Unmarried me talking about marriage

Akhir-akhir ini entah kenapa sering banget lihat artikel atau postingan berbau pernikahan. Entah temen yang mau nikah, temennya temen, atau siapapun di luar sana yang tidak saya kenal, sampai postingan “pembelaan diri” dari seorang wanita yang merasa usianya sudah cukup untuk menikah namun belum menemukan jodohnya, atau yang paling sering saya temui, ungkapan kegelisahan para wanita cukup usia yang sudah “kebelet” atau “terdesak” untuk menikah karena melihat teman-teman seusianya mayoritas sudah berkeluarga.

Lumrah saja sebenarnya ketika saya melihat fenomena-fenomena seperti itu bertebaran di media sosial. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya di postingan seseorang yang ingin saya jabarkan di sini karena saking geregetannya.

Postingan tersebut berisi tentang pembelaan seorang wanita yang kata temen-temennya sih “istriable” banget tapi belum nikah juga sampai sekarang dan dia sering ditanyain kapan nikah. Padahal saya lihat dia umurnya 4 tahun di bawah saya, and i’m like HELLO santai saja kali yah gausah dihiraukan omongan temen-temenmu itu, saya aja belum nikah kok. Saya mau nikah? Mau banget, tapi saya mah serahkan aja ke Allah untuk calon dan timingnya, gamau diambil pusing. Kata dia meskipun dia bisa masak dan nyuci baju sendiri, dia merasa belum capable enough menjadi istri karena tugas seorang istri lebih berat dari itu. Katanya seorang istri itu harus bisa segalanya, bangun pagi, menyiapkan makanan bergizi, membersihkan dan merawat rumah dan segala hal rumah tangga lainnya dia sebutkan di situ. Kalau belum siap melakukan itu, katanya dia belum pantas menjadi istri, karena katanya ga semua cowo mau sama cewe yang baru belajar masak, baru belajar nyuci baju pas udah menikah. Gitu ceunah. Heu. Saya mah ga setuju sama poin ini.

Poin tersebut kemudian mengundang sebuah komentar dari seorang cewe yang mengatakan bahwa intinya kenapa sih pernikahan itu selalu tentang apa yang pria inginkan, bagaimana dengan wanita? Apa tidak ada yang peduli dengan keinginan kita, para wanita? Dijawablah komentar itu oleh seorang komentator lain yang adalah seorang pria yang seperti membela diri. Katanya ga cuma cewe kok yang punya tuntutan, cowo juga harus punya rumah, mobil, segala macem, yah intinya harus mapan sebelum menikah, sedangkah cewe kan ga harus kaya gitu.

Kedua komentator ini seperti beradu “siapa yang lebih besar tanggung jawabnya” dan “siapa yang lebih dirugikan dalam pernikahan”. Hei, padahal mah ga kaya gitu kali esensi sebuah pernikahan.

Oke, pertama saya ga setuju sama penulis postingan itu tentang syarat menjadi seorang istri itu harus bisa segala pekerjaan rumah tangga. Menurut saya, yang penting adalah kemandirian. Kalau kita sudah terbiasa mandiri, segala hal rumah tangga bisa dipelajari dengan mudah seiring waktu. Kedua, kedua komentar tersebut membuat saya gimana ya, sebenernya ada benernya. Tapi, wanita dan pria masing-masing punya tanggung jawab dalam pernikahan, toh? Jangan lah saling iri-irian dengan kewajiban masing-masing. Jangan menuntut sesuatu pada orang lain jika kita belum menjalankan kewajiban kita sendiri. Kata seseorang, kalau kita mau mengubah orang lain, harus dimulai dari diri sendiri. Ya berarti, kalau cowo-cowo mau calon istrinya nanti taat sama dia, berbakti sama dia, mereka harus jalanin kewajibannya dulu sebagai seorang suami, bukan lantas “menuntut”. Istri yang baik, menurut saya, akan dengan otomatis melihat perlakuan baik suaminya sebagai “tuntutan” terhadapnya untuk berlaku baik pula kepadanya tanpa harus dengan gamblang sang suami bilang “hei, kamu istriku, kamu tuh harus bisa masak supaya gizi suamimu ini terpenuhi dengan baik.”

