August

Jpeg

August is indeed the month of events. Various important and memorable events occur within this month. Aside from the independence day Indonesia will celebrate on 17th and Korea had celebrated on 15th, i just came to know that Lady Diana also died on August, on the very end of August to be exact. Because of that, some medias broadcast some programs relating to her, for instance is Diana : In Her Own Words aired by National Geographic.

As we all know, Diana’s story has been controversial. She was always interesting to be talked about. I knew from history that she was not happy with her royal life but what she hided behind every single smiles back then turned out to be too hurtful to hear. As a woman and as a mother, she was not respected by her very own inner circle which is her husband and the royal families. Despite she was often adored by many in public more than any other royal family members, it was not enough to make her comfortable and happy. Why? Because she didn’t get any credits from her own royal families and she was forced to hide it in front of the public or media.

In the first episode she said desperately “All i want is they give me credits and tell me that i have been doing well” Diana was too young to play a big role as a Princess of Wales but despite those factors, her surroundings didn’t give any support at all. It was already a burden to herself to be in that position in such a young age, but the royal families and some medias doubled up that burden by putting a blame on her for not behaving in a certain way. Her own husband even scolded her often for complaining too much while she was expecting her first child. Can you imagine how she felt at the moment? I can’t even imagine.

Here i am not intended to discuss more about Diana, but instead i will take her as an example about how is the inside more powerful than the outside. We often hear bad or good comments from people we not really know or don’t know at all, but the question is does it badly affect us? It does, but admit it you will eventually get rid of it a days later because you know they don’t know you well enough so it doesn’t really matter. But what if those comments come from your own family or your closest friends who know you inside out? If it is support, you will feel all supported as if all nations supporting you and if it is humiliation, how will you take it?

Somehow, no to exaggerate, i have been sort of experiencing what Lady Diana had. Of course it was not that bad, but i felt like at the moment the whole world was against me except Allah. Allah alone should be enough, right? But to be honest i was badly hurt too. In one time they supported me, the other time they blamed me because i was not good enough and that i was spoiled brat and lazy and that i didn’t do anything useful all day and i have been a burden to some because of my inability to do certain things. They often spoke from their own perspectives. I will not defend much here and i didn’t either back then.

Since it came out from their mouths, my closest relations, the hurt was multiplied by two. They didn’t realize this because i kept acting like it was not a big deal to me while in fact it truly was. As someone who is struggling to reach her dreams or live her life properly, i faced various obstacles that maybe in others’s eyes was nothing. And what is worse was they were there not to help overcoming those obstacles, but instead to humiliate because they thought if they were me they would have passed those things easily. Some moments they spoke it out of tease that sounded more of truth.

Actually, there was no wrong or right in this case. We both can be wrong and we both can be right, so it was not best to play victim and blame one another. All i want to highlight in this issue is that family and friends are often the main source of support for most people. We seek and expect support mostly from them after Allah. If we cannot give our support because of one and another thing, at least we don’t belittle them. Remember, we are humans who has feelings. Even the toughest person can be hurt too. There isn’t any reason in Islam that gives us rights to hurt other people’s feelings. It is why good deeds is not only about praying, fasting and reading Quran, but also about how we behave to other people, how far we have practiced our Islam in our environment and in our life as general.

None is more virtuous over another except by righteous deeds.

Iklan

Madain Saleh and what lessons we can earn from it.

WARNING: Some contents might be sensitive. Kindly be advised.
Jpeg

Pada saat umroh beberapa bulan lalu, saya beserta keluarga dan rombongan berkesempatan mengunjungi Madain Saleh yang berjarak kurang lebih 300 km dari kota Madinah.

Apa itu Madain Saleh?

Jujur, awalnya saya ga tau apa-apa tentang ini. Baru tau pas dalam perjalanan ke sana. Itu juga karena diberitahu oleh Pak Haji pemimpin rombongannya.

Jadi, Madain Saleh adalah tempat tinggal kaum Tsamud pada zaman Nabi Saleh a.s yang dibinasakan (ditimpakan azab) karena mengingkari Allah dan para nabi dan rasul.

Ya, itu tempat bekas dikenai azab.

Bekas azab, saudara-saudara.

Tapi, bodohnya saya, karena saya belum membaca apa-apa soal kisah kaum Tsamud ini (padahal ada dalam Al-Quran) dan saya belum tahu ada hadits yang meriwayatkan bahwa kita tidak boleh mengunjungi tempat-tempat yang pernah diazab Allah kecuali dengan menangis, saya senang-senang aja tuh pas di sana, sama sekali tidak merenungkan dan mengambil pelajaran.

“Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak bisa menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian. (HR. Bukhari 433).”

Akibat ketidaktahuan dan kepolosan hamba yang kurang ilmu ini, layaknya turis yang mengunjungi tempat wisata, saya dan bahkan mayoritas rombongan asyik foto-foto di sana. Dan memang saya akui tempat itu luar biasa indah dan mengagumkan. Belum pernah saya lihat tempat seperti itu di manapun.

Pak Haji juga tidak memperingatkan kami tentang riwayat hadits ini, jadi kami atau saya to be exact santai-santai saja saat berkunjung ke sana dan bertindak seolah-olah sedang bertamasya. Maafkan hambamu ini ya Allah.

Setelah pulang umroh, saya jadi penasaran sama kaum Tsamud ini dan ingin tahu betapa hebatnya mereka bisa memahat gunung-gunung batu menjadi tempat tinggal mereka dan bagaimana ceritanya hingga kehebatan mereka itu akhirnya dibinasakan. Apa sih dosa mereka? Apa yang mereka perbuat di muka bumi ini?

