yang baru belajar masak, baru belajar nyuci baju pas udah menikah. Gitu ceunah. Heu. Saya mah ga setuju sama poin ini.

Poin tersebut kemudian mengundang sebuah komentar dari seorang cewe yang mengatakan bahwa intinya kenapa sih pernikahan itu selalu tentang apa yang pria inginkan, bagaimana dengan wanita? Apa tidak ada yang peduli dengan keinginan kita, para wanita? Dijawablah komentar itu oleh seorang komentator lain yang adalah seorang pria yang seperti membela diri. Katanya ga cuma cewe kok yang punya tuntutan, cowo juga harus punya rumah, mobil, segala macem, yah intinya harus mapan sebelum menikah, sedangkah cewe kan ga harus kaya gitu.

Kedua komentator ini seperti beradu “siapa yang lebih besar tanggung jawabnya” dan “siapa yang lebih dirugikan dalam pernikahan”. Hei, padahal mah ga kaya gitu kali esensi sebuah pernikahan.

Oke, pertama saya ga setuju sama penulis postingan itu tentang syarat menjadi seorang istri itu harus bisa segala pekerjaan rumah tangga. Menurut saya, yang penting adalah kemandirian. Kalau kita sudah terbiasa mandiri, segala hal rumah tangga bisa dipelajari dengan mudah seiring waktu. Kedua, kedua komentar tersebut membuat saya gimana ya, sebenernya ada benernya. Tapi, wanita dan pria masing-masing punya tanggung jawab dalam pernikahan, toh? Jangan lah saling iri-irian dengan kewajiban masing-masing. Jangan menuntut sesuatu pada orang lain jika kita belum menjalankan kewajiban kita sendiri. Kata seseorang, kalau kita mau mengubah orang lain, harus dimulai dari diri sendiri. Ya berarti, kalau cowo-cowo mau calon istrinya nanti taat sama dia, berbakti sama dia, mereka harus jalanin kewajibannya dulu sebagai seorang suami, bukan lantas “menuntut”. Istri yang baik, menurut saya, akan dengan otomatis melihat perlakuan baik suaminya sebagai “tuntutan” terhadapnya untuk berlaku baik pula kepadanya tanpa harus dengan gamblang sang suami bilang “hei, kamu istriku, kamu tuh harus bisa masak supaya gizi suamimu ini terpenuhi dengan baik.”

Saya setuju, seorang istri harus bisa melayani suaminya, tetapi bukan berarti suami bisa memperlakukan istrinya seperti babu kan? Pahami konteksnya ya. Memasak, mencuci, membersihkan rumah adalah hal-hal yang bisa dipelajari seiring waktu dan kalau memang mampu, tidak ada salahnya bagi menyewa pembantu rumah tangga.  Kalau ga mampu, setidaknya suami bisa membantu istri dalam menjalankan perannya, begitu pun sebaliknya. Ya intinya saling membantu dan mendukung satu sama lain. Para kaum adam yang bener dan waras, nyari istri bukan buat disuruh-suruh, dijadiin babu, melainkan untuk menjadi teman hidup untuk tumbuh bersama, ibu dan panutan yang baik bagi anak-anaknya kelak. Kecerdasan dan karakter seorang anak itu konon sebagian besar menurun dari ibunya, menurut beberapa penelitian.

Nah untuk kita para wanita, para calon istri, juga harus sadar sama kewajiban masing-masing, jangan mau “enaknya” aja. Kita memang harus berbakti pada suami, bahkan dengan menikah, kita menjadikan suami di atas orang tua kita. Tidak begitu dengan para suami. TAPI, kata Rasulullah, suami yang baik adalah yang memuliakan istrinya, bukan menyusahkannya. Anak perempuan itu dibesarkan oleh orang tuanya dengan susah payah untuk apa emangnya? Untuk melihatnya bahagia, karena setelah menikah, anak perempuan itu seperti “dicuri” selama-lamanya dari orang tuanya untuk ikut ke suami. Bukan berarti kesannya pernikahan itu buruk bagi wanita lho ya. Hanya saja, saya ingin menekankan bahwa bagaimana pun, istri dan suami itu punya porsinya masing-masing. Allah itu maha adil, ga mungkin lah kewajiban istri lebih berat dari suami atau sebaliknya, kecuali kalian yang mengotakkannya seperti itu.

