Birthday

Two months to go to August means two months to go to turning 25.

Honestly i’m not a big fan of birthday and neither are my family. The only thing i like about my birthday is just how i share the same born date with mom. Since i was a kid, i never had a birthday party or celebration even once. The biggest event that ever happened during my birthday was having my colleagues brought me a dozen of donuts with candle on it for me to blow while they sang “happy birthday” song to me, that’s all. I was so touched literally since i didn’t expect them to do things like that at all. I was thankful but at a same time didn’t know what to do and started to think that they might be disappointed by my flat or not so overwhelming response – you know that guilty feeling.

So what do i and my family usually do on birthdays?

Let me tell you something. This is what i love about my family. They are extremely simple when it comes to events. Normally on one of our birthdays, we would just said to each other “Oh today is her/his birthday” with flat intonation, or if there’s no one remember it, we would say (and it’s usually me and my sister LOL) “it’s my birthday today” and then they congratulate the birthday girl/boy, also without so much enthusiasm. After that, we will decide where to eat on weekends (whenever the birthday is, we will “celebrate” it on weekend), even sometimes my father will be reluctant to join the ladies if he is too tired :D. No presents since we all are adults now and no cake cutting. Mom said, “who would eat the whole cake at home?” Well, she is right. My family have a bad habit of buying foods, eat only a tiny piece of them and leave it on the refrigerator for eternity, until we throw them out because they have been there too long or when they stink already. (Don’t be like us!)

Not just the birthday. I don’t even know my parent’s wedding anniversary date because they never celebrate it even once. What i know is just they married on November 1989 and that was because of the month and the year marked on their old wedding photos i was looking at, not because they told me. They are so anti-events, so to speak. However, raised in a family in which such events do not that matter is such a blessing for me. Why? Because it made me think, behind those important dates people will assume, there are far more important things we could pay more attention to. For instance, what to eat today and if there’s enough brown rice in stock. Lol, just kidding. I just love their simplicity.

I learn from them that we should not rely our happiness on any events or celebration. We could careless about the birthday, yet we could still be happy.  So please don’t get me wrong if sometimes i forgot or just don’t feel like saying “happy birthday”. It’s not that “i don’t remember yours” or “i don’t care about you anymore” or even worst “i stop loving you”. It’s just me who personally think birthday shouldn’t be a big deal in everyone’s life. It is just a birthday, anyway. And i still love you.

Sincerely,

66% introverted girl

Unmarried me talking about marriage

Akhir-akhir ini entah kenapa sering banget lihat artikel atau postingan berbau pernikahan. Entah temen yang mau nikah, temennya temen, atau siapapun di luar sana yang tidak saya kenal, sampai postingan “pembelaan diri” dari seorang wanita yang merasa usianya sudah cukup untuk menikah namun belum menemukan jodohnya, atau yang paling sering saya temui, ungkapan kegelisahan para wanita cukup usia yang sudah “kebelet” atau “terdesak” untuk menikah karena melihat teman-teman seusianya mayoritas sudah berkeluarga.

Lumrah saja sebenarnya ketika saya melihat fenomena-fenomena seperti itu bertebaran di media sosial. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya di postingan seseorang yang ingin saya jabarkan di sini karena saking geregetannya.

Postingan tersebut berisi tentang pembelaan seorang wanita yang kata temen-temennya sih “istriable” banget tapi belum nikah juga sampai sekarang dan dia sering ditanyain kapan nikah. Padahal saya lihat dia umurnya 4 tahun di bawah saya, and i’m like HELLO santai saja kali yah gausah dihiraukan omongan temen-temenmu itu, saya aja belum nikah kok. Saya mau nikah? Mau banget, tapi saya mah serahkan aja ke Allah untuk calon dan timingnya, gamau diambil pusing. Kata dia meskipun dia bisa masak dan nyuci baju sendiri, dia merasa belum capable enough menjadi istri karena tugas seorang istri lebih berat dari itu. Katanya seorang istri itu harus bisa segalanya, bangun pagi, menyiapkan makanan bergizi, membersihkan dan merawat rumah dan segala hal rumah tangga lainnya dia sebutkan di situ. Kalau belum siap melakukan itu, katanya dia belum pantas menjadi istri, karena katanya ga semua cowo mau sama cewe yang baru belajar masak, baru belajar nyuci baju pas udah menikah. Gitu ceunah. Heu. Saya mah ga setuju sama poin ini.

