Madain Saleh and what lessons we can earn from it.

WARNING: Some contents might be sensitive. Kindly be advised.
Jpeg

Pada saat umroh beberapa bulan lalu, saya beserta keluarga dan rombongan berkesempatan mengunjungi Madain Saleh yang berjarak kurang lebih 300 km dari kota Madinah.

Apa itu Madain Saleh?

Jujur, awalnya saya ga tau apa-apa tentang ini. Baru tau pas dalam perjalanan ke sana. Itu juga karena diberitahu oleh Pak Haji pemimpin rombongannya.

Jadi, Madain Saleh adalah tempat tinggal kaum Tsamud pada zaman Nabi Saleh a.s yang dibinasakan (ditimpakan azab) karena mengingkari Allah dan para nabi dan rasul.

Ya, itu tempat bekas dikenai azab.

Bekas azab, saudara-saudara.

Tapi, bodohnya saya, karena saya belum membaca apa-apa soal kisah kaum Tsamud ini (padahal ada dalam Al-Quran) dan saya belum tahu ada hadits yang meriwayatkan bahwa kita tidak boleh mengunjungi tempat-tempat yang pernah diazab Allah kecuali dengan menangis, saya senang-senang aja tuh pas di sana, sama sekali tidak merenungkan dan mengambil pelajaran.

“Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak bisa menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian. (HR. Bukhari 433).”

Akibat ketidaktahuan dan kepolosan hamba yang kurang ilmu ini, layaknya turis yang mengunjungi tempat wisata, saya dan bahkan mayoritas rombongan asyik foto-foto di sana. Dan memang saya akui tempat itu luar biasa indah dan mengagumkan. Belum pernah saya lihat tempat seperti itu di manapun.

Pak Haji juga tidak memperingatkan kami tentang riwayat hadits ini, jadi kami atau saya to be exact santai-santai saja saat berkunjung ke sana dan bertindak seolah-olah sedang bertamasya. Maafkan hambamu ini ya Allah.

Setelah pulang umroh, saya jadi penasaran sama kaum Tsamud ini dan ingin tahu betapa hebatnya mereka bisa memahat gunung-gunung batu menjadi tempat tinggal mereka dan bagaimana ceritanya hingga kehebatan mereka itu akhirnya dibinasakan. Apa sih dosa mereka? Apa yang mereka perbuat di muka bumi ini?

Mulailah saya membuka Al-Quran kemudian membacanya beserta terjemahannya tentunya. Saya ga hapal, tapi seingat saya di dalam Al-Quran berkali-kali dan cenderung sering disebutkan tentang kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah, yaitu Kaum Nabi Nuh a.s, Kamu Nabi Luth a.s, Kaum Ad, Kaum Tsamud, dan Kaum Firaun sebagai pelajaran untuk kaum muslimin agar tidak seperti mereka, agar jangan sampai umat Nabi Muhammad saw ditimpakan azab serupa karena tidak mau beriman pada Allah.

Setelah baca Al-Quran, saya jadi tahu inti dari kisahnya, bahwa

Kaum Tsamud ini awalnya adalah kaum yang hebat. Mereka mampu membangun istana di atas tanah yang datar dan bahkan memahat gunung-gunung batu menjadi rumah mereka dengan indahnya. Mereka mendapatkan nikmat yang sangat besar,
tapi tidak mau beriman kepada Allah dan bersikap angkuh di muka bumi.

”Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS al-A’raf: 74)

Nabi Saleh a.s diutus oleh Allah untuk memperingatkan mereka agar menyembah Allah, tapi karena keangkuhan mereka di muka bumi, mereka enggan beriman. Mereka tidak percaya dengan Allah dan bahwa Nabi Saleh a.s itu utusan Allah. Sehingga pada suatu waktu mereka menantang Nabi Saleh untuk memunculkan unta istimewa dari batu, karena mereka tidak percaya itu akan terjadi dan supaya Nabi Saleh berhenti berdakwah pada mereka. Namun, atas kuasa Allah, unta tersebut benar-benar muncul dari batu dan Nabi Saleh memperingatkan kaum Tsamud agar tidak mengganggu unta tersebut, apalagi menyembelihnya. Namun sekali lagi, karena keangkuhan mereka, sebagian besar dari mereka tetap tidak mau beriman setelah didatangkan mukjizat tersebut dan mereka malah menyembelih unta tersebut. Maka dari itu, Allah mengazab mereka dengan petir yang menggelegar hingga meruntuhkan bangunan tempat tinggal mereka.

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tshamud.” (QS Hud ayat 67-68).

Ya, tentunya ini menjadi pelajaran bagi umat muslim, bahwa betapapun manusia bisa membangun ini dan itu di muka bumi dengan ilmu mereka, berkuasa atas banyak hal, dan hebat di mata manusia, itu semua menjadi tidak berarti jika mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Pelajaran ini tidak hanya relevan pada zaman itu, melainkan juga sampai saat ini. Dan kalau boleh saya kaitkan dengan kasus pak mantan gubernur Jakarta yang di penjara itu, betapa banyak orang yang mengaku muslim yang membela beliau, bahkan memilih beliau hanya karena (katanya) kinerjanya bagus dan dia pandai mengelola ini dan itu sehingga menghilangkan banyak permasalahan di ibukota.

Gausah jauh-jauh sebenarnya, bahkan teman saya sendiri pun pengagum beliau dan terang-terangan membela dan memilih beliau.

