Slight tought

Pernah ga sih membaca dua artikel yang bertentangan, misalnya ada satu artikel judulnya

5 Alasan Nikah Muda itu baik

lalu kemudian ada artikel lain yang judulnya

5 Reason Why you Should never settle in your 20’s

seolah kedua penulis artikel tersebut sedang berdebat dan mempertahankan pendapatnya.

Kalau saya sih seeeeeering banget menemukan dua artikel bertentangan semacam itu hingga saya berkesimpulan bahwa ternyata setiap orang mempunyai poin pembelaannya masing-masing atas keadaan hidupnya saat ini bagaimana pun situasinya. Dan memang pada akhirnya ga ada yang benar atau salah karena itu balik lagi ke sudut pandang masing-masing orang. Saya juga belajar bahwa setiap orang mempunyai keputusan masing-masing mengenai hidupnya beserta alasan di balik itu , meskipun belum tentu semua orang memahaminya dan sepatutnya, kita tidak lantas menghakimi hanya karena keputusan itu ga masuk akal atau bertentangan dari sudut pandang kita.

Masalahnya yang sering terjadi adalah ada orang nge-share salah satu artikel demikian yang mendukung pemikirannya lalu play victim as if banyak orang yang menentang dia dengan pemikiran itu, yang mana pada kenyataannya ga ada juga yang menentang dia dan itu hanya halusinasi dirinya saja yang membuat dia seolah tertekan dengan pendapat orang lain yang berbeda dengannya (well setiap orang berhak berbeda pendapat, kalau tidak siap menerima perbedaan, why bother jump into social life). Atau kasus lainnya, orang nge-share artikel itu lalu memaksa orang lain untuk sejalan dengan pikirannya, ya gabisa gitu dong ya. Why don’t you just share, comment and don’t bother anyone.

Pada akhirnya saya hanya mau mengutip kata-kata sederhananya Pidi Baiq,

Kalau kalian benar jangan merasa paling benar, aku juga kalau salah ga akan merasa paling salah.

Semoga dunia menjadi lebih indah dengan rasa pengertian dan toleransi antar sesama umat manusia.

Iklan

Short trip in Istanbul (12 hour transit)

Ini adalah trip tersingkat saya sepanjang sejarah. 1 hari 0 malam. Kunjungan saya ke Turki ini sebenarnya adalah aji mumpung berangkat umroh. Kami berangkat menggunakan Turkish Airlines yang rutenya mencakup Jakarta -> Istanbul -> Madinah, transit di Istanbul. Karena transitnya cukup lama sekitar 12 jam, rombongan kami berencana melakukan city tour di sekitar kawasan Sultanahmet. Awalnya saya kira, untuk masuk ke Turki, ngurus visanya ribet kaya Eropa, taunya dia Visa on Arrival yang bisa diapply secara online, simple banget. Kalau ga keluar bandara sih tidak perlu buat visa ya.

Dari bandara, kami langsung menuju kawasan Sultanahmet menggunakan bus, tapi sampai di sana, kami diharuskan jalan kaki untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitar situ, karena memang letaknya sangat berdekatan.

Saat itu di Turki sedang musim dingin (walaupun bukan lagi puncaknya), suhunya sekitar 6 derajat celcius. Kalau mau dibandingin sama Korea, musim dinginnya Turki mungkin mirip musim gugurnya Korea, karena musim dingin di Korea sangat dingin dan suhunya di bawah 0 derajat. Ga kebayang gimana dinginnya musim dingin di Korea, yang 6 derajat aja bagi kami sudah super dingin!