Poin tersebut kemudian mengundang sebuah komentar dari seorang cewe yang mengatakan bahwa intinya kenapa sih pernikahan itu selalu tentang apa yang pria inginkan, bagaimana dengan wanita? Apa tidak ada yang peduli dengan keinginan kita, para wanita? Dijawablah komentar itu oleh seorang komentator lain yang adalah seorang pria yang seperti membela diri. Katanya ga cuma cewe kok yang punya tuntutan, cowo juga harus punya rumah, mobil, segala macem, yah intinya harus mapan sebelum menikah, sedangkah cewe kan ga harus kaya gitu.

Kedua komentator ini seperti beradu “siapa yang lebih besar tanggung jawabnya” dan “siapa yang lebih dirugikan dalam pernikahan”. Hei, padahal mah ga kaya gitu kali esensi sebuah pernikahan.

Oke, pertama saya ga setuju sama penulis postingan itu tentang syarat menjadi seorang istri itu harus bisa segala pekerjaan rumah tangga. Menurut saya, yang penting adalah kemandirian. Kalau kita sudah terbiasa mandiri, segala hal rumah tangga bisa dipelajari dengan mudah seiring waktu. Kedua, kedua komentar tersebut membuat saya gimana ya, sebenernya ada benernya. Tapi, wanita dan pria masing-masing punya tanggung jawab dalam pernikahan, toh? Jangan lah saling iri-irian dengan kewajiban masing-masing. Jangan menuntut sesuatu pada orang lain jika kita belum menjalankan kewajiban kita sendiri. Kata seseorang, kalau kita mau mengubah orang lain, harus dimulai dari diri sendiri. Ya berarti, kalau cowo-cowo mau calon istrinya nanti taat sama dia, berbakti sama dia, mereka harus jalanin kewajibannya dulu sebagai seorang suami, bukan lantas “menuntut”. Istri yang baik, menurut saya, akan dengan otomatis melihat perlakuan baik suaminya sebagai “tuntutan” terhadapnya untuk berlaku baik pula kepadanya tanpa harus dengan gamblang sang suami bilang “hei, kamu istriku, kamu tuh harus bisa masak supaya gizi suamimu ini terpenuhi dengan baik.”

Saya setuju, seorang istri harus bisa melayani suaminya, tetapi bukan berarti suami bisa memperlakukan istrinya seperti babu kan? Pahami konteksnya ya. Memasak, mencuci, membersihkan rumah adalah hal-hal yang bisa dipelajari seiring waktu dan kalau memang mampu, tidak ada salahnya bagi menyewa pembantu rumah tangga.  Kalau ga mampu, setidaknya suami bisa membantu istri dalam menjalankan perannya, begitu pun sebaliknya. Ya intinya saling membantu dan mendukung satu sama lain. Para kaum adam yang bener dan waras, nyari istri bukan buat disuruh-suruh, dijadiin babu, melainkan untuk menjadi teman hidup untuk tumbuh bersama, ibu dan panutan yang baik bagi anak-anaknya kelak. Kecerdasan dan karakter seorang anak itu konon sebagian besar menurun dari ibunya, menurut beberapa penelitian.

Nah untuk kita para wanita, para calon istri, juga harus sadar sama kewajiban masing-masing, jangan mau “enaknya” aja. Kita memang harus berbakti pada suami, bahkan dengan menikah, kita menjadikan suami di atas orang tua kita. Tidak begitu dengan para suami. TAPI, kata Rasulullah, suami yang baik adalah yang memuliakan istrinya, bukan menyusahkannya. Anak perempuan itu dibesarkan oleh orang tuanya dengan susah payah untuk apa emangnya? Untuk melihatnya bahagia, karena setelah menikah, anak perempuan itu seperti “dicuri” selama-lamanya dari orang tuanya untuk ikut ke suami. Bukan berarti kesannya pernikahan itu buruk bagi wanita lho ya. Hanya saja, saya ingin menekankan bahwa bagaimana pun, istri dan suami itu punya porsinya masing-masing. Allah itu maha adil, ga mungkin lah kewajiban istri lebih berat dari suami atau sebaliknya, kecuali kalian yang mengotakkannya seperti itu.

