Kuliah lagi

Dulu waktu kuliah sarjana, jujur saja sayang kurang bisa menikmati masa-masa perkuliahan. Saya tidak bisa menjalani proses demi proses dengan ikhlas, sehingga setiap hari bangun tidur untuk kuliah itu rasanya beraaat sekali.

Ada beberapa faktor yang membuat saya tidak kerasan di kampus. Pertama, teman-temannya. Kedua, dosennya. Oke, saya tidak akan cerita kenapa dan ada apa dengan kedua aspek itu. Yang saya ingin tekankan adalah bahwa sungguh sial saya kala itu karena kedua aspek itulah yang akan mengiringi saya selama 4 tahun atau hingga saya lulus, sehingga saya mau tidak mau harus berurusan dengan mereka terus walaupun di dalamnya ‘makan ati’.

Singkat cerita, luluslah saya dengan tepat waktu setelah drama ini itu dan mulailah masuk ke dunia kerja. Pada saat wisuda, saya merasa senang tapi sekaligus hampa. “Yeaaaay lulus”….trus apa? Rasanya selama empat tahun kuliah itu seperti tidak ada maknanya. Semacam anti klimaks. Di situ, saya menyalahkan faktor eksternal yang menurut saya adalah penyebab saya menjadi ‘seperti itu’.

Ketika masuk ke dunia kerja pun, saya tidak mendapatkan ‘euforia’ yang saya harapkan, yang ada justru penderitaan. Berkali-kali lamaran saya ditolak dan saya ga ngerti kenapa. Saya pikir saat itu yang akan membuat saya paling bahagia sedunia adalah diterima kerja di tempat bergengsi dan pakai baju kerja ala anak kantoran sehingga ketika ditanya temen atau saudara tentang pekerjaan, saya bisa santai saja menjawabnya. Beberapa waktu kemudian, Allah seperti mengabulkan keinginan saya tersebut. Saya diterima di suatu perusahaan, mengenakan baju ala anak kantoran dan berebut tempat di kereta saat pergi dan pulang kerja layaknya ‘orang-orang’ sehingga saya akhirnya bisa bercerita dengan konteks ‘kantoran’ seperti “tadi gw berangkat kerja keretanya kosong banget…” atau hal-hal relatable lainnya.

Sesaat saya sungguh menikmati momen-momen tersebut. Saya merasa saya sudah berhasil menjadi ‘orang’ seperti apa yang diasumsikan masyarakat terhadap lulusan sarjana. Tapi, lama-lama makna euforia itu ternyata memudar hingga hilang sama sekali dan akhirnya menyisakan rongga dalam kehidupan psikologis saya yang saya sendiri bingung mau ‘diisi’ apa. Saya selalu bertanya pada diri saya “Emangnya ini yang lo pengenin, Fan?” lalu “Apakah hidup lo itu tentang memenuhi ekspektasi orang lain?” Tentu jawabannya enggak, tapi pada kenyatannya itulah yang saya lakukan, berusaha menjadi seperti apa yang orang harapkan.

Yang saya pikir akan membuat saya bahagia, pada nyatanya tidak mampu memberikan wujud dari kebahagiaan yang absolut itu sendiri, yaitu ketenangan batin. Selama kuliah empat tahun, wisuda, kemudian kerja ternyata bukan jawaban atas angan-angan saya untuk merasa tenteram dengan hidup saya.

Saya bersyukur masih diberikan petunjuk oleh Allah untuk pada akhirnya entah bagaimana caranya, saya terdorong kuat sekali untuk resign dari kantor dan take time to contemplate what i want to do with my life.

Sepertinya (dan memang sudah jalannya) Allah mendukung ‘hijrah’ saya ini dengan mengundang saya ke Baitullah. Di sana, saya sadar bahwa selama ini apa yang terjadi dalam kehidupan saya, apa yang saya jalani, kenapa saya tidak pernah merasa puas, karena saya salah niat. Saya terlalu merendahkan ‘ridho Allah’ dan lebih berfokus pada apresiasi orang lain. Padahal di Alquran sudah diperingatkan bahwa kita akan kecewa jika berharap kepada selain Allah. Intinya saya zalim terhadap diri sendiri, tapi ga sadar-sadar sehingga menyalahkan orang lain. Renungan kala itu seperti memberi tamparan keras sembari mengatakan “ini semua tuh gara-gara lo sendiri.”