Walk tour kami ini tentunya dipandu oleh seorang guide dari Turki yang berbahasa inggris. Tempat-tempat yang kami kunjungi sebenarnya tidak banyak, hanya yang inti-intinya saja, seperti

1. Blue Mosque

wp-image-1845969480jpg.jpeg
Tertutup kabut

Masjid yang dahulu bernama Sultanahmet Mosque ini masih berfungsi sebagai masjid dan disebut masjid biru karena katanya keramik interiornya berwarna biru. Karena sedang berhalangan, saya tidak diperbolehkan masuk masjid dan harus menunggu di luar ketika rombongan melaksanakan solat zuhur. Masjid ini memiliki bentuk yang mirip dengan Hagia Sophia yang terletak persis di seberangnya. Meskipun kabut tebal sedang meliputi kawasan pada saat itu, keindahan masjid masih tetap terlihat.

2. Hagia Sophia Museum

Museum ini awalnya berfungsi sebagai gereja, kemudian masjid, baru dijadikam museum. Ketika kami masuk ke dalamnya, dapat ditemukan dominasi ornamen-ornamen bekas dekorasi masjid seperti tulisan Allah, Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Meskipun demikian, masih pula terdapat ornamen bekas gereja seperti gambar dewa-dewi yang salah satu wajahnya sudah dihilangkan ketika bangunan ini berfungsi sebagai masjid, karena dalam Islam hal tersebut tidak diperbolehkan.

wp-image-2030911617jpg.jpeg
Hagia Sophia tampak depan
wp-image-838142319jpg.jpeg
Interior museum

Sungguh menarik menyaksikan sejarah bagaimana bangunan ini beralih fungsi dari gereja menjadi masjid.

3. Grand Bazaar

Yang terakhir, tentunya orang Indonesia yang doyan belanja pasti senang banget ke sini. Grand Bazaar ini merupakan pusat perbelanjaan terbesar di dunia ceunah kata guidenya mah. Di dalamnya dijual barang-barang khas Turki seperti kerudung, sajadah, keramik, dan camilan bernama Turkish Delight. Buat yang berhijab, saya sarankan jangan pulang sebelum membeli scarfnya yang cantik-cantik, karena bahannya bagus dan harganya ga terlalu mahal, penjualnya juga ramah-ramah.

Selain scarf, Turkish Delight juga wajib dibeli meskipun rada mahal harganya. Dia semacam permen campur kacang campur spices ala Turki, pokoknya enak lah , saya berani jamin.

wp-image-473678823jpg.jpeg
Pintu masuk Grand Bazaar
wp-image-1446664779jpg.jpeg
Rupa-rupa Turkish Delight

Pulang dari belanja, kami habiskan sisa waktu untuk berfoto-foto di sekitar Masjid dan Museum sebelum kembali ke bus untuk balik ke bandara menuju penerbangan berikutnya.

Meskipun singkat, perjalanan di Turki ini sangat berkesan dan memberikan banyak pelajaran dan pemahaman bagi saya tentang negara Turki. Seperti contohnya, ternyata orang Turki juga suka buang sampah sembarangan di jalan tol 😥. Trus kalau lagi macet, ada orang yang jual minuman atau tissue di jalanan persis kaya pedagang asongan di jalanan Indonesia kalau lagi musim mudik 😅. Seperti itulah kira-kira.

Memang harus diakui, walk tour ini kurang memuaskan jiwa petualang saya karena saya masih ingin menjelajah lebih lama lagi dan lebih luas lagi. Semoga saja di lain waktu saya bisa kembali ke Turki dan tidak hanya menjelajahi Istanbul, tetapi juga kota-kota indah lainnya, atau mungkin juga sekalian ke Eropa. AMIN

Berburu Addictea di Cisangkuy

Akhir minggu ini, saya dan keluarga pergi ke Bandung. Pergi ke Bandung menjadi ritual kami setidaknya sebulan sekali sejak kakak saya kuliah di sana hingga sekarang.