Hmmm sebenernya agak ga nyambung sama paragraf awal, cuma intinya kita itu jangan terlalu banyak nuntut ke orang lain. Bilang kewajiban yang satu lebih berat dari yang lain atau apa lah. Sebaiknya kita jalani aja lah apa kewajiban kita dengan ikhlas, niscaya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal kok. Saling pengertian dan sadar diri. Menikah itu saya yakin, meskipun saya sendiri belum menikah, bukanlah sesuatu yang diciptakan untuk menyiksa kaum hawa maupun kaum adam. Menikah itu ibadah, tapi juga jangan dijadikan sebuah tren. Temen nikah, trus ikutan kepingin nikah. Lalu jadi galau karena jodoh belum kunjung tiba, dsb. Apa ya, kalau saya sih lebih baik mendekatkan diri kepada Allah aja, minta dimudahkan jodohnya, sambil terus memperbaiki diri, karena kan jodoh itu cerminan diri. Tapi katanya kalau tujuan kita memperbaiki diri karena untuk cari jodoh itu keliru. Belajar dari kisah Zulaikha dan Nabi Yusuf, Allah malah menjauhkan Nabi Yusuf dari Zulaikha karena Zulaikha terus mengejar cinta Nabi Yusuf. Baru ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah berikan Nabi Yusuf kepadanya dan mereka pun berjodoh.

Jadi, jangan lah galau-galau miris tentang jodoh, terutama buat yang berusia 20an ke atas atau yang baru lulus kuliah trus mulai merasa butuh pendamping, dsb. Hei, ada hal lain yang bisa kalian lakukan daripada melamun soal jodoh. Sikapi dengan santai pertanyaan “kapan nikah?” dan anggap itu doa dari mereka bagi kita agar mudah dipertemukan dengan jodoh kita. Jodoh akan tiba tepat pada waktunya, Insya Allah.

A woman’s heart should be so hidden in Allah that a man should have to seek Him first to find her.

Gagal Mudik

Gagal mudik untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hanya karena satu hal dramatis.

Gimana ceritanya? Oke langsung aja ya.

Seperti biasa, setiap tahunnya keluarga saya masih menjalani tradisi mudik lebaran ke kampung halaman, walaupun di masa sekarang ketika anak-anaknya udah pada dewasa dan kakek-nenek udah tiada, yang tersisa hanya saudara-saudara, kita sekeluarga hampir pasti mudik.

Karena sekeluarga orang Jawa Barat semua alias sunda pisan dan kampungnya juga ga jauh-jauh banget, kami seringkali mudik di hari H setelah solat Ied. Pernah sesekali mudik sebelum hari H, tapi itu pun jarang banget.

Hari itu, setelah selesai menunaikan solat Ied di sebuah masjid kompleks perumahan yang saya tinggali, kami mengemas barang-barang bawaan ke dalam mobil untuk bersiap mudik. Karena banyak sekali barang yang harus dimasukkan, bagasi mobil yang menghadap keluar garasi rumah terbuka cukup lama hingga mungkin menarik perhatian orang yang lalu-lalang di sekitar depan rumah, seperti memberikan obvious sign bahwa kami sekeluarga akan mudik dan rumah akan kosong dan tak berpenghuni untuk beberapa hari ke depan.

Kami sangat aware terhadap kemungkinan perampokan di kala mudik yang marak terjadi. Oleh karenanya, sebelum kami pergi meninggalkan rumah, semua pintu dan akses masuk rumah kami kunci dan semua jendela kami tutup rapat.

Kami pun dengan mantap meninggalkan rumah tanpa sedikit pun khawatir akan keamanan rumah yang kami tinggalkan. Tujuan pertama kami saat itu adalah Subang, jadi kami melewati tol Cipali untuk kemudian exit di Subang. Dari exit tersebut, setidaknya dibutuhkan waktu 2 jam tambahan untuk mencapai kampung halaman bapak saya.

