Konsumtif, haruskah?

Suatu hari saya melihat kiriman sebuah akun clothing line yang berbunyi

“Fashion is like eating. You shouldn’t stick to the same menu”

lalu dia tambahkan caption “eat more, shop more” dengan maksud mengajak para followersnya untuk senantiasa belanja di toko dia.

Yang mengganggu pikiran saya adalah kenapa ya kayanya untuk jadi wirausahawan harus banget dibarengi dengan promosi berorientasi konsumtif. Itu mungkin sebabnya saya gasuka sama bidang marketing. Saya ga suka diboongin dan dipaksa, makanya saya ga mau ngeboongin atau memaksa orang untuk beli suatu produk. Dan lagi, penilaian seseorang atas suatu produk menurut saya sangat relatif dan berbasis selera. Jadi akan sangat bertentangan jika saya masuk ke dunia marketing di mana saya harus memasarkan produk yang mungkin saja saya ga suka atau menurut saya biasa aja.

And back to the quotes, sejak kapan pula fashion disamakan dengan makan. I can wear the same thing for a week if i want to and people should have no problem with that. Ada orang-orang yang bahkan ga mikir mau pakai apa karena bajunya cuma itu. Saya ga merasa itu etis untuk menampilkan quote seperti itu, meskipun saya tahu followersnya orang-orang mampu, tapi mengingat itu toko baju muslim dan saya tahu pemiliknya juga berhijab, saya agak gerah aja. It’s not what Islam teach us. Islam ga pernah mengajarkan untuk jadi konsumtif, untuk menghabiskan uang hanya demi gonta ganti baju setiap hari, hanya demi fashion.

Saya mungkin akan dianggap sebagai orang yang ga melek bisnis. Apapun itu, saya ga berpikir bahwa untuk jadi wirausahawan sukses harus dengan promosi yang masif dan ajakan pada konsumerisme. Dan kita ga bisa menyertakan testimoni kita sebagai bahan promosi ga sih, i mean siapa sih yang menilai buruk produknya sendiri untuk dijual? Kalau di kelas teori kebudayaan, katanya kita itu tidak bisa melabeli diri sendiri, tapi kita yang melabeli orang lain. Jadi, testimoni seharusnya datang dari orang lain yang sudah beli atau sudah pakai, dan bahkan dengan testimoni itu pun saya masih merasa bahwa selera orang beda-beda dan kadang kecewa atas suatu produk yg menurut pembeli lain dinilai bagus. Ya, at least saya bisa tahu bahwa selera saya tidak sama dengan kebanyakan orang dan saya harus lebih hati-hati ketika akan membeli suatu produk yang lagi hype. Buy what you need, not what everyone buys. Ketika kebetulan barang yang kita butuhkan itu adalah barang-barang yang banyak dibeli, ya ga masalah. At least motif kita untuk beli barang itu adalah kebutuhan.

Sekarang saya lagi belajar untuk memanfaatkan apa yang ada, untuk tidak tergiur dengan keluaran terbaru dan meyakinkan diri kalau saya tidak butuh itu. Saya butuh penggunaan atas barang-barang yang saya miliki sekarang, karena saya sadar bahwa suatu saat saya akan dimintai pertanggungjawaban terhadap setiap barang yang saya beli. Jika barang itu tidak saya gunakan, bukankah jadi sia-sia barang itu?

Saya tidak tahu bagaimana hukumnya dalam Islam untuk melakukan promosi berorientasi konsumtif ketika berdagang. Saya merasa sih itu keliru, tapi mungkin saya salah. Gataulah, saya merasa bahwa semakin ke sini semakin ga jelas batas antara yang benar dan yang salah. Semua tercampur aduk sehingga orang-orang menganggap apa yang salah itu adalah benar karena selalu berdampingan dengan yang benar. Dan pada akhirnya saya cuma bisa berdoa semoga saya selalu diberi petunjuk sama Allah tentang apa yang benar dan apa yang salah. Semoga begitu juga dengan kalian.

Iklan

People with their assumptions

20180324_1048111343786060.jpg

Beberapa teman saya menganggap saya anak yang beruntung karena tidak harus struggle dalam memperoleh uang, karena orangtua saya selalu provide saya setiap harinya. Saya selalu dibilang fancy karena selalu bawa uang cash dan jarang ke atm untuk ambil uang. Seolah saya ini Ariel The Little Mermaid yang nyanyi di depan mereka “wouldn’t you think i’m the girl, the girl who has everything?

Tentu saja saya merasa itu bukan pujian, melainkan bentuk sarkasme terhadap saya yang sudah cukup dewasa tapi belum bisa provide diri sendiri, seorang anak yang belum bisa mandiri dan masih numpang dan bergantung pada orang tua. Seolah-olah itu keinginan saya dan saya malas untuk berkembang dan nyaman berada di posisi saya sekarang. Well, no.

