Konsumtif, haruskah?

Suatu hari saya melihat kiriman sebuah akun clothing line yang berbunyi

“Fashion is like eating. You shouldn’t stick to the same menu”

lalu dia tambahkan caption “eat more, shop more” dengan maksud mengajak para followersnya untuk senantiasa belanja di toko dia.

Yang mengganggu pikiran saya adalah kenapa ya kayanya untuk jadi wirausahawan harus banget dibarengi dengan promosi berorientasi konsumtif. Itu mungkin sebabnya saya gasuka sama bidang marketing. Saya ga suka diboongin dan dipaksa, makanya saya ga mau ngeboongin atau memaksa orang untuk beli suatu produk. Dan lagi, penilaian seseorang atas suatu produk menurut saya sangat relatif dan berbasis selera. Jadi akan sangat bertentangan jika saya masuk ke dunia marketing di mana saya harus memasarkan produk yang mungkin saja saya ga suka atau menurut saya biasa aja.

And back to the quotes, sejak kapan pula fashion disamakan dengan makan. I can wear the same thing for a week if i want to and people should have no problem with that. Ada orang-orang yang bahkan ga mikir mau pakai apa karena bajunya cuma itu. Saya ga merasa itu etis untuk menampilkan quote seperti itu, meskipun saya tahu followersnya orang-orang mampu, tapi mengingat itu toko baju muslim dan saya tahu pemiliknya juga berhijab, saya agak gerah aja. It’s not what Islam teach us. Islam ga pernah mengajarkan untuk jadi konsumtif, untuk menghabiskan uang hanya demi gonta ganti baju setiap hari, hanya demi fashion.

Saya mungkin akan dianggap sebagai orang yang ga melek bisnis. Apapun itu, saya ga berpikir bahwa untuk jadi wirausahawan sukses harus dengan promosi yang masif dan ajakan pada konsumerisme. Dan kita ga bisa menyertakan testimoni kita sebagai bahan promosi ga sih, i mean siapa sih yang menilai buruk produknya sendiri untuk dijual? Kalau di kelas teori kebudayaan, katanya kita itu tidak bisa melabeli diri sendiri, tapi kita yang melabeli orang lain. Jadi, testimoni seharusnya datang dari orang lain yang sudah beli atau sudah pakai, dan bahkan dengan testimoni itu pun saya masih merasa bahwa selera orang beda-beda dan kadang kecewa atas suatu produk yg menurut pembeli lain dinilai bagus. Ya, at least saya bisa tahu bahwa selera saya tidak sama dengan kebanyakan orang dan saya harus lebih hati-hati ketika akan membeli suatu produk yang lagi hype. Buy what you need, not what everyone buys. Ketika kebetulan barang yang kita butuhkan itu adalah barang-barang yang banyak dibeli, ya ga masalah. At least motif kita untuk beli barang itu adalah kebutuhan.

Sekarang saya lagi belajar untuk memanfaatkan apa yang ada, untuk tidak tergiur dengan keluaran terbaru dan meyakinkan diri kalau saya tidak butuh itu. Saya butuh penggunaan atas barang-barang yang saya miliki sekarang, karena saya sadar bahwa suatu saat saya akan dimintai pertanggungjawaban terhadap setiap barang yang saya beli. Jika barang itu tidak saya gunakan, bukankah jadi sia-sia barang itu?

Saya tidak tahu bagaimana hukumnya dalam Islam untuk melakukan promosi berorientasi konsumtif ketika berdagang. Saya merasa sih itu keliru, tapi mungkin saya salah. Gataulah, saya merasa bahwa semakin ke sini semakin ga jelas batas antara yang benar dan yang salah. Semua tercampur aduk sehingga orang-orang menganggap apa yang salah itu adalah benar karena selalu berdampingan dengan yang benar. Dan pada akhirnya saya cuma bisa berdoa semoga saya selalu diberi petunjuk sama Allah tentang apa yang benar dan apa yang salah. Semoga begitu juga dengan kalian.

Iklan

People with their assumptions

20180324_1048111343786060.jpg

Beberapa teman saya menganggap saya anak yang beruntung karena tidak harus struggle dalam memperoleh uang, karena orangtua saya selalu provide saya setiap harinya. Saya selalu dibilang fancy karena selalu bawa uang cash dan jarang ke atm untuk ambil uang. Seolah saya ini Ariel The Little Mermaid yang nyanyi di depan mereka “wouldn’t you think i’m the girl, the girl who has everything?

Tentu saja saya merasa itu bukan pujian, melainkan bentuk sarkasme terhadap saya yang sudah cukup dewasa tapi belum bisa provide diri sendiri, seorang anak yang belum bisa mandiri dan masih numpang dan bergantung pada orang tua. Seolah-olah itu keinginan saya dan saya malas untuk berkembang dan nyaman berada di posisi saya sekarang. Well, no.

Oke, saya memang masih numpang dan masih dibiayai orang tua, khususnya biaya kuliah sekarang. Setiap hari dikasih uang saku. Ga pernah minta fyi. Sebenernya saya punya tabungan sendiri dan sejujurnya saya tidak pernah menuntut dan merengek pada orang tua untuk diberikan uang saku. Bahkan ketika saya bekerja sebelum kuliah lagi pun, saya tetap diberi uang saku meskipun ga minta. Bahkan kayanya kalau gaji saya 20 juta pun, selama saya masih belum menikah, mereka tetap akan provide saya. Saya tidak tahu bagaimana orang lain melihat hal ini. Mungkin beberapa orang menganggap saya harusnya menolak dan belajar untuk tidak menerima apapun dari orang tua dan menilai orang tua saya tidak mendidik dan terlalu memanjakan saya. Oke, itu pendapat mereka. Sementara, saya itu anaknya realistis, bukan oportunis. Saya belum menikah, belum mapan dan sekarang saya kuliah, lalu apakah saya harus menolak semua bantuan orang tua saya yang dengan sukarela mereka berikan? Saya tidak mau sok sok-an mau provide diri sendiri sementara saya tahu saya belum mampu. Di sisi lain, saya juga sadar kalau saya tidak boleh menyusahkan orang tua dengan tidak patuh kepada mereka atau bersikap buruk. So it’s like i pay them back by being a good girl untuk sementara, meskipun saya tahu itu kewajiban saya tanpa harus ada uang saku itu. And me being a good girl will not stop even when they don’t provide me anymore.