Hmmm sebenernya agak ga nyambung sama paragraf awal, cuma intinya kita itu jangan terlalu banyak nuntut ke orang lain. Bilang kewajiban yang satu lebih berat dari yang lain atau apa lah. Sebaiknya kita jalani aja lah apa kewajiban kita dengan ikhlas, niscaya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal kok. Saling pengertian dan sadar diri. Menikah itu saya yakin, meskipun saya sendiri belum menikah, bukanlah sesuatu yang diciptakan untuk menyiksa kaum hawa maupun kaum adam. Menikah itu ibadah, tapi juga jangan dijadikan sebuah tren. Temen nikah, trus ikutan kepingin nikah. Lalu jadi galau karena jodoh belum kunjung tiba, dsb. Apa ya, kalau saya sih lebih baik mendekatkan diri kepada Allah aja, minta dimudahkan jodohnya, sambil terus memperbaiki diri, karena kan jodoh itu cerminan diri. Tapi katanya kalau tujuan kita memperbaiki diri karena untuk cari jodoh itu keliru. Belajar dari kisah Zulaikha dan Nabi Yusuf, Allah malah menjauhkan Nabi Yusuf dari Zulaikha karena Zulaikha terus mengejar cinta Nabi Yusuf. Baru ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah berikan Nabi Yusuf kepadanya dan mereka pun berjodoh.

Jadi, jangan lah galau-galau miris tentang jodoh, terutama buat yang berusia 20an ke atas atau yang baru lulus kuliah trus mulai merasa butuh pendamping, dsb. Hei, ada hal lain yang bisa kalian lakukan daripada melamun soal jodoh. Sikapi dengan santai pertanyaan “kapan nikah?” dan anggap itu doa dari mereka bagi kita agar mudah dipertemukan dengan jodoh kita. Jodoh akan tiba tepat pada waktunya, Insya Allah.

A woman’s heart should be so hidden in Allah that a man should have to seek Him first to find her.

Iklan

I’m sorry i didn’t cry

wp-1490820761024.jpeg

You know what kind of thing you would regret the most?

For me, it is the state of being unable to make bond with your Creator while you were right in His house.

For most of you who have been to Mecca, you must cried the first time you see the Ka’bah. But for some unknown reasons, it didn’t happen to me.

My mind goes blank for a moment

Just because i didn’t cry, doesn’t mean i got no emotional feeling running inside my heart. I felt it, for real. It was hard to believe at first that finally i could see this Ka’bah from up close. That time, my mind just went blank and had no idea what to do. I just…stare, stare and stare until i realize i should get my self together to start the Umrah, beginning from tawaf, along with the group.

On my first day in Mecca, i keep wondering why everybody but me cried. I felt so bad and decided to move on. So i just made as many duas as possible, staring wholeheartedly at the Ka’bah  (but still without tears), wished that Allah knew what was really inside my heart.

Regardless of what happened with my tear duct, i experienced a lot of great times which never make my self the same as before taking this trip.

And here goes some of my reflections during my precious wondeful Umrah trip with my family ~

You didn’t feel tired

Either waking up so early to join fajr prayer, walking distances between hotel and Al haram, tawaf in a daylight, or doing sa’i on the cold floor, not a single time i felt tired. For those of you who have been there, you know that there is such a distinctive energy that will make you feel like your body, mind, and soul are always energized. At first i thought it would be so tiring to do the tawaf in a daylight among the sea of humans. How can i endure it? I wondered. I was wrong! Tawaf in the daylight turned out to be less tired than in the night. It was amazing. I am kind of people who hate to be exposed to sunlight for too long but there, day is my favorite time and i don’t mind the sun at all.

Life is simple

My life has never been this satisfying since i visited the two blessed cities. You know, i used to think that graduating from reputable university, going for prestigious work, hitting the fancy gym to get in shape, hanging out after work with colleagues to be as social as possible, and all other worldly activities would bring me such satisfaction i utterly needed in life. It didn’t. In fact, i never felt satisified with the dunya (worldly life) regardless how well the situation is, because i couldn’t help but comparing my life to the other and acted as if i was in a competition with them. It was never enough. I kept wanting more and more and couldn’t live the present life to the fullest. It constantly consumed my spiritual soul and thus be soulless. What was worse is, i used to procrastinate the prayer until the last minute and always had a hard time waking up for fajr, even sometimes i missed it. I used to prioritize everything but Allah. Astagfirullah. How my life has gone so wrong. No wonder life turned to be so complicated, while in fact, it isn’t.