Oke, saya memang masih numpang dan masih dibiayai orang tua, khususnya biaya kuliah sekarang. Setiap hari dikasih uang saku. Ga pernah minta fyi. Sebenernya saya punya tabungan sendiri dan sejujurnya saya tidak pernah menuntut dan merengek pada orang tua untuk diberikan uang saku. Bahkan ketika saya bekerja sebelum kuliah lagi pun, saya tetap diberi uang saku meskipun ga minta. Bahkan kayanya kalau gaji saya 20 juta pun, selama saya masih belum menikah, mereka tetap akan provide saya. Saya tidak tahu bagaimana orang lain melihat hal ini. Mungkin beberapa orang menganggap saya harusnya menolak dan belajar untuk tidak menerima apapun dari orang tua dan menilai orang tua saya tidak mendidik dan terlalu memanjakan saya. Oke, itu pendapat mereka. Sementara, saya itu anaknya realistis, bukan oportunis. Saya belum menikah, belum mapan dan sekarang saya kuliah, lalu apakah saya harus menolak semua bantuan orang tua saya yang dengan sukarela mereka berikan? Saya tidak mau sok sok-an mau provide diri sendiri sementara saya tahu saya belum mampu. Di sisi lain, saya juga sadar kalau saya tidak boleh menyusahkan orang tua dengan tidak patuh kepada mereka atau bersikap buruk. So it’s like i pay them back by being a good girl untuk sementara, meskipun saya tahu itu kewajiban saya tanpa harus ada uang saku itu. And me being a good girl will not stop even when they don’t provide me anymore.

Dulu waktu saya bergaji, saya merasa berkuasa atas uang hasil kerja saya sendiri. Saya seperti bisa tunjukin ke orang-orang kaya awk**in kalau ini uang hasil keringet sendiri dan bebas mau dipake ngapain aja. Padahal ya, kalau dipikir-pikir semua yang ada di dunia ini hanya titipan. Dan uang itu, gaji itu cuma titipan. Yang namanya titipan, mana bisa sih kita semena-mena menggunakannya? Terus ketika saya merasa uang itu bertambah banyak karena kehebatan saya, rasanya salah banget. Yang hebat itu Allah, rezeki saya kala itu masuk melalui perantara perusahaan. Sementara sekarang, rezeki saya masuk melalui orang tua saya. Apa ada hal lain yang bisa saya lakukan selain bersyukur dan menggunakan uang tersebut untuk hal-hal baik? Ada temen saya nanya kenapa saya kuliah ga beasiswa aja? Seolah-olah kalau ga pake beasiswa, saya jadi berdosa dan cuma buang-buang duit ortu aja. Well, i don’t feel that smart, i’m that mediocre who dreams to be at least super capable in one field i really enjoy and i’m not an ambitious person! Saya itu chill, tapi lumayan ga santai kalau udah menyangkut deadline dan tanggung jawab. Saya bukan tipe orang yang tahu mau ngapain 5-10 tahun ke depan, saya hanya fokus pada apa yang ada di depan mata, menikmati proses sekarang untuk pelan-pelan jalan ke depan. Itu prinsip saya. Beasiswa itu menurut saya, walaupun saya tau ini anggapan yang tidak sepenuhnya benar, hanya untuk either yang kurang mampu or yang berprestasi alias yang pinter banget. Saya juga aware dengan segala administrasi yang harus diurus untuk beasiswa, dan saya tidak cukup ambisius untuk bisa commited sama hal-hal seperti itu. Sorry not sorry

Saya paham sekali, ortu saya sama sekali tidak bermaksud memanjakan saya dengan menyediakan kebutuhan saya, tidak. I know them too well. You don’t. Sejak kecil saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, TAPI kebutuhan saya selalu dipenuhi oleh mereka dan saya merasa sangat bersyukur akan hal itu. Ortu saya selalu tegas dan selektif ketika membelikan barang di luar kebutuhan pokok, tapi kalau masalah pendidikan dan kebutuhan pokok lain, bapak ga pernah ragu dan bahkan selalu support, apalagi mamah. Dan mereka tidak pernah memaksa saya untuk ikut les ini les itu, melainkan selalu memberi keleluasaan terhadap anaknya untuk belajar sebaik mungkin dan belajar memutuskan sendiri. Pada akhirnya, selalu saya yang minta les karena merasa kurang di beberapa mata pelajaran.

Saya memang tidak pernah diajarkan untuk cari duit sejak kecil, tapi saya selalu diajarkan untuk bersyukur terhadap hal-hal yang kecil, untuk tidak menghambur-hamburkan uang dan selalu bersikap dermawan terhadap orang yang membutuhkan. Saya selalu percaya bahwa rezeki saya mengalir melalui orangtua saya, karena selama belum menikah, saya masih menjadi tanggung jawab orang tua. Tapi dengan begitu, bukan berarti saya tidak punya keinginan untuk pay back in the future, meskipun saya tahu persis mereka tidak akan meminta apapun kecuali kasih sayang dari anak-anaknya.

