Berburu Addictea di Cisangkuy

Akhir minggu ini, saya dan keluarga pergi ke Bandung. Pergi ke Bandung menjadi ritual kami setidaknya sebulan sekali sejak kakak saya kuliah di sana hingga sekarang.

Kali ini saya sudah membayangkan akan mengunjungi addictea house yang terletak di Jalan Cisangkuy no. 46 karena terpancing promo ini ūüėú

wp-1485585151759.jpeg

Bukan karena promonya aja sih, tapi memang sudah lama pengen ke sana karena mau cobain yang low fat edition yang mana cuma dijual di situ, toko pusatnya. Yaudah deh, sebagai pecinta addictea yang kebetulan lagi ke Bandung, saya langsung melesat ke rumah ini.

wp-image-2121401710jpeg.jpeg

Rumahnya fancy ala ala jaman baheula peninggalan Belanda, sederhana. Di dalemnya juga gitu aja sebenernya cuma ada satu lemari pendingin dan beberapa kursi, tapi untungnya yang saya cari ada; addictea low fat edition!

wp-image-1370344869jpeg.jpeg

Langsung saya beli, juga rasa-rasa yang lainnya hingga nominal belanja saya mencapai syarat untuk dapetin kalender lucu ini, yeay! Di dalam kalendernya, ada kupon-kupon diskon addictea setiap bulannya, tapi sayangnya cuma bisa digunakan di outlet2 Bandung saja.

wp-image-991972502jpeg.jpeg

Sebenarnya saya agak kecewa sama rasanya yang low fat ini, karena kurang nendang gitu rasanya, enakan yang biasa. Ya mungkin karena low sugar jadi begitu kali ya rasanya. Gapapa lah akhirnya jadi ga penasaran lagi sekarang.

Entah kenapa addictea ini semakin menarik dan meningkat nilai jualnya setelah kemasannya diganti jadi lebih kokoh dan berkarakter (sok sok-an jadi pengamat). Kalau di Jakarta dan pas lagi ada di mall yang ada Ranch Marketnya, saya selalu menyempatkan diri untuk beli addictea ini karena rasanya lumayan ngangenin terutama yang rasa pisang. Cukup bisa mengobati kerinduan saya akan susu pisang Bingrae-nya Korea, malah addictea ini lebih enak sih menurut saya.

Well, Bandung memang tidak pernah gagal membuat saya terkagum-kagum dengan produk unik dan kreatifnya.

Dum(b) Dum(b) Service

‚Äč‚ÄčMemberikan uang kembalian adalah kewajiban bagi setiap penjual kepada pembeli. Tapi, sayangnya masih ada saja penjual yang “memaksa” pembeli untuk memberikan uang kecil atau uang pas, yang tujuannya adalah agar mereka tidak kesulitan dalam memecah uang. Lalu pertanyaannya kemudian adalah, apakah supaya mereka tidak kesulitan jadinya kami para pembeli yang harus kesulitan merogoh uang recehan di dalam dompet kami sekuat tenaga? 

Uang pas dan uang pecahan kecil

Sejujurnya, saya tidak masalah membayar dengan uang pas atau uang yang tidak membutuhkan banyak kembalian, selama saya memang memilikinya atau tidak menyimpan uang recehan tersebut untuk keperluan hal lain. Dengan begitu, jika saya memutuskan untuk membayar dengan uang pecahan besar, penjual tidak bisa “memaksa” saya ataupun “memarahi” saya karena tidak punya pecahan kecil padahal mereka sebenarnya berkemampuan memberikan kembaliannya. Hal ini terjadi pada saya ketika sedang membeli Dum Dum Thai Tea Drinks di Kota Kasablanka. Saya tahu kala itu memang sudah larut malam sekitar jam 9 malam dan mungkin saja pegawai dum dum ini lelah atau lagi bad mood, entahlah saya tidak peduli. Seharusnya dia tetap bersikap profesional dan menjaga sopan santun bagaimana pun kondisi mereka.

Dijutekin karena bayar pakai pecahan besar

Saya membeli dua minuman, Thai Tea dan Thai Black Tea. Dilayani oleh mba-mba berkerudung, saya membayar dengan pecahan 100 ribu untuk total belanja 37 ribu. Saat itu saya tidak punya pecahan lain selain 2ribuan beberapa lembar dan 5ribuan 1 lembar. Dia tanya apa saya punya uang kecil, lalu saya jawab engga (karena memang ga punya). Berikutnya yang terjadi adalah, dia ngejutekin saya sambil menimbulkan suara “ck” yang menandai dia kesal karena saya tidak punya uang kecil. Dalam hati saya bilang, wah sableng nih orang, ya kali saya harus nuker duit dulu. Akhirnya dia memberikan uang kembalian dengan raut wajah terpaksa dan menaruhnya di atas konter, tidak diserahkan ke saya, saya harus ambil sendiri, juga tidak bilang terima kasih karena saya telah membeli produknya, sungguh sangat tidak sopan. Emosi saya sebenarnya sudah naik hingga ubun-ubun, tapi saya berusaha tenang dan pura-pura ga peduli. Setelah pesanan saya jadi, dia kembali bersikap jutek dan menyerahkan minuman pesanan saya sekenanya tanpa sepatah kata pun. Rasanya ingin saya lempar koin recehan ke wajahnya, astagfirullah. Andai saja saya tidak bisa menahan emosi, saat itu juga sudah saya bentak-bentak dia karena sikapnya yang sangat tidak pantas dan sangat insulting at all points. Untungnya saya paling malas sama yang namanya berdebat dan membuat gaduh, jadi saya biarkan saja dan memutuskan untuk menulisnya di sini. Semoga dibaca pihak terkait.

