Madain Saleh and what lessons we can earn from it.

WARNING: Some contents might be sensitive. Kindly be advised.
Jpeg

Pada saat umroh beberapa bulan lalu, saya beserta keluarga dan rombongan berkesempatan mengunjungi Madain Saleh yang berjarak kurang lebih 300 km dari kota Madinah.

Apa itu Madain Saleh?

Jujur, awalnya saya ga tau apa-apa tentang ini. Baru tau pas dalam perjalanan ke sana. Itu juga karena diberitahu oleh Pak Haji pemimpin rombongannya.

Jadi, Madain Saleh adalah tempat tinggal kaum Tsamud pada zaman Nabi Saleh a.s yang dibinasakan (ditimpakan azab) karena mengingkari Allah dan para nabi dan rasul.

Ya, itu tempat bekas dikenai azab.

Bekas azab, saudara-saudara.

Tapi, bodohnya saya, karena saya belum membaca apa-apa soal kisah kaum Tsamud ini (padahal ada dalam Al-Quran) dan saya belum tahu ada hadits yang meriwayatkan bahwa kita tidak boleh mengunjungi tempat-tempat yang pernah diazab Allah kecuali dengan menangis, saya senang-senang aja tuh pas di sana, sama sekali tidak merenungkan dan mengambil pelajaran.

“Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak bisa menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian. (HR. Bukhari 433).”

Akibat ketidaktahuan dan kepolosan hamba yang kurang ilmu ini, layaknya turis yang mengunjungi tempat wisata, saya dan bahkan mayoritas rombongan asyik foto-foto di sana. Dan memang saya akui tempat itu luar biasa indah dan mengagumkan. Belum pernah saya lihat tempat seperti itu di manapun.

Pak Haji juga tidak memperingatkan kami tentang riwayat hadits ini, jadi kami atau saya to be exact santai-santai saja saat berkunjung ke sana dan bertindak seolah-olah sedang bertamasya. Maafkan hambamu ini ya Allah.

Setelah pulang umroh, saya jadi penasaran sama kaum Tsamud ini dan ingin tahu betapa hebatnya mereka bisa memahat gunung-gunung batu menjadi tempat tinggal mereka dan bagaimana ceritanya hingga kehebatan mereka itu akhirnya dibinasakan. Apa sih dosa mereka? Apa yang mereka perbuat di muka bumi ini?

Mulailah saya membuka Al-Quran kemudian membacanya beserta terjemahannya tentunya. Saya ga hapal, tapi seingat saya di dalam Al-Quran berkali-kali dan cenderung sering disebutkan tentang kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah, yaitu Kaum Nabi Nuh a.s, Kamu Nabi Luth a.s, Kaum Ad, Kaum Tsamud, dan Kaum Firaun sebagai pelajaran untuk kaum muslimin agar tidak seperti mereka, agar jangan sampai umat Nabi Muhammad saw ditimpakan azab serupa karena tidak mau beriman pada Allah.

Setelah baca Al-Quran, saya jadi tahu inti dari kisahnya, bahwa

Kaum Tsamud ini awalnya adalah kaum yang hebat. Mereka mampu membangun istana di atas tanah yang datar dan bahkan memahat gunung-gunung batu menjadi rumah mereka dengan indahnya. Mereka mendapatkan nikmat yang sangat besar,
tapi tidak mau beriman kepada Allah dan bersikap angkuh di muka bumi.

”Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS al-A’raf: 74)

Nabi Saleh a.s diutus oleh Allah untuk memperingatkan mereka agar menyembah Allah, tapi karena keangkuhan mereka di muka bumi, mereka enggan beriman. Mereka tidak percaya dengan Allah dan bahwa Nabi Saleh a.s itu utusan Allah. Sehingga pada suatu waktu mereka menantang Nabi Saleh untuk memunculkan unta istimewa dari batu, karena mereka tidak percaya itu akan terjadi dan supaya Nabi Saleh berhenti berdakwah pada mereka. Namun, atas kuasa Allah, unta tersebut benar-benar muncul dari batu dan Nabi Saleh memperingatkan kaum Tsamud agar tidak mengganggu unta tersebut, apalagi menyembelihnya. Namun sekali lagi, karena keangkuhan mereka, sebagian besar dari mereka tetap tidak mau beriman setelah didatangkan mukjizat tersebut dan mereka malah menyembelih unta tersebut. Maka dari itu, Allah mengazab mereka dengan petir yang menggelegar hingga meruntuhkan bangunan tempat tinggal mereka.