Ya teman saya itu muslim.

Mungkin mereka memakai logika bahwa bagaimana mungkin mereka tidak memilih beliau sementara sudah terbukti (katanya) kinerja beliau dan bagaimana mungkin mereka memilih kandidat lainnya yang seiman dengan mereka tapi belum terbukti kinerjanya dan programnya mengada-ada (kata mereka).

Saya pribadi memang dari awal tidak pernah condong dan sreg dengan bapak mantan gubernur itu. Tidak suka namun juga tidak benci. Awalnya. Tidak sampai beliau membuat pernyataan tentang surat Al-Maidah ayat 51. Ingin saya biasa-biasa saja atas ucapan beliau itu, tapi hati kecil saya seperti enggak rela dan marah dengan -kalau boleh saya bilang- kesoktahuan dan kelancangan beliau.

Ya, saya jadi tidak respect terhadapnya, meskipun di hadapan teman saya, saya bersikap biasa saja, karena saya tahu mereka tidak akan sependapat dengan saya dan saya tidak mau berdebat akan hal itu mengingat ilmu agama saya masih cetek.

Saya dulu sempat berlogika seperti mereka. Kenapa ya kok kita disuruh milih yang muslim padahal begini begitu dibanding nonmuslim?
Subhanallah, Allah langsung memberi jawaban atas itu dan kembali meyakinkan hati saya bahwa itu memang perintah Allah dan saya harus menjalankannya (meskipun saya bukan pemilih saat itu).

Bagaimana cara Allah menjawab saya?

Dr. Zakir Naik datang ke Indonesia dan beberapa saat setelahnya banyak video ceramahnya di Indonesia yang telah diunggah ke youtube bahkan diterjemahkan. Saya sudah menonton beberapa video beliau sejak tahun lalu dan sesungguhnya saya penasaran bagaimana pendapatnya mengenai pemilihan gubernur yang diributkan masyarakat Indonesia ini.

Alhamdulillahnya, banyak videonya yang membahas tentang pemilihan gubernur dan dia memberikan banyak perumpaan yang menurut saya sangat masuk akal dan sulit dibantah, serta semakin meyakinkan hati saya tentang perintah Allah tersebut.
Saya tidak akan menjabarkan analoginya di sini, silakan tonton saja di youtube, tapi pada intinya dia mengatakan bahwa apa gunanya membangun gedung-gedung, memberantas kemiskinan, dan lain sebagainya tetapi dia tidak beriman kepada Allah?
Bukan dia yang menjadikan kemiskinan itu hilang, tapi Allah. Di tangan Allah lah semua urusan diatur.  Kita manusia hanyalah perantaranya, jadi menurut saya tidak sepantasnya umat Islam mengagumi kehebatan beliau, karena tanpa seizin Allah itu semua tidak akan terjadi. Allah lah yang sepantasnya kita puji.

Dan argumen ini diperkuat oleh Al-Quran sendiri melalui kisah-kisah kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah.

Lihatlah kerajaan Firaun yang bahkan jauh lebih hebat dari Jakarta ini, atau kaum Tsamud yang mampu memahat gunung-gunung batu dengan indahnya.
Kalau kita hidup di zaman itu, pastilah kita mengagumi kehebatan mereka jauh dari kita (saya sih enggak) mengagumi bapak gubernur ini. Tapi, dengan kehebatan sebesar itu,
apakah mereka cukup kuat menghadang banjir, gempa, dan bencana hebat lainnya yang diturunkan oleh Allah? Sama sekali enggak.

Sudah besar kekuatan dan kehebatan mereka, eh ujung-ujungnya binasa juga karena tidak mengimani Allah dan para rasul.

Apalah manusia tanpa Allah.

Kaum-kaum yang disebutkan dalam firman Allah ini tentu bukan kaum sembarangan.
Mereka jauh lebih hebat dari gubernur ibukota, tapi lihat apa akibatnya saat mereka
mengingkari Allah.

Kalau Allah berkehendak, Jakarta bisa saja -amit-amit- dibinasakan, mudah banget bagi Allah. Tapi sepertinya Allah ingin menunjukkan hal lain dan memberikan pelajaran bagi umat muslim di Indonesia, sekaligus menunjukkan siapa di antara mereka yang termasuk orang-orang munafik.

Tentunya sebagai umat Islam yang beriman, kita harus bijak ke depannya dalam menghadapi persoalan seperti ini. Saran saya, jangan kebanyakan nonton TV dan baca artikel LINE TODAY. Kalau sudah ada perdebatan tentang ini dan itu, Allah bilang segera kembalilah ke Al-Quran. Dan Allah sudah buktikan itu, di Al-Quran kita bisa lihat jawabannya. Suka atau tidak suka, kita harus patuhi sebagai orang yang mengaku beriman kepada-Nya. Saya yakin di balik setiap perintah Allah itu ada kebaikan.

Kalau masalah pemilihan gubernur aja kita gabisa yakin, bagaimana status keyakinan kita pada Allah? Jangan-jangan syahadat kita sudah batal karena menafikkan perintah-perintah Allah yang jelas-jelas tertulis dalam Al-Quran, naudzubillah.