Dulu waktu saya bergaji, saya merasa berkuasa atas uang hasil kerja saya sendiri. Saya seperti bisa tunjukin ke orang-orang kaya awk**in kalau ini uang hasil keringet sendiri dan bebas mau dipake ngapain aja. Padahal ya, kalau dipikir-pikir semua yang ada di dunia ini hanya titipan. Dan uang itu, gaji itu cuma titipan. Yang namanya titipan, mana bisa sih kita semena-mena menggunakannya? Terus ketika saya merasa uang itu bertambah banyak karena kehebatan saya, rasanya salah banget. Yang hebat itu Allah, rezeki saya kala itu masuk melalui perantara perusahaan. Sementara sekarang, rezeki saya masuk melalui orang tua saya. Apa ada hal lain yang bisa saya lakukan selain bersyukur dan menggunakan uang tersebut untuk hal-hal baik? Ada temen saya nanya kenapa saya kuliah ga beasiswa aja? Seolah-olah kalau ga pake beasiswa, saya jadi berdosa dan cuma buang-buang duit ortu aja. Well, i don’t feel that smart, i’m that mediocre who dreams to be at least super capable in one field i really enjoy and i’m not an ambitious person! Saya itu chill, tapi lumayan ga santai kalau udah menyangkut deadline dan tanggung jawab. Saya bukan tipe orang yang tahu mau ngapain 5-10 tahun ke depan, saya hanya fokus pada apa yang ada di depan mata, menikmati proses sekarang untuk pelan-pelan jalan ke depan. Itu prinsip saya. Beasiswa itu menurut saya, walaupun saya tau ini anggapan yang tidak sepenuhnya benar, hanya untuk either yang kurang mampu or yang berprestasi alias yang pinter banget. Saya juga aware dengan segala administrasi yang harus diurus untuk beasiswa, dan saya tidak cukup ambisius untuk bisa commited sama hal-hal seperti itu. Sorry not sorry

Saya paham sekali, ortu saya sama sekali tidak bermaksud memanjakan saya dengan menyediakan kebutuhan saya, tidak. I know them too well. You don’t. Sejak kecil saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, TAPI kebutuhan saya selalu dipenuhi oleh mereka dan saya merasa sangat bersyukur akan hal itu. Ortu saya selalu tegas dan selektif ketika membelikan barang di luar kebutuhan pokok, tapi kalau masalah pendidikan dan kebutuhan pokok lain, bapak ga pernah ragu dan bahkan selalu support, apalagi mamah. Dan mereka tidak pernah memaksa saya untuk ikut les ini les itu, melainkan selalu memberi keleluasaan terhadap anaknya untuk belajar sebaik mungkin dan belajar memutuskan sendiri. Pada akhirnya, selalu saya yang minta les karena merasa kurang di beberapa mata pelajaran.

Saya memang tidak pernah diajarkan untuk cari duit sejak kecil, tapi saya selalu diajarkan untuk bersyukur terhadap hal-hal yang kecil, untuk tidak menghambur-hamburkan uang dan selalu bersikap dermawan terhadap orang yang membutuhkan. Saya selalu percaya bahwa rezeki saya mengalir melalui orangtua saya, karena selama belum menikah, saya masih menjadi tanggung jawab orang tua. Tapi dengan begitu, bukan berarti saya tidak punya keinginan untuk pay back in the future, meskipun saya tahu persis mereka tidak akan meminta apapun kecuali kasih sayang dari anak-anaknya.

I can relate to someone who said that dia tidak pernah menjawab pertanyaan seseorang ttg spesifikasi barang yang dia miliki, karena takut ketauan harganya dan dia jadi merasa dijudge utk kepemilikan barang yang harganya mungkin mahal itu padahal belinya susah payah nabung dan merasa tidak enak dengan orang-orang yang mungkin pengen punya tapi ga mampu beli.

Entahlah, pokoknya setiap kali ada orang yang bilang bahwa everything goes easy on me because of this and that saya merasa sedih. Saya merasa dinilai sebagai anak manja yang gatau susah, yang gatau cara nyuci piring, cara nyetrika baju, yang tangannya halus karena ga pernah kerja keras, yang ga tau apa-apa soal kehidupan di luar sana. Saya tanya, siapa sih di dunia ini yang hidupnya tanpa masalah atau kesusahan? Segampang-gampangnya hidup, sebahagia bahagianya orang terlihat dari luar, pasti ada aja lah kesulitan dalam hidupnya dan kesulitan itu gabisa kalian bandingkan atau samakan dengan kesulitan kalian. Setiap orang punya kesulitan masing-masing, cara masing2 dalam menghadapi masalah, dan ketahanan yang berbeda-beda. And for this reason, saya ga pernah kepengen jadi orang lain, siapapun itu, nabi sekalipun. Dia mungkin terkenal, kaya, inspiratif atau sifat positif apapun, tapi kita ga pernah tau kan apa yang udah diambil darinya sehingga dia mendapatkan apa yang dia miliki, juga seandainya kita jadi dia pun belum tentu kita tahan dengan apa yang dia hadapi.