In Mecca and Madina, my life was no other than waiting for the prayer time, going to Masjid before the time comes, reading quran while waiting for the prayer, enjoying the soothing recitation of the imam while praying and drinking limitless zam zam after each prayer. Just that simple, but you would feel as if you were getting a little piece of heaven going on your life. Masha Allah.

I forgot that we should put worship first before the dunya. I forgot that the one who can satisfy me is only Allah. Put Allah first and everything will work out. Maybe not the way i wish to be, but just the way it meant to be. Now i know i should shift the focus of my life.

The missing soul

As i’m back home, my mind would not just move on from there. The first two weeks after leaving the Mecca, i didn’t feel completely present. My body is here but my mind is there. How i miss them so much and all the tranquility it gave me. Home is where the heart is. My heart is there, so is my home. The ultimate home of all muslims in the world.

Cry without tears

I cried in my room as i miss them. Felt so emotional, but shed just a little tears. It’s quite paradox. I am kind of losing the ability to produce tears as i grew older. People would call me heartless at this rate. But that’s not what i am like. For me now, crying isn’t always the same thing as shedding a tear. I hope that doesn’t make me sound heartless.

The next time Allah invites me back (may all dear muslim fellows get invited too), i wish, i really wish, i could shed a tear…

Slight tought

Pernah ga sih membaca dua artikel yang bertentangan, misalnya ada satu artikel judulnya

5 Alasan Nikah Muda itu baik

lalu kemudian ada artikel lain yang judulnya

5 Reason Why you Should never settle in your 20’s

seolah kedua penulis artikel tersebut sedang berdebat dan mempertahankan pendapatnya.

Kalau saya sih seeeeeering banget menemukan dua artikel bertentangan semacam itu hingga saya berkesimpulan bahwa ternyata setiap orang mempunyai poin pembelaannya masing-masing atas keadaan hidupnya saat ini bagaimana pun situasinya. Dan memang pada akhirnya ga ada yang benar atau salah karena itu balik lagi ke sudut pandang masing-masing orang. Saya juga belajar bahwa setiap orang mempunyai keputusan masing-masing mengenai hidupnya beserta alasan di balik itu , meskipun belum tentu semua orang memahaminya dan sepatutnya, kita tidak lantas menghakimi hanya karena keputusan itu ga masuk akal atau bertentangan dari sudut pandang kita.

Masalahnya yang sering terjadi adalah ada orang nge-share salah satu artikel demikian yang mendukung pemikirannya lalu play victim as if banyak orang yang menentang dia dengan pemikiran itu, yang mana pada kenyataannya ga ada juga yang menentang dia dan itu hanya halusinasi dirinya saja yang membuat dia seolah tertekan dengan pendapat orang lain yang berbeda dengannya (well setiap orang berhak berbeda pendapat, kalau tidak siap menerima perbedaan, why bother jump into social life). Atau kasus lainnya, orang nge-share artikel itu lalu memaksa orang lain untuk sejalan dengan pikirannya, ya gabisa gitu dong ya. Why don’t you just share, comment and don’t bother anyone.

Pada akhirnya saya hanya mau mengutip kata-kata sederhananya Pidi Baiq,

Kalau kalian benar jangan merasa paling benar, aku juga kalau salah ga akan merasa paling salah.

Semoga dunia menjadi lebih indah dengan rasa pengertian dan toleransi antar sesama umat manusia.

Short trip in Istanbul (12 hour transit)

Ini adalah trip tersingkat saya sepanjang sejarah. 1 hari 0 malam. Kunjungan saya ke Turki ini sebenarnya adalah aji mumpung berangkat umroh. Kami berangkat menggunakan Turkish Airlines yang rutenya mencakup Jakarta -> Istanbul -> Madinah, transit di Istanbul. Karena transitnya cukup lama sekitar 12 jam, rombongan kami berencana melakukan city tour di sekitar kawasan Sultanahmet. Awalnya saya kira, untuk masuk ke Turki, ngurus visanya ribet kaya Eropa, taunya dia Visa on Arrival yang bisa diapply secara online, simple banget. Kalau ga keluar bandara sih tidak perlu buat visa ya.