I can relate to someone who said that dia tidak pernah menjawab pertanyaan seseorang ttg spesifikasi barang yang dia miliki, karena takut ketauan harganya dan dia jadi merasa dijudge utk kepemilikan barang yang harganya mungkin mahal itu padahal belinya susah payah nabung dan merasa tidak enak dengan orang-orang yang mungkin pengen punya tapi ga mampu beli.

Entahlah, pokoknya setiap kali ada orang yang bilang bahwa everything goes easy on me because of this and that saya merasa sedih. Saya merasa dinilai sebagai anak manja yang gatau susah, yang gatau cara nyuci piring, cara nyetrika baju, yang tangannya halus karena ga pernah kerja keras, yang ga tau apa-apa soal kehidupan di luar sana. Saya tanya, siapa sih di dunia ini yang hidupnya tanpa masalah atau kesusahan? Segampang-gampangnya hidup, sebahagia bahagianya orang terlihat dari luar, pasti ada aja lah kesulitan dalam hidupnya dan kesulitan itu gabisa kalian bandingkan atau samakan dengan kesulitan kalian. Setiap orang punya kesulitan masing-masing, cara masing2 dalam menghadapi masalah, dan ketahanan yang berbeda-beda. And for this reason, saya ga pernah kepengen jadi orang lain, siapapun itu, nabi sekalipun. Dia mungkin terkenal, kaya, inspiratif atau sifat positif apapun, tapi kita ga pernah tau kan apa yang udah diambil darinya sehingga dia mendapatkan apa yang dia miliki, juga seandainya kita jadi dia pun belum tentu kita tahan dengan apa yang dia hadapi.

“You know me, not my story” sering banget dilontarkan orang-orang seperti saya kepada mereka yang suka nge-judge. Trus dengan pinternya si tukang nge-judge ini bales “yakali gw harus kenal satu2 sama setiap orang yang gw nilai, makanya penampilannya dijaga, sikapnya dijaga supaya dari luar ga dinilai buruk” and i be like…ya bener juga tapi sebenernya dia sadar ga sih kalau dia itu ga perlu repot-repot.

Kita ga perlu tahu story orang lain, kita ga perlu kenal dalam dengan orang lain untuk memvalidasi penilaian kita. Yang kita perlukn cuma khusnuzon. Saya pernah ngetwit dan sumbernya kalau ga salah dari hadith, bahwa

for what is hidden and unkown, we are obligated to stay khusnuzon

Jadi kalau gatau apa-apa, gatau pasti, kita gausah berasumsi. Atau kalau mau berasumsi, berasumsilah secara positif, bukan negatif. Gitu loh jeung.

Entahlah, rasanya butuh sampai kiamat untuk membuat seluruh manusia mengerti akan hal itu.

Monster Jalanan

Memang ya segala tindakan yang kita ambil saat marah, ketika emosi menguasai pikiran, akan berbuah penyesalan di kemudian hari.

Dulu ketika saya belum bisa menyetir dan selalu berada di kursi penumpang, ketika saya melihat sang supir yang adalah kakak atau bapak saya, marah-marah ketika ada sesuatu hal di jalan yang mengganggu kenyamanan berkendara, saya selalu berpikir “sabar aja kali gausah marah-marah”. Sebagai penumpang, saya selalu melihat sikap pengendara yang kerap marah-marah itu adalah hal berlebihan. Saya tidak tega melihat pengendara motor seperti ojek online diklakson panjang oleh mobil hanya karena sedikit mengganggu, beda halnya ketika mereka memang benar-benar bikin ulah, misal: nyalip dari kiri trus langsung motong belok kanan. Kalau itu sih memang minta diklakson. Anyway, saya sempat berpikir bahwa klakson itu sebaiknya tidak usah diciptakan karena akan menyebabkan polusi suara dan menyakiti perasaan para pengendara.

Setelah saya bisa bawa mobil dan berada di kursi sang supir, saya seolah berubah menjadi sedikit egois. Saya tidak suka dengan mobil yang berjalan pelan di jalur kanan, motor yang jalannya tersendat-sendat karena sambil liat ponsel, angkot yang berhenti semaunya, mobil yang pindah lajur tapi gak pake lampu sen, mobil yang mau nyalip saat saya lagi melaju kencang, orang yang mau nyebrang saat lagi asik-asiknya melaju, itu semuanya rasanya ingin saya tepis ketika saya melaju di jalan, caranya adalah dengan mengklakson. Tidak ada lagi diri saya yang dulu duduk di kursi penumpang dengan prinsip sabarnya.