Di suatu ceramah yang saya tonton di youtube menyebutkan bahwa para Nabi itu ketika diperintahkan oleh Allah suatu hal, mereka langsung menjalankan tanpa meragukannya, walaupun belum tahu apa hikmahnya. Contohnya Nabi Ibrahim a.s yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Beliau mana tahu anaknya nanti bakal diganti dengan domba, tapi beliau yakin saja kepada Allah bahwa Allah tidak akan menghendaki sesuatu pada hambanya kecuali kebaikan dan benar Allah tunjukkan itu pada akhirnya dengan mengganti Ismail a.s dengan domba untuk disembelih.

Kalau Nabi aja enggak berani mempertanyakan perintah Allah, lalu siapa kita berani menafikkan perintah Allah dalam surat Al Maidah ayat 51?

Katanya yakin dengan keberadaan Allah, tapi kok masih ragu-ragu menjalankan perintah-Nya? Ragu dengan janji-janji-Nya? Yakinlah dengan janji Allah terhadap orang-orang yang bersabar saat menjalankan perintah Allah. Kata ustad Hanan Attaki, sabar tingkat tinggi itu bukan sabar saat kedatangan musibah, tapi sabar saat beribadah.

Semoga Allah subhanahuwataala mengampuni dosa-dosa kita dan mengarahkan kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.

“Do not walk proudly on the earth; you can neither tear the earth apart nor can you rival the mountains in height.” (Qur’an 17:37)

Short trip in Istanbul (12 hour transit)

Ini adalah trip tersingkat saya sepanjang sejarah. 1 hari 0 malam. Kunjungan saya ke Turki ini sebenarnya adalah aji mumpung berangkat umroh. Kami berangkat menggunakan Turkish Airlines yang rutenya mencakup Jakarta -> Istanbul -> Madinah, transit di Istanbul. Karena transitnya cukup lama sekitar 12 jam, rombongan kami berencana melakukan city tour di sekitar kawasan Sultanahmet. Awalnya saya kira, untuk masuk ke Turki, ngurus visanya ribet kaya Eropa, taunya dia Visa on Arrival yang bisa diapply secara online, simple banget. Kalau ga keluar bandara sih tidak perlu buat visa ya.

Dari bandara, kami langsung menuju kawasan Sultanahmet menggunakan bus, tapi sampai di sana, kami diharuskan jalan kaki untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitar situ, karena memang letaknya sangat berdekatan.

Saat itu di Turki sedang musim dingin (walaupun bukan lagi puncaknya), suhunya sekitar 6 derajat celcius. Kalau mau dibandingin sama Korea, musim dinginnya Turki mungkin mirip musim gugurnya Korea, karena musim dingin di Korea sangat dingin dan suhunya di bawah 0 derajat. Ga kebayang gimana dinginnya musim dingin di Korea, yang 6 derajat aja bagi kami sudah super dingin!

Walk tour kami ini tentunya dipandu oleh seorang guide dari Turki yang berbahasa inggris. Tempat-tempat yang kami kunjungi sebenarnya tidak banyak, hanya yang inti-intinya saja, seperti

1. Blue Mosque

wp-image-1845969480jpg.jpeg
Tertutup kabut

Masjid yang dahulu bernama Sultanahmet Mosque ini masih berfungsi sebagai masjid dan disebut masjid biru karena katanya keramik interiornya berwarna biru. Karena sedang berhalangan, saya tidak diperbolehkan masuk masjid dan harus menunggu di luar ketika rombongan melaksanakan solat zuhur. Masjid ini memiliki bentuk yang mirip dengan Hagia Sophia yang terletak persis di seberangnya. Meskipun kabut tebal sedang meliputi kawasan pada saat itu, keindahan masjid masih tetap terlihat.

2. Hagia Sophia Museum

Museum ini awalnya berfungsi sebagai gereja, kemudian masjid, baru dijadikam museum. Ketika kami masuk ke dalamnya, dapat ditemukan dominasi ornamen-ornamen bekas dekorasi masjid seperti tulisan Allah, Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Meskipun demikian, masih pula terdapat ornamen bekas gereja seperti gambar dewa-dewi yang salah satu wajahnya sudah dihilangkan ketika bangunan ini berfungsi sebagai masjid, karena dalam Islam hal tersebut tidak diperbolehkan.

wp-image-2030911617jpg.jpeg
Hagia Sophia tampak depan
wp-image-838142319jpg.jpeg
Interior museum

Sungguh menarik menyaksikan sejarah bagaimana bangunan ini beralih fungsi dari gereja menjadi masjid.

3. Grand Bazaar

Yang terakhir, tentunya orang Indonesia yang doyan belanja pasti senang banget ke sini. Grand Bazaar ini merupakan pusat perbelanjaan terbesar di dunia ceunah kata guidenya mah. Di dalamnya dijual barang-barang khas Turki seperti kerudung, sajadah, keramik, dan camilan bernama Turkish Delight. Buat yang berhijab, saya sarankan jangan pulang sebelum membeli scarfnya yang cantik-cantik, karena bahannya bagus dan harganya ga terlalu mahal, penjualnya juga ramah-ramah.

Selain scarf, Turkish Delight juga wajib dibeli meskipun rada mahal harganya. Dia semacam permen campur kacang campur spices ala Turki, pokoknya enak lah , saya berani jamin.

wp-image-473678823jpg.jpeg
Pintu masuk Grand Bazaar
wp-image-1446664779jpg.jpeg
Rupa-rupa Turkish Delight

Pulang dari belanja, kami habiskan sisa waktu untuk berfoto-foto di sekitar Masjid dan Museum sebelum kembali ke bus untuk balik ke bandara menuju penerbangan berikutnya.