Apakah saya salah dengan memberikan uang pecahan 100 ribu untuk membayar belanjaan saya yang berjumlah 37 ribu? Saya hanyalah pembeli yang kebetulan tidak memiliki uang pecahan kecil. Bila itu membuat pelayan menjadi kesal, bukan berarti dia bisa menjadikannya alasan untuk tidak bersikap baik terhadap saya. Seharusnya dia sadar, adalah kewajiban dia sebagai penjual untuk memberikan kembalian, toh kenyataannya dia mampu kok ngasih kembalian. Kalau dia kesal dan tidak bisa terima, lebih baik dibatalkan saja pesanannya karena sepertinya uang pecahan kecil lebih berharga daripada satu pembeli.

Attitude is a must

Dulu, saat masih SMA dan bergabung di majalah sekolah, saya selalu ikut serta menjual majalah hasil karya kami kepada orang tua murid pada setiap pembagian rapor. Kala itu seringkali orang tua murid tidak memilki uang pas dan saya kehabisan pecahan kecil. Saya sebagai penjual tidak lantas berlaku sinis pada mereka, melainkan saya berusaha menukar uang ke koperasi atau kantin sekolah agar dapat mengembalikan uang mereka. Pembeli itu harus dilayani dengan baik supaya mereka tetap mau beli produk kita. Penjual itu seharusnya tidak hanya sebatas jualan produk, tapi juga jualan sikap, karena kesan pertama itu sangat penting. Saya sebagai pembeli paling tidak bisa mentolerir penjual mana pun yang tidak baik dalam melayani pembelinya, meskipun produknya bagus atau enak. Attitude is a must. Kalau saya tahu pelayanannya tidak baik, tidak akan saya kembali ke tempat itu kalau bukan karena terpaksa.

Perkara uang kembalian seharusnya bisa disiasati oleh penjual, seperti meminta pembeli untuk memberikan nominal tambahan tertentu agar uang kembaliannya menjadi genap. Tapi sekali lagi, penjual tidak bisa memaksa pembeli untuk menuruti permintaannya. Banyak penjual yang menerapkan hal ini dan dari pengalaman saya, jika saya tidak bisa memenuhi permintaan mereka, mereka tetap melayani saya dengan baik.

Di sini saya hanya ingin mengingatkan agar para penjual setidaknya memiliki kesadaran untuk dapat selalu bersikap baik dan santun kepada pembelinya. Dan tidak dalam konteks penjual dan pembeli aja, kita sesama manusia, lepas dari apa peran kita, harus dapat menjaga sikap terhadap sesama. Jangan hanya karena ingin meringankan beban diri sendiri, lalu kita jadi menyusahkan orang lain dan mengesampingkan etika. Intinya adalah sadar diri, jangan egois, dan jaga sikap. 

Jump and burn with Saltar at Celebrity Fitness

photo courtesy by Celebrity Fitness

Salah satu yang saya suka dari Celebrity fitness adalah inovasinya dalam menciptakan kelas fitness yang dipadu dengan berbagai macam alat yang belum tentu ditemukan di fitness club lainnya di Indonesia. Dan mungkin itu sebabnya saya masih betah ngegym di Celfit meskipun udah hampir 3 tahun jadi anggota.

Kelas-kelas fitness yang saya suka dari Celfit, yang tidak ada di tempat lain, adalah fast fit dan kettlebell vipr. Namun, baru-baru ini Celfit meluncurkan kelas terbarunya, yaitu Saltar. Saltar, diambil dari bahasa Spanyol (or Portugese?) yang berarti melompat, adalah latihan cardio melompat di atas trampoline yang mampu membakar 600-800 kalori dalam waktu 1 jam latihan. Kalau mau dibayangkan, keringetnya mirip-mirip Body Combat lah, agak lebih sedikit mungkin.

Kelas Saltar ini belum tersedia di seluruh club Celfit, melainkan di beberapa club saja seperti contohnya di Kota Kasablanka. Kebetulan saya latihan di sana dan penasaran ingin mencoba. Akhirnya kemarin saya mengikuti kelas ini dan tenyata peminatnya banyak banget! Begitu kelas dibuka, para member yang menunggu di luar langsung masuk dengan rusuh, buru-buru nge-tag trampoline yang jumlahnya terbatas (padahal lumayan banyak loh tapi tetep aja abis). Untungnya saya ikut kelas sebelumnya jadi bisa tag trampoline duluan begitu kelasnya selesai. Dan seketika kelas menjadi penuh dengan trampoline yang tidak tersisa. 