Setelah melalui kemacetan yang terjadi di titik-titik rest area km 19-57, kami pun tiba di exit Subang setelah 5 jam lamanya! (biasanya hanya 2 jam). Karena bapak ga mau berhenti di rest area -yang sebenarnya menurut saya lebih mirip markas zombie- untuk pipis, akhirnya bapak baru memberhentikan mobilnya di kantor jasa marga yang ada di dekat gerbang tol exit Subang untuk mampir pipis. Sepertinya, keinginan untuk pipis dan berhentinya kami di exit Subang tersebut merupakan suatu kebetulan yang terlalu kebetulan. Kenapa?

Karena tepat setelah semuanya selesai pipis dan siap injek gas lagi, tiba-tiba hp ibu saya berbunyi. Tetangga depan rumah saya telepon dan menginformasikan bahwa genteng di atas kamar saya ada yang bongkar! What the h…

Saya yang kemudian panik seketika mengeluarkan spekulasi dini seperti, gimana kalau ada yang ngejebol plafon trus masuk kamar saya, ngambil buku tabungan trus ngambil ijazah dan surat-surat berharga lainnya yang saya simpan di tempat yang tidak berpengaman. Pokoknya pikiran saya saat itu kacau banget, dan saya gabisa bayangin kalau semua hal yang saya khawatirkan itu jadi kenyataan.

Meskipun hal itu belum terbukti benar, kami yang pikirannya udah kacau banget akhirnya memutuskan untuk putar arah dan kembali masuk tol kembali ke Jakarta. Itulah kenapa saya bilang kebetulan, karena tetangga saya telepon di saat saya tepat ada di gerbang tol dan memudahkan saya sekeluarga untuk tidak ragu lagi memutar balik menuju ke rumah.

Selama perjalanan kembali ke rumah, saya berdoa supaya ga ada barang-barang saya yang hilang, tapi juga sekaligus mengumpat saat membayangkan ketakutan saya menjadi nyata, ah pokoknya ga karuan deh selama perjalanan pulang itu. Luar biasanya, tetangga saya inisiatif melaporkan kejadian tersebut pada warga sekitar. Mereka semua berkumpul di depan rumah, satpam keliling kompleks memastikan keamanan. Beberapa tetangga mencoba masuk rumah secara berama-ramai untuk menghindari jikalau pelaku ternyata sudah masuk ke dalam rumah dan bersembunyi di dalam lalu melakukan perlawanan yang tidak bisa kita prediksi. Bahkan sebelum saya sampai rumah, mereka bersedia bekerja sama untuk terlebih dahulu memastikan keamanan rumah saya. What a blessing!

Setelah sampai rumah hanya dalam waktu 2 jam, di depan rumah sudah berkumpul para tetangga. Setelah dicek sana sini, alhamdulillah ga ada satu pun plafon yang rusak dan barang yang hilang. Hanya beberapa genteng yang tidak berada pada posisinya. Semua orang berspekulasi, bahwa mungkin benar ada maling yang akan masuk melalui plafon rumah, tapi terlanjur ketahuan jadi mereka mengurungkan niat. Karena menurut tetangga, ada 2 orang yang terlihat di siang hari sedang naik ke genteng rumah saya. Tetangga saya pikir ada tukang yang memang sedang memperbaiki rumah, namun karena tidak yakin, akhirnya tetangga saya tersebut mencoba menghubungi ibu saya.

Saya ga bisa bayangin gimana kalau tetangga saya ga menyaksikan hal itu dan ga hubungin ibu saya, bisa saja si maling kembali beraksi di malam hari. Oleh karena itu, guna menghindari kembalinya maling di malam hari, kami memutuskan untuk batal mudik dan menempati rumah selama libur lebaran.

Bete karena gagal mudik, tapi juga bersyukur banget karena rumah kami masih dijaga dan kami dikelilingi tetangga yang begitu baik.

Alhamdulillah.

Semua kejadian pasti ada hikmahnya 🙂

Masalah adalah apa yang engkau anggap masalah. Kalau tidak ya tidak. Jangan kesal, jika tidak mau jadi beban.

-Pidi Baiq