Mulailah saya membuka Al-Quran kemudian membacanya beserta terjemahannya tentunya. Saya ga hapal, tapi seingat saya di dalam Al-Quran berkali-kali dan cenderung sering disebutkan tentang kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah, yaitu Kaum Nabi Nuh a.s, Kamu Nabi Luth a.s, Kaum Ad, Kaum Tsamud, dan Kaum Firaun sebagai pelajaran untuk kaum muslimin agar tidak seperti mereka, agar jangan sampai umat Nabi Muhammad saw ditimpakan azab serupa karena tidak mau beriman pada Allah.

Setelah baca Al-Quran, saya jadi tahu inti dari kisahnya, bahwa

Kaum Tsamud ini awalnya adalah kaum yang hebat. Mereka mampu membangun istana di atas tanah yang datar dan bahkan memahat gunung-gunung batu menjadi rumah mereka dengan indahnya. Mereka mendapatkan nikmat yang sangat besar,
tapi tidak mau beriman kepada Allah dan bersikap angkuh di muka bumi.

”Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS al-A’raf: 74)

Nabi Saleh a.s diutus oleh Allah untuk memperingatkan mereka agar menyembah Allah, tapi karena keangkuhan mereka di muka bumi, mereka enggan beriman. Mereka tidak percaya dengan Allah dan bahwa Nabi Saleh a.s itu utusan Allah. Sehingga pada suatu waktu mereka menantang Nabi Saleh untuk memunculkan unta istimewa dari batu, karena mereka tidak percaya itu akan terjadi dan supaya Nabi Saleh berhenti berdakwah pada mereka. Namun, atas kuasa Allah, unta tersebut benar-benar muncul dari batu dan Nabi Saleh memperingatkan kaum Tsamud agar tidak mengganggu unta tersebut, apalagi menyembelihnya. Namun sekali lagi, karena keangkuhan mereka, sebagian besar dari mereka tetap tidak mau beriman setelah didatangkan mukjizat tersebut dan mereka malah menyembelih unta tersebut. Maka dari itu, Allah mengazab mereka dengan petir yang menggelegar hingga meruntuhkan bangunan tempat tinggal mereka.

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tshamud.” (QS Hud ayat 67-68).

Ya, tentunya ini menjadi pelajaran bagi umat muslim, bahwa betapapun manusia bisa membangun ini dan itu di muka bumi dengan ilmu mereka, berkuasa atas banyak hal, dan hebat di mata manusia, itu semua menjadi tidak berarti jika mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Pelajaran ini tidak hanya relevan pada zaman itu, melainkan juga sampai saat ini. Dan kalau boleh saya kaitkan dengan kasus pak mantan gubernur Jakarta yang di penjara itu, betapa banyak orang yang mengaku muslim yang membela beliau, bahkan memilih beliau hanya karena (katanya) kinerjanya bagus dan dia pandai mengelola ini dan itu sehingga menghilangkan banyak permasalahan di ibukota.

Gausah jauh-jauh sebenarnya, bahkan teman saya sendiri pun pengagum beliau dan terang-terangan membela dan memilih beliau.

Ya teman saya itu muslim.

Mungkin mereka memakai logika bahwa bagaimana mungkin mereka tidak memilih beliau sementara sudah terbukti (katanya) kinerja beliau dan bagaimana mungkin mereka memilih kandidat lainnya yang seiman dengan mereka tapi belum terbukti kinerjanya dan programnya mengada-ada (kata mereka).

Saya pribadi memang dari awal tidak pernah condong dan sreg dengan bapak mantan gubernur itu. Tidak suka namun juga tidak benci. Awalnya. Tidak sampai beliau membuat pernyataan tentang surat Al-Maidah ayat 51. Ingin saya biasa-biasa saja atas ucapan beliau itu, tapi hati kecil saya seperti enggak rela dan marah dengan -kalau boleh saya bilang- kesoktahuan dan kelancangan beliau.

Ya, saya jadi tidak respect terhadapnya, meskipun di hadapan teman saya, saya bersikap biasa saja, karena saya tahu mereka tidak akan sependapat dengan saya dan saya tidak mau berdebat akan hal itu mengingat ilmu agama saya masih cetek.

Saya dulu sempat berlogika seperti mereka. Kenapa ya kok kita disuruh milih yang muslim padahal begini begitu dibanding nonmuslim?
Subhanallah, Allah langsung memberi jawaban atas itu dan kembali meyakinkan hati saya bahwa itu memang perintah Allah dan saya harus menjalankannya (meskipun saya bukan pemilih saat itu).

Bagaimana cara Allah menjawab saya?

Dr. Zakir Naik datang ke Indonesia dan beberapa saat setelahnya banyak video ceramahnya di Indonesia yang telah diunggah ke youtube bahkan diterjemahkan. Saya sudah menonton beberapa video beliau sejak tahun lalu dan sesungguhnya saya penasaran bagaimana pendapatnya mengenai pemilihan gubernur yang diributkan masyarakat Indonesia ini.

Alhamdulillahnya, banyak videonya yang membahas tentang pemilihan gubernur dan dia memberikan banyak perumpaan yang menurut saya sangat masuk akal dan sulit dibantah, serta semakin meyakinkan hati saya tentang perintah Allah tersebut.
Saya tidak akan menjabarkan analoginya di sini, silakan tonton saja di youtube, tapi pada intinya dia mengatakan bahwa apa gunanya membangun gedung-gedung, memberantas kemiskinan, dan lain sebagainya tetapi dia tidak beriman kepada Allah?
Bukan dia yang menjadikan kemiskinan itu hilang, tapi Allah. Di tangan Allah lah semua urusan diatur.  Kita manusia hanyalah perantaranya, jadi menurut saya tidak sepantasnya umat Islam mengagumi kehebatan beliau, karena tanpa seizin Allah itu semua tidak akan terjadi. Allah lah yang sepantasnya kita puji.