Saya pikir kelas ini bakal seru karena pengikutnya begitu banyak dan ternyata benar saja, seru banget! Serunya kaya lagi naik wahana di Dufan, bikin happy pokoknya. Instrukturnya memutar lagu dan mencontohkan gerakan2 melompat yang bervariasi. Setiap gerakan ada opsinya. Jika merasa kurang tertantang, maka kita diharuskan melompat lebih tinggi (eaaa kaya judul lagu). Tapi kalo misalnya capek, boleh lompatnya pendek aja. Berhubung instrukturnya semangat banget, kita semua jadi terpacu untuk ikutin gerakan dia yang semakin lama semakin on fire. Tapi hati-hati ya, walaupun terbawa suasana yang bersemangat, jangan lupa perhatikan pijakan kaki yang harus selalu ada di tengah trampoline supaya ga jatuh.

Latihan ini bagus banget untuk melatih keseimbangan tubuh dan koordinasi struktur inti (core). Jadi buat yang dulunya pas kecil suka lompat-lompat di atas kasur springbed (saya termasuk sih ūüėā) dan bagi yang ingin membakar lemak sekaligus meningkatkan keseimbangan dan menguatkan otot core, latihan ini cocok banget untuk diikutin, terlebih lagi karena instrukturnya yang asyik beud (namanya Cleber btw).

Ke depannya sepertinya saya akan kembali mengikuti kelas ini demi meningkatkan keseimbangan saya yang saat ini masih jelek banget. Mudah-mudahan saya bisa jadi lebih seimbang nantinya, amin. Last but not least, semoga Celebrity Fitness tidak berhenti berinovasi dalam menciptakan kelas-kelas fitness yang bermanfaat, supaya semakin banyak orang yang berolahraga dan menjadi sehat. 

Suka duka pakai kawat gigi

wp-image-796810753jpg.jpeg

Kawat gigi atau biasa disebut behel merupakan salah satu cara untuk merapikan struktur gigi manusia. Kalau di luar negeri, behel ini diasosiasikan dengan orang yang cupu dan jelek, makanya di luar sana ga banyak yang pake behel kalau bukan karena terpaksa. Bedanya di Indonesia, behel dijadikan semacam aksesoris gigi, di mana yang memakainya akan dianggap gaul dan kekinian meskipun sebenarnya orang itu pada dasarnya sudah memiliki struktur gigi yang bagus. Ya memang, beda negara, beda budaya, beda kebiasaan, beda pola pikir, dan beda yang lain-lainnya, jadi cukup dipahami saja.

Saya sendiri termasuk yang pake behel karena memang ingin merapikan struktur gigi. Fyi dari kecil saya ga pernah ke dokter gigi dan selalu takut untuk ke dokter gigi ketika ada masalah pada gigi saya. Saya gamau ke dokter gigi kecuali memang mendesak banget kaya waktu itu gigi saya bolong dan sakit banget akhirnya harus ditambal. Lama-kelamaan saya sadar bahwa struktur gigi saya berantakan dan karenanya saya jadi jarang tersenyum menampakkan gigi karena malu. Gigi saya waktu itu ada yang bolong 2 dan seharusnya memang sudah dicabut, namun tidak pernah saya lakukan karena takut. Setelah mengumpulkan keberanian dan tekad, akhirnya saya memutuskan untuk pakai kawat gigi. Sebelumnya saya cari-cari artikel di internet tentang prosedur pemasangan kawat gigi dan tanya-tanya ke temen yang sudah pakai kawat gigi duluan. Dari situ saya menyimpulkan bahwa kawat gigi tidak bisa dipasang sembarangan dan begitu saja melainkan harus melewati tahap rontgen dan cabut gigi, hal yang paling saya takuti. Berapa jumlah gigi yang harus dicabut itu tergantung dari pemeriksaan sang dokter.

Cabut gigi

Sebelumnya cabut gigi, saya diharuskan rontgen di lab dan hasilnya diberikan ke dokter gigi untuk dianalisis kasusnya. Setelah itu gigi saya diperiksa dan dicetak dan sesuai dugaan saya, kedua gigi saya yang bolong memang harus dicabut karena sudah tinggal akar gigi saja. Tidak hanya itu, saya juga harus mencabut 3 gigi lainnya dan mengoperasi 1 gigi geraham bungsu karena posisi tumbuhnya yang miring (terlihat di rontgen). Sudah lah cemas dengan cabut gigi, ini lagi disuruh operasi, alamak makin ga kebayang gimana takutnya saya. Tapi, demi kerapihan gigi, saya tidak begitu saja pantang menyerah.

