Dilan 1990

Kalian-kalian tidak tahu betapa saya ingin sekali mengungkapkan perasaan gembira saya ketika menonton film Dilan 1990. Gembira karena saat menontonnya saya seperti kembali membaca bukunya yang punya nilai magis dalam menyentuh perasaan saya.

Image result for Dilan

Penggemar karya Pidi Baiq

Saya adalah pembaca setia buku-bukunya Pidi Baiq. Dilan 1990 adalah salah satu karyanya yang paling terkenal, yang memiliki dua saudara yaitu Dilan 1991 dan Milea, Suara dari Dilan. Meskipun begitu, Dilan bukanlah buku pertama yang saya baca. Pertama kali sekali, saya diperkenalkan oleh kakak saya dengan karya Pidi Baiq yang berjudul “Drunken Monster”. Awal saya membaca buku tersebut, saya langsung tenggelam di dalamnya akibat untaian kata-kata yang tidak henti-hentinya menghibur saya. Kalau boleh saya deskripsikan, cara menulis Pidi Baiq itu nyeleneh tapi pada jalurnya, sederhana, tapi ga kampungan, berkelas, tapi ga sombong. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya tidak tahu bagaimana pendapat teman-teman tentang buku itu, karena saya pernah merekomendasikan buku tersebut kepada seorang teman dan katanya aneh dan dia ga suka. Yah, saya rasa semua orang bisa memiliki pandangan berbeda, namun pandangan, prinsip, dan pemikiran yang saya miliki dalam hidup saya terasa sangat selaras dengan apa yang ditulis oleh Piqi Baiq, karena ternyata saya sanggup membaca keseluruhan bukunya, termasuk Dilan, tanpa butuh waktu lama. Artinya, saya tidak pernah bosan selama dalam proses membaca karya-karyanya. Yang saya rasakan setiap kali membaca bukunya adalah seperti sedang berbincang dan bercerita tanpa henti dengan seseorang yang nyambung dan klik banget sama saya.

Berkenalan dengan Dilan

Related image

Pertama kali sekali saya membaca buku ini adalah ketika Dilan belum se-terkenal sekarang. Saya tidak punya gambaran sama sekali tentang sosok Dilan dan saya pikir ini hanya tentang cerita anak SMA biasa. Saya tidak diberi peringatan sebelumnya kalau-kalau setelah membaca buku ini saya akan tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Dilan sekaligus berharap pada Tuhan untuk diberikan sosok seperti Dilan dalam kehidupan saya. Buku tersebut kalau tidak salah saya baca hanya dalam waktu sehari, atau dua hari, pokoknya lebih cepat dari biasa saya membaca buku. Ini bukan soal percintaan anak SMA layaknya di FTV atau drama korea. Kalau kamu mau bilang saya ini berselera rendahan dengan menyukai karya-karya yang terlihat “picisan”, terserah. Saya pikir, selain memberikan suguhan cerita yang segar dan pada porsinya, buku ini juga mengajarkan saya betapa kita tidak perlu berpikir untuk terlihat keren dari buku-buku yang kita baca. Kita bisa menilai sendiri apakah buku tersebut keren atau tidak, lalu kita putuskan apakah diri kita sudah cukup intelek dengan membaca buku tersebut, apakah kita sudah seperti kutu buku. Tapi dengan Dilan dan tentu dengan karya-karya Pidi Baiq lainnya, ah, saya menikmatinya begitu saja dan tidak ingin mencari-cari alasan untuknya. Seperti orang jatuh cinta, ketika ditanya alasannya, mereka pasti bingung. Begitu pun saya dengan Pidi Baiq dan buku-bukunya.

Dilan dalam layar lebar

Image result for Dilan 1990

Saya sudah mencium rencana Pidi Baiq untuk mengangkat Dilan ke layar lebar sejak kemunculan short clip Dilan yang menyorot pemeran Milea, Vanesha Prescilla, yang adalah adik dari Sissy Priscilla. Jujur saja, begitu melihat clip tersebut, saya langsung setuju kalau dia yang dijadikan pemeran Milea. Segala bayangan dan imajinasi di benak saya tentang Milea terealisasikan dengan akurat ketika melihat clip tersebut. Namun, pemeran Dilan saat itu belum diungkap, karena memang belum ada. Kalaupun nanti ada, yang saya bayangkan tentang sosok Dilan adalah, tidak terlalu ganteng, tapi juga tidak urakan, entahlah saya tidak sampai berpikir bahwa Dilan itu nantinya bakal diperankan oleh Iqbal Ramadhan yang digandrungi para remaja-remaja Indonesia itu. Tentu bisa dipastikan, buyar sudah harapan saya akan sosok Dilan ketika berita mengenai pemeran Dilan diumumkan. Why Iqbal Ayah? Why?? Begitulah kira-kira yang ingin saya sampaikan pada Pidi Baid kala itu. Saya bersikap sangat skeptis mengingat Iqbal merupakan personil boy band yang saya anggap masih bocah tapi lagunya udah cinta-cintaan. Iqbal secara wajah juga merupakan anak baik-baik dan saya sangat-sangat meragukan kesan bandel yang dapat ditimbulkan dalam perannya nanti.

Pun ketika trailer film Dilan resmi dirilis, saya lagi-lagi bersifat skeptis karena menganggap acting Iqbal yang terlalu kaku. Namun, tidak dapat saya pungkiri bahwa dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin nonton bagaimanapun skeptisnya saya. Pada saat itu saya tidak berharap banyak dengan pemeran Dilan, karena saya hanya ingin melihat sosok Milea yang menurut saya sangat tergambarkan secara sempurna melalui acting-nya Vanesha yang ciamik sangat, meskipun dia pendatang baru.