Kali ini saya sudah membayangkan akan mengunjungi addictea house yang terletak di Jalan Cisangkuy no. 46 karena terpancing promo ini 😜

wp-1485585151759.jpeg

Bukan karena promonya aja sih, tapi memang sudah lama pengen ke sana karena mau cobain yang low fat edition yang mana cuma dijual di situ, toko pusatnya. Yaudah deh, sebagai pecinta addictea yang kebetulan lagi ke Bandung, saya langsung melesat ke rumah ini.

wp-image-2121401710jpeg.jpeg

Rumahnya fancy ala ala jaman baheula peninggalan Belanda, sederhana. Di dalemnya juga gitu aja sebenernya cuma ada satu lemari pendingin dan beberapa kursi, tapi untungnya yang saya cari ada; addictea low fat edition!

wp-image-1370344869jpeg.jpeg

Langsung saya beli, juga rasa-rasa yang lainnya hingga nominal belanja saya mencapai syarat untuk dapetin kalender lucu ini, yeay! Di dalam kalendernya, ada kupon-kupon diskon addictea setiap bulannya, tapi sayangnya cuma bisa digunakan di outlet2 Bandung saja.

wp-image-991972502jpeg.jpeg

Sebenarnya saya agak kecewa sama rasanya yang low fat ini, karena kurang nendang gitu rasanya, enakan yang biasa. Ya mungkin karena low sugar jadi begitu kali ya rasanya. Gapapa lah akhirnya jadi ga penasaran lagi sekarang.

Entah kenapa addictea ini semakin menarik dan meningkat nilai jualnya setelah kemasannya diganti jadi lebih kokoh dan berkarakter (sok sok-an jadi pengamat). Kalau di Jakarta dan pas lagi ada di mall yang ada Ranch Marketnya, saya selalu menyempatkan diri untuk beli addictea ini karena rasanya lumayan ngangenin terutama yang rasa pisang. Cukup bisa mengobati kerinduan saya akan susu pisang Bingrae-nya Korea, malah addictea ini lebih enak sih menurut saya.

Well, Bandung memang tidak pernah gagal membuat saya terkagum-kagum dengan produk unik dan kreatifnya.

Dum(b) Dum(b) Service

​​Memberikan uang kembalian adalah kewajiban bagi setiap penjual kepada pembeli. Tapi, sayangnya masih ada saja penjual yang “memaksa” pembeli untuk memberikan uang kecil atau uang pas, yang tujuannya adalah agar mereka tidak kesulitan dalam memecah uang. Lalu pertanyaannya kemudian adalah, apakah supaya mereka tidak kesulitan jadinya kami para pembeli yang harus kesulitan merogoh uang recehan di dalam dompet kami sekuat tenaga? 

Uang pas dan uang pecahan kecil

Sejujurnya, saya tidak masalah membayar dengan uang pas atau uang yang tidak membutuhkan banyak kembalian, selama saya memang memilikinya atau tidak menyimpan uang recehan tersebut untuk keperluan hal lain. Dengan begitu, jika saya memutuskan untuk membayar dengan uang pecahan besar, penjual tidak bisa “memaksa” saya ataupun “memarahi” saya karena tidak punya pecahan kecil padahal mereka sebenarnya berkemampuan memberikan kembaliannya. Hal ini terjadi pada saya ketika sedang membeli Dum Dum Thai Tea Drinks di Kota Kasablanka. Saya tahu kala itu memang sudah larut malam sekitar jam 9 malam dan mungkin saja pegawai dum dum ini lelah atau lagi bad mood, entahlah saya tidak peduli. Seharusnya dia tetap bersikap profesional dan menjaga sopan santun bagaimana pun kondisi mereka.

