Berburu Addictea di Cisangkuy

Akhir minggu ini, saya dan keluarga pergi ke Bandung. Pergi ke Bandung menjadi ritual kami setidaknya sebulan sekali sejak kakak saya kuliah di sana hingga sekarang.

Kali ini saya sudah membayangkan akan mengunjungi addictea house yang terletak di Jalan Cisangkuy no. 46 karena terpancing promo ini 😜

wp-1485585151759.jpeg

Bukan karena promonya aja sih, tapi memang sudah lama pengen ke sana karena mau cobain yang low fat edition yang mana cuma dijual di situ, toko pusatnya. Yaudah deh, sebagai pecinta addictea yang kebetulan lagi ke Bandung, saya langsung melesat ke rumah ini.

wp-image-2121401710jpeg.jpeg

Rumahnya fancy ala ala jaman baheula peninggalan Belanda, sederhana. Di dalemnya juga gitu aja sebenernya cuma ada satu lemari pendingin dan beberapa kursi, tapi untungnya yang saya cari ada; addictea low fat edition!

wp-image-1370344869jpeg.jpeg

Langsung saya beli, juga rasa-rasa yang lainnya hingga nominal belanja saya mencapai syarat untuk dapetin kalender lucu ini, yeay! Di dalam kalendernya, ada kupon-kupon diskon addictea setiap bulannya, tapi sayangnya cuma bisa digunakan di outlet2 Bandung saja.

wp-image-991972502jpeg.jpeg

Sebenarnya saya agak kecewa sama rasanya yang low fat ini, karena kurang nendang gitu rasanya, enakan yang biasa. Ya mungkin karena low sugar jadi begitu kali ya rasanya. Gapapa lah akhirnya jadi ga penasaran lagi sekarang.

Entah kenapa addictea ini semakin menarik dan meningkat nilai jualnya setelah kemasannya diganti jadi lebih kokoh dan berkarakter (sok sok-an jadi pengamat). Kalau di Jakarta dan pas lagi ada di mall yang ada Ranch Marketnya, saya selalu menyempatkan diri untuk beli addictea ini karena rasanya lumayan ngangenin terutama yang rasa pisang. Cukup bisa mengobati kerinduan saya akan susu pisang Bingrae-nya Korea, malah addictea ini lebih enak sih menurut saya.

Well, Bandung memang tidak pernah gagal membuat saya terkagum-kagum dengan produk unik dan kreatifnya.

Dum(b) Dum(b) Service

​​Memberikan uang kembalian adalah kewajiban bagi setiap penjual kepada pembeli. Tapi, sayangnya masih ada saja penjual yang “memaksa” pembeli untuk memberikan uang kecil atau uang pas, yang tujuannya adalah agar mereka tidak kesulitan dalam memecah uang. Lalu pertanyaannya kemudian adalah, apakah supaya mereka tidak kesulitan jadinya kami para pembeli yang harus kesulitan merogoh uang recehan di dalam dompet kami sekuat tenaga? 

Uang pas dan uang pecahan kecil

Sejujurnya, saya tidak masalah membayar dengan uang pas atau uang yang tidak membutuhkan banyak kembalian, selama saya memang memilikinya atau tidak menyimpan uang recehan tersebut untuk keperluan hal lain. Dengan begitu, jika saya memutuskan untuk membayar dengan uang pecahan besar, penjual tidak bisa “memaksa” saya ataupun “memarahi” saya karena tidak punya pecahan kecil padahal mereka sebenarnya berkemampuan memberikan kembaliannya. Hal ini terjadi pada saya ketika sedang membeli Dum Dum Thai Tea Drinks di Kota Kasablanka. Saya tahu kala itu memang sudah larut malam sekitar jam 9 malam dan mungkin saja pegawai dum dum ini lelah atau lagi bad mood, entahlah saya tidak peduli. Seharusnya dia tetap bersikap profesional dan menjaga sopan santun bagaimana pun kondisi mereka.