Jeda antara trailer dan waktu tayang film cukup lama, membuat saya cukup tidak sabar dan diam-diam berteriak dalam hati “cepetan dooong” karena takut dihakimi sama teman-teman seumuran yang udah ga ABG lagi. Begitu film dirilis, saya ajak kakak untuk nonton dan otomatis dia bilang “gamau ah, ada Iqbalnya, ngapain kamu nonton” Eugh, kesel rasanya. Ingin rasanya saya bilang dan menasehati “Kita itu tidak boleh meremehkan seseorang sebelum kita melihat sendiri seperti apa acting-nya, kita tidak boleh menilai hanya berdasarkan asumsi skeptis kita tanpa ada pembuktian. It’s not fair. Berilah dia kesempatan untuk membuktikan dirinya.” Cielah, padahal itu juga sekaligus nasehat untuk saya ketika pertama kali meremehkan ditetapkannya Iqbal sebagai pemeran Dilan.

Setelah nonton Dilan

Related image

Pada akhirnya saya nonton sendiri, karena saya sudah tidak ingin meyakinkan kakak saya untuk ikut nonton bersama saya. Saya pun tidak berani bilang ke siapa-siapa, maksudnya tidak update di media sosial tentang peristiwa saya nonton Dilan ini. Setelah nonton pun saya tetap diam, karena saya takut teman-teman saya yang sudah pada dewasa itu akan menganggap saya “apaan sih, film abg masih aja ditonton”, walaupun menurut saya ini bukan film abg, tapi adalah film antara anak-anak SMA dengan segala ketertarikannya pada masanya, yang mana saya kira semua orang seumuran saya pernah melaluinya.

Sesuai dugaan, saya nonton dikelilingi oleh sebagian besar anak-anak remaja, mulai dari anak SMP, SMA, kuliah dan bahkan ada anak kecil yang nonton nemenin ibunya. Saya tidak peduli, yang ada di pikiran saya hanyalah saya ingin nonton film ini sambil mengingat apa saja yang diceritakan di buku Dilan pertama itu, karena saya sudah tidak mengingat dengan rinci. Asal tahu saja, masih ada sebersit sikap skeptis saya terhadap Iqbal sesaat sebelum film tersebut dimulai.

Sampai ketika secara tidak sadar saya menikmati sekali adegan demi adegan, dialog demi dialog yang rasanya sama persis dengan apa yang saya baca beberapa tahun lalu. Saya menjadi mengerti kenapa saya menganggap Iqbal kaku saat menonton trailer. Itu karena saya masih belum bisa lepas dari sosok Iqbal yang anak Jakarta dengan segala logat lo gue-nya. Saya tidak mau terima kalau Iqbal memang harus berdialog “kaku” karena memang seperti itu gaya berbicara Dilan.  Saya memutuskan untuk mengerti itu dan berhenti  menilai sebelum film berakhir. Ternyata keputusan saya untuk menerima film itu apa adanya malah menjadikan saya terhanyut. Walau saya sudah tahu dialog-dialognya Dilan dari membaca buku waktu itu dan itu pun sudah lama membacanya, saya tetap saja tertawa dan terbawa perasaan. Padahal, demi menjaga citra wanita dewasa berumur 25, saya berusaha sebisa mungkin untuk diam saja selama menonton dan menikmati dalam hati. Tidak disangka ternyata itu sulit. Beberapa kali saya kelepasan tertawa sekaligus terbawa perasaan oleh Dilan. Sekali lagi, saya dibuat jatuh cinta oleh Dilan. Kalau dulu lewat buku, sekarang lewat film, dan rasanya pun tetap sama. Ah, Dilan. Saya akui kehadiran Iqbal di film ini cukup menunjang keberhasilan Dilan 1990. Saya tidak menyangka bahwa Iqbal dapat mematahkan sikap skeptis saya lewat acting dan chemistry yang dibangunnya secara ciamik dengan Vanesha, menciptakan visualisasi Dilan dan Milea yang sempurna, kalau boleh saya bilang, walaupun saya masih yakin sebenarnya Dilan tidak seganteng itu (maaf ya, Dilan).

Sebenarnya ada beberapa aspek yang menurut saya masih kurang dari film tersebut, yaitu latar belakang Bandung 1990 yang tidak secara sempurna diciptakan. Beberapa bangunan adalah bangunan masa kini, meskipun kendaraan dan interior rumah sudah disesuaikan. Saya berasumsi sulit untuk menyulap bangunan-bangunan di Bandung ke versi jadulnya kecuali mungkin dengan teknologi editing yang begitu tinggi. Namun! Percaya tidak, saya sama sekali tidak mempermasalahkan kecacatan tersebut. Bagi saya itu hanya satu butir ketombe yang mampu disingkirkan hanya dengan ditiup, karena drama yang dibangun oleh film ini benar-benar berhasil menempati sorotan utama penontonnya dan mungkin itulah yang diinginkan memang oleh pembuat film yang adalah Pidi Baiq dan rekannya Fajar Bustomi. Saya jadi menyadari bahwa kita harus memberi kesempatan kepada yang baru datang, kita harus mengapresiasi apa yang dapat kita nikmati, dan kita tidak boleh merasa bahwa kita lebih hebat dari orang lain, karena Dilan menjadi banyak dikenal orang dengan sifatnya yang membumi dan melangitkan orang-orang yang dicintainya. Dilan adalah wujud dari kesederhanaan yang menyenangkan, baik di buku, film, maupun dunia nyata (meski saya belum pernah melihat sosok aslinya).