Dan argumen ini diperkuat oleh Al-Quran sendiri melalui kisah-kisah kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah.

Lihatlah kerajaan Firaun yang bahkan jauh lebih hebat dari Jakarta ini, atau kaum Tsamud yang mampu memahat gunung-gunung batu dengan indahnya.
Kalau kita hidup di zaman itu, pastilah kita mengagumi kehebatan mereka jauh dari kita (saya sih enggak) mengagumi bapak gubernur ini. Tapi, dengan kehebatan sebesar itu,
apakah mereka cukup kuat menghadang banjir, gempa, dan bencana hebat lainnya yang diturunkan oleh Allah? Sama sekali enggak.

Sudah besar kekuatan dan kehebatan mereka, eh ujung-ujungnya binasa juga karena tidak mengimani Allah dan para rasul.

Apalah manusia tanpa Allah.

Kaum-kaum yang disebutkan dalam firman Allah ini tentu bukan kaum sembarangan.
Mereka jauh lebih hebat dari gubernur ibukota, tapi lihat apa akibatnya saat mereka
mengingkari Allah.

Kalau Allah berkehendak, Jakarta bisa saja -amit-amit- dibinasakan, mudah banget bagi Allah. Tapi sepertinya Allah ingin menunjukkan hal lain dan memberikan pelajaran bagi umat muslim di Indonesia, sekaligus menunjukkan siapa di antara mereka yang termasuk orang-orang munafik.

Tentunya sebagai umat Islam yang beriman, kita harus bijak ke depannya dalam menghadapi persoalan seperti ini. Saran saya, jangan kebanyakan nonton TV dan baca artikel LINE TODAY. Kalau sudah ada perdebatan tentang ini dan itu, Allah bilang segera kembalilah ke Al-Quran. Dan Allah sudah buktikan itu, di Al-Quran kita bisa lihat jawabannya. Suka atau tidak suka, kita harus patuhi sebagai orang yang mengaku beriman kepada-Nya. Saya yakin di balik setiap perintah Allah itu ada kebaikan.

Kalau masalah pemilihan gubernur aja kita gabisa yakin, bagaimana status keyakinan kita pada Allah? Jangan-jangan syahadat kita sudah batal karena menafikkan perintah-perintah Allah yang jelas-jelas tertulis dalam Al-Quran, naudzubillah.

Di suatu ceramah yang saya tonton di youtube menyebutkan bahwa para Nabi itu ketika diperintahkan oleh Allah suatu hal, mereka langsung menjalankan tanpa meragukannya, walaupun belum tahu apa hikmahnya. Contohnya Nabi Ibrahim a.s yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Beliau mana tahu anaknya nanti bakal diganti dengan domba, tapi beliau yakin saja kepada Allah bahwa Allah tidak akan menghendaki sesuatu pada hambanya kecuali kebaikan dan benar Allah tunjukkan itu pada akhirnya dengan mengganti Ismail a.s dengan domba untuk disembelih.

Kalau Nabi aja enggak berani mempertanyakan perintah Allah, lalu siapa kita berani menafikkan perintah Allah dalam surat Al Maidah ayat 51?

Katanya yakin dengan keberadaan Allah, tapi kok masih ragu-ragu menjalankan perintah-Nya? Ragu dengan janji-janji-Nya? Yakinlah dengan janji Allah terhadap orang-orang yang bersabar saat menjalankan perintah Allah. Kata ustad Hanan Attaki, sabar tingkat tinggi itu bukan sabar saat kedatangan musibah, tapi sabar saat beribadah.

Semoga Allah subhanahuwataala mengampuni dosa-dosa kita dan mengarahkan kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.

“Do not walk proudly on the earth; you can neither tear the earth apart nor can you rival the mountains in height.” (Qur’an 17:37)

Birthday

Two months to go to August means two months to go to turning 25.

Honestly i’m not a big fan of birthday and neither are my family. The only thing i like about my birthday is just how i share the same born date with mom. Since i was a kid, i never had a birthday party or celebration even once. The biggest event that ever happened during my birthday was having my colleagues brought me a dozen of donuts with candle on it for me to blow while they sang “happy birthday” song to me, that’s all. I was so touched literally since i didn’t expect them to do things like that at all. I was thankful but at a same time didn’t know what to do and started to think that they might be disappointed by my flat or not so overwhelming response – you know that guilty feeling.

So what do i and my family usually do on birthdays?

Let me tell you something. This is what i love about my family. They are extremely simple when it comes to events. Normally on one of our birthdays, we would just said to each other “Oh today is her/his birthday” with flat intonation, or if there’s no one remember it, we would say (and it’s usually me and my sister LOL) “it’s my birthday today” and then they congratulate the birthday girl/boy, also without so much enthusiasm. After that, we will decide where to eat on weekends (whenever the birthday is, we will “celebrate” it on weekend), even sometimes my father will be reluctant to join the ladies if he is too tired :D. No presents since we all are adults now and no cake cutting. Mom said, “who would eat the whole cake at home?” Well, she is right. My family have a bad habit of buying foods, eat only a tiny piece of them and leave it on the refrigerator for eternity, until we throw them out because they have been there too long or when they stink already. (Don’t be like us!)