Dijutekin karena bayar pakai pecahan besar

Saya membeli dua minuman, Thai Tea dan Thai Black Tea. Dilayani oleh mba-mba berkerudung, saya membayar dengan pecahan 100 ribu untuk total belanja 37 ribu. Saat itu saya tidak punya pecahan lain selain 2ribuan beberapa lembar dan 5ribuan 1 lembar. Dia tanya apa saya punya uang kecil, lalu saya jawab engga (karena memang ga punya). Berikutnya yang terjadi adalah, dia ngejutekin saya sambil menimbulkan suara “ck” yang menandai dia kesal karena saya tidak punya uang kecil. Dalam hati saya bilang, wah sableng nih orang, ya kali saya harus nuker duit dulu. Akhirnya dia memberikan uang kembalian dengan raut wajah terpaksa dan menaruhnya di atas konter, tidak diserahkan ke saya, saya harus ambil sendiri, juga tidak bilang terima kasih karena saya telah membeli produknya, sungguh sangat tidak sopan. Emosi saya sebenarnya sudah naik hingga ubun-ubun, tapi saya berusaha tenang dan pura-pura ga peduli. Setelah pesanan saya jadi, dia kembali bersikap jutek dan menyerahkan minuman pesanan saya sekenanya tanpa sepatah kata pun. Rasanya ingin saya lempar koin recehan ke wajahnya, astagfirullah. Andai saja saya tidak bisa menahan emosi, saat itu juga sudah saya bentak-bentak dia karena sikapnya yang sangat tidak pantas dan sangat insulting at all points. Untungnya saya paling malas sama yang namanya berdebat dan membuat gaduh, jadi saya biarkan saja dan memutuskan untuk menulisnya di sini. Semoga dibaca pihak terkait.

Apakah saya salah dengan memberikan uang pecahan 100 ribu untuk membayar belanjaan saya yang berjumlah 37 ribu? Saya hanyalah pembeli yang kebetulan tidak memiliki uang pecahan kecil. Bila itu membuat pelayan menjadi kesal, bukan berarti dia bisa menjadikannya alasan untuk tidak bersikap baik terhadap saya. Seharusnya dia sadar, adalah kewajiban dia sebagai penjual untuk memberikan kembalian, toh kenyataannya dia mampu kok ngasih kembalian. Kalau dia kesal dan tidak bisa terima, lebih baik dibatalkan saja pesanannya karena sepertinya uang pecahan kecil lebih berharga daripada satu pembeli.

Attitude is a must

Dulu, saat masih SMA dan bergabung di majalah sekolah, saya selalu ikut serta menjual majalah hasil karya kami kepada orang tua murid pada setiap pembagian rapor. Kala itu seringkali orang tua murid tidak memilki uang pas dan saya kehabisan pecahan kecil. Saya sebagai penjual tidak lantas berlaku sinis pada mereka, melainkan saya berusaha menukar uang ke koperasi atau kantin sekolah agar dapat mengembalikan uang mereka. Pembeli itu harus dilayani dengan baik supaya mereka tetap mau beli produk kita. Penjual itu seharusnya tidak hanya sebatas jualan produk, tapi juga jualan sikap, karena kesan pertama itu sangat penting. Saya sebagai pembeli paling tidak bisa mentolerir penjual mana pun yang tidak baik dalam melayani pembelinya, meskipun produknya bagus atau enak. Attitude is a must. Kalau saya tahu pelayanannya tidak baik, tidak akan saya kembali ke tempat itu kalau bukan karena terpaksa.

Perkara uang kembalian seharusnya bisa disiasati oleh penjual, seperti meminta pembeli untuk memberikan nominal tambahan tertentu agar uang kembaliannya menjadi genap. Tapi sekali lagi, penjual tidak bisa memaksa pembeli untuk menuruti permintaannya. Banyak penjual yang menerapkan hal ini dan dari pengalaman saya, jika saya tidak bisa memenuhi permintaan mereka, mereka tetap melayani saya dengan baik.

Di sini saya hanya ingin mengingatkan agar para penjual setidaknya memiliki kesadaran untuk dapat selalu bersikap baik dan santun kepada pembelinya. Dan tidak dalam konteks penjual dan pembeli aja, kita sesama manusia, lepas dari apa peran kita, harus dapat menjaga sikap terhadap sesama. Jangan hanya karena ingin meringankan beban diri sendiri, lalu kita jadi menyusahkan orang lain dan mengesampingkan etika. Intinya adalah sadar diri, jangan egois, dan jaga sikap.