Pertama-tama gigi yang dicabut adalah gigi yang bolong. Cabut giginya gak bisa sekaligus ya, kecuali pasiennya kuat dan punya cadangan nyawa. Pas gigi bolong ini dicabut, rasanya sakit banget, kata dokternya sih gara-gara gigi saya itu udah rusak dan banyak bakterinya jadi anestesinya ga bisa bekerja maksimal (jadi menyesal deh dulu ga segera dicabut huhu). Setiap pencabutan gigi berjarak 1 minggu, kecuali 2 gigi terakhir sebelum operasi langsung saya sekaligusin di hari yang sama karena tidak begitu merasakan sakit kecuali pas bagian suntik obat biusnya (mungkin karena bukan gigi bolong).

Operasi gigi geraham bungsu

Sebagai orang yang belum pernah merasakan operasi apapun, tentunya momen ini menjadi momok bagi saya. Untuk itu, sebelum hari H saya rajin membaca pengalaman orang menjalani operasi ini lewat blog dan semacamnya. Ada yang katanya bisa sampai 1 setengah jam untuk menyelesaikan operasinya dan ada yang dibius total. Lama operasi tergantung dari tingkat kesulitan kasus gigi kita. Untungnya kata dokter gigi saya, kasus gigi geraham bungsu saya masih tergolong mudah dan dia berani mengatakan bahwa operasi akan selesai dalam waktu setengah jam. Cukup lega juga mendengarnya tapi ga mengurangi kegugupan saya akan operasi ini.

Saat hari H, saya ditemani mamah dan beliau ga berani masuk ke dalam karena katanya kasian nanti kalau ngeliat saya haha. Yaudah akhirnya saya di ruangan sendiri sama dokter dan perawatnya. Operasi dimulai dengan suntik anestesi yang berkali-kali dan at some point, suntikannya berasa sakit banget agak beda sama suntikan anestesi ketika cabut gigi. Yang ini serasa kaya jarum terus nusuk ke dalem kulit ga berhenti-berhenti tapi ya sakitnya masih wajar dan bisa ditahan sih. Setelah itu, dokter mengetes kekebalan gusi dan gigi saya di bagian yang akan dioperasi, kalau saya merasa kebal berarti operasi sudah siap dijalankan. Pas operasi, saya ga ngerasa ada sensasi sayatan atau apapun, tapi yang berasa itu ketika gigi kita dibor untuk dipotong bagiannya supaya lebih mudah dikeluarkan. Sama sekali ga berasa sakit sampai pada penjahitan dan akhirnya selesai dalam waktu kurang dari 30 menit. Abis itu saya dikasih obat painkiller dan ga boleh ngunyah di bagian gigi yang baru dijahit serta ga boleh beraktivitas fisik dulu. Sayangnya, saya ga dikasitau oleh dokter untuk segera mengompres pipi, karena yang saya baca di blog orang harusnya kita segera mengompres pipi bagian gigi yang baru dioperasi untuk mencegah bengkak yang berlebih pasca operasi. Dan benar saja, karena saya ga kompres, lama-lama pipi saya bengkaknya gede banget, saya sampe malu untuk keluar rumah. Pipi saya baru dikompres setelah bengkak mulai kelihatan dan baru sekitar 2 mingguan bengkak itu mulai hilang dan jahitan saya bisa dilepas.

Pasang kawat gigi

Setelah saya pulih pasca operasi, itu berarti saya sudah bisa dipasangkan kawat gigi. Bagian ini sih ga menakutkan, malah saya antusias karena bisa mulai pilih warna karet. Awalnya dokter mengelem bracket di tiap-tiap gigi dan lemnya itu bisa kerasa di lidah agak asem, selanjutnya kawat dipasang melingkari gigi dan dikaitkan ke bracket, baru deh dipasang karetnya dan selesai! Kawat yang dipakai untuk fase awal adalah kawat yang paling tipis. Ketebalan kawat akan semakin bertambah di kontrol-kontrol berikutnya.

Setelah kawat gigi terpasang, kesan pertama saya adalah: ga enak! Pengen rasanya lepas kawat saat itu juga karena rasanya aneh banget, selain itu di awal terasa ngilu banget karena pergerakan gigi mulai terjadi. Saya jadi heran sama orang yang pake behel hanya untuk gaya, karena ini ngilunya ga boong loh dan rasanya ga enak banget ada sesuatu yang ganjel di mulu kita. Sampai sekarang pun gigi saya sudah rapi setelah hampir 2 tahun memakai kawat, saya masih merasa bahwa behel ini sangat mengganggu dan sangat ingin segera melepasnya, namun karena masih ada beberapa aspek yang harus diperbaiki dari gigi saya, sepertinya keingingan tersebut belum akan terwujud dalam waktu dekat

Meskipun begitu, saya mengucapkan banyak terima kasih pada kawat gigi ini dan dokter gigi saya, karena berkatnya kini saya jadi bisa tersenyum bebas dan tertawa lepas. Ada sedikit penyesalan karena ga dari kecil rajin ke dokter gigi. Kalau saya dulu rajin ke dokter gigi, pasti saya tidak perlu pakai kawat begini, tapi yasudah lah yang penting saya sekarang sudah berani ke dokter gigi dan merawat gigi saya sebagaimana mestinya. Better late than never, no?