Not just the birthday. I don’t even know my parent’s wedding anniversary date because they never celebrate it even once. What i know is just they married on November 1989 and that was because of the month and the year marked on their old wedding photos i was looking at, not because they told me. They are so anti-events, so to speak. However, raised in a family in which such events do not that matter is such a blessing for me. Why? Because it made me think, behind those important dates people will assume, there are far more important things we could pay more attention to. For instance, what to eat today and if there’s enough brown rice in stock. Lol, just kidding. I just love their simplicity.

I learn from them that we should not rely our happiness on any events or celebration. We could careless about the birthday, yet we could still be happy.  So please don’t get me wrong if sometimes i forgot or just don’t feel like saying “happy birthday”. It’s not that “i don’t remember yours” or “i don’t care about you anymore” or even worst “i stop loving you”. It’s just me who personally think birthday shouldn’t be a big deal in everyone’s life. It is just a birthday, anyway. And i still love you.

Sincerely,

66% introverted girl

Unmarried me talking about marriage

Akhir-akhir ini entah kenapa sering banget lihat artikel atau postingan berbau pernikahan. Entah temen yang mau nikah, temennya temen, atau siapapun di luar sana yang tidak saya kenal, sampai postingan “pembelaan diri” dari seorang wanita yang merasa usianya sudah cukup untuk menikah namun belum menemukan jodohnya, atau yang paling sering saya temui, ungkapan kegelisahan para wanita cukup usia yang sudah “kebelet” atau “terdesak” untuk menikah karena melihat teman-teman seusianya mayoritas sudah berkeluarga.

Lumrah saja sebenarnya ketika saya melihat fenomena-fenomena seperti itu bertebaran di media sosial. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya di postingan seseorang yang ingin saya jabarkan di sini karena saking geregetannya.

Postingan tersebut berisi tentang pembelaan seorang wanita yang kata temen-temennya sih “istriable” banget tapi belum nikah juga sampai sekarang dan dia sering ditanyain kapan nikah. Padahal saya lihat dia umurnya 4 tahun di bawah saya, and i’m like HELLO santai saja kali yah gausah dihiraukan omongan temen-temenmu itu, saya aja belum nikah kok. Saya mau nikah? Mau banget, tapi saya mah serahkan aja ke Allah untuk calon dan timingnya, gamau diambil pusing. Kata dia meskipun dia bisa masak dan nyuci baju sendiri, dia merasa belum capable enough menjadi istri karena tugas seorang istri lebih berat dari itu. Katanya seorang istri itu harus bisa segalanya, bangun pagi, menyiapkan makanan bergizi, membersihkan dan merawat rumah dan segala hal rumah tangga lainnya dia sebutkan di situ. Kalau belum siap melakukan itu, katanya dia belum pantas menjadi istri, karena katanya ga semua cowo mau sama cewe yang baru belajar masak, baru belajar nyuci baju pas udah menikah. Gitu ceunah. Heu. Saya mah ga setuju sama poin ini.

Poin tersebut kemudian mengundang sebuah komentar dari seorang cewe yang mengatakan bahwa intinya kenapa sih pernikahan itu selalu tentang apa yang pria inginkan, bagaimana dengan wanita? Apa tidak ada yang peduli dengan keinginan kita, para wanita? Dijawablah komentar itu oleh seorang komentator lain yang adalah seorang pria yang seperti membela diri. Katanya ga cuma cewe kok yang punya tuntutan, cowo juga harus punya rumah, mobil, segala macem, yah intinya harus mapan sebelum menikah, sedangkah cewe kan ga harus kaya gitu.

Kedua komentator ini seperti beradu “siapa yang lebih besar tanggung jawabnya” dan “siapa yang lebih dirugikan dalam pernikahan”. Hei, padahal mah ga kaya gitu kali esensi sebuah pernikahan.

Oke, pertama saya ga setuju sama penulis postingan itu tentang syarat menjadi seorang istri itu harus bisa segala pekerjaan rumah tangga. Menurut saya, yang penting adalah kemandirian. Kalau kita sudah terbiasa mandiri, segala hal rumah tangga bisa dipelajari dengan mudah seiring waktu. Kedua, kedua komentar tersebut membuat saya gimana ya, sebenernya ada benernya. Tapi, wanita dan pria masing-masing punya tanggung jawab dalam pernikahan, toh? Jangan lah saling iri-irian dengan kewajiban masing-masing. Jangan menuntut sesuatu pada orang lain jika kita belum menjalankan kewajiban kita sendiri. Kata seseorang, kalau kita mau mengubah orang lain, harus dimulai dari diri sendiri. Ya berarti, kalau cowo-cowo mau calon istrinya nanti taat sama dia, berbakti sama dia, mereka harus jalanin kewajibannya dulu sebagai seorang suami, bukan lantas “menuntut”. Istri yang baik, menurut saya, akan dengan otomatis melihat perlakuan baik suaminya sebagai “tuntutan” terhadapnya untuk berlaku baik pula kepadanya tanpa harus dengan gamblang sang suami bilang “hei, kamu istriku, kamu tuh harus bisa masak supaya gizi suamimu ini terpenuhi dengan baik.”

Saya setuju, seorang istri harus bisa melayani suaminya, tetapi bukan berarti suami bisa memperlakukan istrinya seperti babu kan? Pahami konteksnya ya. Memasak, mencuci, membersihkan rumah adalah hal-hal yang bisa dipelajari seiring waktu dan kalau memang mampu, tidak ada salahnya bagi menyewa pembantu rumah tangga.  Kalau ga mampu, setidaknya suami bisa membantu istri dalam menjalankan perannya, begitu pun sebaliknya. Ya intinya saling membantu dan mendukung satu sama lain. Para kaum adam yang bener dan waras, nyari istri bukan buat disuruh-suruh, dijadiin babu, melainkan untuk menjadi teman hidup untuk tumbuh bersama, ibu dan panutan yang baik bagi anak-anaknya kelak. Kecerdasan dan karakter seorang anak itu konon sebagian besar menurun dari ibunya, menurut beberapa penelitian.