“You know me, not my story” sering banget dilontarkan orang-orang seperti saya kepada mereka yang suka nge-judge. Trus dengan pinternya si tukang nge-judge ini bales “yakali gw harus kenal satu2 sama setiap orang yang gw nilai, makanya penampilannya dijaga, sikapnya dijaga supaya dari luar ga dinilai buruk” and i be like…ya bener juga tapi sebenernya dia sadar ga sih kalau dia itu ga perlu repot-repot.

Kita ga perlu tahu story orang lain, kita ga perlu kenal dalam dengan orang lain untuk memvalidasi penilaian kita. Yang kita perlukn cuma khusnuzon. Saya pernah ngetwit dan sumbernya kalau ga salah dari hadith, bahwa

for what is hidden and unkown, we are obligated to stay khusnuzon

Jadi kalau gatau apa-apa, gatau pasti, kita gausah berasumsi. Atau kalau mau berasumsi, berasumsilah secara positif, bukan negatif. Gitu loh jeung.

Entahlah, rasanya butuh sampai kiamat untuk membuat seluruh manusia mengerti akan hal itu.

Sabar

Salah satu alasan saya mengikuti akun instagram dramaojol.id adalah kisah-kisah inspiratif, lucu, dan mengharukannya yang selalu membuat saya malu sudah banyak mengeluh, malu karena tidak banyak bersyukur.

Salah satu kirimannya mengisahkan percakapan antara supir dan penumpang. Sementara orang lain fokus pada inti cerita, saya malah terpaku dengan kalimat nasihat sang supir kepada penumpang di sela-sela perbincangannya

Saya langsung tertampar dengan kata-kata jangan didoain kaya “nanti dibales sama Allah baru tau rasa”

Bukan apa-apa, saya pernah mendoakan orang, atau paling tidak berharap dalam hati supaya orang yang di mata saya salah dan seperti tidak termaafkan itu agar mendapat balasan dari Allah. Balasan yang sayang maksud tentu balasan berupa keburukan, entah di dunia atau di akhirat. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa ya saya kok tega banget berdoa begitu. Apa sih emangnya keuntungan buat saya dengan dia disiksa di neraka selain (mungkin) hati yang puas mengetahui dia disiksa atas perbuatannya? Kenapa saya tidak berpikir bahwa dengan atau tanpa saya berdoa dan berharap pun, Allah pasti membalas setiap perbuatan hambaNya dan Allah tidak pernah berlaku tidak adil. Bukankah dengan saya berharap begitu, seakan-akan saya ga yakin gitu dia bakal mendapat balasan? Well, sebelum itu, seberapa berhak sih saya untuk menilai kepantasan seseorang untuk disiksa di neraka? Bagaimana kalau dia ternyata taubat dan Allah memaafkan segala dosa-dosanya? Bukankah “dendam” saya itu akan sia-sia? Padahal Allah menjanjikan surga bagi orang yang sabar di saat dia bisa marah, orang yang memaafkan di saat dia sedang dalam keadaan yang sulit untuk memaafkan, orang yang menghindari perdebatan meskipun dia benar?

Kenapa tulisan itu begitu menusuk hati saya, juga karena pada saat yang sama sebelumnya saya mengalami hal buruk. Mobil saya ditabrak, meskipun tidak sampai penyok, hanya baret. Saya tidak tahu keadaan mobil dia bagaimana, tapi yang jelas saat itu saya sempat berhenti, mobilnya ada di belakang saya, berhenti juga, tapi ga ada yang turun. Pada saat itu saya emosi sekali, kenapa mobil itu main nyelonong aja, seolah mobil saya itu invisible. Saking emosinya, hampir-hampir saya ingin turun dari mobil dan menghampiri si penabrak. Saya tidak ingin ganti rugi, entah kenapa saya hanya ingin dengar dia minta maaf dan mengakui kesalahannya. Saat itu saya merasa berada di pihak yang benar. Tapi sesaat kemudian, saya tidak jadi turun dan memutuskan untuk membiarkannya saja. Saya langsung memacu kendaraan saya kembali dengan kecepatan “emosional” (ngegas awalnya ga halus dan langsung ngebut) as if saya ingin bilang “saya biarkan kamu kali ini tapi lihat nih saya kesal sama kamu dan ini pokoknya gara-gara kamu, huh.” Di tengah jalan, saya berpikir, kok sombong amat sih saya, gimana kalau ternyata saya yang salah? Gimana kalau ternyata seharusnya memang mobilnya dia duluan yang harus lewat, baru mobil saya. Gimana kalau begini dan begitu. Ah, kalau iya saya yang salah, malu-maluin banget dong sikap saya tadi. Pikiran saya ga karuan. Tambah ga karuan setelah saya baca kiriman dramaojol.id, ya meskipun kejadian ini ga ada korelasinya sama taksi online. Allah seperti terus-terusan memberi perasaan bersalah pada saya, tapi saya masih saja menjustifikasi tindakan saya, sampai-sampai saya harus ditegur begini “Allah is not merciful to those who do not show mercy.” lewat kiriman itu.

Pelajarannya adalah bahwa kita tidak usah sibuk berdoa mengurusi balasan atas perbuatan orang lain. Kita tidak perlu membebani diri sendiri dengan memikirkan hal semacam itu, karena ga ada manfaatnya sama sekali. Ya ga sih? Anggaplah kejadian-kejadian macam itu jadi sarana pelatihan kesabaran kita yang justru dapat membuahkan pahala. It won’t be easy, tapi kalau dilatih terus, lama-lama akan kebiasaan. Alah bisa karena biasa. Alle Anfang ist immer schwer. Semua permulaan pasti sulit. Dan kalau kita menemui kesulitan itu, ketahuilah kita sedang dalam proses ke level berikutnya. That was just the beginning of the next level of patience. Relax, Fan, Allah bersamamu.