Apakah saya akan merekomendasikan film ini? Adapun saya tidak ingin menilai terlalu berlebihan seakan film ini sempurna, kemudian orang-orang yang tidak menyukai film ini akan menganggapnya “overrated”. Kalaupun ada orang yang menganggapnya demikian, biarlah dia dengan persepsinya sendiri, karena setidaknya bagi saya, yang menyukai buku-buku Pidi Baiq dan memang membaca bukunya dari awal, film ini bukanlah adaptasi yang menerapkan sedikit perubahan antara novel dan film, melainkan visualisasi, yaitu apa yang saya baca di buku, apa yang saya bayangkan ketika membaca bukunya, menurut saya, telah diterjemahkan secara berhasil ke dalam film ini.

Image result for karya pidi baiq

Iklan

Review Drama Korea

Ga pernah update drama Korea, tapi kebetulan kakak punya stok drama-drama terbaru yang lumayan bagus. Kebetulan juga lagi punya banyak waktu luang, jadi saya tontonlah drama-drama tersebut, di antaranya adalah

While You Were Sleeping

Image result for while you were sleeping

Siapa sih ya yang ga tau drama ini secara sekarang udah bisa ditonton di line. Pemerannya juga sudah tidak asing lagi, Bae Suzy dan Lee Jong Suk. Ceritanya tentang mimpi yang menjadi nyata. Saya agak ga paham sih, ini mereka nabi apa gimana ya, bisa dapat wahyu gitu apa yang bakal terjadi di kemudian hari. Alasannya sih kalau kata naskah, karena hidupnya pernah diselamatkan oleh seseorang, yang mana dia akan mulai memimpikan masa depannya orang yang menyelamatkan dia. Terlalu lemah banget ga sih sebabnya? Maksudnya kalau mau mengada-ngada, sekalian aja gitu yang aneh, ini malah kaya udah gitu doang? Terus yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah di akhir episode tidak ada penjelasan cara menghilangkan mimpi tersebut. Hello, emangnya ada gitu orang yang bahagia mengetahui masa depannya seperti apa? Kalau bahagia terus gapapa, lah kalau ada yang kejadian buruk? Terus dia bisa mencegah segala keburukan yang menimpanya begitu saja? Bahkan kematian aja bisa dia cegah. Luar biasa. Yah namanya juga drama. Anyway, saya tetap menikmati sih hingga akhir dan bahkan menurut saya ini lumayan komedi karena saya banyak ketawanya daripada terharunya.

Strong Woman Do Bong Soon

Image result for strong woman do bong soon

Ini unik sih, lucu dan acting Park Bo Young natural banget dan benar-benar cocok untuk karakter ini. Ceritanya Do Bong Soon yang diperankan Park Bo Young adalah wanita imut-imut yang memiliki kekuatan super, like, super duper, bahkan tanpa effort pun dia bisa mengangkat orang. Kekuatan ini diturunkan dari leluhurnya dan akan diturunkan kepada anak perempuan yang dilahirkan oleh pemilik kekuatan ini. Namun, kekuatan tersebut akan hilang jika digunakan untuk hal yang tidak baik, tidak semestinya. Oke, menarik. Tentu ceritanya tidak sampai di situ saja, mesti ada dramanya. Dan, typical banget ini ya, selalu deh pemeran utama wanita disukai oleh dua pemeran utama pria. pffft. Untuk drama ini, drama antara pemeran utama wanita dan pria benar-benar ngeselin. Lebay banget, cowonya. Ceritanya si cowo ini selalu gemes sama cewenya dan cara dia mengekspresikan kegemasannya itu, hmmm, gimana ya, natural sih, tapi agak sedikit geli. Tapi secara keseluruhan, saya akui drama ini bagus dan patut untuk ditonton.

Pinocchio

Image result for pinocchio kdrama

Oke saya tahu, ini drama jaman baheula dan emang pengen banget nonton dari dulu, tapii saya baru sempat nonton sekarang ini. Bagus! Tentang lika-liku pekerjaan sebagai reporter dan bagaimana media bermain dalam tayangannya. Diperankan oleh Park Shin Hye dan Lee Jong Suk (again). Ceritanya Park Shin Hye ini mempunyai sindrom pinocchio, yaitu sindrom yang membuat penderitanya akan cegukan setiap kali dia berbohong. Digambarkan dalam drama ini kalau untuk jadi reporter itu gabisa bohong, ya you know lah, tapi karena satu dan lain hal PSH ini nekat mau jadi reporter dengan sindromnya itu. Btw, sindrom ini ga ada di dunia nyata, cuma karang-karangan film ini aja. Kalau boleh saya bandingkan, saya lebih suka drama ini dibanding While You Were Sleeping yang sama-sama diperankan oleh Lee Jong Suk. Lumayan less drama, meskipun tetap drama, tapi makes sense. Benar-benar menjawab dugaan saya tentang media di balik layar. Patut ditonton. Anyway, karena dua drama pemerannya Lee Jong Suk, lama-lama saya kok jadi terpikat ya…

Girls’ Generation 1979

Related image

Ini bagus banget sih, menurut saya. Awalnya saya pikir belum selesai episodenya karena cuma ada 8 episode. Tapi setelah saya googling, ternyata memang cuma 8 episode. Drama ini diangkat dari novel dan berlatarkan tahun 1979 di Daejeon. Ceritanya seputar persahabatan dan asmara antara anak SMA di Daejeon dan salah satu siswinya adalah pindahan dari Seoul. Jadi di sini semua pemerannya beraksen Daejeon dan ceritanya mereka ini anak daerah dan sekolahnya dipisah antara laki-laki dan perempuan, ruang perpustakaan pun dipisah.