Meskipun singkat, perjalanan di Turki ini sangat berkesan dan memberikan banyak pelajaran dan pemahaman bagi saya tentang negara Turki. Seperti contohnya, ternyata orang Turki juga suka buang sampah sembarangan di jalan tol ūüė•. Trus kalau lagi macet, ada orang yang jual minuman atau tissue di jalanan persis kaya pedagang asongan di jalanan Indonesia kalau lagi musim mudik ūüėÖ. Seperti itulah kira-kira.

Memang harus diakui, walk tour ini kurang memuaskan jiwa petualang saya karena saya masih ingin menjelajah lebih lama lagi dan lebih luas lagi. Semoga saja di lain waktu saya bisa kembali ke Turki dan tidak hanya menjelajahi Istanbul, tetapi juga kota-kota indah lainnya, atau mungkin juga sekalian ke Eropa. AMIN

What i do miss about my autumn trip in South Korea (Indonesian’s point of view)

So before entering the age of a quarter of century, i’ve finally made it to South Korea! As i have told in this blog before, i do had plan about going to Korea this year with my sister, in case my family cancelled the Umrah plan. And yes, sadly the Umrah was cancelled and just like that, i and my sister immediately booked a flight to Seoul. Pretty impulsive, no?

We do have great time there, got plenty of things to see and learn at the same time, left so much memories in our hearts that we’ll never forget. Here i would like to tell you all about the things i love¬†about Korea after spending 10 days and 9 nights there.

Easy access of transportation

Either subway or bus, or even KTX, i was always excited to take public transportation there and love all the walks between station and destination. It’s like, you don’t need to struggle to reach each of your destinations (but your legs need to gain strength for sure) , Korea always has its bus stop or subway station for every spots, even you will be directed properly to which exit should you head to by reading the signs written in latin alphabet (you don’t need to worry i you can’t read korean). Unlike here in Indonesia, you often ended up using Go-jek or Grabbike because you need to transfer countless times by taking commuter line or bus or -i really dislike this one- Angkot, plus the directions are barely available, and if it is, they are mostly written in Indonesian so the foreigners will not understand. As Indonesian living and working in Jakarta, commuting in Seoul is just a piece of cake. As a bonus, you will have nice legs, because of the long steps you take between places. There’s no chances to be lazy there unless you don’t mind spending money on taxis. But never mind, i still love the subway tho and the buses which take you home without the need of transfer after a long day of trip.

C U convenience store

I know it sounds weird, but i just love this one convenience store. Light banana milk, yogurt drinks with adjustable straw, white fresh milk, the 500 KRW mineral water are the items i always buy (almost daily!), cause you cannot always found these in another convenience store. The other plus points are its attractive design and spacious room, makes this store definitely convenient for every customers. I have been to the other convenience store such as GSE 25 and 7 Eleven, but none of them have caught my heart as C U did. You can find this store everywhere, just like you can always see Indomaret here in Jabodetabek. I wish indomaret sell those attractive products someday. Miss that well packaged light banana milk so bad and the yogurt tasted surprisingly so good, suitable for us to be consumed while relaxing in our hostel after a long long day. Tell me where can i find those in Jakarta, please.

Museums

I have only made to visit two Museums during my trip, National Museum and National Folk Museum. Actually, there are plenty of museums you can pay a visit to, but make sure you have longer stay there if you don’t want to miss the other great attractions. What i like about the museums…actually not the museum itself. The museum is just like any museum you have visited in Jakarta, but in Korean museums, there is always a merchandise store which sells not only handycrafts, but also the educational hard covered book about the history of Korea. Oh, and the building miniature puzzle you can build at home, too! My sister bought pretty much those heavy encyclopedia alike books (make sure you now how to brought them home, like prepare extra suitcase) and it’s all written in English. I’ve read some and the contents are very attractive with pictures and well written narration. I like how Korea make foreigner able to understand their histories DEEPLY just by visiting a museum. I mean, you may find these books a lot at the bookstores, right? But tourists do not always plan to go there, because we have long lists of places to visit and bookstore is just an option. I wish i have more time to explore all museums in Korea.

Myeongdong Shopping Street

Myeongdong is the best place for tourists to shop cosmetics, clothings, or even just a street snack. You will be welcomed warmly there and will spot many tourists which was relieving for me because it made me feel i was not the only one there XD. I go back and forth for like more than 3 times because one visit is just never enough. You will find anything that you missed from buying that will cause you regrets afterward, because you don’t know when you will come back to Korea ever again. Okay, this will not reflect to everyone, but that was what i really feel about Myeongdong. Even after i’m back here in Indonesia, i regret from not buying the Laneige BB cushion there, because when you find the exact product here, the price will not be the same (the gap is suprisingly pretty high). So, if it comes to cosmetics, i encourage you all to have no hesitations in buying them, because you won’t find those exact products with the same price after you are back home. You should try the street snacks too, like egg bun and taiyaki! Very well recommended to stuff your stomach.

