Short trip in Istanbul (12 hour transit)

Ini adalah trip tersingkat saya sepanjang sejarah. 1 hari 0 malam. Kunjungan saya ke Turki ini sebenarnya adalah aji mumpung berangkat umroh. Kami berangkat menggunakan Turkish Airlines yang rutenya mencakup Jakarta -> Istanbul -> Madinah, transit di Istanbul. Karena transitnya cukup lama sekitar 12 jam, rombongan kami berencana melakukan city tour di sekitar kawasan Sultanahmet. Awalnya saya kira, untuk masuk ke Turki, ngurus visanya ribet kaya Eropa, taunya dia Visa on Arrival yang bisa diapply secara online, simple banget. Kalau ga keluar bandara sih tidak perlu buat visa ya.

Dari bandara, kami langsung menuju kawasan Sultanahmet menggunakan bus, tapi sampai di sana, kami diharuskan jalan kaki untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitar situ, karena memang letaknya sangat berdekatan.

Saat itu di Turki sedang musim dingin (walaupun bukan lagi puncaknya), suhunya sekitar 6 derajat celcius. Kalau mau dibandingin sama Korea, musim dinginnya Turki mungkin mirip musim gugurnya Korea, karena musim dingin di Korea sangat dingin dan suhunya di bawah 0 derajat. Ga kebayang gimana dinginnya musim dingin di Korea, yang 6 derajat aja bagi kami sudah super dingin!

Walk tour kami ini tentunya dipandu oleh seorang guide dari Turki yang berbahasa inggris. Tempat-tempat yang kami kunjungi sebenarnya tidak banyak, hanya yang inti-intinya saja, seperti

1. Blue Mosque

wp-image-1845969480jpg.jpeg
Tertutup kabut

Masjid yang dahulu bernama Sultanahmet Mosque ini masih berfungsi sebagai masjid dan disebut masjid biru karena katanya keramik interiornya berwarna biru. Karena sedang berhalangan, saya tidak diperbolehkan masuk masjid dan harus menunggu di luar ketika rombongan melaksanakan solat zuhur. Masjid ini memiliki bentuk yang mirip dengan Hagia Sophia yang terletak persis di seberangnya. Meskipun kabut tebal sedang meliputi kawasan pada saat itu, keindahan masjid masih tetap terlihat.

2. Hagia Sophia Museum

Museum ini awalnya berfungsi sebagai gereja, kemudian masjid, baru dijadikam museum. Ketika kami masuk ke dalamnya, dapat ditemukan dominasi ornamen-ornamen bekas dekorasi masjid seperti tulisan Allah, Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Meskipun demikian, masih pula terdapat ornamen bekas gereja seperti gambar dewa-dewi yang salah satu wajahnya sudah dihilangkan ketika bangunan ini berfungsi sebagai masjid, karena dalam Islam hal tersebut tidak diperbolehkan.

wp-image-2030911617jpg.jpeg
Hagia Sophia tampak depan
wp-image-838142319jpg.jpeg
Interior museum

Sungguh menarik menyaksikan sejarah bagaimana bangunan ini beralih fungsi dari gereja menjadi masjid.

3. Grand Bazaar

Yang terakhir, tentunya orang Indonesia yang doyan belanja pasti senang banget ke sini. Grand Bazaar ini merupakan pusat perbelanjaan terbesar di dunia ceunah kata guidenya mah. Di dalamnya dijual barang-barang khas Turki seperti kerudung, sajadah, keramik, dan camilan bernama Turkish Delight. Buat yang berhijab, saya sarankan jangan pulang sebelum membeli scarfnya yang cantik-cantik, karena bahannya bagus dan harganya ga terlalu mahal, penjualnya juga ramah-ramah.

Selain scarf, Turkish Delight juga wajib dibeli meskipun rada mahal harganya. Dia semacam permen campur kacang campur spices ala Turki, pokoknya enak lah , saya berani jamin.

wp-image-473678823jpg.jpeg
Pintu masuk Grand Bazaar
wp-image-1446664779jpg.jpeg
Rupa-rupa Turkish Delight

Pulang dari belanja, kami habiskan sisa waktu untuk berfoto-foto di sekitar Masjid dan Museum sebelum kembali ke bus untuk balik ke bandara menuju penerbangan berikutnya.

Meskipun singkat, perjalanan di Turki ini sangat berkesan dan memberikan banyak pelajaran dan pemahaman bagi saya tentang negara Turki. Seperti contohnya, ternyata orang Turki juga suka buang sampah sembarangan di jalan tol 😥. Trus kalau lagi macet, ada orang yang jual minuman atau tissue di jalanan persis kaya pedagang asongan di jalanan Indonesia kalau lagi musim mudik 😅. Seperti itulah kira-kira.

Memang harus diakui, walk tour ini kurang memuaskan jiwa petualang saya karena saya masih ingin menjelajah lebih lama lagi dan lebih luas lagi. Semoga saja di lain waktu saya bisa kembali ke Turki dan tidak hanya menjelajahi Istanbul, tetapi juga kota-kota indah lainnya, atau mungkin juga sekalian ke Eropa. AMIN

Iklan