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tshamud.” (QS Hud ayat 67-68).

Ya, tentunya ini menjadi pelajaran bagi umat muslim, bahwa betapapun manusia bisa membangun ini dan itu di muka bumi dengan ilmu mereka, berkuasa atas banyak hal, dan hebat di mata manusia, itu semua menjadi tidak berarti jika mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Pelajaran ini tidak hanya relevan pada zaman itu, melainkan juga sampai saat ini. Dan kalau boleh saya kaitkan dengan kasus pak mantan gubernur Jakarta yang di penjara itu, betapa banyak orang yang mengaku muslim yang membela beliau, bahkan memilih beliau hanya karena (katanya) kinerjanya bagus dan dia pandai mengelola ini dan itu sehingga menghilangkan banyak permasalahan di ibukota.

Gausah jauh-jauh sebenarnya, bahkan teman saya sendiri pun pengagum beliau dan terang-terangan membela dan memilih beliau.

Ya teman saya itu muslim.

Mungkin mereka memakai logika bahwa bagaimana mungkin mereka tidak memilih beliau sementara sudah terbukti (katanya) kinerja beliau dan bagaimana mungkin mereka memilih kandidat lainnya yang seiman dengan mereka tapi belum terbukti kinerjanya dan programnya mengada-ada (kata mereka).

Saya pribadi memang dari awal tidak pernah condong dan sreg dengan bapak mantan gubernur itu. Tidak suka namun juga tidak benci. Awalnya. Tidak sampai beliau membuat pernyataan tentang surat Al-Maidah ayat 51. Ingin saya biasa-biasa saja atas ucapan beliau itu, tapi hati kecil saya seperti enggak rela dan marah dengan -kalau boleh saya bilang- kesoktahuan dan kelancangan beliau.

Ya, saya jadi tidak respect terhadapnya, meskipun di hadapan teman saya, saya bersikap biasa saja, karena saya tahu mereka tidak akan sependapat dengan saya dan saya tidak mau berdebat akan hal itu mengingat ilmu agama saya masih cetek.

Saya dulu sempat berlogika seperti mereka. Kenapa ya kok kita disuruh milih yang muslim padahal begini begitu dibanding nonmuslim?
Subhanallah, Allah langsung memberi jawaban atas itu dan kembali meyakinkan hati saya bahwa itu memang perintah Allah dan saya harus menjalankannya (meskipun saya bukan pemilih saat itu).

Bagaimana cara Allah menjawab saya?

Dr. Zakir Naik datang ke Indonesia dan beberapa saat setelahnya banyak video ceramahnya di Indonesia yang telah diunggah ke youtube bahkan diterjemahkan. Saya sudah menonton beberapa video beliau sejak tahun lalu dan sesungguhnya saya penasaran bagaimana pendapatnya mengenai pemilihan gubernur yang diributkan masyarakat Indonesia ini.

Alhamdulillahnya, banyak videonya yang membahas tentang pemilihan gubernur dan dia memberikan banyak perumpaan yang menurut saya sangat masuk akal dan sulit dibantah, serta semakin meyakinkan hati saya tentang perintah Allah tersebut.
Saya tidak akan menjabarkan analoginya di sini, silakan tonton saja di youtube, tapi pada intinya dia mengatakan bahwa apa gunanya membangun gedung-gedung, memberantas kemiskinan, dan lain sebagainya tetapi dia tidak beriman kepada Allah?
Bukan dia yang menjadikan kemiskinan itu hilang, tapi Allah. Di tangan Allah lah semua urusan diatur.  Kita manusia hanyalah perantaranya, jadi menurut saya tidak sepantasnya umat Islam mengagumi kehebatan beliau, karena tanpa seizin Allah itu semua tidak akan terjadi. Allah lah yang sepantasnya kita puji.