Dilan 1990

Kalian-kalian tidak tahu betapa saya ingin sekali mengungkapkan perasaan gembira saya ketika menonton film Dilan 1990. Gembira karena saat menontonnya saya seperti kembali membaca bukunya yang punya nilai magis dalam menyentuh perasaan saya.

Image result for Dilan

Penggemar karya Pidi Baiq

Saya adalah pembaca setia buku-bukunya Pidi Baiq. Dilan 1990 adalah salah satu karyanya yang paling terkenal, yang memiliki dua saudara yaitu Dilan 1991 dan Milea, Suara dari Dilan. Meskipun begitu, Dilan bukanlah buku pertama yang saya baca. Pertama kali sekali, saya diperkenalkan oleh kakak saya dengan karya Pidi Baiq yang berjudul “Drunken Monster”. Awal saya membaca buku tersebut, saya langsung tenggelam di dalamnya akibat untaian kata-kata yang tidak henti-hentinya menghibur saya. Kalau boleh saya deskripsikan, cara menulis Pidi Baiq itu nyeleneh tapi pada jalurnya, sederhana, tapi ga kampungan, berkelas, tapi ga sombong. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya tidak tahu bagaimana pendapat teman-teman tentang buku itu, karena saya pernah merekomendasikan buku tersebut kepada seorang teman dan katanya aneh dan dia ga suka. Yah, saya rasa semua orang bisa memiliki pandangan berbeda, namun pandangan, prinsip, dan pemikiran yang saya miliki dalam hidup saya terasa sangat selaras dengan apa yang ditulis oleh Piqi Baiq, karena ternyata saya sanggup membaca keseluruhan bukunya, termasuk Dilan, tanpa butuh waktu lama. Artinya, saya tidak pernah bosan selama dalam proses membaca karya-karyanya. Yang saya rasakan setiap kali membaca bukunya adalah seperti sedang berbincang dan bercerita tanpa henti dengan seseorang yang nyambung dan klik banget sama saya.

Berkenalan dengan Dilan

Related image

Pertama kali sekali saya membaca buku ini adalah ketika Dilan belum se-terkenal sekarang. Saya tidak punya gambaran sama sekali tentang sosok Dilan dan saya pikir ini hanya tentang cerita anak SMA biasa. Saya tidak diberi peringatan sebelumnya kalau-kalau setelah membaca buku ini saya akan tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Dilan sekaligus berharap pada Tuhan untuk diberikan sosok seperti Dilan dalam kehidupan saya. Buku tersebut kalau tidak salah saya baca hanya dalam waktu sehari, atau dua hari, pokoknya lebih cepat dari biasa saya membaca buku. Ini bukan soal percintaan anak SMA layaknya di FTV atau drama korea. Kalau kamu mau bilang saya ini berselera rendahan dengan menyukai karya-karya yang terlihat “picisan”, terserah. Saya pikir, selain memberikan suguhan cerita yang segar dan pada porsinya, buku ini juga mengajarkan saya betapa kita tidak perlu berpikir untuk terlihat keren dari buku-buku yang kita baca. Kita bisa menilai sendiri apakah buku tersebut keren atau tidak, lalu kita putuskan apakah diri kita sudah cukup intelek dengan membaca buku tersebut, apakah kita sudah seperti kutu buku. Tapi dengan Dilan dan tentu dengan karya-karya Pidi Baiq lainnya, ah, saya menikmatinya begitu saja dan tidak ingin mencari-cari alasan untuknya. Seperti orang jatuh cinta, ketika ditanya alasannya, mereka pasti bingung. Begitu pun saya dengan Pidi Baiq dan buku-bukunya.

Dilan dalam layar lebar

Image result for Dilan 1990

Saya sudah mencium rencana Pidi Baiq untuk mengangkat Dilan ke layar lebar sejak kemunculan short clip Dilan yang menyorot pemeran Milea, Vanesha Prescilla, yang adalah adik dari Sissy Priscilla. Jujur saja, begitu melihat clip tersebut, saya langsung setuju kalau dia yang dijadikan pemeran Milea. Segala bayangan dan imajinasi di benak saya tentang Milea terealisasikan dengan akurat ketika melihat clip tersebut. Namun, pemeran Dilan saat itu belum diungkap, karena memang belum ada. Kalaupun nanti ada, yang saya bayangkan tentang sosok Dilan adalah, tidak terlalu ganteng, tapi juga tidak urakan, entahlah saya tidak sampai berpikir bahwa Dilan itu nantinya bakal diperankan oleh Iqbal Ramadhan yang digandrungi para remaja-remaja Indonesia itu. Tentu bisa dipastikan, buyar sudah harapan saya akan sosok Dilan ketika berita mengenai pemeran Dilan diumumkan. Why Iqbal Ayah? Why?? Begitulah kira-kira yang ingin saya sampaikan pada Pidi Baid kala itu. Saya bersikap sangat skeptis mengingat Iqbal merupakan personil boy band yang saya anggap masih bocah tapi lagunya udah cinta-cintaan. Iqbal secara wajah juga merupakan anak baik-baik dan saya sangat-sangat meragukan kesan bandel yang dapat ditimbulkan dalam perannya nanti.

Pun ketika trailer film Dilan resmi dirilis, saya lagi-lagi bersifat skeptis karena menganggap acting Iqbal yang terlalu kaku. Namun, tidak dapat saya pungkiri bahwa dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin nonton bagaimanapun skeptisnya saya. Pada saat itu saya tidak berharap banyak dengan pemeran Dilan, karena saya hanya ingin melihat sosok Milea yang menurut saya sangat tergambarkan secara sempurna melalui acting-nya Vanesha yang ciamik sangat, meskipun dia pendatang baru.