Setelah sampai rumah dan malam pun tiba, saya mulai merenung. Entah kenapa rasanya saya seperti habis menzalimi banyak orang dan sangat menyesal karena sudah kebanyakan nglakson hari itu. Kenapa saya tidak mencoba untuk mengerti posisi mereka yang “menghambat” saya. Mereka mungkin ada yang sedang mencari alamat, baru belajar mobil, belum terbiasa menyetir, belum hapal jalan, lupa menyalakan lampu sen padahal biasanya ingat, dan berbagai kemungkinan lainnya yang benar-benar tidak terpikir ketika saya sedang menyetir, hal-hal yang mungkin saja pernah saya lakukan di masa lalu ketika belum lancar mengendarai mobil. Padahal, kalau diingat-ingat, saya juga pernah pindah jalur tanpa lampu sen karena lupa dan nyalip tapi maksa karena nanggung. Kadang malu diri ini dengan pengemudi kendaraan umum yang sering saya lihat kedapatan memberi jalan bagi para penyeberang, meskipun mereka lebih sering menyebalkan sih karena suka berhenti sembarangan dan mengambil bahu jalan.

Saya selalu bertekad untuk sebisa mungkin meminimalisir penggunaan klakson, tapi jalanan Jabodetabek seakan tidak mendukung resolusi saya itu. Tiada hari tanpa klakson sepertinya sudah menjadi motto para pengemudi masa kini. Di Jabodetabek deh setidaknya. Kursi pengemudi seolah memiliki jurus hipnotis tersendiri yang membuat orang yang menduduki berubah menjadi “monster jalanan”. Apakah semua pengemudi merasakan hal demikian?

 

Keresahan

Saya gak tau kenapa akhir-akhir ini negara saya atau setidaknya seperti yang terlihat di media sosial dan media massa gemar sekali bergulat di isu sara, di mana orang-orang terlihat sensitif dan saling sindir dan serang dengan menyinggung suku, ras, atau agama satu sama lain. Dari mulai kasus mantan gubernur hingga sekarang yang paling anyar adalah kasus para komika. Beberapa orang menilai mereka tidak berniat menistakan agama sama sekali dan bahkan untuk kasus komika ini, banyak yang bilang bahwa model lelucon semacam itu adalah hal yang lumrah dalam dunia komedi? Well, mari kita buat perumpamaannya.

Ketika ada orang yang tidak sengaja menabrak mobil seseorang, apakah kita bisa mengatakan penabrak itu tidak menabrak? Tidak sengaja dan tidak bermaksud, tentu. Tapi dia tetap menabrak, bukan? Menyebabkan mobil orang lain rusak. Bukankah bodoh sekali ketika orang tersebut mati-matian membela diri di saat sudah terdapat bukti yang nyata bahwa mobilnya menabrak? Lalu, jika tabrakan tersebut adalah hal yang lumrah terjadi di kawasan tersebut, apakah berarti kita harus menabrak? Apakah kita tidak akan menghindar dan berupaya mencegah? Kita masih tetap berstatus pengguna jalan, meskipun kita tidak menabrak. Kita tidak harus melakukan hal yang lumrah. Kita harus melakukan hal yang benar. Apakah lumrah berarti benar? That is the question.

Manusia itu memang suka meniru. Kalau sejak kecil kita suka meniru tingkah laku orang tua, ketika dewasa kita suka meniru apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang di sekitar kita. Tidak ada yang salah dengan meniru, dalam Islam pun umatnya dianjurkan untuk meniru cara hidup Rasulullah, karena itulah yang diperintahkan oleh Allah dan sebagai orang yang beriman seharusnya meyakini bahwa apa yang ditiru dari Rasulullah adalah baik dan mengikutinya akan membawa kebaikan dalam hidup kita. Kita semua sepakat bahwa meniru sesuatu yang baik akan menghasilkan kebaikan dan berlaku pula kebalikannya. Meniru sesuatu yang buruk pun akan menghasilkan pula keburukan. Ironisnya, ada orang-orang yang menganggap apa yang dia tiru adalah kebaikan hanya karena semua orang melakukannya and it seems there is nothing wrong with it, while in fact there is! Yang haram tetap haram meskipun semua orang melakukannya dan yang halal tetap halal meskipun hanya satu orang yang melakukannya. Begitu kira-kira kutipan yang saya ingat.

Halal dan haram bukan hanya sesederhana ga boleh makan babi dan alkohol. Banyak muslim yang hanya memahami permukaan terluar dari perkara halal dan haram. Misalnya ketika ke luar negeri, mereka hanya akan menghindari daging babi dan minuman keras, padahal cara standar memasak fish and chips yang saya lihat di Masterchef UK itu memakai bir sebagai campuran tepungnya.  Ya, kita engga tau bahwa makanan dan minuman yang terlihat halal karena tidak tertulis sebagai “babi” atau “alkohol” ternyata mengandung keharaman di dalamnya, dalam cara memasaknya, dalam cara memotong dagingnya, dan semacamnya. Sama seperti memakai kerudung, beberapa orang merasa sudah memenuhi kewajiban sebagai seorang muslimah dengan memakai kerudung. Udah, titik. Padahal kerudung tersebut punya kriteria tersendiri yang diperbolehkan dalam Al-Quran. Baju tidak boleh ketat, kerudung harus menutup dada, harus pakai kaus kaki, dan semacamnya. Tidak semua langsung bisa memahami semua hal ini, tapi setidaknya kita bisa belajar pelan-pelan, termasuk saya.