Akhirnya saya belajar bahwa segala sesuatu yang saya jalani sekarang harus dijalani dengan ikhlas mengharap ridho Allah. Jadi, kalau terjadi sesuatu di luar dugaan kita, itu berarti untuk menguji seberapa besar keikhlasan kita dan sekaligus mendidik kita untuk menjadi lebih sabar. Rasa-rasanya kalau saya hidup dengan mempunyai prinsip seperti itu, apapun yang terjadi dalam hidup saya, enteng saja saya melaluinya, karena saya yakin itu adalah ketentuan Allah dan Allah tidak mungkin menghendaki keburukan pada hamba-Nya.

Setelah berkontemplasi dan diskusi dengan keluarga, saya memutuskan untuk kuliah lagi saja dan mengambil kursus bahasa yang saya minati. Intinya, saya pengen belajar terus supaya semakin ‘merunduk’. Alhamdulillah, tahun ini saya mulai menjalankan studi jenjang magister. Karena saya ingin proses ini bermakna dari awal hingga akhir, sebelum perkuliahan dimulai, saya selalu berdoa agar nantinya diberikan teman-teman kuliah dan dosen-dosen yang baik dan menyenangkan, saling mengasihi, serta mengajak pada kebaikan. Saya juga berdoa agar saya dapat menikmati proses perkuliahan dan siap menerima segala ketentuan Allah dengan hati lapang. Saya tidak ingin apa yang saya alami ketika kuliah sarjana dulu terulang kembali. Maksudnya, saya tidak ingin terus menggerutu karena keadaan yang tidak bisa saya terima. Karena jika dipikir-pikir, sebenarnya dulu yang salah itu bukan teman-teman atau dosen-dosen saya, melainkan sayanya sendiri yang kurang pandai membawa diri ke dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dari watak dan kepribadian saya. Saya keburu terlena dengan fakta bahwa saya masuk universitas ternama, lalu lupa berdoa minta pertolongan pada Allah untuk ‘mengkondisikan’ mental saya. 

Kalau dulu yang saya inginkan adalah ‘gengsi’, sekarang saya hanya menginginkan ‘ketenangan’, karena menurut saya itulah yang akan membuat saya senantiasa bersyukur dan tidak mudah mengeluh. Dan itu hanya bisa dicapai jika saya melibatkan Allah dalam setiap aspek kehidupan saya.

Alhamdulillah sudah 2 bulan perkuliahan berjalan, saya dikelilingi rekan-rekan dan dosen-dosen yang baik seperti apa yang saya pinta dalam doa, membuat saya dapat menikmati setiap prosesnya.

Allah Maha baik banget. Saya senang dan bersyukur mengingat betapa baiknya Allah membimbing saya yang ‘tersesat’, yang dulu pongah, dan tidak mau melihat kesalahan diri sendiri.

Mudah-mudahan kita semua dapat terus menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya dan dapat menebarkan energi positif pada lingkungan di sekitar kita, serta semoga kita semua senantiasa berada dalam bimbingan Allah ❤

And He found you lost and guided you (93:7)

Iklan

Hellfire

Neraka. Siapa sih yang mau masuk neraka?

Entah kenapa dulu otak saya dijejali pemikiran bahwa orang muslim itu pasti masuk surga, tapi ga langsung, melainkan ke neraka dulu, karena dosa kita harus ditebus dulu dan mana mungkin kan manusia akhir jaman begini ga ada dosanya? So, saya dulu berpikiran bahwa ya saya akan mencicipi neraka sebelum masuk ke surga tanpa tahu bahwa sebenarnya saya dan kita semua bisa selamat sama sekali dari api neraka.