Jeda antara trailer dan waktu tayang film cukup lama, membuat saya cukup tidak sabar dan diam-diam berteriak dalam hati “cepetan dooong” karena takut dihakimi sama teman-teman seumuran yang udah ga ABG lagi. Begitu film dirilis, saya ajak kakak untuk nonton dan otomatis dia bilang “gamau ah, ada Iqbalnya, ngapain kamu nonton” Eugh, kesel rasanya. Ingin rasanya saya bilang dan menasehati “Kita itu tidak boleh meremehkan seseorang sebelum kita melihat sendiri seperti apa acting-nya, kita tidak boleh menilai hanya berdasarkan asumsi skeptis kita tanpa ada pembuktian. It’s not fair. Berilah dia kesempatan untuk membuktikan dirinya.” Cielah, padahal itu juga sekaligus nasehat untuk saya ketika pertama kali meremehkan ditetapkannya Iqbal sebagai pemeran Dilan.

Setelah nonton Dilan

Related image

Pada akhirnya saya nonton sendiri, karena saya sudah tidak ingin meyakinkan kakak saya untuk ikut nonton bersama saya. Saya pun tidak berani bilang ke siapa-siapa, maksudnya tidak update di media sosial tentang peristiwa saya nonton Dilan ini. Setelah nonton pun saya tetap diam, karena saya takut teman-teman saya yang sudah pada dewasa itu akan menganggap saya “apaan sih, film abg masih aja ditonton”, walaupun menurut saya ini bukan film abg, tapi adalah film antara anak-anak SMA dengan segala ketertarikannya pada masanya, yang mana saya kira semua orang seumuran saya pernah melaluinya.

Sesuai dugaan, saya nonton dikelilingi oleh sebagian besar anak-anak remaja, mulai dari anak SMP, SMA, kuliah dan bahkan ada anak kecil yang nonton nemenin ibunya. Saya tidak peduli, yang ada di pikiran saya hanyalah saya ingin nonton film ini sambil mengingat apa saja yang diceritakan di buku Dilan pertama itu, karena saya sudah tidak mengingat dengan rinci. Asal tahu saja, masih ada sebersit sikap skeptis saya terhadap Iqbal sesaat sebelum film tersebut dimulai.

Sampai ketika secara tidak sadar saya menikmati sekali adegan demi adegan, dialog demi dialog yang rasanya sama persis dengan apa yang saya baca beberapa tahun lalu. Saya menjadi mengerti kenapa saya menganggap Iqbal kaku saat menonton trailer. Itu karena saya masih belum bisa lepas dari sosok Iqbal yang anak Jakarta dengan segala logat lo gue-nya. Saya tidak mau terima kalau Iqbal memang harus berdialog “kaku” karena memang seperti itu gaya berbicara Dilan.  Saya memutuskan untuk mengerti itu dan berhenti  menilai sebelum film berakhir. Ternyata keputusan saya untuk menerima film itu apa adanya malah menjadikan saya terhanyut. Walau saya sudah tahu dialog-dialognya Dilan dari membaca buku waktu itu dan itu pun sudah lama membacanya, saya tetap saja tertawa dan terbawa perasaan. Padahal, demi menjaga citra wanita dewasa berumur 25, saya berusaha sebisa mungkin untuk diam saja selama menonton dan menikmati dalam hati. Tidak disangka ternyata itu sulit. Beberapa kali saya kelepasan tertawa sekaligus terbawa perasaan oleh Dilan. Sekali lagi, saya dibuat jatuh cinta oleh Dilan. Kalau dulu lewat buku, sekarang lewat film, dan rasanya pun tetap sama. Ah, Dilan. Saya akui kehadiran Iqbal di film ini cukup menunjang keberhasilan Dilan 1990. Saya tidak menyangka bahwa Iqbal dapat mematahkan sikap skeptis saya lewat acting dan chemistry yang dibangunnya secara ciamik dengan Vanesha, menciptakan visualisasi Dilan dan Milea yang sempurna, kalau boleh saya bilang, walaupun saya masih yakin sebenarnya Dilan tidak seganteng itu (maaf ya, Dilan).

Sebenarnya ada beberapa aspek yang menurut saya masih kurang dari film tersebut, yaitu latar belakang Bandung 1990 yang tidak secara sempurna diciptakan. Beberapa bangunan adalah bangunan masa kini, meskipun kendaraan dan interior rumah sudah disesuaikan. Saya berasumsi sulit untuk menyulap bangunan-bangunan di Bandung ke versi jadulnya kecuali mungkin dengan teknologi editing yang begitu tinggi. Namun! Percaya tidak, saya sama sekali tidak mempermasalahkan kecacatan tersebut. Bagi saya itu hanya satu butir ketombe yang mampu disingkirkan hanya dengan ditiup, karena drama yang dibangun oleh film ini benar-benar berhasil menempati sorotan utama penontonnya dan mungkin itulah yang diinginkan memang oleh pembuat film yang adalah Pidi Baiq dan rekannya Fajar Bustomi. Saya jadi menyadari bahwa kita harus memberi kesempatan kepada yang baru datang, kita harus mengapresiasi apa yang dapat kita nikmati, dan kita tidak boleh merasa bahwa kita lebih hebat dari orang lain, karena Dilan menjadi banyak dikenal orang dengan sifatnya yang membumi dan melangitkan orang-orang yang dicintainya. Dilan adalah wujud dari kesederhanaan yang menyenangkan, baik di buku, film, maupun dunia nyata (meski saya belum pernah melihat sosok aslinya).