Saya setuju dengan pendapat seseorang bahwa kita harus fair dalam menilai orang. Kita tidak bisa melulu melihat si tersangka dari perilaku buruknya dan melupakan perilaku-perilaku baiknya. Kita tidak bisa terus menghakimi tanpa memahami maksud mereka sebenarnya. Bahwa para komika ini hanyalah mengekspresikan keresahan-keresahan dalam lingkungannya, hanya saja timing mereka tidak tepat dengan cara penyampaiannya yang seperti itu. Yang satu menyampaikan “kecemburuan”nya sebagai minoritas dan yang satu lagi menyampaikan “rasa muak”nya terhadap perilaku pendukung kubu lawan yang terlalu mengagung-agungkan dukungannya. Iya, memang sah-sah saja menyampaikan keresahan, layaknya kita curhat dalam buku harian, nge-tweet, dan nulis status di Facebook. Namun kenyataannya, bahkan ruang sepribadi itu pun dapat menjadi bumerang jika kita tidak hati-hati. Orang bisa dituntut karena statusnya, dan bahkan karena tulisan keluhannya kepada salah satu rumah sakit swasta kala itu. Apakah dengan peristiwa-peristiwa seperti itu orang-orang belum juga sadar bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya kebebasan dalam dunia ini? Yang ada hanyalah kebebasan bertanggung jawab. Kita bebas menyampaikan apa yang ada di benak kita, tapi kita harus siap dengan konsekuensi yang kita terima. Hidup itu bukan bagaimana kita hidup sebebas-bebasnya, tapi bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan kehidupan ini di hari pembalasan nanti. Dan saya rasa itu yang sudah dilupakan oleh sebagai besar umat manusia.

August

Jpeg

August is indeed the month of events. Various important and memorable events occur within this month. Aside from the independence day Indonesia will celebrate on 17th and Korea had celebrated on 15th, i just came to know that Lady Diana also died on August, on the very end of August to be exact. Because of that, some medias broadcast some programs relating to her, for instance is Diana : In Her Own Words aired by National Geographic.

As we all know, Diana’s story has been controversial. She was always interesting to be talked about. I knew from history that she was not happy with her royal life but what she hided behind every single smiles back then turned out to be too hurtful to hear. As a woman and as a mother, she was not respected by her very own inner circle which is her husband and the royal families. Despite she was often adored by many in public more than any other royal family members, it was not enough to make her comfortable and happy. Why? Because she didn’t get any credits from her own royal families and she was forced to hide it in front of the public or media.

In the first episode she said desperately “All i want is they give me credits and tell me that i have been doing well” Diana was too young to play a big role as a Princess of Wales but despite those factors, her surroundings didn’t give any support at all. It was already a burden to herself to be in that position in such a young age, but the royal families and some medias doubled up that burden by putting a blame on her for not behaving in a certain way. Her own husband even scolded her often for complaining too much while she was expecting her first child. Can you imagine how she felt at the moment? I can’t even imagine.

Here i am not intended to discuss more about Diana, but instead i will take her as an example about how is the inside more powerful than the outside. We often hear bad or good comments from people we not really know or don’t know at all, but the question is does it badly affect us? It does, but admit it you will eventually get rid of it a days later because you know they don’t know you well enough so it doesn’t really matter. But what if those comments come from your own family or your closest friends who know you inside out? If it is support, you will feel all supported as if all nations supporting you and if it is humiliation, how will you take it?

Somehow, no to exaggerate, i have been sort of experiencing what Lady Diana had. Of course it was not that bad, but i felt like at the moment the whole world was against me except Allah. Allah alone should be enough, right? But to be honest i was badly hurt too. In one time they supported me, the other time they blamed me because i was not good enough and that i was spoiled brat and lazy and that i didn’t do anything useful all day and i have been a burden to some because of my inability to do certain things. They often spoke from their own perspectives. I will not defend much here and i didn’t either back then.

Since it came out from their mouths, my closest relations, the hurt was multiplied by two. They didn’t realize this because i kept acting like it was not a big deal to me while in fact it truly was. As someone who is struggling to reach her dreams or live her life properly, i faced various obstacles that maybe in others’s eyes was nothing. And what is worse was they were there not to help overcoming those obstacles, but instead to humiliate because they thought if they were me they would have passed those things easily. Some moments they spoke it out of tease that sounded more of truth.

Actually, there was no wrong or right in this case. We both can be wrong and we both can be right, so it was not best to play victim and blame one another. All i want to highlight in this issue is that family and friends are often the main source of support for most people. We seek and expect support mostly from them after Allah. If we cannot give our support because of one and another thing, at least we don’t belittle them. Remember, we are humans who has feelings. Even the toughest person can be hurt too. There isn’t any reason in Islam that gives us rights to hurt other people’s feelings. It is why good deeds is not only about praying, fasting and reading Quran, but also about how we behave to other people, how far we have practiced our Islam in our environment and in our life as general.