Rahmat Allah luas

Saya tidak tahu bahwa rahmat Allah itu jauh lebih besar dari yang saya kira, ampunan Allah itu lebih luas dari dosa kita. Saking luasnya, bahkan dengan kita berputus asa dari rahmat Allah aja itu termasuk ke dalam kategori dosa besar. Luar biasa banget ga sih?

Kata Allah,

Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.

Mungkin karena dulu saya selalu ditakut-takuti oleh neraka tanpa diedukasi bahwa orang mukmin bisa loh ke surga langsung, bisa loh ke surga tanpa hisab, saya selalu ngeri membayangkan kematian dan akhirat karena saya pikir saya pasti akan masuk neraka dulu nih. Pernah tau ga sih separah apa panasnya api neraka? Mustahil untuk dibayangkan. Membayangkannya aja saya takut. Tapi coba deh pas masak, trus wajannya lagi pas panas-panasnya, coba bayangkan tangan kita menyentuh wajan tersebut. Neraka lebih dahsyat parah dari itu. So, kebayang kan gimana saya parno dan desperate sama yang namanya akhirat waktu itu. Rasa-rasanya saya tidak bisa hidup damai jika setiap ke kompor, yang ada di bayangan saya adalah diri saya yang terbakar api. Naudzubillah.

Setelah saya menonton kajian-kajian ust. Hanan Attaki yang khas anak mudanya, entah kenapa saya lebih nangkep maksud Islam dari beliau. Penyampaiannya lugas dan tidak pernah menyalahi, menggurui, dan menakut-nakuti. Lebih banyak memberikan kabar gembira. Seperti misalnya Allah tuh baik banget karena satu dan lain hal, Rasulullah tuh nanti setia banget sama kita di padang mahsyar, dll. Ibaratnya dia itu seperti memberikan hawa sejuk di tengah-tengah panas. 

Merasa suci

Dari yang saya pahami dan ini baru banget saya tahu bahwa dalam Islam, kita memang tidak boleh merasa suci dan menganggap orang lain suci, sekalipun kita lihat dia ibadah dan akhlaknya bagus banget. Sebaliknya, kita tidak boleh mengkafirkan sesama muslim karena hanya Allah yang tahu apa yang ada di hatinya. Kenapa kita berani bilang Rasulullah itu pasti masuk surga dan Firaun itu kafir dan pasti masuk neraka? Karena Allah yang bilang mereka seperti itu di dalam firman-Nya, bukan kita yang bilang. Dari sebuah ceramah di youtube saya dapat memahami bahwa, kita hanya bisa bilang secara umum bahwa yang tidak mengimani Allah dan Rasul itu kafir, namun dengan tidak menunjuk orangnya secara pasti, menentukan si A masuk neraka si B masuk surga (kecuali memang yang sudah tertulis dalam Quran dan Haditsh) karena pengetahuan kita tentang hal itu tidak ada sama sekali. Wallahualam.

Kembali ke topik bahwa kita bisa “membeli” tiket ekspres ke surga, gimana sih caranya? Ternyata mudah, tapi sering disepelekan banyak orang. Tinggal minta. Minta apa? Minta ke Allah. Minta ampunan dosa, minta dilindungi dari azab kubur dan siksa api neraka, dan minta dimasukkan ke surga. Tentunya itu harus diiringi dengan amalan-amalan soleh yang harus tetap dijalankan dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Kita boleh banget berharap sama Allah untuk masuk surga, tapi sedetik pun kita ga boleh yakin kita ini udah pasti masuk surga. Karena sekali kita menganggap diri kita suci, di situlah keangkuhan mulai tumbuh dan rasa takut terhadap Allah semakin redup. Itu sebabnya kita harus senantiasa bertaubat atau setidaknya beristigfar setiap harinya sekalipun kita ga merasa melakukan dosa dan sudah menjalankan perintah-perintah-Nya. Namanya juga manusia, siapa yang tahu ternyata tanpa kita sadari dosa itu terkumpul dengan sendirinya hanya gara-gara mengeluhkan hujan misalnya, atau buang sampah sembarangan, atau merasa sekejap lebih baik dari orang lain. Astagfirullah.