Dijutekin karena bayar pakai pecahan besar

Saya membeli dua minuman, Thai Tea dan Thai Black Tea. Dilayani oleh mba-mba berkerudung, saya membayar dengan pecahan 100 ribu untuk total belanja 37 ribu. Saat itu saya tidak punya pecahan lain selain 2ribuan beberapa lembar dan 5ribuan 1 lembar. Dia tanya apa saya punya uang kecil, lalu saya jawab engga (karena memang ga punya). Berikutnya yang terjadi adalah, dia ngejutekin saya sambil menimbulkan suara “ck” yang menandai dia kesal karena saya tidak punya uang kecil. Dalam hati saya bilang, wah sableng nih orang, ya kali saya harus nuker duit dulu. Akhirnya dia memberikan uang kembalian dengan raut wajah terpaksa dan menaruhnya di atas konter, tidak diserahkan ke saya, saya harus ambil sendiri, juga tidak bilang terima kasih karena saya telah membeli produknya, sungguh sangat tidak sopan. Emosi saya sebenarnya sudah naik hingga ubun-ubun, tapi saya berusaha tenang dan pura-pura ga peduli. Setelah pesanan saya jadi, dia kembali bersikap jutek dan menyerahkan minuman pesanan saya sekenanya tanpa sepatah kata pun. Rasanya ingin saya lempar koin recehan ke wajahnya, astagfirullah. Andai saja saya tidak bisa menahan emosi, saat itu juga sudah saya bentak-bentak dia karena sikapnya yang sangat tidak pantas dan sangat insulting at all points. Untungnya saya paling malas sama yang namanya berdebat dan membuat gaduh, jadi saya biarkan saja dan memutuskan untuk menulisnya di sini. Semoga dibaca pihak terkait.

Apakah saya salah dengan memberikan uang pecahan 100 ribu untuk membayar belanjaan saya yang berjumlah 37 ribu? Saya hanyalah pembeli yang kebetulan tidak memiliki uang pecahan kecil. Bila itu membuat pelayan menjadi kesal, bukan berarti dia bisa menjadikannya alasan untuk tidak bersikap baik terhadap saya. Seharusnya dia sadar, adalah kewajiban dia sebagai penjual untuk memberikan kembalian, toh kenyataannya dia mampu kok ngasih kembalian. Kalau dia kesal dan tidak bisa terima, lebih baik dibatalkan saja pesanannya karena sepertinya uang pecahan kecil lebih berharga daripada satu pembeli.

Attitude is a must

Dulu, saat masih SMA dan bergabung di majalah sekolah, saya selalu ikut serta menjual majalah hasil karya kami kepada orang tua murid pada setiap pembagian rapor. Kala itu seringkali orang tua murid tidak memilki uang pas dan saya kehabisan pecahan kecil. Saya sebagai penjual tidak lantas berlaku sinis pada mereka, melainkan saya berusaha menukar uang ke koperasi atau kantin sekolah agar dapat mengembalikan uang mereka. Pembeli itu harus dilayani dengan baik supaya mereka tetap mau beli produk kita. Penjual itu seharusnya tidak hanya sebatas jualan produk, tapi juga jualan sikap, karena kesan pertama itu sangat penting. Saya sebagai pembeli paling tidak bisa mentolerir penjual mana pun yang tidak baik dalam melayani pembelinya, meskipun produknya bagus atau enak. Attitude is a must. Kalau saya tahu pelayanannya tidak baik, tidak akan saya kembali ke tempat itu kalau bukan karena terpaksa.

Perkara uang kembalian seharusnya bisa disiasati oleh penjual, seperti meminta pembeli untuk memberikan nominal tambahan tertentu agar uang kembaliannya menjadi genap. Tapi sekali lagi, penjual tidak bisa memaksa pembeli untuk menuruti permintaannya. Banyak penjual yang menerapkan hal ini dan dari pengalaman saya, jika saya tidak bisa memenuhi permintaan mereka, mereka tetap melayani saya dengan baik.

Di sini saya hanya ingin mengingatkan agar para penjual setidaknya memiliki kesadaran untuk dapat selalu bersikap baik dan santun kepada pembelinya. Dan tidak dalam konteks penjual dan pembeli aja, kita sesama manusia, lepas dari apa peran kita, harus dapat menjaga sikap terhadap sesama. Jangan hanya karena ingin meringankan beban diri sendiri, lalu kita jadi menyusahkan orang lain dan mengesampingkan etika. Intinya adalah sadar diri, jangan egois, dan jaga sikap. 