Bulgogi Bibimbap in Nami Island

If you are a muslim, you sure would be struggling to find halal food and most of the time you wouldn’t eat any kind of meats, unless it’s stated halal. But trust me, your craving for meat will soon be paid off when you go to Nami Island, where there is one famous halal restaurant packed of muslim tourists. You should go there and order the bulgogi bibimbap which tastes perfect for me muslim who don’t eat meat for days. The happy thing about this restaurant is also, they provide decent prayer room upstairs, so that muslims will enjoy the their time in Nami without worrying how and where to pray. After our Nami visit, no bibimbap tastes the same as in Nami even when we go to halal restaurant in Itaewon which you can find meat to eat. So, don’t forget to stop by the restaurant and order that delicious bulgogi bibimbap if you are in Nami.

Colourful leaves and perfect weather

It was autumn in South Korea when i go there and as a person living in tropical country, i find it exciting to see those bunches of colorful trees everywhere. I am sure my eyes would be healed if i stay longer there just by seeing those beautiful trees, especially when you visit the Gyeongbokgung Palace, you could spend a day just by walking around the palace and be elated by the surrounding view you will not find in tropical land like Indonesia. Plus, as a person who prefer mountain over beach due to its cold weather, autumn is just perfect for me. The not so cold weather (it can be extreme cold some days, but not always), which i could only found in Dieng (the one weather you can compare to in Indonesia), now i can enjoy it in the heart of big city! Such a new and exciting experience for me. Honestly i don’t really like to be in a beach with its hot weather, which is a shame for most Indonesians because there are plenty of beautiful beaches here, but what can i do? I think everyone have preferences and we should not judge them if theirs are different from most of the people. I like the cold weather (not so cold like in winter actually), it makes my mind cooler, clearer, and more peaceful. I wish someday i could live in a subtropical country where i can enjoy the four seasons there. It doesn’t mean i’m not grateful to live in tropical country tho. Here is great too, as we don’t need to wear layered clothes and thick jacket, instead we could always wear all of our clothes all the year round because the weather will not go anywhere lower than 20 degree celcius in most of the cities. But still, I miss the lovely autumn atmosphere!

 

 

Malaysia hari kedua: Genting, Colmar, dan KLCC

Di hari ke-dua, kami berencana mengunjungi tempat-tempat yang letaknya lumayan jauh dari pusat kota, yaitu Genting Highland dan Colmar! Kedua tempat ini sama-sama berada di wilayah Genting dan untuk mencapai kedua tempat ini, tidak ada pilihan lain selain menaiki bus dari KL Sentral.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang (maklum, hari itu hari Sabtu), kami sudah membeli tiket Bus+Skyway jurusan Genting dari hari sebelumnya yaitu tepat saat kami baru tiba di Malaysia. Tiket dibeli di KL Sentral, harganya saya lupa, cukup terjangkau pokoknya, silakan cari di Google untuk lebih detilnya. Yang saya ingat, saat kami membeli tiket tersebut, kami diharuskan memilih waktu keberangkatan dan jenis tiket (return or one way). Karena kami ingin bermain aman (takutnya kalau beli tiket pulang di sana nanti kehabisan), akhirnya kami membeli tiket return dengan jadwal keberangkatan jam 9 pagi dan kepulangan jam 5 sore.

Kami berangkat dari Hotel Sempurna jam setengah 9 pagi yang dirasa mepet karena kami harus naik monorail dulu untuk sampai ke KL Sentral. Kami sempat khawatir karena kereta monorail yang ditunggu tidak kunjung tiba, sedangkan waktu terus berjalan. Namun pada khirnya dengan timing yang benar-benar nyaris, kami berhasil tiba di KL Sentral jam 9 kurang sedikit dan segera menaiki bus yang sudah stand by (untungnya belum berangkat). Bus tersebut tidak langsung membawa kami ke tempat wisatanya, melainkan ke stasiun cable car yang akan kami naiki selanjutnya untuk mencapai lokasi Genting Highland.

Nah, itu lah momen yang saya tunggu-tunggu, menaiki cable car di Genting sambil menikmati pemandangan dari atas sana. Sebelumnya saya memang sudah pernah mengunjungi Genting kala berlibur bersama keluarga, namum kami tidak sempat menaiki cable car-nya, jadi rasanya kurang afdol. Oleh karena itu saya ingin “memperbaiki” pengalaman tersebut.

Ya kalau dipikir-pikir, hanya sekadar naik cable car , kita juga bisa melakukannya di Taman Mini atau Ancol, namun yang membuat saya jauh lebih excited menaiki cable car di sini adalah pemandangannya. Di Genting, pemandangan yang ditawarkan saat berada di atas cable car benar-benar mengagumkan, sehingga saya yang fobia terhadap ketinggian pun tidak merasa takut berada di ketinggian yang cukup ekstrim.

 

img-20160730-wa0054.jpg
Interior Cable Car

 

wp-image-157876758jpg.jpeg
Pemandangan dari atas Cable Car

Sesampainya di Genting Resort, kami dikecewakan dengan situs taman bermain yang ternyata sedang direnovasi (shame on us who didn’t research this), sehingga tidak ada yang bisa kami nikmati. Saya sesungguhnya (kalau boleh jujur) tidak begitu kecewa, karena tujuan saya untuk menaiki cable car sudah tercapai dan apa yang terjadi selanjutnya nanti saya tidak begitu peduli, hehe.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke kawasan wisata berikutnya sesuai rencana kami yaitu Colmar (French Village). Untuk menuju kawasan tersebut, tidak ada jalan lain selain menyewa mobil. Namun, saudara-saudara, ternyata tarif sewa mobil di daerah situ cukup fantastis yaitu 250 RM untuk jangka sewa selama 4 jam!