None is more virtuous over another except by righteous deeds.

Madain Saleh and what lessons we can earn from it.

WARNING: Some contents might be sensitive. Kindly be advised.
Jpeg

Pada saat umroh beberapa bulan lalu, saya beserta keluarga dan rombongan berkesempatan mengunjungi Madain Saleh yang berjarak kurang lebih 300 km dari kota Madinah.

Apa itu Madain Saleh?

Jujur, awalnya saya ga tau apa-apa tentang ini. Baru tau pas dalam perjalanan ke sana. Itu juga karena diberitahu oleh Pak Haji pemimpin rombongannya.

Jadi, Madain Saleh adalah tempat tinggal kaum Tsamud pada zaman Nabi Saleh a.s yang dibinasakan (ditimpakan azab) karena mengingkari Allah dan para nabi dan rasul.

Ya, itu tempat bekas dikenai azab.

Bekas azab, saudara-saudara.

Tapi, bodohnya saya, karena saya belum membaca apa-apa soal kisah kaum Tsamud ini (padahal ada dalam Al-Quran) dan saya belum tahu ada hadits yang meriwayatkan bahwa kita tidak boleh mengunjungi tempat-tempat yang pernah diazab Allah kecuali dengan menangis, saya senang-senang aja tuh pas di sana, sama sekali tidak merenungkan dan mengambil pelajaran.

“Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak bisa menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian. (HR. Bukhari 433).”

Akibat ketidaktahuan dan kepolosan hamba yang kurang ilmu ini, layaknya turis yang mengunjungi tempat wisata, saya dan bahkan mayoritas rombongan asyik foto-foto di sana. Dan memang saya akui tempat itu luar biasa indah dan mengagumkan. Belum pernah saya lihat tempat seperti itu di manapun.

Pak Haji juga tidak memperingatkan kami tentang riwayat hadits ini, jadi kami atau saya to be exact santai-santai saja saat berkunjung ke sana dan bertindak seolah-olah sedang bertamasya. Maafkan hambamu ini ya Allah.

Setelah pulang umroh, saya jadi penasaran sama kaum Tsamud ini dan ingin tahu betapa hebatnya mereka bisa memahat gunung-gunung batu menjadi tempat tinggal mereka dan bagaimana ceritanya hingga kehebatan mereka itu akhirnya dibinasakan. Apa sih dosa mereka? Apa yang mereka perbuat di muka bumi ini?

Mulailah saya membuka Al-Quran kemudian membacanya beserta terjemahannya tentunya. Saya ga hapal, tapi seingat saya di dalam Al-Quran berkali-kali dan cenderung sering disebutkan tentang kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah, yaitu Kaum Nabi Nuh a.s, Kamu Nabi Luth a.s, Kaum Ad, Kaum Tsamud, dan Kaum Firaun sebagai pelajaran untuk kaum muslimin agar tidak seperti mereka, agar jangan sampai umat Nabi Muhammad saw ditimpakan azab serupa karena tidak mau beriman pada Allah.

Setelah baca Al-Quran, saya jadi tahu inti dari kisahnya, bahwa

Kaum Tsamud ini awalnya adalah kaum yang hebat. Mereka mampu membangun istana di atas tanah yang datar dan bahkan memahat gunung-gunung batu menjadi rumah mereka dengan indahnya. Mereka mendapatkan nikmat yang sangat besar,
tapi tidak mau beriman kepada Allah dan bersikap angkuh di muka bumi.

”Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS al-A’raf: 74)

Nabi Saleh a.s diutus oleh Allah untuk memperingatkan mereka agar menyembah Allah, tapi karena keangkuhan mereka di muka bumi, mereka enggan beriman. Mereka tidak percaya dengan Allah dan bahwa Nabi Saleh a.s itu utusan Allah. Sehingga pada suatu waktu mereka menantang Nabi Saleh untuk memunculkan unta istimewa dari batu, karena mereka tidak percaya itu akan terjadi dan supaya Nabi Saleh berhenti berdakwah pada mereka. Namun, atas kuasa Allah, unta tersebut benar-benar muncul dari batu dan Nabi Saleh memperingatkan kaum Tsamud agar tidak mengganggu unta tersebut, apalagi menyembelihnya. Namun sekali lagi, karena keangkuhan mereka, sebagian besar dari mereka tetap tidak mau beriman setelah didatangkan mukjizat tersebut dan mereka malah menyembelih unta tersebut. Maka dari itu, Allah mengazab mereka dengan petir yang menggelegar hingga meruntuhkan bangunan tempat tinggal mereka.

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tshamud.” (QS Hud ayat 67-68).