Dari bandara, kami langsung menuju kawasan Sultanahmet menggunakan bus, tapi sampai di sana, kami diharuskan jalan kaki untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitar situ, karena memang letaknya sangat berdekatan.

Saat itu di Turki sedang musim dingin (walaupun bukan lagi puncaknya), suhunya sekitar 6 derajat celcius. Kalau mau dibandingin sama Korea, musim dinginnya Turki mungkin mirip musim gugurnya Korea, karena musim dingin di Korea sangat dingin dan suhunya di bawah 0 derajat. Ga kebayang gimana dinginnya musim dingin di Korea, yang 6 derajat aja bagi kami sudah super dingin!

Walk tour kami ini tentunya dipandu oleh seorang guide dari Turki yang berbahasa inggris. Tempat-tempat yang kami kunjungi sebenarnya tidak banyak, hanya yang inti-intinya saja, seperti

1. Blue Mosque

wp-image-1845969480jpg.jpeg
Tertutup kabut

Masjid yang dahulu bernama Sultanahmet Mosque ini masih berfungsi sebagai masjid dan disebut masjid biru karena katanya keramik interiornya berwarna biru. Karena sedang berhalangan, saya tidak diperbolehkan masuk masjid dan harus menunggu di luar ketika rombongan melaksanakan solat zuhur. Masjid ini memiliki bentuk yang mirip dengan Hagia Sophia yang terletak persis di seberangnya. Meskipun kabut tebal sedang meliputi kawasan pada saat itu, keindahan masjid masih tetap terlihat.

2. Hagia Sophia Museum

Museum ini awalnya berfungsi sebagai gereja, kemudian masjid, baru dijadikam museum. Ketika kami masuk ke dalamnya, dapat ditemukan dominasi ornamen-ornamen bekas dekorasi masjid seperti tulisan Allah, Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Meskipun demikian, masih pula terdapat ornamen bekas gereja seperti gambar dewa-dewi yang salah satu wajahnya sudah dihilangkan ketika bangunan ini berfungsi sebagai masjid, karena dalam Islam hal tersebut tidak diperbolehkan.

wp-image-2030911617jpg.jpeg
Hagia Sophia tampak depan
wp-image-838142319jpg.jpeg
Interior museum

Sungguh menarik menyaksikan sejarah bagaimana bangunan ini beralih fungsi dari gereja menjadi masjid.

3. Grand Bazaar

Yang terakhir, tentunya orang Indonesia yang doyan belanja pasti senang banget ke sini. Grand Bazaar ini merupakan pusat perbelanjaan terbesar di dunia ceunah kata guidenya mah. Di dalamnya dijual barang-barang khas Turki seperti kerudung, sajadah, keramik, dan camilan bernama Turkish Delight. Buat yang berhijab, saya sarankan jangan pulang sebelum membeli scarfnya yang cantik-cantik, karena bahannya bagus dan harganya ga terlalu mahal, penjualnya juga ramah-ramah.

Selain scarf, Turkish Delight juga wajib dibeli meskipun rada mahal harganya. Dia semacam permen campur kacang campur spices ala Turki, pokoknya enak lah , saya berani jamin.

wp-image-473678823jpg.jpeg
Pintu masuk Grand Bazaar
wp-image-1446664779jpg.jpeg
Rupa-rupa Turkish Delight

Pulang dari belanja, kami habiskan sisa waktu untuk berfoto-foto di sekitar Masjid dan Museum sebelum kembali ke bus untuk balik ke bandara menuju penerbangan berikutnya.

Meskipun singkat, perjalanan di Turki ini sangat berkesan dan memberikan banyak pelajaran dan pemahaman bagi saya tentang negara Turki. Seperti contohnya, ternyata orang Turki juga suka buang sampah sembarangan di jalan tol 😥. Trus kalau lagi macet, ada orang yang jual minuman atau tissue di jalanan persis kaya pedagang asongan di jalanan Indonesia kalau lagi musim mudik 😅. Seperti itulah kira-kira.