 

 

What i do miss about my autumn trip in South Korea (Indonesian’s point of view)

So before entering the age of a quarter of century, i’ve finally made it to South Korea! As i have told in this blog before, i do had plan about going to Korea this year with my sister, in case my family cancelled the Umrah plan. And yes, sadly the Umrah was cancelled and just like that, i and my sister immediately booked a flight to Seoul. Pretty impulsive, no?

We do have great time there, got plenty of things to see and learn at the same time, left so much memories in our hearts that we’ll never forget. Here i would like to tell you all about the things i love¬†about Korea after spending 10 days and 9 nights there.

Easy access of transportation

Either subway or bus, or even KTX, i was always excited to take public transportation there and love all the walks between station and destination. It’s like, you don’t need to struggle to reach each of your destinations (but your legs need to gain strength for sure) , Korea always has its bus stop or subway station for every spots, even you will be directed properly to which exit should you head to by reading the signs written in latin alphabet (you don’t need to worry i you can’t read korean). Unlike here in Indonesia, you often ended up using Go-jek or Grabbike because you need to transfer countless times by taking commuter line or bus or -i really dislike this one- Angkot, plus the directions are barely available, and if it is, they are mostly written in Indonesian so the foreigners will not understand. As Indonesian living and working in Jakarta, commuting in Seoul is just a piece of cake. As a bonus, you will have nice legs, because of the long steps you take between places. There’s no chances to be lazy there unless you don’t mind spending money on taxis. But never mind, i still love the subway tho and the buses which take you home without the need of transfer after a long day of trip.

C U convenience store

I know it sounds weird, but i just love this one convenience store. Light banana milk, yogurt drinks with adjustable straw, white fresh milk, the 500 KRW mineral water are the items i always buy (almost daily!), cause you cannot always found these in another convenience store. The other plus points are its attractive design and spacious room, makes this store definitely convenient for every customers. I have been to the other convenience store such as GSE 25 and 7 Eleven, but none of them have caught my heart as C U did. You can find this store everywhere, just like you can always see Indomaret here in Jabodetabek. I wish indomaret sell those attractive products someday. Miss that well packaged light banana milk so bad and the yogurt tasted surprisingly so good, suitable for us to be consumed while relaxing in our hostel after a long long day. Tell me where can i find those in Jakarta, please.

Museums

I have only made to visit two Museums during my trip, National Museum and National Folk Museum. Actually, there are plenty of museums you can pay a visit to, but make sure you have longer stay there if you don’t want to miss the other great attractions. What i like about the museums…actually not the museum itself. The museum is just like any museum you have visited in Jakarta, but in Korean museums, there is always a merchandise store which sells not only handycrafts, but also the educational hard covered book about the history of Korea. Oh, and the building miniature puzzle you can build at home, too! My sister bought pretty much those heavy encyclopedia alike books (make sure you now how to brought them home, like prepare extra suitcase) and it’s all written in English. I’ve read some and the contents are very attractive with pictures and well written narration. I like how Korea make foreigner able to understand their histories DEEPLY just by visiting a museum. I mean, you may find these books a lot at the bookstores, right? But tourists do not always plan to go there, because we have long lists of places to visit and bookstore is just an option. I wish i have more time to explore all museums in Korea.

Myeongdong Shopping Street

Myeongdong is the best place for tourists to shop cosmetics, clothings, or even just a street snack. You will be welcomed warmly there and will spot many tourists which was relieving for me because it made me feel i was not the only one there XD. I go back and forth for like more than 3 times because one visit is just never enough. You will find anything that you missed from buying that will cause you regrets afterward, because you don’t know when you will come back to Korea ever again. Okay, this will not reflect to everyone, but that was what i really feel about Myeongdong. Even after i’m back here in Indonesia, i regret from not buying the Laneige BB cushion there, because when you find the exact product here, the price will not be the same (the gap is suprisingly pretty high). So, if it comes to cosmetics, i encourage you all to have no hesitations in buying them, because you won’t find those exact products with the same price after you are back home. You should try the street snacks too, like egg bun and taiyaki! Very well recommended to stuff your stomach.

Bulgogi Bibimbap in Nami Island

If you are a muslim, you sure would be struggling to find halal food and most of the time you wouldn’t eat any kind of meats, unless it’s stated halal. But trust me, your craving for meat will soon be paid off when you go to Nami Island, where there is one famous halal restaurant packed of muslim tourists. You should go there and order the bulgogi bibimbap which tastes perfect for me muslim who don’t eat meat for days. The happy thing about this restaurant is also, they provide decent prayer room upstairs, so that muslims will enjoy the their time in Nami without worrying how and where to pray. After our Nami visit, no bibimbap tastes the same as in Nami even when we go to halal restaurant in Itaewon which you can find meat to eat. So, don’t forget to stop by the restaurant and order that delicious bulgogi bibimbap if you are in Nami.