Apakah saya akan merekomendasikan film ini? Adapun saya tidak ingin menilai terlalu berlebihan seakan film ini sempurna, kemudian orang-orang yang tidak menyukai film ini akan menganggapnya “overrated”. Kalaupun ada orang yang menganggapnya demikian, biarlah dia dengan persepsinya sendiri, karena setidaknya bagi saya, yang menyukai buku-buku Pidi Baiq dan memang membaca bukunya dari awal, film ini bukanlah adaptasi yang menerapkan sedikit perubahan antara novel dan film, melainkan visualisasi, yaitu apa yang saya baca di buku, apa yang saya bayangkan ketika membaca bukunya, menurut saya, telah diterjemahkan secara berhasil ke dalam film ini.

Image result for karya pidi baiq

Review Drama Korea

Ga pernah update drama Korea, tapi kebetulan kakak punya stok drama-drama terbaru yang lumayan bagus. Kebetulan juga lagi punya banyak waktu luang, jadi saya tontonlah drama-drama tersebut, di antaranya adalah

While You Were Sleeping

Image result for while you were sleeping

Siapa sih ya yang ga tau drama ini secara sekarang udah bisa ditonton di line. Pemerannya juga sudah tidak asing lagi, Bae Suzy dan Lee Jong Suk. Ceritanya tentang mimpi yang menjadi nyata. Saya agak ga paham sih, ini mereka nabi apa gimana ya, bisa dapat wahyu gitu apa yang bakal terjadi di kemudian hari. Alasannya sih kalau kata naskah, karena hidupnya pernah diselamatkan oleh seseorang, yang mana dia akan mulai memimpikan masa depannya orang yang menyelamatkan dia. Terlalu lemah banget ga sih sebabnya? Maksudnya kalau mau mengada-ngada, sekalian aja gitu yang aneh, ini malah kaya udah gitu doang? Terus yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah di akhir episode tidak ada penjelasan cara menghilangkan mimpi tersebut. Hello, emangnya ada gitu orang yang bahagia mengetahui masa depannya seperti apa? Kalau bahagia terus gapapa, lah kalau ada yang kejadian buruk? Terus dia bisa mencegah segala keburukan yang menimpanya begitu saja? Bahkan kematian aja bisa dia cegah. Luar biasa. Yah namanya juga drama. Anyway, saya tetap menikmati sih hingga akhir dan bahkan menurut saya ini lumayan komedi karena saya banyak ketawanya daripada terharunya.

Strong Woman Do Bong Soon

Image result for strong woman do bong soon

Ini unik sih, lucu dan acting Park Bo Young natural banget dan benar-benar cocok untuk karakter ini. Ceritanya Do Bong Soon yang diperankan Park Bo Young adalah wanita imut-imut yang memiliki kekuatan super, like, super duper, bahkan tanpa effort pun dia bisa mengangkat orang. Kekuatan ini diturunkan dari leluhurnya dan akan diturunkan kepada anak perempuan yang dilahirkan oleh pemilik kekuatan ini. Namun, kekuatan tersebut akan hilang jika digunakan untuk hal yang tidak baik, tidak semestinya. Oke, menarik. Tentu ceritanya tidak sampai di situ saja, mesti ada dramanya. Dan, typical banget ini ya, selalu deh pemeran utama wanita disukai oleh dua pemeran utama pria. pffft. Untuk drama ini, drama antara pemeran utama wanita dan pria benar-benar ngeselin. Lebay banget, cowonya. Ceritanya si cowo ini selalu gemes sama cewenya dan cara dia mengekspresikan kegemasannya itu, hmmm, gimana ya, natural sih, tapi agak sedikit geli. Tapi secara keseluruhan, saya akui drama ini bagus dan patut untuk ditonton.

Pinocchio

Image result for pinocchio kdrama

Oke saya tahu, ini drama jaman baheula dan emang pengen banget nonton dari dulu, tapii saya baru sempat nonton sekarang ini. Bagus! Tentang lika-liku pekerjaan sebagai reporter dan bagaimana media bermain dalam tayangannya. Diperankan oleh Park Shin Hye dan Lee Jong Suk (again). Ceritanya Park Shin Hye ini mempunyai sindrom pinocchio, yaitu sindrom yang membuat penderitanya akan cegukan setiap kali dia berbohong. Digambarkan dalam drama ini kalau untuk jadi reporter itu gabisa bohong, ya you know lah, tapi karena satu dan lain hal PSH ini nekat mau jadi reporter dengan sindromnya itu. Btw, sindrom ini ga ada di dunia nyata, cuma karang-karangan film ini aja. Kalau boleh saya bandingkan, saya lebih suka drama ini dibanding While You Were Sleeping yang sama-sama diperankan oleh Lee Jong Suk. Lumayan less drama, meskipun tetap drama, tapi makes sense. Benar-benar menjawab dugaan saya tentang media di balik layar. Patut ditonton. Anyway, karena dua drama pemerannya Lee Jong Suk, lama-lama saya kok jadi terpikat ya…

Girls’ Generation 1979

Related image

Ini bagus banget sih, menurut saya. Awalnya saya pikir belum selesai episodenya karena cuma ada 8 episode. Tapi setelah saya googling, ternyata memang cuma 8 episode. Drama ini diangkat dari novel dan berlatarkan tahun 1979 di Daejeon. Ceritanya seputar persahabatan dan asmara antara anak SMA di Daejeon dan salah satu siswinya adalah pindahan dari Seoul. Jadi di sini semua pemerannya beraksen Daejeon dan ceritanya mereka ini anak daerah dan sekolahnya dipisah antara laki-laki dan perempuan, ruang perpustakaan pun dipisah.