Di sini digambarkan wanita memiliki derajat yang rendah, meskipun bersekolah. Bapaknya sang pemeran utama wanita ini lebih mementingkan anaknya yang laki-laki. Anak laki-lakinya dimanjain, dipuji-puji, dikasih hadiah, sementara anaknya yang perempuan dicuekin, bahkan selalu dibilangin “masih untung bapak sekolahin kamu” karena bapaknya ini berpikir perempuan ga perlu sekolah. Selain itu, cara gurunya menghukum siswinya juga sangat merendahkan. Para siswi harus menghadap papan tulis dan sang guru akan meraba tali beha dari belakang dan menjepretkannya. Ibaratnya kaya disentil pake tali beha sendiri. Tapi, kenapa harus tali beha gitu? Dan pula tidak ada yang protes sampai ketika anak Seoul ini, yang katanya bapaknya adalah komunis, datang dengan segala kepintaran dan keberaniannya untuk defense.

Jujur saya sama sekali tidak mengenal para pemainnya, tapi itu tidak menjadikan saya underestimate terhadap drama ini, karena ketika saya googling ternyata terdapat kontroversi mengenai pemilihan cast-nya yang terlalu dini menjadikan artis pendatang baru sebagai pemeran utama. As always, netizen. Pffft. Sebagai orang yang jarang nangis kalau nonton film, saya menilai drama ini cukup mengharukan. Meskipun hanya 8 episode tapi gregetnya dapet.

~~

Udah sih baru segitu, sebenarnya ada satu drama lagi yang saya tonton, tapi menurut saya tidak terlalu bagus dan kurang greget, yaitu The Producers, film lama juga. Saya tertarik nonton karena bercerita tentang KBS di balik layar, mirip banget sama The East. Cuma entah kenapa kurang suka aja sama eksekusinya.

~~

Oh iya, sebelumnya saya juga udah nonton Defendant dan itu wajib tonton karena super bagus, tentang seorang jaksa yang dipidana atas kasus pembunuhan istri dan anaknya yang mencoba membuktikan dirinya tidak bersalah dan harus berjuang dengan kondisi mentalnya yang terpengaruh oleh kematian istri dan anaknya tersebut, yang mana sebenarnya anaknya masih hidup tapi dia gatau. Jadi di penjara itu dia kadang lupa ingatan dan merasa masih tinggal sama istri dan anaknya, have no idea kenapa dia dipenjara, lalu beberapa saat kemudian dia ingat lagi. Dia berusaha mengumpulkan semua bukti dari balik penjara sebelum ingatannya hilang kembali.

~~

Setelah saya menonton drama-drama di atas saya dapat menyimpulkan profesi-profesi yang sering muncul dalam drakor adalah segala profesi yang berhubungan dengan hukum, baik itu jaksa, pengacara, polisi. Atau hanya perasaan saya saja karena saya hanya nonton segelintir drama yang kebetulan ada profesi-profesi tersebut?

 

 

 

 

 

Berburu Addictea di Cisangkuy

Akhir minggu ini, saya dan keluarga pergi ke Bandung. Pergi ke Bandung menjadi ritual kami setidaknya sebulan sekali sejak kakak saya kuliah di sana hingga sekarang.

Kali ini saya sudah membayangkan akan mengunjungi addictea house yang terletak di Jalan Cisangkuy no. 46 karena terpancing promo ini 😜

wp-1485585151759.jpeg

Bukan karena promonya aja sih, tapi memang sudah lama pengen ke sana karena mau cobain yang low fat edition yang mana cuma dijual di situ, toko pusatnya. Yaudah deh, sebagai pecinta addictea yang kebetulan lagi ke Bandung, saya langsung melesat ke rumah ini.

wp-image-2121401710jpeg.jpeg

Rumahnya fancy ala ala jaman baheula peninggalan Belanda, sederhana. Di dalemnya juga gitu aja sebenernya cuma ada satu lemari pendingin dan beberapa kursi, tapi untungnya yang saya cari ada; addictea low fat edition!

wp-image-1370344869jpeg.jpeg

Langsung saya beli, juga rasa-rasa yang lainnya hingga nominal belanja saya mencapai syarat untuk dapetin kalender lucu ini, yeay! Di dalam kalendernya, ada kupon-kupon diskon addictea setiap bulannya, tapi sayangnya cuma bisa digunakan di outlet2 Bandung saja.

wp-image-991972502jpeg.jpeg

Sebenarnya saya agak kecewa sama rasanya yang low fat ini, karena kurang nendang gitu rasanya, enakan yang biasa. Ya mungkin karena low sugar jadi begitu kali ya rasanya. Gapapa lah akhirnya jadi ga penasaran lagi sekarang.

Entah kenapa addictea ini semakin menarik dan meningkat nilai jualnya setelah kemasannya diganti jadi lebih kokoh dan berkarakter (sok sok-an jadi pengamat). Kalau di Jakarta dan pas lagi ada di mall yang ada Ranch Marketnya, saya selalu menyempatkan diri untuk beli addictea ini karena rasanya lumayan ngangenin terutama yang rasa pisang. Cukup bisa mengobati kerinduan saya akan susu pisang Bingrae-nya Korea, malah addictea ini lebih enak sih menurut saya.

Well, Bandung memang tidak pernah gagal membuat saya terkagum-kagum dengan produk unik dan kreatifnya.

Dum(b) Dum(b) Service

​​Memberikan uang kembalian adalah kewajiban bagi setiap penjual kepada pembeli. Tapi, sayangnya masih ada saja penjual yang “memaksa” pembeli untuk memberikan uang kecil atau uang pas, yang tujuannya adalah agar mereka tidak kesulitan dalam memecah uang. Lalu pertanyaannya kemudian adalah, apakah supaya mereka tidak kesulitan jadinya kami para pembeli yang harus kesulitan merogoh uang recehan di dalam dompet kami sekuat tenaga? 