Colourful leaves and perfect weather

It was autumn in South Korea when i go there and as a person living in tropical country, i find it exciting to see those bunches of colorful trees everywhere. I am sure my eyes would be healed if i stay longer there just by seeing those beautiful trees, especially when you visit the Gyeongbokgung Palace, you could spend a day just by walking around the palace and be elated by the surrounding view you will not find in tropical land like Indonesia. Plus, as a person who prefer mountain over beach due to its cold weather, autumn is just perfect for me. The not so cold weather (it can be extreme cold some days, but not always), which i could only found in Dieng (the one weather you can compare to in Indonesia), now i can enjoy it in the heart of big city! Such a new and exciting experience for me. Honestly i don’t really like to be in a beach with its hot weather, which is a shame for most Indonesians because there are plenty of beautiful beaches here, but what can i do? I think everyone have preferences and we should not judge them if theirs are different from most of the people. I like the cold weather (not so cold like in winter actually), it makes my mind cooler, clearer, and more peaceful. I wish someday i could live in a subtropical country where i can enjoy the four seasons there. It doesn’t mean i’m not grateful to live in tropical country tho. Here is great too, as we don’t need to wear layered clothes and thick jacket, instead we could always wear all of our clothes all the year round because the weather will not go anywhere lower than 20 degree celcius in most of the cities. But still, I miss the lovely autumn atmosphere!

 

 

Royal Honey Propolis Skinfood: Cara Mengakhiri Ketergantungan Krim Dokter

Assalamualaikum semuanya! Jadi ceritanya saya abis dari Korea trus mau review suatu produk skincare-nya Skinfood yang bernama Royal Honey Propolis. Jarang-jarang saya bikin review kaya gini, tapi karena ini recommended banget jadi seluruh dunia harus tahu. Apalagi buat kalian yang udah ga betah pake krim-krim dari dokter yang membuat kulit ketergantungan, sangat disarankan untuk meluangkan waktunya membaca ulasan saya ini, hehe.

Ceritanya waktu saya ke sana, tepatnya di Myeongdong Shopping Street, saya didampingi teman saya yang merupakan mahasiswa Kyunghee University untuk melihat-lihat sekitaran Myeongdong sambil bersua. Di sana banyak sekali ditemukan gerai kosmetik lokal yang beberapa diantaranya juga memiliki cabang di Indonesia, seperti The Face Shop, Etude House, Tony Moly, Skinfood, dan masih banyak lagi. Harga yang ditawarkan tentunya jauh lebih murah karena merupakan produksi lokal, hmm pastinya bagi foreigner seperti saya bakal tertarik banget untuk shopping di tempat ini. Yap benar saja, saya pun tidak absen membeli beberapa produk perawatan wajah yang tidak disangka ternyata cocok banget dengan jenis kulit saya yang sensitif. Produk tersebut saya ditemukan di toko Skinfood dan saya dapatkan dengan harga yang terjangkau untuk produk sekelasnya.

Produk perawatan wajah yang saya beli adalah rangkaian Royal Honey Propolis besutan Skinfood yang terdiri dari essence dan shield cream. Kalau dengar kata propolis, entah mengapa saya langsung teringat MLM XD. Awalnya saya tidak tertarik membeli produk ini, namun setelah mbak2 SPGnya bilang bahwa essence-nya tidak dicampur bahan kimia alias alami dan sangat cocok untuk kulit sensitif, plus teman saya yang sedang menempuh kuliah di negeri ginseng itu juga merekomendasikannya, akhirnya saya terbujuk untuk membelinya, dikasih diskon pula.

Tujuan saya membeli produk itu adalah bukan semata-mata karena diskon yang ditawarkan melainkan juga untuk menggantikan sementara krim perawatan yang lupa saya bawa dari Indonesia, krim yang kalau lupa dipake sehari aja, bisa menyebabkan bruntusan di wajah yang bikin gatal. Sungguh suatu ketergantungan menyebalkan yang sudah lama ingin saya lepas namun belum menemukan pengganti yang cocok. Alhamdulillah, sepertinya keteledoran saya saat luput memasukkan krim tersebut menjadi momentum awal saya untuk benar-benar lepas dari ketergantungan krim jahanam tersebut, karena sekarang saya sudah memiliki pengganti yang cocok dengan kulit saya (setelah sebelumnya sempat lepas dari krim dokter dan mencoba rangkaian produk tea tree-nya Body Shop namun tidak membuat wajah lebih baik).

Saat penggunaan awal belum terlihat hasilnya memang, atau saya belum sadar aja kali ya, karena setelah saya ingat-ingat, selama di Korea dan menggunakan produknya Skinfood yang katanya best seller ini, saya memang tidak mengalami bruntusan atau gatal seperti yang saya takutkan (dan memang biasanya terjadi) ketika wajah saya lepas dari paparan krim dokter, namun wajah juga tidak langsung kinclong dan mulus kayak orang-orang korea. Saya pikir ini efek cuaca dingin di Korea yang membuat kulit wajah saya sedikit waras dan perlahan akan kembali bereaksi saat pulang ke Indonesia. Benar-benar tidak berharap banyak sama si propolis ajaib ini, dan saya sudah siap untuk menyentuh krim dokter lagi apabila wajah kembali meradang.