Di sini digambarkan wanita memiliki derajat yang rendah, meskipun bersekolah. Bapaknya sang pemeran utama wanita ini lebih mementingkan anaknya yang laki-laki. Anak laki-lakinya dimanjain, dipuji-puji, dikasih hadiah, sementara anaknya yang perempuan dicuekin, bahkan selalu dibilangin “masih untung bapak sekolahin kamu” karena bapaknya ini berpikir perempuan ga perlu sekolah. Selain itu, cara gurunya menghukum siswinya juga sangat merendahkan. Para siswi harus menghadap papan tulis dan sang guru akan meraba tali beha dari belakang dan menjepretkannya. Ibaratnya kaya disentil pake tali beha sendiri. Tapi, kenapa harus tali beha gitu? Dan pula tidak ada yang protes sampai ketika anak Seoul ini, yang katanya bapaknya adalah komunis, datang dengan segala kepintaran dan keberaniannya untuk defense.

Jujur saya sama sekali tidak mengenal para pemainnya, tapi itu tidak menjadikan saya underestimate terhadap drama ini, karena ketika saya googling ternyata terdapat kontroversi mengenai pemilihan cast-nya yang terlalu dini menjadikan artis pendatang baru sebagai pemeran utama. As always, netizen. Pffft. Sebagai orang yang jarang nangis kalau nonton film, saya menilai drama ini cukup mengharukan. Meskipun hanya 8 episode tapi gregetnya dapet.

~~

Udah sih baru segitu, sebenarnya ada satu drama lagi yang saya tonton, tapi menurut saya tidak terlalu bagus dan kurang greget, yaitu The Producers, film lama juga. Saya tertarik nonton karena bercerita tentang KBS di balik layar, mirip banget sama The East. Cuma entah kenapa kurang suka aja sama eksekusinya.

~~

Oh iya, sebelumnya saya juga udah nonton Defendant dan itu wajib tonton karena super bagus, tentang seorang jaksa yang dipidana atas kasus pembunuhan istri dan anaknya yang mencoba membuktikan dirinya tidak bersalah dan harus berjuang dengan kondisi mentalnya yang terpengaruh oleh kematian istri dan anaknya tersebut, yang mana sebenarnya anaknya masih hidup tapi dia gatau. Jadi di penjara itu dia kadang lupa ingatan dan merasa masih tinggal sama istri dan anaknya, have no idea kenapa dia dipenjara, lalu beberapa saat kemudian dia ingat lagi. Dia berusaha mengumpulkan semua bukti dari balik penjara sebelum ingatannya hilang kembali.

~~

Setelah saya menonton drama-drama di atas saya dapat menyimpulkan profesi-profesi yang sering muncul dalam drakor adalah segala profesi yang berhubungan dengan hukum, baik itu jaksa, pengacara, polisi. Atau hanya perasaan saya saja karena saya hanya nonton segelintir drama yang kebetulan ada profesi-profesi tersebut?

 

 

 

 

 

Monster Jalanan

Memang ya segala tindakan yang kita ambil saat marah, ketika emosi menguasai pikiran, akan berbuah penyesalan di kemudian hari.

Dulu ketika saya belum bisa menyetir dan selalu berada di kursi penumpang, ketika saya melihat sang supir yang adalah kakak atau bapak saya, marah-marah ketika ada sesuatu hal di jalan yang mengganggu kenyamanan berkendara, saya selalu berpikir “sabar aja kali gausah marah-marah”. Sebagai penumpang, saya selalu melihat sikap pengendara yang kerap marah-marah itu adalah hal berlebihan. Saya tidak tega melihat pengendara motor seperti ojek online diklakson panjang oleh mobil hanya karena sedikit mengganggu, beda halnya ketika mereka memang benar-benar bikin ulah, misal: nyalip dari kiri trus langsung motong belok kanan. Kalau itu sih memang minta diklakson. Anyway, saya sempat berpikir bahwa klakson itu sebaiknya tidak usah diciptakan karena akan menyebabkan polusi suara dan menyakiti perasaan para pengendara.

Setelah saya bisa bawa mobil dan berada di kursi sang supir, saya seolah berubah menjadi sedikit egois. Saya tidak suka dengan mobil yang berjalan pelan di jalur kanan, motor yang jalannya tersendat-sendat karena sambil liat ponsel, angkot yang berhenti semaunya, mobil yang pindah lajur tapi gak pake lampu sen, mobil yang mau nyalip saat saya lagi melaju kencang, orang yang mau nyebrang saat lagi asik-asiknya melaju, itu semuanya rasanya ingin saya tepis ketika saya melaju di jalan, caranya adalah dengan mengklakson. Tidak ada lagi diri saya yang dulu duduk di kursi penumpang dengan prinsip sabarnya.

Setelah sampai rumah dan malam pun tiba, saya mulai merenung. Entah kenapa rasanya saya seperti habis menzalimi banyak orang dan sangat menyesal karena sudah kebanyakan nglakson hari itu. Kenapa saya tidak mencoba untuk mengerti posisi mereka yang “menghambat” saya. Mereka mungkin ada yang sedang mencari alamat, baru belajar mobil, belum terbiasa menyetir, belum hapal jalan, lupa menyalakan lampu sen padahal biasanya ingat, dan berbagai kemungkinan lainnya yang benar-benar tidak terpikir ketika saya sedang menyetir, hal-hal yang mungkin saja pernah saya lakukan di masa lalu ketika belum lancar mengendarai mobil. Padahal, kalau diingat-ingat, saya juga pernah pindah jalur tanpa lampu sen karena lupa dan nyalip tapi maksa karena nanggung. Kadang malu diri ini dengan pengemudi kendaraan umum yang sering saya lihat kedapatan memberi jalan bagi para penyeberang, meskipun mereka lebih sering menyebalkan sih karena suka berhenti sembarangan dan mengambil bahu jalan.

Saya selalu bertekad untuk sebisa mungkin meminimalisir penggunaan klakson, tapi jalanan Jabodetabek seakan tidak mendukung resolusi saya itu. Tiada hari tanpa klakson sepertinya sudah menjadi motto para pengemudi masa kini. Di Jabodetabek deh setidaknya. Kursi pengemudi seolah memiliki jurus hipnotis tersendiri yang membuat orang yang menduduki berubah menjadi “monster jalanan”. Apakah semua pengemudi merasakan hal demikian?