Jump and burn with Saltar at Celebrity Fitness

photo courtesy by Celebrity Fitness

Salah satu yang saya suka dari Celebrity fitness adalah inovasinya dalam menciptakan kelas fitness yang dipadu dengan berbagai macam alat yang belum tentu ditemukan di fitness club lainnya di Indonesia. Dan mungkin itu sebabnya saya masih betah ngegym di Celfit meskipun udah hampir 3 tahun jadi anggota.

Kelas-kelas fitness yang saya suka dari Celfit, yang tidak ada di tempat lain, adalah fast fit dan kettlebell vipr. Namun, baru-baru ini Celfit meluncurkan kelas terbarunya, yaitu Saltar. Saltar, diambil dari bahasa Spanyol (or Portugese?) yang berarti melompat, adalah latihan cardio melompat di atas trampoline yang mampu membakar 600-800 kalori dalam waktu 1 jam latihan. Kalau mau dibayangkan, keringetnya mirip-mirip Body Combat lah, agak lebih sedikit mungkin.

Kelas Saltar ini belum tersedia di seluruh club Celfit, melainkan di beberapa club saja seperti contohnya di Kota Kasablanka. Kebetulan saya latihan di sana dan penasaran ingin mencoba. Akhirnya kemarin saya mengikuti kelas ini dan tenyata peminatnya banyak banget! Begitu kelas dibuka, para member yang menunggu di luar langsung masuk dengan rusuh, buru-buru nge-tag trampoline yang jumlahnya terbatas (padahal lumayan banyak loh tapi tetep aja abis). Untungnya saya ikut kelas sebelumnya jadi bisa tag trampoline duluan begitu kelasnya selesai. Dan seketika kelas menjadi penuh dengan trampoline yang tidak tersisa. 

Saya pikir kelas ini bakal seru karena pengikutnya begitu banyak dan ternyata benar saja, seru banget! Serunya kaya lagi naik wahana di Dufan, bikin happy pokoknya. Instrukturnya memutar lagu dan mencontohkan gerakan2 melompat yang bervariasi. Setiap gerakan ada opsinya. Jika merasa kurang tertantang, maka kita diharuskan melompat lebih tinggi (eaaa kaya judul lagu). Tapi kalo misalnya capek, boleh lompatnya pendek aja. Berhubung instrukturnya semangat banget, kita semua jadi terpacu untuk ikutin gerakan dia yang semakin lama semakin on fire. Tapi hati-hati ya, walaupun terbawa suasana yang bersemangat, jangan lupa perhatikan pijakan kaki yang harus selalu ada di tengah trampoline supaya ga jatuh.

Latihan ini bagus banget untuk melatih keseimbangan tubuh dan koordinasi struktur inti (core). Jadi buat yang dulunya pas kecil suka lompat-lompat di atas kasur springbed (saya termasuk sih 😂) dan bagi yang ingin membakar lemak sekaligus meningkatkan keseimbangan dan menguatkan otot core, latihan ini cocok banget untuk diikutin, terlebih lagi karena instrukturnya yang asyik beud (namanya Cleber btw).

Ke depannya sepertinya saya akan kembali mengikuti kelas ini demi meningkatkan keseimbangan saya yang saat ini masih jelek banget. Mudah-mudahan saya bisa jadi lebih seimbang nantinya, amin. Last but not least, semoga Celebrity Fitness tidak berhenti berinovasi dalam menciptakan kelas-kelas fitness yang bermanfaat, supaya semakin banyak orang yang berolahraga dan menjadi sehat. 