Memang harus diakui, walk tour ini kurang memuaskan jiwa petualang saya karena saya masih ingin menjelajah lebih lama lagi dan lebih luas lagi. Semoga saja di lain waktu saya bisa kembali ke Turki dan tidak hanya menjelajahi Istanbul, tetapi juga kota-kota indah lainnya, atau mungkin juga sekalian ke Eropa. AMIN

Berburu Addictea di Cisangkuy

Akhir minggu ini, saya dan keluarga pergi ke Bandung. Pergi ke Bandung menjadi ritual kami setidaknya sebulan sekali sejak kakak saya kuliah di sana hingga sekarang.

Kali ini saya sudah membayangkan akan mengunjungi addictea house yang terletak di Jalan Cisangkuy no. 46 karena terpancing promo ini 😜

wp-1485585151759.jpeg

Bukan karena promonya aja sih, tapi memang sudah lama pengen ke sana karena mau cobain yang low fat edition yang mana cuma dijual di situ, toko pusatnya. Yaudah deh, sebagai pecinta addictea yang kebetulan lagi ke Bandung, saya langsung melesat ke rumah ini.

wp-image-2121401710jpeg.jpeg

Rumahnya fancy ala ala jaman baheula peninggalan Belanda, sederhana. Di dalemnya juga gitu aja sebenernya cuma ada satu lemari pendingin dan beberapa kursi, tapi untungnya yang saya cari ada; addictea low fat edition!

wp-image-1370344869jpeg.jpeg

Langsung saya beli, juga rasa-rasa yang lainnya hingga nominal belanja saya mencapai syarat untuk dapetin kalender lucu ini, yeay! Di dalam kalendernya, ada kupon-kupon diskon addictea setiap bulannya, tapi sayangnya cuma bisa digunakan di outlet2 Bandung saja.

wp-image-991972502jpeg.jpeg

Sebenarnya saya agak kecewa sama rasanya yang low fat ini, karena kurang nendang gitu rasanya, enakan yang biasa. Ya mungkin karena low sugar jadi begitu kali ya rasanya. Gapapa lah akhirnya jadi ga penasaran lagi sekarang.

Entah kenapa addictea ini semakin menarik dan meningkat nilai jualnya setelah kemasannya diganti jadi lebih kokoh dan berkarakter (sok sok-an jadi pengamat). Kalau di Jakarta dan pas lagi ada di mall yang ada Ranch Marketnya, saya selalu menyempatkan diri untuk beli addictea ini karena rasanya lumayan ngangenin terutama yang rasa pisang. Cukup bisa mengobati kerinduan saya akan susu pisang Bingrae-nya Korea, malah addictea ini lebih enak sih menurut saya.

Well, Bandung memang tidak pernah gagal membuat saya terkagum-kagum dengan produk unik dan kreatifnya.

Dum(b) Dum(b) Service

​​Memberikan uang kembalian adalah kewajiban bagi setiap penjual kepada pembeli. Tapi, sayangnya masih ada saja penjual yang “memaksa” pembeli untuk memberikan uang kecil atau uang pas, yang tujuannya adalah agar mereka tidak kesulitan dalam memecah uang. Lalu pertanyaannya kemudian adalah, apakah supaya mereka tidak kesulitan jadinya kami para pembeli yang harus kesulitan merogoh uang recehan di dalam dompet kami sekuat tenaga? 

Uang pas dan uang pecahan kecil

Sejujurnya, saya tidak masalah membayar dengan uang pas atau uang yang tidak membutuhkan banyak kembalian, selama saya memang memilikinya atau tidak menyimpan uang recehan tersebut untuk keperluan hal lain. Dengan begitu, jika saya memutuskan untuk membayar dengan uang pecahan besar, penjual tidak bisa “memaksa” saya ataupun “memarahi” saya karena tidak punya pecahan kecil padahal mereka sebenarnya berkemampuan memberikan kembaliannya. Hal ini terjadi pada saya ketika sedang membeli Dum Dum Thai Tea Drinks di Kota Kasablanka. Saya tahu kala itu memang sudah larut malam sekitar jam 9 malam dan mungkin saja pegawai dum dum ini lelah atau lagi bad mood, entahlah saya tidak peduli. Seharusnya dia tetap bersikap profesional dan menjaga sopan santun bagaimana pun kondisi mereka.