Nah untuk kita para wanita, para calon istri, juga harus sadar sama kewajiban masing-masing, jangan mau “enaknya” aja. Kita memang harus berbakti pada suami, bahkan dengan menikah, kita menjadikan suami di atas orang tua kita. Tidak begitu dengan para suami. TAPI, kata Rasulullah, suami yang baik adalah yang memuliakan istrinya, bukan menyusahkannya. Anak perempuan itu dibesarkan oleh orang tuanya dengan susah payah untuk apa emangnya? Untuk melihatnya bahagia, karena setelah menikah, anak perempuan itu seperti “dicuri” selama-lamanya dari orang tuanya untuk ikut ke suami. Bukan berarti kesannya pernikahan itu buruk bagi wanita lho ya. Hanya saja, saya ingin menekankan bahwa bagaimana pun, istri dan suami itu punya porsinya masing-masing. Allah itu maha adil, ga mungkin lah kewajiban istri lebih berat dari suami atau sebaliknya, kecuali kalian yang mengotakkannya seperti itu.

Hmmm sebenernya agak ga nyambung sama paragraf awal, cuma intinya kita itu jangan terlalu banyak nuntut ke orang lain. Bilang kewajiban yang satu lebih berat dari yang lain atau apa lah. Sebaiknya kita jalani aja lah apa kewajiban kita dengan ikhlas, niscaya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal kok. Saling pengertian dan sadar diri. Menikah itu saya yakin, meskipun saya sendiri belum menikah, bukanlah sesuatu yang diciptakan untuk menyiksa kaum hawa maupun kaum adam. Menikah itu ibadah, tapi juga jangan dijadikan sebuah tren. Temen nikah, trus ikutan kepingin nikah. Lalu jadi galau karena jodoh belum kunjung tiba, dsb. Apa ya, kalau saya sih lebih baik mendekatkan diri kepada Allah aja, minta dimudahkan jodohnya, sambil terus memperbaiki diri, karena kan jodoh itu cerminan diri. Tapi katanya kalau tujuan kita memperbaiki diri karena untuk cari jodoh itu keliru. Belajar dari kisah Zulaikha dan Nabi Yusuf, Allah malah menjauhkan Nabi Yusuf dari Zulaikha karena Zulaikha terus mengejar cinta Nabi Yusuf. Baru ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah berikan Nabi Yusuf kepadanya dan mereka pun berjodoh.

Jadi, jangan lah galau-galau miris tentang jodoh, terutama buat yang berusia 20an ke atas atau yang baru lulus kuliah trus mulai merasa butuh pendamping, dsb. Hei, ada hal lain yang bisa kalian lakukan daripada melamun soal jodoh. Sikapi dengan santai pertanyaan “kapan nikah?” dan anggap itu doa dari mereka bagi kita agar mudah dipertemukan dengan jodoh kita. Jodoh akan tiba tepat pada waktunya, Insya Allah.

A woman’s heart should be so hidden in Allah that a man should have to seek Him first to find her.

I’m sorry i didn’t cry

wp-1490820761024.jpeg

You know what kind of thing you would regret the most?

For me, it is the state of being unable to make bond with your Creator while you were right in His house.

For most of you who have been to Mecca, you must cried the first time you see the Ka’bah. But for some unknown reasons, it didn’t happen to me.

My mind goes blank for a moment

Just because i didn’t cry, doesn’t mean i got no emotional feeling running inside my heart. I felt it, for real. It was hard to believe at first that finally i could see this Ka’bah from up close. That time, my mind just went blank and had no idea what to do. I just…stare, stare and stare until i realize i should get my self together to start the Umrah, beginning from tawaf, along with the group.

On my first day in Mecca, i keep wondering why everybody but me cried. I felt so bad and decided to move on. So i just made as many duas as possible, staring wholeheartedly at the Ka’bah  (but still without tears), wished that Allah knew what was really inside my heart.

Regardless of what happened with my tear duct, i experienced a lot of great times which never make my self the same as before taking this trip.

And here goes some of my reflections during my precious wondeful Umrah trip with my family ~

You didn’t feel tired

Either waking up so early to join fajr prayer, walking distances between hotel and Al haram, tawaf in a daylight, or doing sa’i on the cold floor, not a single time i felt tired. For those of you who have been there, you know that there is such a distinctive energy that will make you feel like your body, mind, and soul are always energized. At first i thought it would be so tiring to do the tawaf in a daylight among the sea of humans. How can i endure it? I wondered. I was wrong! Tawaf in the daylight turned out to be less tired than in the night. It was amazing. I am kind of people who hate to be exposed to sunlight for too long but there, day is my favorite time and i don’t mind the sun at all.

Life is simple

My life has never been this satisfying since i visited the two blessed cities. You know, i used to think that graduating from reputable university, going for prestigious work, hitting the fancy gym to get in shape, hanging out after work with colleagues to be as social as possible, and all other worldly activities would bring me such satisfaction i utterly needed in life. It didn’t. In fact, i never felt satisified with the dunya (worldly life) regardless how well the situation is, because i couldn’t help but comparing my life to the other and acted as if i was in a competition with them. It was never enough. I kept wanting more and more and couldn’t live the present life to the fullest. It constantly consumed my spiritual soul and thus be soulless. What was worse is, i used to procrastinate the prayer until the last minute and always had a hard time waking up for fajr, even sometimes i missed it. I used to prioritize everything but Allah. Astagfirullah. How my life has gone so wrong. No wonder life turned to be so complicated, while in fact, it isn’t.