Saya setuju, seorang istri harus bisa melayani suaminya, tetapi bukan berarti suami bisa memperlakukan istrinya seperti babu kan? Pahami konteksnya ya. Memasak, mencuci, membersihkan rumah adalah hal-hal yang bisa dipelajari seiring waktu dan kalau memang mampu, tidak ada salahnya bagi menyewa pembantu rumah tangga.  Kalau ga mampu, setidaknya suami bisa membantu istri dalam menjalankan perannya, begitu pun sebaliknya. Ya intinya saling membantu dan mendukung satu sama lain. Para kaum adam yang bener dan waras, nyari istri bukan buat disuruh-suruh, dijadiin babu, melainkan untuk menjadi teman hidup untuk tumbuh bersama, ibu dan panutan yang baik bagi anak-anaknya kelak. Kecerdasan dan karakter seorang anak itu konon sebagian besar menurun dari ibunya, menurut beberapa penelitian.

Nah untuk kita para wanita, para calon istri, juga harus sadar sama kewajiban masing-masing, jangan mau “enaknya” aja. Kita memang harus berbakti pada suami, bahkan dengan menikah, kita menjadikan suami di atas orang tua kita. Tidak begitu dengan para suami. TAPI, kata Rasulullah, suami yang baik adalah yang memuliakan istrinya, bukan menyusahkannya. Anak perempuan itu dibesarkan oleh orang tuanya dengan susah payah untuk apa emangnya? Untuk melihatnya bahagia, karena setelah menikah, anak perempuan itu seperti “dicuri” selama-lamanya dari orang tuanya untuk ikut ke suami. Bukan berarti kesannya pernikahan itu buruk bagi wanita lho ya. Hanya saja, saya ingin menekankan bahwa bagaimana pun, istri dan suami itu punya porsinya masing-masing. Allah itu maha adil, ga mungkin lah kewajiban istri lebih berat dari suami atau sebaliknya, kecuali kalian yang mengotakkannya seperti itu.

Hmmm sebenernya agak ga nyambung sama paragraf awal, cuma intinya kita itu jangan terlalu banyak nuntut ke orang lain. Bilang kewajiban yang satu lebih berat dari yang lain atau apa lah. Sebaiknya kita jalani aja lah apa kewajiban kita dengan ikhlas, niscaya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal kok. Saling pengertian dan sadar diri. Menikah itu saya yakin, meskipun saya sendiri belum menikah, bukanlah sesuatu yang diciptakan untuk menyiksa kaum hawa maupun kaum adam. Menikah itu ibadah, tapi juga jangan dijadikan sebuah tren. Temen nikah, trus ikutan kepingin nikah. Lalu jadi galau karena jodoh belum kunjung tiba, dsb. Apa ya, kalau saya sih lebih baik mendekatkan diri kepada Allah aja, minta dimudahkan jodohnya, sambil terus memperbaiki diri, karena kan jodoh itu cerminan diri. Tapi katanya kalau tujuan kita memperbaiki diri karena untuk cari jodoh itu keliru. Belajar dari kisah Zulaikha dan Nabi Yusuf, Allah malah menjauhkan Nabi Yusuf dari Zulaikha karena Zulaikha terus mengejar cinta Nabi Yusuf. Baru ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah berikan Nabi Yusuf kepadanya dan mereka pun berjodoh.

Jadi, jangan lah galau-galau miris tentang jodoh, terutama buat yang berusia 20an ke atas atau yang baru lulus kuliah trus mulai merasa butuh pendamping, dsb. Hei, ada hal lain yang bisa kalian lakukan daripada melamun soal jodoh. Sikapi dengan santai pertanyaan “kapan nikah?” dan anggap itu doa dari mereka bagi kita agar mudah dipertemukan dengan jodoh kita. Jodoh akan tiba tepat pada waktunya, Insya Allah.

A woman’s heart should be so hidden in Allah that a man should have to seek Him first to find her.

Iklan

2 pemikiran pada “Unmarried me talking about marriage

  1. Setuju Fan….
    Dan yang paling penting sebelum memutuskan untuk menikah, seseorang baik laki-laki maupun perempuan harus udah “puas” mentingin ego masing-masing, karena mau menikah berarti harus sudah siap mengesampingkan ego sendiri demi tujuan bersama yg ingin dicapai keluarga tersebut. Banyak banget kasus di mana yg udah siap mengesampingkan egonya cuma satu aja, yang satunya belum, jadilah banyak perselisihan….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s