Suka duka pakai kawat gigi

wp-image-796810753jpg.jpeg

Kawat gigi atau biasa disebut behel merupakan salah satu cara untuk merapikan struktur gigi manusia. Kalau di luar negeri, behel ini diasosiasikan dengan orang yang cupu dan jelek, makanya di luar sana ga banyak yang pake behel kalau bukan karena terpaksa. Bedanya di Indonesia, behel dijadikan semacam aksesoris gigi, di mana yang memakainya akan dianggap gaul dan kekinian meskipun sebenarnya orang itu pada dasarnya sudah memiliki struktur gigi yang bagus. Ya memang, beda negara, beda budaya, beda kebiasaan, beda pola pikir, dan beda yang lain-lainnya, jadi cukup dipahami saja.

Saya sendiri termasuk yang pake behel karena memang ingin merapikan struktur gigi. Fyi dari kecil saya ga pernah ke dokter gigi dan selalu takut untuk ke dokter gigi ketika ada masalah pada gigi saya. Saya gamau ke dokter gigi kecuali memang mendesak banget kaya waktu itu gigi saya bolong dan sakit banget akhirnya harus ditambal. Lama-kelamaan saya sadar bahwa struktur gigi saya berantakan dan karenanya saya jadi jarang tersenyum menampakkan gigi karena malu. Gigi saya waktu itu ada yang bolong 2 dan seharusnya memang sudah dicabut, namun tidak pernah saya lakukan karena takut. Setelah mengumpulkan keberanian dan tekad, akhirnya saya memutuskan untuk pakai kawat gigi. Sebelumnya saya cari-cari artikel di internet tentang prosedur pemasangan kawat gigi dan tanya-tanya ke temen yang sudah pakai kawat gigi duluan. Dari situ saya menyimpulkan bahwa kawat gigi tidak bisa dipasang sembarangan dan begitu saja melainkan harus melewati tahap rontgen dan cabut gigi, hal yang paling saya takuti. Berapa jumlah gigi yang harus dicabut itu tergantung dari pemeriksaan sang dokter.

Cabut gigi

Sebelumnya cabut gigi, saya diharuskan rontgen di lab dan hasilnya diberikan ke dokter gigi untuk dianalisis kasusnya. Setelah itu gigi saya diperiksa dan dicetak dan sesuai dugaan saya, kedua gigi saya yang bolong memang harus dicabut karena sudah tinggal akar gigi saja. Tidak hanya itu, saya juga harus mencabut 3 gigi lainnya dan mengoperasi 1 gigi geraham bungsu karena posisi tumbuhnya yang miring (terlihat di rontgen). Sudah lah cemas dengan cabut gigi, ini lagi disuruh operasi, alamak makin ga kebayang gimana takutnya saya. Tapi, demi kerapihan gigi, saya tidak begitu saja pantang menyerah.

Pertama-tama gigi yang dicabut adalah gigi yang bolong. Cabut giginya gak bisa sekaligus ya, kecuali pasiennya kuat dan punya cadangan nyawa. Pas gigi bolong ini dicabut, rasanya sakit banget, kata dokternya sih gara-gara gigi saya itu udah rusak dan banyak bakterinya jadi anestesinya ga bisa bekerja maksimal (jadi menyesal deh dulu ga segera dicabut huhu). Setiap pencabutan gigi berjarak 1 minggu, kecuali 2 gigi terakhir sebelum operasi langsung saya sekaligusin di hari yang sama karena tidak begitu merasakan sakit kecuali pas bagian suntik obat biusnya (mungkin karena bukan gigi bolong).

Operasi gigi geraham bungsu

Sebagai orang yang belum pernah merasakan operasi apapun, tentunya momen ini menjadi momok bagi saya. Untuk itu, sebelum hari H saya rajin membaca pengalaman orang menjalani operasi ini lewat blog dan semacamnya. Ada yang katanya bisa sampai 1 setengah jam untuk menyelesaikan operasinya dan ada yang dibius total. Lama operasi tergantung dari tingkat kesulitan kasus gigi kita. Untungnya kata dokter gigi saya, kasus gigi geraham bungsu saya masih tergolong mudah dan dia berani mengatakan bahwa operasi akan selesai dalam waktu setengah jam. Cukup lega juga mendengarnya tapi ga mengurangi kegugupan saya akan operasi ini.