In Mecca and Madina, my life was no other than waiting for the prayer time, going to Masjid before the time comes, reading quran while waiting for the prayer, enjoying the soothing recitation of the imam while praying and drinking limitless zam zam after each prayer. Just that simple, but you would feel as if you were getting a little piece of heaven going on your life. Masha Allah.

I forgot that we should put worship first before the dunya. I forgot that the one who can satisfy me is only Allah. Put Allah first and everything will work out. Maybe not the way i wish to be, but just the way it meant to be. Now i know i should shift the focus of my life.

The missing soul

As i’m back home, my mind would not just move on from there. The first two weeks after leaving the Mecca, i didn’t feel completely present. My body is here but my mind is there. How i miss them so much and all the tranquility it gave me. Home is where the heart is. My heart is there, so is my home. The ultimate home of all muslims in the world.

Cry without tears

I cried in my room as i miss them. Felt so emotional, but shed just a little tears. It’s quite paradox. I am kind of losing the ability to produce tears as i grew older. People would call me heartless at this rate. But that’s not what i am like. For me now, crying isn’t always the same thing as shedding a tear. I hope that doesn’t make me sound heartless.

The next time Allah invites me back (may all dear muslim fellows get invited too), i wish, i really wish, i could shed a tear…

Suka duka pakai kawat gigi

wp-image-796810753jpg.jpeg

Kawat gigi atau biasa disebut behel merupakan salah satu cara untuk merapikan struktur gigi manusia. Kalau di luar negeri, behel ini diasosiasikan dengan orang yang cupu dan jelek, makanya di luar sana ga banyak yang pake behel kalau bukan karena terpaksa. Bedanya di Indonesia, behel dijadikan semacam aksesoris gigi, di mana yang memakainya akan dianggap gaul dan kekinian meskipun sebenarnya orang itu pada dasarnya sudah memiliki struktur gigi yang bagus. Ya memang, beda negara, beda budaya, beda kebiasaan, beda pola pikir, dan beda yang lain-lainnya, jadi cukup dipahami saja.

Saya sendiri termasuk yang pake behel karena memang ingin merapikan struktur gigi. Fyi dari kecil saya ga pernah ke dokter gigi dan selalu takut untuk ke dokter gigi ketika ada masalah pada gigi saya. Saya gamau ke dokter gigi kecuali memang mendesak banget kaya waktu itu gigi saya bolong dan sakit banget akhirnya harus ditambal. Lama-kelamaan saya sadar bahwa struktur gigi saya berantakan dan karenanya saya jadi jarang tersenyum menampakkan gigi karena malu. Gigi saya waktu itu ada yang bolong 2 dan seharusnya memang sudah dicabut, namun tidak pernah saya lakukan karena takut. Setelah mengumpulkan keberanian dan tekad, akhirnya saya memutuskan untuk pakai kawat gigi. Sebelumnya saya cari-cari artikel di internet tentang prosedur pemasangan kawat gigi dan tanya-tanya ke temen yang sudah pakai kawat gigi duluan. Dari situ saya menyimpulkan bahwa kawat gigi tidak bisa dipasang sembarangan dan begitu saja melainkan harus melewati tahap rontgen dan cabut gigi, hal yang paling saya takuti. Berapa jumlah gigi yang harus dicabut itu tergantung dari pemeriksaan sang dokter.

Cabut gigi

Sebelumnya cabut gigi, saya diharuskan rontgen di lab dan hasilnya diberikan ke dokter gigi untuk dianalisis kasusnya. Setelah itu gigi saya diperiksa dan dicetak dan sesuai dugaan saya, kedua gigi saya yang bolong memang harus dicabut karena sudah tinggal akar gigi saja. Tidak hanya itu, saya juga harus mencabut 3 gigi lainnya dan mengoperasi 1 gigi geraham bungsu karena posisi tumbuhnya yang miring (terlihat di rontgen). Sudah lah cemas dengan cabut gigi, ini lagi disuruh operasi, alamak makin ga kebayang gimana takutnya saya. Tapi, demi kerapihan gigi, saya tidak begitu saja pantang menyerah.

Pertama-tama gigi yang dicabut adalah gigi yang bolong. Cabut giginya gak bisa sekaligus ya, kecuali pasiennya kuat dan punya cadangan nyawa. Pas gigi bolong ini dicabut, rasanya sakit banget, kata dokternya sih gara-gara gigi saya itu udah rusak dan banyak bakterinya jadi anestesinya ga bisa bekerja maksimal (jadi menyesal deh dulu ga segera dicabut huhu). Setiap pencabutan gigi berjarak 1 minggu, kecuali 2 gigi terakhir sebelum operasi langsung saya sekaligusin di hari yang sama karena tidak begitu merasakan sakit kecuali pas bagian suntik obat biusnya (mungkin karena bukan gigi bolong).

Operasi gigi geraham bungsu

Sebagai orang yang belum pernah merasakan operasi apapun, tentunya momen ini menjadi momok bagi saya. Untuk itu, sebelum hari H saya rajin membaca pengalaman orang menjalani operasi ini lewat blog dan semacamnya. Ada yang katanya bisa sampai 1 setengah jam untuk menyelesaikan operasinya dan ada yang dibius total. Lama operasi tergantung dari tingkat kesulitan kasus gigi kita. Untungnya kata dokter gigi saya, kasus gigi geraham bungsu saya masih tergolong mudah dan dia berani mengatakan bahwa operasi akan selesai dalam waktu setengah jam. Cukup lega juga mendengarnya tapi ga mengurangi kegugupan saya akan operasi ini.