 

Keresahan

Saya gak tau kenapa akhir-akhir ini negara saya atau setidaknya seperti yang terlihat di media sosial dan media massa gemar sekali bergulat di isu sara, di mana orang-orang terlihat sensitif dan saling sindir dan serang dengan menyinggung suku, ras, atau agama satu sama lain. Dari mulai kasus mantan gubernur hingga sekarang yang paling anyar adalah kasus para komika. Beberapa orang menilai mereka tidak berniat menistakan agama sama sekali dan bahkan untuk kasus komika ini, banyak yang bilang bahwa model lelucon semacam itu adalah hal yang lumrah dalam dunia komedi? Well, mari kita buat perumpamaannya.

Ketika ada orang yang tidak sengaja menabrak mobil seseorang, apakah kita bisa mengatakan penabrak itu tidak menabrak? Tidak sengaja dan tidak bermaksud, tentu. Tapi dia tetap menabrak, bukan? Menyebabkan mobil orang lain rusak. Bukankah bodoh sekali ketika orang tersebut mati-matian membela diri di saat sudah terdapat bukti yang nyata bahwa mobilnya menabrak? Lalu, jika tabrakan tersebut adalah hal yang lumrah terjadi di kawasan tersebut, apakah berarti kita harus menabrak? Apakah kita tidak akan menghindar dan berupaya mencegah? Kita masih tetap berstatus pengguna jalan, meskipun kita tidak menabrak. Kita tidak harus melakukan hal yang lumrah. Kita harus melakukan hal yang benar. Apakah lumrah berarti benar? That is the question.

Manusia itu memang suka meniru. Kalau sejak kecil kita suka meniru tingkah laku orang tua, ketika dewasa kita suka meniru apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang di sekitar kita. Tidak ada yang salah dengan meniru, dalam Islam pun umatnya dianjurkan untuk meniru cara hidup Rasulullah, karena itulah yang diperintahkan oleh Allah dan sebagai orang yang beriman seharusnya meyakini bahwa apa yang ditiru dari Rasulullah adalah baik dan mengikutinya akan membawa kebaikan dalam hidup kita. Kita semua sepakat bahwa meniru sesuatu yang baik akan menghasilkan kebaikan dan berlaku pula kebalikannya. Meniru sesuatu yang buruk pun akan menghasilkan pula keburukan. Ironisnya, ada orang-orang yang menganggap apa yang dia tiru adalah kebaikan hanya karena semua orang melakukannya and it seems there is nothing wrong with it, while in fact there is! Yang haram tetap haram meskipun semua orang melakukannya dan yang halal tetap halal meskipun hanya satu orang yang melakukannya. Begitu kira-kira kutipan yang saya ingat.

Halal dan haram bukan hanya sesederhana ga boleh makan babi dan alkohol. Banyak muslim yang hanya memahami permukaan terluar dari perkara halal dan haram. Misalnya ketika ke luar negeri, mereka hanya akan menghindari daging babi dan minuman keras, padahal cara standar memasak fish and chips yang saya lihat di Masterchef UK itu memakai bir sebagai campuran tepungnya.  Ya, kita engga tau bahwa makanan dan minuman yang terlihat halal karena tidak tertulis sebagai “babi” atau “alkohol” ternyata mengandung keharaman di dalamnya, dalam cara memasaknya, dalam cara memotong dagingnya, dan semacamnya. Sama seperti memakai kerudung, beberapa orang merasa sudah memenuhi kewajiban sebagai seorang muslimah dengan memakai kerudung. Udah, titik. Padahal kerudung tersebut punya kriteria tersendiri yang diperbolehkan dalam Al-Quran. Baju tidak boleh ketat, kerudung harus menutup dada, harus pakai kaus kaki, dan semacamnya. Tidak semua langsung bisa memahami semua hal ini, tapi setidaknya kita bisa belajar pelan-pelan, termasuk saya.

Saya setuju dengan pendapat seseorang bahwa kita harus fair dalam menilai orang. Kita tidak bisa melulu melihat si tersangka dari perilaku buruknya dan melupakan perilaku-perilaku baiknya. Kita tidak bisa terus menghakimi tanpa memahami maksud mereka sebenarnya. Bahwa para komika ini hanyalah mengekspresikan keresahan-keresahan dalam lingkungannya, hanya saja timing mereka tidak tepat dengan cara penyampaiannya yang seperti itu. Yang satu menyampaikan “kecemburuan”nya sebagai minoritas dan yang satu lagi menyampaikan “rasa muak”nya terhadap perilaku pendukung kubu lawan yang terlalu mengagung-agungkan dukungannya. Iya, memang sah-sah saja menyampaikan keresahan, layaknya kita curhat dalam buku harian, nge-tweet, dan nulis status di Facebook. Namun kenyataannya, bahkan ruang sepribadi itu pun dapat menjadi bumerang jika kita tidak hati-hati. Orang bisa dituntut karena statusnya, dan bahkan karena tulisan keluhannya kepada salah satu rumah sakit swasta kala itu. Apakah dengan peristiwa-peristiwa seperti itu orang-orang belum juga sadar bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya kebebasan dalam dunia ini? Yang ada hanyalah kebebasan bertanggung jawab. Kita bebas menyampaikan apa yang ada di benak kita, tapi kita harus siap dengan konsekuensi yang kita terima. Hidup itu bukan bagaimana kita hidup sebebas-bebasnya, tapi bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan kehidupan ini di hari pembalasan nanti. Dan saya rasa itu yang sudah dilupakan oleh sebagai besar umat manusia.