Awalnya kami ingin menyewa mobil langsung dari Genting Resort, namun harga yang ditawarkan sangat tidak masuk akal dan benar-benar tidak bisa ditawar kurang dari 400 RM. Akhirnya setelah putar otak sana sini, kami memutuskan untuk kembali menuju terminal bus dengan kembali menaiki cable car dan mencoba mencari sewaan mobil di sana (dengan harapan tarifnya lebih murah). Alhamdulillah pada akhirnya kami berhasil mendapatkan mobil sewaan dengan tarif yang lebih murah di sana. Jadi nantinya, setelah kami puas bermain di Colmar, kami tidak perlu lagi ke genting dan hanya tinggal menuju terminal bus untuk pulang ke KL Sentral. Harga sewa mobil yang sudah saya sebutkan tadi (250 RM) sudah termasuk supir dan waktu tunggu.

Setelah perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami tiba di Colmar. Dari situ ternyata ada sebuah angkutan yang akan membawa kita ke Japanese Village. Nah, kami baru tau ternyata selain French Village, juga ada Japanese Village di kawasan wisata ini. Kebetulan saat kami tiba di sana, angkutan tersebut sedang tersedia, jadi kami langsung naik saja dan sesaat kemudian sudah tiba di Japanese Village.

Tempat ini dirancang seperti desa sungguhan dengan adanya aliran sungai dan rumah tradisional Jepang yang di dalamnya kita bisa menyewa baju kimono untuk berfoto. Harga sewa kimono saat itu sebesar 20 RM. Saya tidak mengambil banyak foto di tempat ini kecuali di rumah tradisionalnya saat saya dan teman saya berpakaian kimono. Aneh rasanya, karena saya seperti berwisata ke Jepang dan bukan ke Malaysia! haha

 

 

Karena waktu kami terbatas, kami memutuskan untuk kembali ke Colmar dengan menggunakan angkutan seperti tadi. Setibanya di Colmar, kami sangat lapar dan memutuskan untuk makan di situ setelah berfoto beberapa saat. Kebetulan saat itu juga turun hujan jadi kami sekalian berteduh selagi makan.

wp-image-1115310290jpg.jpeg

wp-image-1045376jpg.jpeg

img-20160730-wa0064.jpg
Puas dengan suasana dingin di Genting dan sekitarnya serta waktu juga sudah menunjukkan jam keberangkatan bu¬†pulang, kami beranjak kembali ke terminal untuk pulang ke kota dan meneruskan perjalanan kami ke….. KLCC!

Saya lupa sebenarrnya apa kami langsung ke sana atau ke hotel dulu, yang jelas untuk mencapai KLCC, kami menaiki bus gratis bernama goKL jurusan Bukit Bintang-KLCC. Setelah saya research di Google, katanya sih goKL ini terobosan baru dalam transportasi di Kuala Lumpur yang melintasi tempat-tempat wisata dan pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur. Busnya sangat nyaman dan muat banyak penumpang, favorit semua orang sepertinya, terlebih karena gratis! Terbukti dari banyaknya penumpang meski sudah malam.

Meskipun sudah lelah, saya masih excited¬†untuk menyaksikan¬†Menara Kembar Petronas di malam hari, karena ketika saya dulu berkunjung ke menara ini, hari masih siang dan udara sangat panas terik. Untuk itu, saya kembali ke sini (lagi-lagi) untuk “memperbaiki” pengalaman tersebut, hehe.

And here we are..

Pulang dari situ, kami berkunjung ke Jalan Alor yang terletak tidak jauh dari Bukit Bintang. Jalan Alor adalah pusat kuliner di Kuala Lumpur yang beroperasi selama 24 jam dan menyajikan aneka masakan. Saat kami tiba di sana, sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya masakan chinese yang tentunya belum terjamin halal. Akhirnya kami putuskan untuk mencari restoran arab saja dan menyantap nasi briyani-nya yang memiliki porsi besar itu.

Setelah kenyang dan mulai merindukan kasur, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, mengakibatkan kaki membengkak dan lecet dengan sendirinya. Kami pun tidur dengan lelap untuk bersiap menyambut hari terakhir kami di Kuala Lumpur.

 

Malaysia hari pertama: Monorail dan KTM

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Kami berlima berangkat hari Jumat pagi dan tiba di Malaysia siang harinya.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya ke Malaysia. Dahulu kala (ketika path dan instagram belum nge-tren), saya berkunjung ke sini bersama keluarga untuk pertama kalinya, namun saat itu kami menggunakan jasa travel, tidak seperti perjalanan kali ini yang mengandalkan jiwa petualang alias backpacker-an (walaupun saya tetap bawa koper kecil sih). Kami benar-benar memanfaatkan transportasi umum, yang untungnya sudah sangat terintegrasi, seperti KTM (MRT-nya Malaysia) dan Monorail.

Sesampainya di bandara, ternyata kami harus mengantre imigrasi yang lamanya mencapai lebih dari 1 jam! Saya sampai kelaparan akut karena belum makan dari pagi hari (secara penerbangannya pagi-pagi buta). Keharusan untuk mengambil foto dan sidik jari, kekurangan petugas, serta antrean yang tidak begitu teratur mungkin menjadi penyebabnya. Yah, disabar-sabarin aja deh waktu itu. Ga kebayang kalau itu antri imigrasi untuk berangkat dan udah mepet boarding, bisa-bisa ketinggalan pesawat.