Uang pas dan uang pecahan kecil

Sejujurnya, saya tidak masalah membayar dengan uang pas atau uang yang tidak membutuhkan banyak kembalian, selama saya memang memilikinya atau tidak menyimpan uang recehan tersebut untuk keperluan hal lain. Dengan begitu, jika saya memutuskan untuk membayar dengan uang pecahan besar, penjual tidak bisa “memaksa” saya ataupun “memarahi” saya karena tidak punya pecahan kecil padahal mereka sebenarnya berkemampuan memberikan kembaliannya. Hal ini terjadi pada saya ketika sedang membeli Dum Dum Thai Tea Drinks di Kota Kasablanka. Saya tahu kala itu memang sudah larut malam sekitar jam 9 malam dan mungkin saja pegawai dum dum ini lelah atau lagi bad mood, entahlah saya tidak peduli. Seharusnya dia tetap bersikap profesional dan menjaga sopan santun bagaimana pun kondisi mereka.

Dijutekin karena bayar pakai pecahan besar

Saya membeli dua minuman, Thai Tea dan Thai Black Tea. Dilayani oleh mba-mba berkerudung, saya membayar dengan pecahan 100 ribu untuk total belanja 37 ribu. Saat itu saya tidak punya pecahan lain selain 2ribuan beberapa lembar dan 5ribuan 1 lembar. Dia tanya apa saya punya uang kecil, lalu saya jawab engga (karena memang ga punya). Berikutnya yang terjadi adalah, dia ngejutekin saya sambil menimbulkan suara “ck” yang menandai dia kesal karena saya tidak punya uang kecil. Dalam hati saya bilang, wah sableng nih orang, ya kali saya harus nuker duit dulu. Akhirnya dia memberikan uang kembalian dengan raut wajah terpaksa dan menaruhnya di atas konter, tidak diserahkan ke saya, saya harus ambil sendiri, juga tidak bilang terima kasih karena saya telah membeli produknya, sungguh sangat tidak sopan. Emosi saya sebenarnya sudah naik hingga ubun-ubun, tapi saya berusaha tenang dan pura-pura ga peduli. Setelah pesanan saya jadi, dia kembali bersikap jutek dan menyerahkan minuman pesanan saya sekenanya tanpa sepatah kata pun. Rasanya ingin saya lempar koin recehan ke wajahnya, astagfirullah. Andai saja saya tidak bisa menahan emosi, saat itu juga sudah saya bentak-bentak dia karena sikapnya yang sangat tidak pantas dan sangat insulting at all points. Untungnya saya paling malas sama yang namanya berdebat dan membuat gaduh, jadi saya biarkan saja dan memutuskan untuk menulisnya di sini. Semoga dibaca pihak terkait.

Apakah saya salah dengan memberikan uang pecahan 100 ribu untuk membayar belanjaan saya yang berjumlah 37 ribu? Saya hanyalah pembeli yang kebetulan tidak memiliki uang pecahan kecil. Bila itu membuat pelayan menjadi kesal, bukan berarti dia bisa menjadikannya alasan untuk tidak bersikap baik terhadap saya. Seharusnya dia sadar, adalah kewajiban dia sebagai penjual untuk memberikan kembalian, toh kenyataannya dia mampu kok ngasih kembalian. Kalau dia kesal dan tidak bisa terima, lebih baik dibatalkan saja pesanannya karena sepertinya uang pecahan kecil lebih berharga daripada satu pembeli.

Attitude is a must

Dulu, saat masih SMA dan bergabung di majalah sekolah, saya selalu ikut serta menjual majalah hasil karya kami kepada orang tua murid pada setiap pembagian rapor. Kala itu seringkali orang tua murid tidak memilki uang pas dan saya kehabisan pecahan kecil. Saya sebagai penjual tidak lantas berlaku sinis pada mereka, melainkan saya berusaha menukar uang ke koperasi atau kantin sekolah agar dapat mengembalikan uang mereka. Pembeli itu harus dilayani dengan baik supaya mereka tetap mau beli produk kita. Penjual itu seharusnya tidak hanya sebatas jualan produk, tapi juga jualan sikap, karena kesan pertama itu sangat penting. Saya sebagai pembeli paling tidak bisa mentolerir penjual mana pun yang tidak baik dalam melayani pembelinya, meskipun produknya bagus atau enak. Attitude is a must. Kalau saya tahu pelayanannya tidak baik, tidak akan saya kembali ke tempat itu kalau bukan karena terpaksa.

Perkara uang kembalian seharusnya bisa disiasati oleh penjual, seperti meminta pembeli untuk memberikan nominal tambahan tertentu agar uang kembaliannya menjadi genap. Tapi sekali lagi, penjual tidak bisa memaksa pembeli untuk menuruti permintaannya. Banyak penjual yang menerapkan hal ini dan dari pengalaman saya, jika saya tidak bisa memenuhi permintaan mereka, mereka tetap melayani saya dengan baik.

Di sini saya hanya ingin mengingatkan agar para penjual setidaknya memiliki kesadaran untuk dapat selalu bersikap baik dan santun kepada pembelinya. Dan tidak dalam konteks penjual dan pembeli aja, kita sesama manusia, lepas dari apa peran kita, harus dapat menjaga sikap terhadap sesama. Jangan hanya karena ingin meringankan beban diri sendiri, lalu kita jadi menyusahkan orang lain dan mengesampingkan etika. Intinya adalah sadar diri, jangan egois, dan jaga sikap. 

Jump and burn with Saltar at Celebrity Fitness

photo courtesy by Celebrity Fitness

Salah satu yang saya suka dari Celebrity fitness adalah inovasinya dalam menciptakan kelas fitness yang dipadu dengan berbagai macam alat yang belum tentu ditemukan di fitness club lainnya di Indonesia. Dan mungkin itu sebabnya saya masih betah ngegym di Celfit meskipun udah hampir 3 tahun jadi anggota.