Dijutekin karena bayar pakai pecahan besar

Saya membeli dua minuman, Thai Tea dan Thai Black Tea. Dilayani oleh mba-mba berkerudung, saya membayar dengan pecahan 100 ribu untuk total belanja 37 ribu. Saat itu saya tidak punya pecahan lain selain 2ribuan beberapa lembar dan 5ribuan 1 lembar. Dia tanya apa saya punya uang kecil, lalu saya jawab engga (karena memang ga punya). Berikutnya yang terjadi adalah, dia ngejutekin saya sambil menimbulkan suara “ck” yang menandai dia kesal karena saya tidak punya uang kecil. Dalam hati saya bilang, wah sableng nih orang, ya kali saya harus nuker duit dulu. Akhirnya dia memberikan uang kembalian dengan raut wajah terpaksa dan menaruhnya di atas konter, tidak diserahkan ke saya, saya harus ambil sendiri, juga tidak bilang terima kasih karena saya telah membeli produknya, sungguh sangat tidak sopan. Emosi saya sebenarnya sudah naik hingga ubun-ubun, tapi saya berusaha tenang dan pura-pura ga peduli. Setelah pesanan saya jadi, dia kembali bersikap jutek dan menyerahkan minuman pesanan saya sekenanya tanpa sepatah kata pun. Rasanya ingin saya lempar koin recehan ke wajahnya, astagfirullah. Andai saja saya tidak bisa menahan emosi, saat itu juga sudah saya bentak-bentak dia karena sikapnya yang sangat tidak pantas dan sangat insulting at all points. Untungnya saya paling malas sama yang namanya berdebat dan membuat gaduh, jadi saya biarkan saja dan memutuskan untuk menulisnya di sini. Semoga dibaca pihak terkait.

Apakah saya salah dengan memberikan uang pecahan 100 ribu untuk membayar belanjaan saya yang berjumlah 37 ribu? Saya hanyalah pembeli yang kebetulan tidak memiliki uang pecahan kecil. Bila itu membuat pelayan menjadi kesal, bukan berarti dia bisa menjadikannya alasan untuk tidak bersikap baik terhadap saya. Seharusnya dia sadar, adalah kewajiban dia sebagai penjual untuk memberikan kembalian, toh kenyataannya dia mampu kok ngasih kembalian. Kalau dia kesal dan tidak bisa terima, lebih baik dibatalkan saja pesanannya karena sepertinya uang pecahan kecil lebih berharga daripada satu pembeli.

Attitude is a must

Dulu, saat masih SMA dan bergabung di majalah sekolah, saya selalu ikut serta menjual majalah hasil karya kami kepada orang tua murid pada setiap pembagian rapor. Kala itu seringkali orang tua murid tidak memilki uang pas dan saya kehabisan pecahan kecil. Saya sebagai penjual tidak lantas berlaku sinis pada mereka, melainkan saya berusaha menukar uang ke koperasi atau kantin sekolah agar dapat mengembalikan uang mereka. Pembeli itu harus dilayani dengan baik supaya mereka tetap mau beli produk kita. Penjual itu seharusnya tidak hanya sebatas jualan produk, tapi juga jualan sikap, karena kesan pertama itu sangat penting. Saya sebagai pembeli paling tidak bisa mentolerir penjual mana pun yang tidak baik dalam melayani pembelinya, meskipun produknya bagus atau enak. Attitude is a must. Kalau saya tahu pelayanannya tidak baik, tidak akan saya kembali ke tempat itu kalau bukan karena terpaksa.

Perkara uang kembalian seharusnya bisa disiasati oleh penjual, seperti meminta pembeli untuk memberikan nominal tambahan tertentu agar uang kembaliannya menjadi genap. Tapi sekali lagi, penjual tidak bisa memaksa pembeli untuk menuruti permintaannya. Banyak penjual yang menerapkan hal ini dan dari pengalaman saya, jika saya tidak bisa memenuhi permintaan mereka, mereka tetap melayani saya dengan baik.

Di sini saya hanya ingin mengingatkan agar para penjual setidaknya memiliki kesadaran untuk dapat selalu bersikap baik dan santun kepada pembelinya. Dan tidak dalam konteks penjual dan pembeli aja, kita sesama manusia, lepas dari apa peran kita, harus dapat menjaga sikap terhadap sesama. Jangan hanya karena ingin meringankan beban diri sendiri, lalu kita jadi menyusahkan orang lain dan mengesampingkan etika. Intinya adalah sadar diri, jangan egois, dan jaga sikap.