Setelah melewati imigrasi yang super lama tadi, kami pergi menuju loket bus dan membeli tiket menuju KL Sentral seharga 11 RM, cukup terjangkau jika dibandingkan dengan tiket KTM.

Perjalanan dari bandara ke KL Sentral menempuh waktu sekitar 1 jam dan saya tertidur pulas dalam waktu singkat tersebut, hehe. Nah, saya sebelumnya tidak pernah mengetahui wujud dari KL Sentral ini yang awalnya saya kira hanya berupa pusat perbelanjaan saja. Ketika tiba di sana, saya langsung amazed and feels like a real an urban karena TERNYATA di situ tidak hanya terdapat pusat perbelanjaan saja, melainkan juga koridor-koridor transit dari segala bentuk transportasi yang ada di Kuala Lumpur, dari mulai bus, monorail, hingga KTM dengan berbagai destinasi. Sungguh merupakan cermin kehidupan kota urban yang sesungguhnya, cool! Semoga suatu saat Jakarta bisa memiliki fasilitas keren seperti ini.

Turun di KL Sentral, kami sambung dengan monorail untuk mencapai hotel kami yang berada di kawasan Bukit Bintang untuk meletakkan barang bawaan sebelum pergi menjelajahi kota. Biaya perjalanan monorail tergantung dari tujuan stasiun kita. Saat itu tujuan kami adalah stasiun Imbi, stasiun terdekat dengan hotel kami. Harga tiketnya adalah 3.10 RM, yaa lumayan mahal kalau dibandingkan dengan KRL Jabodetabek, tapi cukup murah jika dibandingkan dengan transportasi lain, sepertinya contohnya, taksi.

Cara membeli tiket monorail ini tergolong sangat mudah dan praktis. Berikut adalah langkah-langkah sederhananya:

  1. Pergi menuju alat semacam vending machine yang terdapat di tiap stasiun.
  2. Pilih jenis kereta dan rute. Jika belum tahu rutenya, bisa melihat peta rute terlebih dahulu di papan pengumuman yang terpajang di dekat vending machine.
  3. Setelah memilih rute, pilih cara pembayaran. Kalau saya tidak salah ingat, ada pilihan pembayaran cash dan card, karena saya tidak memiliki kartu (sebenarnya lebih murah jika memakai kartu, tapi kami tidak mencari tahu tentang hal ini), kami memilih cash.
  4. Jika memilih pembayaran cash, kita tinggal memasukkan uang sejumlah yang diminta. Mesin tersebut bisa menerima uang kertas maupun koin dan tidak usah khawatir jika tidak memiliki uang pas, karena mesin tersebut juga bisa mengeluarkan uang kembalian.
  5. Setelah memasukkan uang, tunggu mesin mengeluarkan tiket berbentuk koin plastik beserta kembaliannya secara bersamaan.
  6. Ambil tiket dan kembalian, lalu kita bisa langsung memasuki gate-nya dan menunggu kedatangan monorail di peron deh, yeaaay mudah kan?

wp-image-835303503jpg.jpeg

Singkat cerita, kami turun di stasiun Imbi, lalu berjalan sedikit (padahal jalan banyak plus geret-geret koper yang berat) menuju hotel dan meletakkan barang serta istirahat sejenak sambil makan siang. Tujuan kami hari itu hanya ke Batu Cave dan jalan-jalan sekitar kota saja karena sudah agak lelah. Untuk mencapai Batu Cave, kami kembali naik monorail menuju KL Sentral dan transit menggunakan KTM menuju Batu Cave.

Untuk membeli tiket KTM, caranya berbeda dengan monorail. Kita harus pergi ke loket (tanya petugas setempat jika tidak tahu loket yang mana), menyebutkan tujuan dan membayar sesuai yang diminta. Setelah itu, kita tidak diharuskan menge-tap, karena tiketnya terbuat dari kertas, cukup tunjukkan pada petugas di gate dan kita bisa langsung menuju peron stasiun KTM.

Sebenernya saya tidak begitu suka dengan situs wisata Batu Cave ini karena (menurut saya) kurang begitu menarik, tapi saya ikut saja karena excited mencicipi KTM-nya, haha. Saya memang menyukai moda transportasi kereta sejak saya rutin menggunakan KRL di Jakarta. Sejak menjadi AnKer (Anak Kereta), saya bertekad untuk selalu mencicipi kereta-kereta di setiap negeri yang saya kunjungi.

Sebelum saya tiba di Kuala Lumpur, saya sudah membayangkan menaiki kereta ini dengan ekspektasi yang cukup besar. Untungnya, KTM milik Malaysia ini sesuai dengan ekspektasi saya; interiornya bagus, bersih, nyaman dan tertata rapi. Yang paling asyik dari naik kereta KTM di Kuala Lumpur ini adalah tidak penuh sesak dan bahkan cenderung sepi. Kita bisa bebas duduk di mana saja dan berfoto tanpa takut dilihat banyak orang. Transportasi yang tampak penuh sesak justru adalah monorail, mungkin karena monorail lebih terjangkau dan praktis.