Kelas-kelas fitness yang saya suka dari Celfit, yang tidak ada di tempat lain, adalah fast fit dan kettlebell vipr. Namun, baru-baru ini Celfit meluncurkan kelas terbarunya, yaitu Saltar. Saltar, diambil dari bahasa Spanyol (or Portugese?) yang berarti melompat, adalah latihan cardio melompat di atas trampoline yang mampu membakar 600-800 kalori dalam waktu 1 jam latihan. Kalau mau dibayangkan, keringetnya mirip-mirip Body Combat lah, agak lebih sedikit mungkin.

Kelas Saltar ini belum tersedia di seluruh club Celfit, melainkan di beberapa club saja seperti contohnya di Kota Kasablanka. Kebetulan saya latihan di sana dan penasaran ingin mencoba. Akhirnya kemarin saya mengikuti kelas ini dan tenyata peminatnya banyak banget! Begitu kelas dibuka, para member yang menunggu di luar langsung masuk dengan rusuh, buru-buru nge-tag trampoline yang jumlahnya terbatas (padahal lumayan banyak loh tapi tetep aja abis). Untungnya saya ikut kelas sebelumnya jadi bisa tag trampoline duluan begitu kelasnya selesai. Dan seketika kelas menjadi penuh dengan trampoline yang tidak tersisa. 

Saya pikir kelas ini bakal seru karena pengikutnya begitu banyak dan ternyata benar saja, seru banget! Serunya kaya lagi naik wahana di Dufan, bikin happy pokoknya. Instrukturnya memutar lagu dan mencontohkan gerakan2 melompat yang bervariasi. Setiap gerakan ada opsinya. Jika merasa kurang tertantang, maka kita diharuskan melompat lebih tinggi (eaaa kaya judul lagu). Tapi kalo misalnya capek, boleh lompatnya pendek aja. Berhubung instrukturnya semangat banget, kita semua jadi terpacu untuk ikutin gerakan dia yang semakin lama semakin on fire. Tapi hati-hati ya, walaupun terbawa suasana yang bersemangat, jangan lupa perhatikan pijakan kaki yang harus selalu ada di tengah trampoline supaya ga jatuh.

Latihan ini bagus banget untuk melatih keseimbangan tubuh dan koordinasi struktur inti (core). Jadi buat yang dulunya pas kecil suka lompat-lompat di atas kasur springbed (saya termasuk sih 😂) dan bagi yang ingin membakar lemak sekaligus meningkatkan keseimbangan dan menguatkan otot core, latihan ini cocok banget untuk diikutin, terlebih lagi karena instrukturnya yang asyik beud (namanya Cleber btw).

Ke depannya sepertinya saya akan kembali mengikuti kelas ini demi meningkatkan keseimbangan saya yang saat ini masih jelek banget. Mudah-mudahan saya bisa jadi lebih seimbang nantinya, amin. Last but not least, semoga Celebrity Fitness tidak berhenti berinovasi dalam menciptakan kelas-kelas fitness yang bermanfaat, supaya semakin banyak orang yang berolahraga dan menjadi sehat. 

Suka duka pakai kawat gigi

wp-image-796810753jpg.jpeg

Kawat gigi atau biasa disebut behel merupakan salah satu cara untuk merapikan struktur gigi manusia. Kalau di luar negeri, behel ini diasosiasikan dengan orang yang cupu dan jelek, makanya di luar sana ga banyak yang pake behel kalau bukan karena terpaksa. Bedanya di Indonesia, behel dijadikan semacam aksesoris gigi, di mana yang memakainya akan dianggap gaul dan kekinian meskipun sebenarnya orang itu pada dasarnya sudah memiliki struktur gigi yang bagus. Ya memang, beda negara, beda budaya, beda kebiasaan, beda pola pikir, dan beda yang lain-lainnya, jadi cukup dipahami saja.

Saya sendiri termasuk yang pake behel karena memang ingin merapikan struktur gigi. Fyi dari kecil saya ga pernah ke dokter gigi dan selalu takut untuk ke dokter gigi ketika ada masalah pada gigi saya. Saya gamau ke dokter gigi kecuali memang mendesak banget kaya waktu itu gigi saya bolong dan sakit banget akhirnya harus ditambal. Lama-kelamaan saya sadar bahwa struktur gigi saya berantakan dan karenanya saya jadi jarang tersenyum menampakkan gigi karena malu. Gigi saya waktu itu ada yang bolong 2 dan seharusnya memang sudah dicabut, namun tidak pernah saya lakukan karena takut. Setelah mengumpulkan keberanian dan tekad, akhirnya saya memutuskan untuk pakai kawat gigi. Sebelumnya saya cari-cari artikel di internet tentang prosedur pemasangan kawat gigi dan tanya-tanya ke temen yang sudah pakai kawat gigi duluan. Dari situ saya menyimpulkan bahwa kawat gigi tidak bisa dipasang sembarangan dan begitu saja melainkan harus melewati tahap rontgen dan cabut gigi, hal yang paling saya takuti. Berapa jumlah gigi yang harus dicabut itu tergantung dari pemeriksaan sang dokter.

Cabut gigi

Sebelumnya cabut gigi, saya diharuskan rontgen di lab dan hasilnya diberikan ke dokter gigi untuk dianalisis kasusnya. Setelah itu gigi saya diperiksa dan dicetak dan sesuai dugaan saya, kedua gigi saya yang bolong memang harus dicabut karena sudah tinggal akar gigi saja. Tidak hanya itu, saya juga harus mencabut 3 gigi lainnya dan mengoperasi 1 gigi geraham bungsu karena posisi tumbuhnya yang miring (terlihat di rontgen). Sudah lah cemas dengan cabut gigi, ini lagi disuruh operasi, alamak makin ga kebayang gimana takutnya saya. Tapi, demi kerapihan gigi, saya tidak begitu saja pantang menyerah.