Saat hari H, saya ditemani mamah dan beliau ga berani masuk ke dalam karena katanya kasian nanti kalau ngeliat saya haha. Yaudah akhirnya saya di ruangan sendiri sama dokter dan perawatnya. Operasi dimulai dengan suntik anestesi yang berkali-kali dan at some point, suntikannya berasa sakit banget agak beda sama suntikan anestesi ketika cabut gigi. Yang ini serasa kaya jarum terus nusuk ke dalem kulit ga berhenti-berhenti tapi ya sakitnya masih wajar dan bisa ditahan sih. Setelah itu, dokter mengetes kekebalan gusi dan gigi saya di bagian yang akan dioperasi, kalau saya merasa kebal berarti operasi sudah siap dijalankan. Pas operasi, saya ga ngerasa ada sensasi sayatan atau apapun, tapi yang berasa itu ketika gigi kita dibor untuk dipotong bagiannya supaya lebih mudah dikeluarkan. Sama sekali ga berasa sakit sampai pada penjahitan dan akhirnya selesai dalam waktu kurang dari 30 menit. Abis itu saya dikasih obat painkiller dan ga boleh ngunyah di bagian gigi yang baru dijahit serta ga boleh beraktivitas fisik dulu. Sayangnya, saya ga dikasitau oleh dokter untuk segera mengompres pipi, karena yang saya baca di blog orang harusnya kita segera mengompres pipi bagian gigi yang baru dioperasi untuk mencegah bengkak yang berlebih pasca operasi. Dan benar saja, karena saya ga kompres, lama-lama pipi saya bengkaknya gede banget, saya sampe malu untuk keluar rumah. Pipi saya baru dikompres setelah bengkak mulai kelihatan dan baru sekitar 2 mingguan bengkak itu mulai hilang dan jahitan saya bisa dilepas.

Pasang kawat gigi

Setelah saya pulih pasca operasi, itu berarti saya sudah bisa dipasangkan kawat gigi. Bagian ini sih ga menakutkan, malah saya antusias karena bisa mulai pilih warna karet. Awalnya dokter mengelem bracket di tiap-tiap gigi dan lemnya itu bisa kerasa di lidah agak asem, selanjutnya kawat dipasang melingkari gigi dan dikaitkan ke bracket, baru deh dipasang karetnya dan selesai! Kawat yang dipakai untuk fase awal adalah kawat yang paling tipis. Ketebalan kawat akan semakin bertambah di kontrol-kontrol berikutnya.

Setelah kawat gigi terpasang, kesan pertama saya adalah: ga enak! Pengen rasanya lepas kawat saat itu juga karena rasanya aneh banget, selain itu di awal terasa ngilu banget karena pergerakan gigi mulai terjadi. Saya jadi heran sama orang yang pake behel hanya untuk gaya, karena ini ngilunya ga boong loh dan rasanya ga enak banget ada sesuatu yang ganjel di mulu kita. Sampai sekarang pun gigi saya sudah rapi setelah hampir 2 tahun memakai kawat, saya masih merasa bahwa behel ini sangat mengganggu dan sangat ingin segera melepasnya, namun karena masih ada beberapa aspek yang harus diperbaiki dari gigi saya, sepertinya keingingan tersebut belum akan terwujud dalam waktu dekat

Meskipun begitu, saya mengucapkan banyak terima kasih pada kawat gigi ini dan dokter gigi saya, karena berkatnya kini saya jadi bisa tersenyum bebas dan tertawa lepas. Ada sedikit penyesalan karena ga dari kecil rajin ke dokter gigi. Kalau saya dulu rajin ke dokter gigi, pasti saya tidak perlu pakai kawat begini, tapi yasudah lah yang penting saya sekarang sudah berani ke dokter gigi dan merawat gigi saya sebagaimana mestinya. Better late than never, no?

 

 

Why do i wear hijab?

Kenapa pake hijab? Hmmm, jarang banget kayanya ada yang nanya kaya gini ke saya. Pernah seorang teman bertanya hal ini ke saya dan itu langsung mengingatkan saya pada masa-masa peralihan dari SMP ke SMA, karena pada saat itulah saya memutuskan untuk berhijab.

Selama 9 tahun saya berhijab, rasanya baru kali ini saya merenungkan tentang hakikat berhijab. Bermula dari perjalanan saya ke Korea, di mana saya tampak sangat berbeda dengan orang kebanyakan alias menjadi minoritas dan sempat mengalami kejadian yang tidak begitu menyenangkan. Peristiwa itu terjadi di Busan ketika saya dan kakak saya ingin mencari makan di stasiun setelah menaiki Busan City Tour Bus. Saat kami mau naik eskalator, ada ahjumma memakai selendang bertuliskan entah apa semacam selendang miss universe gitu. Ahjumma itu menghadang kami untuk naik eskalator sambil mengatakan “Jesus Yes, Allah No”. Awalnya saya tidak tahu apa yang dia katakan, tapi begitu kakak saya ngasitau dia ngomong apa, saya langsung kesel campur sedih karena itu pertama kalinya saya diganggu orang asing karena hijab yang saya kenakan. Kami akhirnya tidak mengindakan ahjumma itu dan menaiki eskalator lain yang tidak dihadangnya. Setelah kejadian itu, saya sempat agak trauma dan takut kalau warga Korea lainnya akan berbuat hal yang sama ke depannya mengingat itu baru hari liburan kedua saya di sana (dari total 10 hari). Untungnya, di sana kami tidak jarang juga bertemu warga lokal yang baik, bahkan tidak segan membantu atau pun menyapa kami, meskipun tidak dapat dipungkiri saat naik busway, kami seringkali “diamati”. Awalnya risih, tapi lama-lama jadi biasa dan saya anggap itu hanya karena penampilan kami yang sedikit berbeda dengan mereka. Menurut saya adalah hal yang wajar ketika ada sesuatu yang jarang kita lihat lalu kita mengamatinya? Asal mereka tidak berbuat jahat, buat saya ga masalah. Fyi, buat yang ke Korea dan berhijab jangan takut untuk ke sana, lebih banyak orang baiknya kok, saya malah ga kapok dan pengen balik lagi meskipun telah mengalami kejadian seperti itu, hehe.