Ya, tentunya ini menjadi pelajaran bagi umat muslim, bahwa betapapun manusia bisa membangun ini dan itu di muka bumi dengan ilmu mereka, berkuasa atas banyak hal, dan hebat di mata manusia, itu semua menjadi tidak berarti jika mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Pelajaran ini tidak hanya relevan pada zaman itu, melainkan juga sampai saat ini. Dan kalau boleh saya kaitkan dengan kasus pak mantan gubernur Jakarta yang di penjara itu, betapa banyak orang yang mengaku muslim yang membela beliau, bahkan memilih beliau hanya karena (katanya) kinerjanya bagus dan dia pandai mengelola ini dan itu sehingga menghilangkan banyak permasalahan di ibukota.

Gausah jauh-jauh sebenarnya, bahkan teman saya sendiri pun pengagum beliau dan terang-terangan membela dan memilih beliau.

Ya teman saya itu muslim.

Mungkin mereka memakai logika bahwa bagaimana mungkin mereka tidak memilih beliau sementara sudah terbukti (katanya) kinerja beliau dan bagaimana mungkin mereka memilih kandidat lainnya yang seiman dengan mereka tapi belum terbukti kinerjanya dan programnya mengada-ada (kata mereka).

Saya pribadi memang dari awal tidak pernah condong dan sreg dengan bapak mantan gubernur itu. Tidak suka namun juga tidak benci. Awalnya. Tidak sampai beliau membuat pernyataan tentang surat Al-Maidah ayat 51. Ingin saya biasa-biasa saja atas ucapan beliau itu, tapi hati kecil saya seperti enggak rela dan marah dengan -kalau boleh saya bilang- kesoktahuan dan kelancangan beliau.

Ya, saya jadi tidak respect terhadapnya, meskipun di hadapan teman saya, saya bersikap biasa saja, karena saya tahu mereka tidak akan sependapat dengan saya dan saya tidak mau berdebat akan hal itu mengingat ilmu agama saya masih cetek.

Saya dulu sempat berlogika seperti mereka. Kenapa ya kok kita disuruh milih yang muslim padahal begini begitu dibanding nonmuslim?
Subhanallah, Allah langsung memberi jawaban atas itu dan kembali meyakinkan hati saya bahwa itu memang perintah Allah dan saya harus menjalankannya (meskipun saya bukan pemilih saat itu).

Bagaimana cara Allah menjawab saya?

Dr. Zakir Naik datang ke Indonesia dan beberapa saat setelahnya banyak video ceramahnya di Indonesia yang telah diunggah ke youtube bahkan diterjemahkan. Saya sudah menonton beberapa video beliau sejak tahun lalu dan sesungguhnya saya penasaran bagaimana pendapatnya mengenai pemilihan gubernur yang diributkan masyarakat Indonesia ini.

Alhamdulillahnya, banyak videonya yang membahas tentang pemilihan gubernur dan dia memberikan banyak perumpaan yang menurut saya sangat masuk akal dan sulit dibantah, serta semakin meyakinkan hati saya tentang perintah Allah tersebut.
Saya tidak akan menjabarkan analoginya di sini, silakan tonton saja di youtube, tapi pada intinya dia mengatakan bahwa apa gunanya membangun gedung-gedung, memberantas kemiskinan, dan lain sebagainya tetapi dia tidak beriman kepada Allah?
Bukan dia yang menjadikan kemiskinan itu hilang, tapi Allah. Di tangan Allah lah semua urusan diatur.  Kita manusia hanyalah perantaranya, jadi menurut saya tidak sepantasnya umat Islam mengagumi kehebatan beliau, karena tanpa seizin Allah itu semua tidak akan terjadi. Allah lah yang sepantasnya kita puji.

Dan argumen ini diperkuat oleh Al-Quran sendiri melalui kisah-kisah kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah.

Lihatlah kerajaan Firaun yang bahkan jauh lebih hebat dari Jakarta ini, atau kaum Tsamud yang mampu memahat gunung-gunung batu dengan indahnya.
Kalau kita hidup di zaman itu, pastilah kita mengagumi kehebatan mereka jauh dari kita (saya sih enggak) mengagumi bapak gubernur ini. Tapi, dengan kehebatan sebesar itu,
apakah mereka cukup kuat menghadang banjir, gempa, dan bencana hebat lainnya yang diturunkan oleh Allah? Sama sekali enggak.

Sudah besar kekuatan dan kehebatan mereka, eh ujung-ujungnya binasa juga karena tidak mengimani Allah dan para rasul.

Apalah manusia tanpa Allah.

Kaum-kaum yang disebutkan dalam firman Allah ini tentu bukan kaum sembarangan.
Mereka jauh lebih hebat dari gubernur ibukota, tapi lihat apa akibatnya saat mereka
mengingkari Allah.