Pertama-tama gigi yang dicabut adalah gigi yang bolong. Cabut giginya gak bisa sekaligus ya, kecuali pasiennya kuat dan punya cadangan nyawa. Pas gigi bolong ini dicabut, rasanya sakit banget, kata dokternya sih gara-gara gigi saya itu udah rusak dan banyak bakterinya jadi anestesinya ga bisa bekerja maksimal (jadi menyesal deh dulu ga segera dicabut huhu). Setiap pencabutan gigi berjarak 1 minggu, kecuali 2 gigi terakhir sebelum operasi langsung saya sekaligusin di hari yang sama karena tidak begitu merasakan sakit kecuali pas bagian suntik obat biusnya (mungkin karena bukan gigi bolong).

Operasi gigi geraham bungsu

Sebagai orang yang belum pernah merasakan operasi apapun, tentunya momen ini menjadi momok bagi saya. Untuk itu, sebelum hari H saya rajin membaca pengalaman orang menjalani operasi ini lewat blog dan semacamnya. Ada yang katanya bisa sampai 1 setengah jam untuk menyelesaikan operasinya dan ada yang dibius total. Lama operasi tergantung dari tingkat kesulitan kasus gigi kita. Untungnya kata dokter gigi saya, kasus gigi geraham bungsu saya masih tergolong mudah dan dia berani mengatakan bahwa operasi akan selesai dalam waktu setengah jam. Cukup lega juga mendengarnya tapi ga mengurangi kegugupan saya akan operasi ini.

Saat hari H, saya ditemani mamah dan beliau ga berani masuk ke dalam karena katanya kasian nanti kalau ngeliat saya haha. Yaudah akhirnya saya di ruangan sendiri sama dokter dan perawatnya. Operasi dimulai dengan suntik anestesi yang berkali-kali dan at some point, suntikannya berasa sakit banget agak beda sama suntikan anestesi ketika cabut gigi. Yang ini serasa kaya jarum terus nusuk ke dalem kulit ga berhenti-berhenti tapi ya sakitnya masih wajar dan bisa ditahan sih. Setelah itu, dokter mengetes kekebalan gusi dan gigi saya di bagian yang akan dioperasi, kalau saya merasa kebal berarti operasi sudah siap dijalankan. Pas operasi, saya ga ngerasa ada sensasi sayatan atau apapun, tapi yang berasa itu ketika gigi kita dibor untuk dipotong bagiannya supaya lebih mudah dikeluarkan. Sama sekali ga berasa sakit sampai pada penjahitan dan akhirnya selesai dalam waktu kurang dari 30 menit. Abis itu saya dikasih obat painkiller dan ga boleh ngunyah di bagian gigi yang baru dijahit serta ga boleh beraktivitas fisik dulu. Sayangnya, saya ga dikasitau oleh dokter untuk segera mengompres pipi, karena yang saya baca di blog orang harusnya kita segera mengompres pipi bagian gigi yang baru dioperasi untuk mencegah bengkak yang berlebih pasca operasi. Dan benar saja, karena saya ga kompres, lama-lama pipi saya bengkaknya gede banget, saya sampe malu untuk keluar rumah. Pipi saya baru dikompres setelah bengkak mulai kelihatan dan baru sekitar 2 mingguan bengkak itu mulai hilang dan jahitan saya bisa dilepas.

Pasang kawat gigi

Setelah saya pulih pasca operasi, itu berarti saya sudah bisa dipasangkan kawat gigi. Bagian ini sih ga menakutkan, malah saya antusias karena bisa mulai pilih warna karet. Awalnya dokter mengelem bracket di tiap-tiap gigi dan lemnya itu bisa kerasa di lidah agak asem, selanjutnya kawat dipasang melingkari gigi dan dikaitkan ke bracket, baru deh dipasang karetnya dan selesai! Kawat yang dipakai untuk fase awal adalah kawat yang paling tipis. Ketebalan kawat akan semakin bertambah di kontrol-kontrol berikutnya.

Setelah kawat gigi terpasang, kesan pertama saya adalah: ga enak! Pengen rasanya lepas kawat saat itu juga karena rasanya aneh banget, selain itu di awal terasa ngilu banget karena pergerakan gigi mulai terjadi. Saya jadi heran sama orang yang pake behel hanya untuk gaya, karena ini ngilunya ga boong loh dan rasanya ga enak banget ada sesuatu yang ganjel di mulu kita. Sampai sekarang pun gigi saya sudah rapi setelah hampir 2 tahun memakai kawat, saya masih merasa bahwa behel ini sangat mengganggu dan sangat ingin segera melepasnya, namun karena masih ada beberapa aspek yang harus diperbaiki dari gigi saya, sepertinya keingingan tersebut belum akan terwujud dalam waktu dekat

Meskipun begitu, saya mengucapkan banyak terima kasih pada kawat gigi ini dan dokter gigi saya, karena berkatnya kini saya jadi bisa tersenyum bebas dan tertawa lepas. Ada sedikit penyesalan karena ga dari kecil rajin ke dokter gigi. Kalau saya dulu rajin ke dokter gigi, pasti saya tidak perlu pakai kawat begini, tapi yasudah lah yang penting saya sekarang sudah berani ke dokter gigi dan merawat gigi saya sebagaimana mestinya. Better late than never, no?

 

 

What i do miss about my autumn trip in South Korea (Indonesian’s point of view)

So before entering the age of a quarter of century, i’ve finally made it to South Korea! As i have told in this blog before, i do had plan about going to Korea this year with my sister, in case my family cancelled the Umrah plan. And yes, sadly the Umrah was cancelled and just like that, i and my sister immediately booked a flight to Seoul. Pretty impulsive, no?