Nah dari situ saya jadi penasaran sama kehidupan hijaber di Korea dan mulai lah saya browsing2 di youtube dan menemukan satu video menarik banget. Jadi di dalam video itu, sang pemilik channel yang merupakan orang Korea menginterviu para hijaber asal luar negeri yang tinggal di Korea. Mereka diberi pertanyaan seputar hijab mereka dan bagaimana orang-orang memandang mereka. Ada satu pertanyaan menarik dari si pewawancara terkait kecantikan yang intinya menanyakan bagaimana mereka rela untuk berhijab dan menutupi kecantikan mereka, padahal wanita pada umumnya ingin menunjukkan kecantikan pada orang lain. Ini mengingatkan saya pada beberapa teman yang pernah bilang ke saya bahwa saya lebih cantik tanpa hijab. Memang sempat terpikir ketika saya ngaca di kamar kalau saya memang lebih cantik dengan rambut terurai dan sempat mempertanyakan kenapa dulu saya memutuskan untuk berhijab, walaupun pada akhirnya itu tidak menyebabkan saya kepingin lepas jilbab. Salah satu hijaber yang diwawancarai memberi suatu jawaban atas pertanyaan tersebut, yang kemudian membuat saya semakin yakin bahwa keputusan saya berhijab memang tidak pernah salah dan saya bangga karenanya.  Hijaber tersebut berkata seperti ini,

I know without hijab, i look beautiful, but hijab is… Yes God asks us to wear hijab, but it’s also because it helps people connect to us more for who we are than how we look.

Just on point. Kalau boleh saya nambahin, hijab bagi saya adalah suatu bentuk perlindungan terhadap diri saya. Jujur aja, awal saya memutuskan untuk pakai hijab adalah karena merasa risih dengan tatapan orang-orang di pinggir jalan ketika saya yang waktu itu sedang mengalami masa puber, menaiki angkutan umum. Dari mulai siulan orang, sampai nama saya dipanggil karena saya pakai nametag di seragam sekolah. Hal itu sangat mengganggu, khususnya karena terjadi begitu sering. Saat itu saya berpikir bahwa mungkin kalau saya pakai hijab, orang-orang itu ga bakal gangguin saya di jalanan lagi karena saya akan terlihat kurang menarik di mata mereka. Keputusan itu dipertegas oleh pengaruh lingkungan juga, karena sahabat SMP saya sudah lebih dulu berhijab saat kelas 2 SMP dan kakak saya pun memakainya saat masuk SMA. Tidak ada paksaan atau dorongan sama sekali dari pihak manapun, akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk berhijab di hari pertama saya di SMA. Alhamdulillah, apa yang saya duga memang menjadi kenyataan. Setelah saya memakai hijab, tidak ada lagi siulan atau panggilan orang tak di kenal di pinggir jalan dan saya merasa jauh lebih aman di bawah hijab saya entah kenapa. Sejak saat itu hingga kini saya merasa bahwa hijab, selain menjadi identitas saya sebagai seorang muslim, juga banyak menghindarkan saya dari hal-hal buruk yang tidak semestinya saya lakukan atau alami. Jika seorang hijaber takut untuk tidak terlihat cantik karena hijabnya, itu karena apa yang terlihat bagus pada dirinya hanya nampak di luar, sedangkan sejatinya kecantikan itu berasal dari dalam diri yang kemudian dengan sendirinya akan terpancar ke luar. Atau jika seorang hijaber takut kehilangan teman karena hijabnya, itu karena apa yang disukai darinya hanya luarnya saja, bukankah kenyataan itu lebih menyakitkan? Saya bersyukur dengan apa yang saya miliki sejak saya menggunakan hijab, karena hijab telah “menyaringnya” dan saya yakin apa yang tersaring itu adalah yang terbaik.

Saya sangat senang melihat begitu besarnya perkembangan hijab  dan pengguna hijab di Indonesia. Banyak orang berlomba-lomba merancang busana hijab dan menjualnya di pusat-pusat perbelanjaan. Bahkan brand ternama seperti Uniqlo saja tak ingin kalah memasarkan busana muslimnya atas kerjasamanya dengan desainer Hana Tajima (gatau kalau di negara lain ada apa engga). Saya sih senang, karena dibandingkan dulu pas awal-awal pake hijab, sekarang jauh lebih mudah untuk mencari busana muslim yang nyaman. Meskipun demikian, saya harap itu tidak menjadi alasan seseorang untuk mulai menutup auratnya, karena hijab bukan sekedar mengikuti tren alias ikut-ikutan, melainkan sebuah komitmen diri sebagai wanita muslim untuk menjadikan pribadi yang lebih baik dan bersahaja.