Saat hari H, saya ditemani mamah dan beliau ga berani masuk ke dalam karena katanya kasian nanti kalau ngeliat saya haha. Yaudah akhirnya saya di ruangan sendiri sama dokter dan perawatnya. Operasi dimulai dengan suntik anestesi yang berkali-kali dan at some point, suntikannya berasa sakit banget agak beda sama suntikan anestesi ketika cabut gigi. Yang ini serasa kaya jarum terus nusuk ke dalem kulit ga berhenti-berhenti tapi ya sakitnya masih wajar dan bisa ditahan sih. Setelah itu, dokter mengetes kekebalan gusi dan gigi saya di bagian yang akan dioperasi, kalau saya merasa kebal berarti operasi sudah siap dijalankan. Pas operasi, saya ga ngerasa ada sensasi sayatan atau apapun, tapi yang berasa itu ketika gigi kita dibor untuk dipotong bagiannya supaya lebih mudah dikeluarkan. Sama sekali ga berasa sakit sampai pada penjahitan dan akhirnya selesai dalam waktu kurang dari 30 menit. Abis itu saya dikasih obat painkiller dan ga boleh ngunyah di bagian gigi yang baru dijahit serta ga boleh beraktivitas fisik dulu. Sayangnya, saya ga dikasitau oleh dokter untuk segera mengompres pipi, karena yang saya baca di blog orang harusnya kita segera mengompres pipi bagian gigi yang baru dioperasi untuk mencegah bengkak yang berlebih pasca operasi. Dan benar saja, karena saya ga kompres, lama-lama pipi saya bengkaknya gede banget, saya sampe malu untuk keluar rumah. Pipi saya baru dikompres setelah bengkak mulai kelihatan dan baru sekitar 2 mingguan bengkak itu mulai hilang dan jahitan saya bisa dilepas.

Pasang kawat gigi

Setelah saya pulih pasca operasi, itu berarti saya sudah bisa dipasangkan kawat gigi. Bagian ini sih ga menakutkan, malah saya antusias karena bisa mulai pilih warna karet. Awalnya dokter mengelem bracket di tiap-tiap gigi dan lemnya itu bisa kerasa di lidah agak asem, selanjutnya kawat dipasang melingkari gigi dan dikaitkan ke bracket, baru deh dipasang karetnya dan selesai! Kawat yang dipakai untuk fase awal adalah kawat yang paling tipis. Ketebalan kawat akan semakin bertambah di kontrol-kontrol berikutnya.

Setelah kawat gigi terpasang, kesan pertama saya adalah: ga enak! Pengen rasanya lepas kawat saat itu juga karena rasanya aneh banget, selain itu di awal terasa ngilu banget karena pergerakan gigi mulai terjadi. Saya jadi heran sama orang yang pake behel hanya untuk gaya, karena ini ngilunya ga boong loh dan rasanya ga enak banget ada sesuatu yang ganjel di mulu kita. Sampai sekarang pun gigi saya sudah rapi setelah hampir 2 tahun memakai kawat, saya masih merasa bahwa behel ini sangat mengganggu dan sangat ingin segera melepasnya, namun karena masih ada beberapa aspek yang harus diperbaiki dari gigi saya, sepertinya keingingan tersebut belum akan terwujud dalam waktu dekat

Meskipun begitu, saya mengucapkan banyak terima kasih pada kawat gigi ini dan dokter gigi saya, karena berkatnya kini saya jadi bisa tersenyum bebas dan tertawa lepas. Ada sedikit penyesalan karena ga dari kecil rajin ke dokter gigi. Kalau saya dulu rajin ke dokter gigi, pasti saya tidak perlu pakai kawat begini, tapi yasudah lah yang penting saya sekarang sudah berani ke dokter gigi dan merawat gigi saya sebagaimana mestinya. Better late than never, no?