We do have great time there, got plenty of things to see and learn at the same time, left so much memories in our hearts that we’ll never forget. Here i would like to tell you all about the things i love about Korea after spending 10 days and 9 nights there.

Easy access of transportation

Either subway or bus, or even KTX, i was always excited to take public transportation there and love all the walks between station and destination. It’s like, you don’t need to struggle to reach each of your destinations (but your legs need to gain strength for sure) , Korea always has its bus stop or subway station for every spots, even you will be directed properly to which exit should you head to by reading the signs written in latin alphabet (you don’t need to worry i you can’t read korean). Unlike here in Indonesia, you often ended up using Go-jek or Grabbike because you need to transfer countless times by taking commuter line or bus or -i really dislike this one- Angkot, plus the directions are barely available, and if it is, they are mostly written in Indonesian so the foreigners will not understand. As Indonesian living and working in Jakarta, commuting in Seoul is just a piece of cake. As a bonus, you will have nice legs, because of the long steps you take between places. There’s no chances to be lazy there unless you don’t mind spending money on taxis. But never mind, i still love the subway tho and the buses which take you home without the need of transfer after a long day of trip.

C U convenience store

I know it sounds weird, but i just love this one convenience store. Light banana milk, yogurt drinks with adjustable straw, white fresh milk, the 500 KRW mineral water are the items i always buy (almost daily!), cause you cannot always found these in another convenience store. The other plus points are its attractive design and spacious room, makes this store definitely convenient for every customers. I have been to the other convenience store such as GSE 25 and 7 Eleven, but none of them have caught my heart as C U did. You can find this store everywhere, just like you can always see Indomaret here in Jabodetabek. I wish indomaret sell those attractive products someday. Miss that well packaged light banana milk so bad and the yogurt tasted surprisingly so good, suitable for us to be consumed while relaxing in our hostel after a long long day. Tell me where can i find those in Jakarta, please.

Museums

I have only made to visit two Museums during my trip, National Museum and National Folk Museum. Actually, there are plenty of museums you can pay a visit to, but make sure you have longer stay there if you don’t want to miss the other great attractions. What i like about the museums…actually not the museum itself. The museum is just like any museum you have visited in Jakarta, but in Korean museums, there is always a merchandise store which sells not only handycrafts, but also the educational hard covered book about the history of Korea. Oh, and the building miniature puzzle you can build at home, too! My sister bought pretty much those heavy encyclopedia alike books (make sure you now how to brought them home, like prepare extra suitcase) and it’s all written in English. I’ve read some and the contents are very attractive with pictures and well written narration. I like how Korea make foreigner able to understand their histories DEEPLY just by visiting a museum. I mean, you may find these books a lot at the bookstores, right? But tourists do not always plan to go there, because we have long lists of places to visit and bookstore is just an option. I wish i have more time to explore all museums in Korea.

Myeongdong Shopping Street

Myeongdong is the best place for tourists to shop cosmetics, clothings, or even just a street snack. You will be welcomed warmly there and will spot many tourists which was relieving for me because it made me feel i was not the only one there XD. I go back and forth for like more than 3 times because one visit is just never enough. You will find anything that you missed from buying that will cause you regrets afterward, because you don’t know when you will come back to Korea ever again. Okay, this will not reflect to everyone, but that was what i really feel about Myeongdong. Even after i’m back here in Indonesia, i regret from not buying the Laneige BB cushion there, because when you find the exact product here, the price will not be the same (the gap is suprisingly pretty high). So, if it comes to cosmetics, i encourage you all to have no hesitations in buying them, because you won’t find those exact products with the same price after you are back home. You should try the street snacks too, like egg bun and taiyaki! Very well recommended to stuff your stomach.

Bulgogi Bibimbap in Nami Island

If you are a muslim, you sure would be struggling to find halal food and most of the time you wouldn’t eat any kind of meats, unless it’s stated halal. But trust me, your craving for meat will soon be paid off when you go to Nami Island, where there is one famous halal restaurant packed of muslim tourists. You should go there and order the bulgogi bibimbap which tastes perfect for me muslim who don’t eat meat for days. The happy thing about this restaurant is also, they provide decent prayer room upstairs, so that muslims will enjoy the their time in Nami without worrying how and where to pray. After our Nami visit, no bibimbap tastes the same as in Nami even when we go to halal restaurant in Itaewon which you can find meat to eat. So, don’t forget to stop by the restaurant and order that delicious bulgogi bibimbap if you are in Nami.

Colourful leaves and perfect weather

It was autumn in South Korea when i go there and as a person living in tropical country, i find it exciting to see those bunches of colorful trees everywhere. I am sure my eyes would be healed if i stay longer there just by seeing those beautiful trees, especially when you visit the Gyeongbokgung Palace, you could spend a day just by walking around the palace and be elated by the surrounding view you will not find in tropical land like Indonesia. Plus, as a person who prefer mountain over beach due to its cold weather, autumn is just perfect for me. The not so cold weather (it can be extreme cold some days, but not always), which i could only found in Dieng (the one weather you can compare to in Indonesia), now i can enjoy it in the heart of big city! Such a new and exciting experience for me. Honestly i don’t really like to be in a beach with its hot weather, which is a shame for most Indonesians because there are plenty of beautiful beaches here, but what can i do? I think everyone have preferences and we should not judge them if theirs are different from most of the people. I like the cold weather (not so cold like in winter actually), it makes my mind cooler, clearer, and more peaceful. I wish someday i could live in a subtropical country where i can enjoy the four seasons there. It doesn’t mean i’m not grateful to live in tropical country tho. Here is great too, as we don’t need to wear layered clothes and thick jacket, instead we could always wear all of our clothes all the year round because the weather will not go anywhere lower than 20 degree celcius in most of the cities. But still, I miss the lovely autumn atmosphere!