Ketika tiba di Indonesia, sehari…dua hari…saya tetap memakai propolis-nya skinfood dan sama sekali belum tertarik melirik krim dokter jahanam tersebut. Sampai saya ketemu teman saya untuk memberikan oleh-oleh dan teman saya itu bilang bahwa wajah saya terlihat bagusan setelah pulang dari Korea (woah!). Baru deh di situ saya sadar, bahwa kulit wajah saya memang telah bertemu jodohnya di Korea dan semesta turut andil di dalamnya (serius deh nyari produk skincare bener2 kaya nyari jodoh). Saya bilang jodoh, karena produk ini ditemukan secara tidak sengaja, langsung cocok dan tidak jahat alias tidak membuat ketergantungan terhadap kulit saya (mungkin benar yang dibilang SPGnya bahwa bahan produknya tidak dicampur bahan kimia). Pernah sekali ga pake produk ini, tapi besoknya wajah saya masih baik-baik saja tuh.

Selain ramah terhadap kulit sensitif, produk ini juga simple banget penggunannya dan rangkaiannya ga banyak dan ribet kaya yang saya dapat dari dokter. Cuma perlu essence dan shield cream untuk bikin saya lepas ketergantungan. Cara pemakaiannya yaitu saat mau tidur, aplikasikan essencenya terlebih dahulu, baru kemudian shield creamnya, niscaya ketika bangun tidur kulit akan terasa lebih halus.

Saya berharap royal honey propolis ini memang benar-benar cocok dengan kulit saya untuk jangka waktu yang lama. Berhubung saya baru menggunakannya selama 2 minggu-an dan sudah merasakan efek positifnya, saya sih optimis bahwa produk ini memang bagus dan ramah terhadap kulit. Mungkin efeknya akan berbeda-beda ya bagi tiap orang, tapi yang jelas untuk kulit sensitif seperti saya yang sudah gerah dengan krim dari dokter, produk ini benar-benar recommended and worth the try.

Malaysia hari kedua: Genting, Colmar, dan KLCC

Di hari ke-dua, kami berencana mengunjungi tempat-tempat yang letaknya lumayan jauh dari pusat kota, yaitu Genting Highland dan Colmar! Kedua tempat ini sama-sama berada di wilayah Genting dan untuk mencapai kedua tempat ini, tidak ada pilihan lain selain menaiki bus dari KL Sentral.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang (maklum, hari itu hari Sabtu), kami sudah membeli tiket Bus+Skyway jurusan Genting dari hari sebelumnya yaitu tepat saat kami baru tiba di Malaysia. Tiket dibeli di KL Sentral, harganya saya lupa, cukup terjangkau pokoknya, silakan cari di Google untuk lebih detilnya. Yang saya ingat, saat kami membeli tiket tersebut, kami diharuskan memilih waktu keberangkatan dan jenis tiket (return or one way). Karena kami ingin bermain aman (takutnya kalau beli tiket pulang di sana nanti kehabisan), akhirnya kami membeli tiket return dengan jadwal keberangkatan jam 9 pagi dan kepulangan jam 5 sore.

Kami berangkat dari Hotel Sempurna jam setengah 9 pagi yang dirasa mepet karena kami harus naik monorail dulu untuk sampai ke KL Sentral. Kami sempat khawatir karena kereta monorail yang ditunggu tidak kunjung tiba, sedangkan waktu terus berjalan. Namun pada khirnya dengan timing yang benar-benar nyaris, kami berhasil tiba di KL Sentral jam 9 kurang sedikit dan segera menaiki bus yang sudah stand by (untungnya belum berangkat). Bus tersebut tidak langsung membawa kami ke tempat wisatanya, melainkan ke stasiun cable car yang akan kami naiki selanjutnya untuk mencapai lokasi Genting Highland.

Nah, itu lah momen yang saya tunggu-tunggu, menaiki cable car di Genting sambil menikmati pemandangan dari atas sana. Sebelumnya saya memang sudah pernah mengunjungi Genting kala berlibur bersama keluarga, namum kami tidak sempat menaiki cable car-nya, jadi rasanya kurang afdol. Oleh karena itu saya ingin “memperbaiki” pengalaman tersebut.

Ya kalau dipikir-pikir, hanya sekadar naik cable car , kita juga bisa melakukannya di Taman Mini atau Ancol, namun yang membuat saya jauh lebih excited menaiki cable car di sini adalah pemandangannya. Di Genting, pemandangan yang ditawarkan saat berada di atas cable car benar-benar mengagumkan, sehingga saya yang fobia terhadap ketinggian pun tidak merasa takut berada di ketinggian yang cukup ekstrim.