Pasrah masuk neraka?

Saya sebenernya kasihan sama orang-orang yang merasa dia sudah terlanjur banyak berbuat dosa, lalu dia pikir yaudah lah Allah ga bakal maafin dia jadi lebih baik diteruskan aja maksiatnya karena toh ujung-ujungnya dia bakal ke neraka dan ketemu temen-temennya juga yang sama-sama melakukan maksiat, kayanya kalau mereka solat juga udah ga ada gunanya. Mereka yakin mereka akan masuk neraka tapi mereka menyebut “neraka” itu dengan entengnya. Kaya neraka itu panasnya kaya sauna doang. Padahal mah…sepanas-panasnya panas yang ada di bumi ga mampu dibandingkan dengan panasnya neraka. Kenapa pasrah masuk neraka, sementara punya kesempatan untuk langsung masuk ke surga hanya dengan bertaubat? It’s definitely not mission impossible. 

Pezina masuk surga

Ada satu cerita yang saya suka dari sebuah hadith. Ceritanya ada seorang pezina yang berzina diam-diam dan mengadu kepada Rasulullah bahwa dia menyesal dan dia minta dirajam untuk menebus dosanya. Dan saya baru tahu ternyata hukum rajam itu hanya untuk pezina yang tertangkap basah. Kata Rasul, jangan ceritakan aibmu padaku, pulanglah dan bertaubatlah kamu minta ampun kepada Allah. Tapi perempuan itu tidak puas, dia kekeuh mau dirajam sampai akhirnya Rasulullah mengabulkan permintaannya. Ketika dirajam, ada orang yang merajam dia begitu kesal terhadap pezina ini dan terus-terusan menghinanya. Pada saat itu Rasulullah menghentikannya dan berkata pada orang itu, sesungguhnya Allah telah menerima taubatnya dan kini dia lebih mulia dari kamu. (Agak-agak lupa nih kata-kata pastinya, benerin ya kalo ada yang salah. Pokoknya perempuan ini udah dijamin surga kalo ga salah karena taubatnya itu).

Intinya adalah, seberapa besar pun dosa seorang pezina itu, rahmat Allah jauh lebih besar. Karena pezina ini menyesali perbuatannya dan bertaubat kepada Allah, Allah masukkan dia ke surga. Mudah banget ga sih sebenernya? Asal kita punya sifat menghamba, sebenarnya kita bisa memperoleh rahmat Allah. Jadi, sebenarnya kalau mau direnungkan, setiap detik dalam hidup kita itu sangat berharga jika kita gunakan untuk “menyicil tiket pulang ke surga.” Karena kesempatan taubat itu terbuka setiap saat hingga ajal kita tiba, tidak menutup kemungkinan yang tadinya buruk jadi baik dan vice versa. Orang jahat bisa masuk surga kalau di akhir hidupnya ternyata dia taubat. Sebaliknya, orang baik bisa masuk neraka jika ternyata di akhir hayatnya dia tergoda untuk bermaksiat atau terlalu bangga dengan amalan-amalan baiknya. Karena kita ga tahu bagaimana akhir cerita kita nanti, baiknya kita berdoa untuk selalu diarahkan hatinya agar selalu taat kepada Allah. Kita ini sebenernya ga punya apa-apa selain Allah. Semua yang melekat pada kita itu adalah titipan, bukan? Bahkan hati kita sekalipun kita tidak berkuasa toh terhadapnya. Jadi, what’s the point of being arrogant anyway?

Kesombongan

Salah satu yang saya sangat suka dari Islam adalah bagaimana Islam mengatur akhlak sampai ke akar-akarnya. Siapa sih yang suka sama orang sombong? Yang kalau kita ngobrol sama dia yang dia bicarakan dan dia perhatikan hanya dirinya saja? Dia membandingkan apa yang ada pada dirinya yang tidak ada pada diri orang lain lalu dia membanggakan hal itu di depan orang lain agar mendapat validasi bahwa i’m absolutely better than you guys. Bagusnya Islam, Allah ngerti banget kalau hal-hal macam gini yang bakal menimbulkan penyakit hati dan permasalahan sosial, sampai-sampai Allah mengancamkan neraka bagi siapapun yang memiliki kesombongan walau sekecil zarrah. It really does makes sense.