Kalau Allah berkehendak, Jakarta bisa saja -amit-amit- dibinasakan, mudah banget bagi Allah. Tapi sepertinya Allah ingin menunjukkan hal lain dan memberikan pelajaran bagi umat muslim di Indonesia, sekaligus menunjukkan siapa di antara mereka yang termasuk orang-orang munafik.

Tentunya sebagai umat Islam yang beriman, kita harus bijak ke depannya dalam menghadapi persoalan seperti ini. Saran saya, jangan kebanyakan nonton TV dan baca artikel LINE TODAY. Kalau sudah ada perdebatan tentang ini dan itu, Allah bilang segera kembalilah ke Al-Quran. Dan Allah sudah buktikan itu, di Al-Quran kita bisa lihat jawabannya. Suka atau tidak suka, kita harus patuhi sebagai orang yang mengaku beriman kepada-Nya. Saya yakin di balik setiap perintah Allah itu ada kebaikan.

Kalau masalah pemilihan gubernur aja kita gabisa yakin, bagaimana status keyakinan kita pada Allah? Jangan-jangan syahadat kita sudah batal karena menafikkan perintah-perintah Allah yang jelas-jelas tertulis dalam Al-Quran, naudzubillah.

Di suatu ceramah yang saya tonton di youtube menyebutkan bahwa para Nabi itu ketika diperintahkan oleh Allah suatu hal, mereka langsung menjalankan tanpa meragukannya, walaupun belum tahu apa hikmahnya. Contohnya Nabi Ibrahim a.s yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Beliau mana tahu anaknya nanti bakal diganti dengan domba, tapi beliau yakin saja kepada Allah bahwa Allah tidak akan menghendaki sesuatu pada hambanya kecuali kebaikan dan benar Allah tunjukkan itu pada akhirnya dengan mengganti Ismail a.s dengan domba untuk disembelih.

Kalau Nabi aja enggak berani mempertanyakan perintah Allah, lalu siapa kita berani menafikkan perintah Allah dalam surat Al Maidah ayat 51?

Katanya yakin dengan keberadaan Allah, tapi kok masih ragu-ragu menjalankan perintah-Nya? Ragu dengan janji-janji-Nya? Yakinlah dengan janji Allah terhadap orang-orang yang bersabar saat menjalankan perintah Allah. Kata ustad Hanan Attaki, sabar tingkat tinggi itu bukan sabar saat kedatangan musibah, tapi sabar saat beribadah.

Semoga Allah subhanahuwataala mengampuni dosa-dosa kita dan mengarahkan kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.

“Do not walk proudly on the earth; you can neither tear the earth apart nor can you rival the mountains in height.” (Qur’an 17:37)

Birthday

Two months to go to August means two months to go to turning 25.

Honestly i’m not a big fan of birthday and neither are my family. The only thing i like about my birthday is just how i share the same born date with mom. Since i was a kid, i never had a birthday party or celebration even once. The biggest event that ever happened during my birthday was having my colleagues brought me a dozen of donuts with candle on it for me to blow while they sang “happy birthday” song to me, that’s all. I was so touched literally since i didn’t expect them to do things like that at all. I was thankful but at a same time didn’t know what to do and started to think that they might be disappointed by my flat or not so overwhelming response – you know that guilty feeling.

So what do i and my family usually do on birthdays?

Let me tell you something. This is what i love about my family. They are extremely simple when it comes to events. Normally on one of our birthdays, we would just said to each other “Oh today is her/his birthday” with flat intonation, or if there’s no one remember it, we would say (and it’s usually me and my sister LOL) “it’s my birthday today” and then they congratulate the birthday girl/boy, also without so much enthusiasm. After that, we will decide where to eat on weekends (whenever the birthday is, we will “celebrate” it on weekend), even sometimes my father will be reluctant to join the ladies if he is too tired :D. No presents since we all are adults now and no cake cutting. Mom said, “who would eat the whole cake at home?” Well, she is right. My family have a bad habit of buying foods, eat only a tiny piece of them and leave it on the refrigerator for eternity, until we throw them out because they have been there too long or when they stink already. (Don’t be like us!)

Not just the birthday. I don’t even know my parent’s wedding anniversary date because they never celebrate it even once. What i know is just they married on November 1989 and that was because of the month and the year marked on their old wedding photos i was looking at, not because they told me. They are so anti-events, so to speak. However, raised in a family in which such events do not that matter is such a blessing for me. Why? Because it made me think, behind those important dates people will assume, there are far more important things we could pay more attention to. For instance, what to eat today and if there’s enough brown rice in stock. Lol, just kidding. I just love their simplicity.

I learn from them that we should not rely our happiness on any events or celebration. We could careless about the birthday, yet we could still be happy.  So please don’t get me wrong if sometimes i forgot or just don’t feel like saying “happy birthday”. It’s not that “i don’t remember yours” or “i don’t care about you anymore” or even worst “i stop loving you”. It’s just me who personally think birthday shouldn’t be a big deal in everyone’s life. It is just a birthday, anyway. And i still love you.

Sincerely,

66% introverted girl