 

img-20160730-wa0054.jpg
Interior Cable Car

 

wp-image-157876758jpg.jpeg
Pemandangan dari atas Cable Car

Sesampainya di Genting Resort, kami dikecewakan dengan situs taman bermain yang ternyata sedang direnovasi (shame on us who didn’t research this), sehingga tidak ada yang bisa kami nikmati. Saya sesungguhnya (kalau boleh jujur) tidak begitu kecewa, karena tujuan saya untuk menaiki cable car sudah tercapai dan apa yang terjadi selanjutnya nanti saya tidak begitu peduli, hehe.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke kawasan wisata berikutnya sesuai rencana kami yaitu Colmar (French Village). Untuk menuju kawasan tersebut, tidak ada jalan lain selain menyewa mobil. Namun, saudara-saudara, ternyata tarif sewa mobil di daerah situ cukup fantastis yaitu 250 RM untuk jangka sewa selama 4 jam!

Awalnya kami ingin menyewa mobil langsung dari Genting Resort, namun harga yang ditawarkan sangat tidak masuk akal dan benar-benar tidak bisa ditawar kurang dari 400 RM. Akhirnya setelah putar otak sana sini, kami memutuskan untuk kembali menuju terminal bus dengan kembali menaiki cable car dan mencoba mencari sewaan mobil di sana (dengan harapan tarifnya lebih murah). Alhamdulillah pada akhirnya kami berhasil mendapatkan mobil sewaan dengan tarif yang lebih murah di sana. Jadi nantinya, setelah kami puas bermain di Colmar, kami tidak perlu lagi ke genting dan hanya tinggal menuju terminal bus untuk pulang ke KL Sentral. Harga sewa mobil yang sudah saya sebutkan tadi (250 RM) sudah termasuk supir dan waktu tunggu.

Setelah perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami tiba di Colmar. Dari situ ternyata ada sebuah angkutan yang akan membawa kita ke Japanese Village. Nah, kami baru tau ternyata selain French Village, juga ada Japanese Village di kawasan wisata ini. Kebetulan saat kami tiba di sana, angkutan tersebut sedang tersedia, jadi kami langsung naik saja dan sesaat kemudian sudah tiba di Japanese Village.

Tempat ini dirancang seperti desa sungguhan dengan adanya aliran sungai dan rumah tradisional Jepang yang di dalamnya kita bisa menyewa baju kimono untuk berfoto. Harga sewa kimono saat itu sebesar 20 RM. Saya tidak mengambil banyak foto di tempat ini kecuali di rumah tradisionalnya saat saya dan teman saya berpakaian kimono. Aneh rasanya, karena saya seperti berwisata ke Jepang dan bukan ke Malaysia! haha

 

 

Karena waktu kami terbatas, kami memutuskan untuk kembali ke Colmar dengan menggunakan angkutan seperti tadi. Setibanya di Colmar, kami sangat lapar dan memutuskan untuk makan di situ setelah berfoto beberapa saat. Kebetulan saat itu juga turun hujan jadi kami sekalian berteduh selagi makan.

wp-image-1115310290jpg.jpeg

wp-image-1045376jpg.jpeg

img-20160730-wa0064.jpg
Puas dengan suasana dingin di Genting dan sekitarnya serta waktu juga sudah menunjukkan jam keberangkatan bu¬†pulang, kami beranjak kembali ke terminal untuk pulang ke kota dan meneruskan perjalanan kami ke….. KLCC!

Saya lupa sebenarrnya apa kami langsung ke sana atau ke hotel dulu, yang jelas untuk mencapai KLCC, kami menaiki bus gratis bernama goKL jurusan Bukit Bintang-KLCC. Setelah saya research di Google, katanya sih goKL ini terobosan baru dalam transportasi di Kuala Lumpur yang melintasi tempat-tempat wisata dan pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur. Busnya sangat nyaman dan muat banyak penumpang, favorit semua orang sepertinya, terlebih karena gratis! Terbukti dari banyaknya penumpang meski sudah malam.

Meskipun sudah lelah, saya masih excited¬†untuk menyaksikan¬†Menara Kembar Petronas di malam hari, karena ketika saya dulu berkunjung ke menara ini, hari masih siang dan udara sangat panas terik. Untuk itu, saya kembali ke sini (lagi-lagi) untuk “memperbaiki” pengalaman tersebut, hehe.

And here we are..

Pulang dari situ, kami berkunjung ke Jalan Alor yang terletak tidak jauh dari Bukit Bintang. Jalan Alor adalah pusat kuliner di Kuala Lumpur yang beroperasi selama 24 jam dan menyajikan aneka masakan. Saat kami tiba di sana, sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya masakan chinese yang tentunya belum terjamin halal. Akhirnya kami putuskan untuk mencari restoran arab saja dan menyantap nasi briyani-nya yang memiliki porsi besar itu.

Setelah kenyang dan mulai merindukan kasur, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, mengakibatkan kaki membengkak dan lecet dengan sendirinya. Kami pun tidur dengan lelap untuk bersiap menyambut hari terakhir kami di Kuala Lumpur.