Pernah ga ngeliat orang sombong trus orang lain jadi iri, trus kalo orang lain ngerasa dia ga pantes mendapatkan apa yang dia punya (dengki), orang lain itu berharap nikmat pada dia dihilangkan darinya. See? Ternyata sombong itu akar dari segala penyakit hati. Dan yang lebih luar biasanya lagi dalam Islam, kita juga ga boleh menilai si A ria atau sombong karena dia memposting sedang membaca Al-Quran misalnya atau sedang berkumpul dengan keluarga, karena lagi-lagi seperti yang saya katakan di awal tadi, kita tidak tahu apa sebenernya yang ada dalam hati mereka. Siapa tau kan niatnya ga sombong tapi untuk syiar atau menyebarkan energi positif. So, dalam akhlak, kita benar-benar harus berhati-hati dengan hati kita sendiri. Dan saya akui ini sulit. Tidak dipungkiri, saya pun suka khilaf karena sesaat merasa halu bahwa semua hal itu lazim dan tidak ada masalah untuk dilakukan. Itu sebabnya kenapa kita harus sering beristigfar kepada Allah setiap saat.

Jadi mudah apa sulit nih?

Tadi katanya mudah, sekarang kok sulit? Mudah jika kita senantiasa sibuk memikirkan dosa-dosa kita dibandingkan mencari-cari kesalahan orang lain. Sulit kalau kita selalu merasa sudah lebih baik dari orang lain. Reflect. Tugas kita itu hanya menjadi lebih baik dari diri kita sendiri di masa lalu. Kita boleh bantu menyebarkan kebaikan untuk orang lain, tapi bukan berarti kita bisa meremehkan yang belum melakukan kebaikan. Kata Hanan Attaki ustadz favorit saya, potensi semua orang untuk melakukan dosa itu sama, baik orang soleh maupun bukan. Yang membedakan adalah apa yang mereka lakukan setelah berbuat dosa, bertaubat menangisi dosanya seperti Nabi Adam kah atau menyombongkan diri seperti iblis karena dia merasa lebih baik?

Allah loves the people who understands that they don’t want any part of jahannam, short or long term – Nouman Ali Khan

Slight tought

Pernah ga sih membaca dua artikel yang bertentangan, misalnya ada satu artikel judulnya

5 Alasan Nikah Muda itu baik

lalu kemudian ada artikel lain yang judulnya

5 Reason Why you Should never settle in your 20’s

seolah kedua penulis artikel tersebut sedang berdebat dan mempertahankan pendapatnya.

Kalau saya sih seeeeeering banget menemukan dua artikel bertentangan semacam itu hingga saya berkesimpulan bahwa ternyata setiap orang mempunyai poin pembelaannya masing-masing atas keadaan hidupnya saat ini bagaimana pun situasinya. Dan memang pada akhirnya ga ada yang benar atau salah karena itu balik lagi ke sudut pandang masing-masing orang. Saya juga belajar bahwa setiap orang mempunyai keputusan masing-masing mengenai hidupnya beserta alasan di balik itu , meskipun belum tentu semua orang memahaminya dan sepatutnya, kita tidak lantas menghakimi hanya karena keputusan itu ga masuk akal atau bertentangan dari sudut pandang kita.

Masalahnya yang sering terjadi adalah ada orang nge-share salah satu artikel demikian yang mendukung pemikirannya lalu play victim as if banyak orang yang menentang dia dengan pemikiran itu, yang mana pada kenyataannya ga ada juga yang menentang dia dan itu hanya halusinasi dirinya saja yang membuat dia seolah tertekan dengan pendapat orang lain yang berbeda dengannya (well setiap orang berhak berbeda pendapat, kalau tidak siap menerima perbedaan, why bother jump into social life). Atau kasus lainnya, orang nge-share artikel itu lalu memaksa orang lain untuk sejalan dengan pikirannya, ya gabisa gitu dong ya. Why don’t you just share, comment and don’t bother anyone.