Sejauh ini sih, KTM adalah transportasi favorit saya di Kuala Lumpur ūüíô. Oh iya, saya lupa berapa harga tiketnya, memang agak mahal sih sekitar 16 RM, tapi setimpal dengan¬†fasilitas yang diberikan, plus¬†ada gerbong khusus wanitanya juga.

wp-image-1863991172jpg.jpeg

img-20160730-wa0023.jpg

Daaan kami tiba di Batu Cave dengan keadaan kucel, makeup udah luntur, badan juga sudah lelah.

img-20160730-wa0015.jpg

Dari Batu Cave kami kembali lagi ke KL Sentral dengan menaiki KTM, lalu berpindah ke monorail untuk menuju Bukit Bintang.

Sesampainya di Bukit Bintang, hari sudah agak malam, tapi masih banyak orang berkeliaran karena toko-toko belum pada tutup. Kami hanya menelusuri sebagian bukit binyang, melakukan window shopping dan tidak membeli apa pun karena tidak ada yang begitu menarik. Isinya kurang lebih sama dengan mall-mall yang ada di Indonesia, hanya saja di Bukit Bintang ini tokonya tersebar di sepanjang jalan dan tidak terpusat di dalam mall saja.

wp-image-1705598528jpg.jpeg

img-20160729-wa0010.jpg

Kami sempat memasuki salah satu mall yang ada di situ, yaitu Pavilion. Ketika saya sedang memotret hiasan lobby-nya yang unik, tiba-tiba SPG Shiseido menghampiri saya dan menawarkan untuk dipakaikan lipstik dan berfoto di booth untuk kemudian diposting di Instagram dan berkesempatan mendapatkan hadiah jika mendapat likes yang banyak. Saat itu saya tidak berpikiran untuk berpartisipasi, karena saya paling membenci lomba yang dinilai berdasarkan likes (it is the most unfair kind of competition i guess), lagipula saya juga bukan selebgram yang punya followers banyak, sehingga kemungkinan menang juga sedikit.

Namun pada akhirnya saya mengiyakan ajakan SPG tersebut for the sake of iseng. Saya mikirnya supaya dapat kenang-kenangan saja, karena fotonya nanti bakal dicetak dan diserahkan ke kita. Hasil fotonya juga akan dikirim ke email kita.

Setelah selesai dipakaikan lipstik, saya diminta berpose 3 kali dengan menggunakan properti yang ada dan hasilnya menjadi seperti ini.

Mulai merasa lelah akut dan waktu juga hampir menuju tengah malam, kami memutuskan untuk kembali ke hotel yang ditempuh dengan berjalan kaki. Jaraknya lumayan dekat, walaupun sebenernya agak jauh juga mengingat fisik sudah sangat lelah, tapi syukurnya kami semua mendarat dengan selamat di Hotel Sempurna dan siap menyimpan energi untuk perjalanan di hari kedua.

Suddenly Malaysia

wp-image-1416643489jpg.jpeg

Kata banyak orang, segala yang serba mendadak seringkali terlaksana. Justru yang direncanakan malah tidak terlaksana. Saya sih setuju ga setuju, karena saya merupakan tipe orang yang selalu butuh persiapan, tapi di sisi lain bisa juga menjadi impulsif dalam keadaan tertentu.Gimana tuh maksudnya?

Itu semua berhubungan dengan kisah perjalanan saya di Malaysia yang akan saya ceritakan di blog ini.

Sesuai judulnya aja, suddenly Malaysia, pada awalnya saya memang tidak berencana liburan ke Malaysia tahun ini. Justru destinasi yang saya rencanakan untuk dikunjungi tahun ini adalah Korea. Sudah berencana ke Korea dengan kakak saya, namun karena belum kunjung menemukan waktu luang yang pas, akhirnya tertunda terus hingga entah kapan. Sementara di sisi lain, pikiran saya sudah sangat penat dan ingin liburan ke tempat yang agak jauh, at least ke luar pulau Jawa deh.

Nah, di saat penat itu lah, teman kantor saya kebetulan randomly ngajak ke Malaysia padahal hari keberangkatan tinggal 2 minggu lagi. Dia sudah beli tiket dan hotel lebih dulu dengan 3 temannya yang memang sudah berencana ke sana. Saat pertama kali ditawari untuk ikut, saya masih ragu, karena belum mendapat izin dari orang tua (Yes, meskipun usia sudah hampir seperempat abad, tetep harus izin orang tua untuk pergi ke mana pun, no wonder karena anaknya perempuan semua hehe :p)

Langsung saja saya tanya Mamah saya soal rencana pergi ke Malaysia, dan syukurnya Mamah langsung izinin. Yaudah, tanpa babibu lagi saya meng-iya-kan ajakan teman saya dan langsung pesan tiket pesawat saat itu juga. Syukurnya lagi, pesawat yang saya pesan masih 1 pesawat dengan teman saya. Dan soal hotel, saya tidak perlu cemas lagi, karena bisa menumpang di salah satu kamar yang sudah dibooking teman saya.

Yup, begitu mudahnya rencana ke Malaysia ini terlaksana tanpa pikir panjang. Saya yang impulsif bisa menerima ajakan teman saya tanpa memikirkan apa saja yang akan saya lakukan di Malaysia. Saat itu saya pikir, ah masih ada waktu 2 minggu lagi untuk memikirkan persiapan ke sana, yang penting saya beli tiket dulu. Impulsif tapi juga memikirkan persiapan. Dua sifat bertentangan yang ternyata bisa dipadukan dan justru saling melengkapi.

Bagaimana perjalanan saya selama di Malaysia? Tunggu di postingan selanjutnya