Dan argumen ini diperkuat oleh Al-Quran sendiri melalui kisah-kisah kaum-kaum zalim yang diazab oleh Allah.

Lihatlah kerajaan Firaun yang bahkan jauh lebih hebat dari Jakarta ini, atau kaum Tsamud yang mampu memahat gunung-gunung batu dengan indahnya.
Kalau kita hidup di zaman itu, pastilah kita mengagumi kehebatan mereka jauh dari kita (saya sih enggak) mengagumi bapak gubernur ini. Tapi, dengan kehebatan sebesar itu,
apakah mereka cukup kuat menghadang banjir, gempa, dan bencana hebat lainnya yang diturunkan oleh Allah? Sama sekali enggak.

Sudah besar kekuatan dan kehebatan mereka, eh ujung-ujungnya binasa juga karena tidak mengimani Allah dan para rasul.

Apalah manusia tanpa Allah.

Kaum-kaum yang disebutkan dalam firman Allah ini tentu bukan kaum sembarangan.
Mereka jauh lebih hebat dari gubernur ibukota, tapi lihat apa akibatnya saat mereka
mengingkari Allah.

Kalau Allah berkehendak, Jakarta bisa saja -amit-amit- dibinasakan, mudah banget bagi Allah. Tapi sepertinya Allah ingin menunjukkan hal lain dan memberikan pelajaran bagi umat muslim di Indonesia, sekaligus menunjukkan siapa di antara mereka yang termasuk orang-orang munafik.

Tentunya sebagai umat Islam yang beriman, kita harus bijak ke depannya dalam menghadapi persoalan seperti ini. Saran saya, jangan kebanyakan nonton TV dan baca artikel LINE TODAY. Kalau sudah ada perdebatan tentang ini dan itu, Allah bilang segera kembalilah ke Al-Quran. Dan Allah sudah buktikan itu, di Al-Quran kita bisa lihat jawabannya. Suka atau tidak suka, kita harus patuhi sebagai orang yang mengaku beriman kepada-Nya. Saya yakin di balik setiap perintah Allah itu ada kebaikan.

Kalau masalah pemilihan gubernur aja kita gabisa yakin, bagaimana status keyakinan kita pada Allah? Jangan-jangan syahadat kita sudah batal karena menafikkan perintah-perintah Allah yang jelas-jelas tertulis dalam Al-Quran, naudzubillah.

Di suatu ceramah yang saya tonton di youtube menyebutkan bahwa para Nabi itu ketika diperintahkan oleh Allah suatu hal, mereka langsung menjalankan tanpa meragukannya, walaupun belum tahu apa hikmahnya. Contohnya Nabi Ibrahim a.s yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Beliau mana tahu anaknya nanti bakal diganti dengan domba, tapi beliau yakin saja kepada Allah bahwa Allah tidak akan menghendaki sesuatu pada hambanya kecuali kebaikan dan benar Allah tunjukkan itu pada akhirnya dengan mengganti Ismail a.s dengan domba untuk disembelih.

Kalau Nabi aja enggak berani mempertanyakan perintah Allah, lalu siapa kita berani menafikkan perintah Allah dalam surat Al Maidah ayat 51?

Katanya yakin dengan keberadaan Allah, tapi kok masih ragu-ragu menjalankan perintah-Nya? Ragu dengan janji-janji-Nya? Yakinlah dengan janji Allah terhadap orang-orang yang bersabar saat menjalankan perintah Allah. Kata ustad Hanan Attaki, sabar tingkat tinggi itu bukan sabar saat kedatangan musibah, tapi sabar saat beribadah.

Semoga Allah subhanahuwataala mengampuni dosa-dosa kita dan mengarahkan kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.

“Do not walk proudly on the earth; you can neither tear the earth apart nor can you rival the mountains in height.” (Qur’an 17:37)

Iklan

4 pemikiran pada “Madain Saleh and what lessons we can earn from it.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s