Pada akhirnya saya hanya mau mengutip kata-kata sederhananya Pidi Baiq,

Kalau kalian benar jangan merasa paling benar, aku juga kalau salah ga akan merasa paling salah.

Semoga dunia menjadi lebih indah dengan rasa pengertian dan toleransi antar sesama umat manusia.

Comeback

Assalamualaikum Dunia!

Balik lagi dengan saya yang sudah sejak lama absen menulis di dunia blog dan kini Insya Allah memutuskan untuk kembali aktif menulis dengan tulisannya yang mudah-mudahan semakin dewasa (terutama gaya bahasanya, hehe).

Bahagia rasanya bisa kembali menulis bebas seperti ini. Blog ini kembali dibuat karena saya merasa rindu dengan kegiatan menulis, sekaligus juga kepingin mengasah kemampuan menulis.

Ya saya akui, meskipun saya ga terlalu mahir dalam menulis, sejak SMP hingga pertengahan kuliah dulu saya rajin “curhat” di blog tentang apapun yang terjadi di lingkungan saya yang kemudian sering menciptakan semacam urgensi untuk diberitakan kepada khalayak, entah khalayak bersedia membacanya atau tidak. Setidaknya, ada rasa lega setiap kali bisa menuangkan pikiran ke dalam tulisan.

Sebenarnya hingga sekarang pun saya masih suka menulis, walaupun sangat jarang. ‘Urgensi” itu terkadang masih menghantui walaupun tidak seintens dulu. Saya masih sesekali menulis di sebuah blog yang bersifat sangat pribadi yang isinya juga bersifat sangat pribadi dan menurut saya tidak perlu dipublikasikan.

Dulu, kala masih rajin menulis terbuka di blog, saya merasa menjadi seseorang yang bersifat terbuka dan mampu mengekspresikan setiap masalah kepada sahabat atau teman dengan mudah.

Sejak saya mulai jarang menulis dan memutuskan untuk menulis sesekali secara tertutup, saya merasa kehilangan ability tersebut. Saya merasa berubah menjadi seseorang yang tertutup dan tidak diketahui kisah hidupnya. Ya memang sih, kisah hidup kita tidak perlu diketahui banyak orang. Tapi belakangan ini saya merasa, setiap kali saya punya masalah, saya sukar sekali menceritakannya kepada siapa pun. Sekali pun saya memulai untuk bercerita, saya semacam mempunyai perasaan bahwa lawan bicara saya tersebut seperti tidak tertarik dengan masalah yang akan saya ceritakan kepadanya, sehingga ujung-ujungnya masalah tersebut tidak dapat saya ceritakan secara tuntas dan detil, dan pada akhirnya sisa masalah tersebut saya pendam sendiri. Jika sudah tidak tahan lagi saya pendam, baru saya menuangkannya ke dalam tulisan bersifat tertutup.

Atau, kalau lagi malas menulis, saya hanya bisa mengunci diri di kamar, lalu menangis begitu saja. Maka dengan begitu, baru saya menjadi tenang.

Rasa-rasanya itu bukan merupakan jati diri saya yang asli. Seperti ada pengaruh negatif yang merasuki diri saya kala saya cuti dari menulis selama bertahun-tahun.
Karena itu saya merasa harus membangkitkan kembali energi positif yang telah lama hilang dengan berusaha menulis kembali, mudah-mudahan saja.

Kali ini, semoga, tulisan-tulisan saya dapat melepaskan energi negatif dalam diri saya sekaligus dapat bermanfaat bagi orang lain yang membaca (kalau ada haha).

Kali ini, Insya Allah, tulisan-tulisan saya tidak lagi menggunakan bahasa alay dan berisikan keluhan-keluhan remeh-temeh seperti dalam blog saya terdahulu :p.
Well, everybody’s been there done that too, right? Setiap pendewasaan diri pasti membutuhkan waktu

Baiklah kalau begitu, saya akhiri pembukaan ini dengan kata-kata…

Let’s start writing again!